Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Kalut ..


Selepas dari pandangan Mery , Anggi yang


hilang menjauh tak terlihat , meninggalkan keterdiaman Mery yang masih mematung


dan tak bisa berkutik sambil memegangi bibirnya . Merasa terkena skakmat dari perkataan Anggi , dia tak mampu menjawab .


Ingin rasanya dia mengelak tapi


itu memang kenyataan , dia merasa


tak punya muka setelah ketahuan


melakukan hal yang memalukan didalam kamarnya yang terkunci .


Dengan lemas Mery menghampiri tempat


Roy bersembunyi , kemudian membuka


pintu nya .


" Kak Roy bisa keluar sekarang ! percuma


bersembunyi , kak Anggi juga sudah mengetahuinya , sekarang aku ingin berkemas dan bersiap ." berjalan meninggalkan Roy .


Roy tidak mengerti dengan apa yang


dibicarakan Mery ." Maksudnya , Anggi


sudah tahu apa ? ," masih dengan


mengekori di belakang kemana arah


Mery berjalan .


Mery risih dengan tingkah Roy yang


selalu mengikutinya , langkahnya


berhenti dan berbalik menatap Roy .


" Kak Anggi sudah mengetahui apa yang


sudah kita lakukan didalam kamar kak ."


berbicara dengan nada tegas .


Mendengar seruan Mery , Roy malah tersenyum ," jika dia sudah tahu mengapa


kita bersembunyi , kita lanjutkan saja


yang tadi ." berusaha mendekati Mery .


Belum hilang rasa malunya pada Anggi ,


sekarang ditambah lagi dengan ucapan


Roy yang menganggap enteng , tanpa


beban pikiran jika ada orang yang


mengetahui perbuatan mereka tadi


didalam kamar , alhasil membuat kejengkelannya bertambah .


Mery yang sudah sering kecolongan


dengan tingkah Roy , menjadikannya


lebih waspada , dia sering was- was jika


melihat tingkah Roy yang sudah mulai mencurigakan.


" Sudah cukup kak !," menodongkan satu


tangannya didepan Roy .


" Sekarang aku tidak ingin diganggu , aku


mau berkemas , karena saat ini tidak ada waktu lagi , kak Joy mengajak kembali ke


Jakarta malam ini juga ." Roy tertegun ,


tanpa kata dia langsung pergi keluar dari kamar dan berjalan cepat mencari keberadaan Anggi, ingin mempertanyakan kebenaran dari apa yang baru saja dia dengar .


Berfokus pada satu tujuan , Roy segera


mencari keberadaan Anggi , terdengar


sebuah alunan musik dari arah teras ,


mempercepat langkahnya mendekati


sumber suara . Langkah Roy berhenti


tepat di dekat Anggi , membuang nafas


beratnya sebelum meminta penjelasan


pada Anggi .


Anggi sempat kaget , di lihatnya orang


yang berdiri tegap di sampingnya tanpa


kata dengan kedua tangan yang di taruh


di pinggang , sedang mengamati dirinya .


Tanpa ingin menyapa , Anggi yang hanya


melihat sekilas , segera berpaling tanpa


menghiraukan keberadaannya , karena


orang itu tak lain adalah Roy .


" Nggi , jelaskan padaku ! apakah yang


dikatakan Mery tadi itu benar ?." seketika


Anggi menoleh kembali , mendongakkan


kepala nya keatas menatap Roy yang


berdiri tegak di dekatnya .


" Memangnya Mery tadi bicara apa ? ."


bertanya dengan nada enteng , masih


dengan gaya cueknya , dan kembali


mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Roy menanyakan tentang benar tidaknya


berita jika malam ini juga Joy


merencanakan untuk kembali ke Jakarta,


karena dia masih tidak percaya , jika


memang berita itu benar , kenapa David


tidak memberitahukan kepadanya terlebih


dahulu , saat tadi sempat bertemu .


Yang ditanya tidak memberikan jawaban


yang melegakan , hanya berkata " Ooo.."


yang disertai dengan anggukan saja .


Tak puas dengan jawaban yang di


dapatkan nya dari Anggi , dengan cepat


Roy pergi meninggalkan kecuekan Anggi


menuju rumah di seberang .


Derap kaki Roy yang lebar , membuatnya


cepat sampai tujuan yang ia inginkan , mencari jawaban pasti kepada David .


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu


Roy langsung saja masuk , karena dia


juga tinggal di sana .


Di ruang tamu terlihat David yang sedang berdiri sedang membenarkan jam


tangannya , dengan.koper yang siap


untuk dibawa , menambah rasa ingin


tahu Roy tentang kepastian berita tersebut .


" David , ben..." Roy tak dapat melanjutkan


pertanyaannya karena lebih dulu


terpotong oleh perintah David .


" Roy , cepatlah berkemas ! , pukul delapan


kita harus sampai di Bandara ." tanpa


memandang , masih sibuk dengan


merapikan penampilannya .


" Apa kau bilang , pukul delapan ? , apa


kau sudah gil* , dengan waktu 30 menit


kau suruh aku bersiap , ini konyol sekali ,


apa tidak lebih baik kita berangkat


sekarang saja , biar aku yang tidak usah


mandi dan berganti baju ini langsung kau


ajak berangkat ke Bandara ." bantahan


Roy yang tidak terima akan rencana


David yang selalu tergesa-gesa , tanpa memberitahukan padanya terlebih dahulu .


David yang tidak memperdulikan ocehan


maupun bantahan dari Roy , berlalu meninggalkan Roy yang dipenuhi rasa


kekesalan .


Roy yang semakin kesal hanya bisa


menuruti apa kemauan dan perintah


dari bos sekaligus teman baiknya itu .


Tanpa mau berdebat lagi , Roy segera


berlari ke kamar nya , apa boleh buat dia


takut jika David sampai meninggalkannya


dalam penerbangan kali ini .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Dalam diam Anggi melihat David dari


kejauhan , menengok kiri dan kanan


seperti hendak menyeberang .


Terlihat sosok David dengan penampilan


rapi yang siap akan berangkat dengan


satu koper ditangannya .


Masih menatap ke arah David yang


semakin mendekat , dengan sesekali


menggigit satu apel ditangannya ,


Anggi menyapa kedatangan David .


" Tuan David tidak usah berhenti disini ,


karena Joy ada didalam ." menunjuk


arah dalam rumah , seakan mengusir


secara halus saat David akan menyapanya.


David hanya tersenyum dan mengangguk,


mengikuti petunjuk yang Anggi berikan.


Kepergian David melegakan hati Anggi ,


sejujurnya dia tidak mau jika David


sampai ikut duduk menemaninya


bersantai walaupun hanya untuk


menunggu keluarnya Joy , dia tidak


mau di ganggu karena ada rasa sedikit gelisah yang muncul dihatinya .


Kini Anggi yang sudah bersiap terduduk


sendirian sedang bersantai di teras ,


disebuah kursi sendiri memandang


jalanan yang di penuhi oleh lalu lalang


orang lewat , entah kemana arah


tujuannya , hanya mereka yang tahu .


Dengan menghabiskan apel yang masih tersisa di tangan , dia membuang


kebosanan yang telah menderanya .


sahabatnya itu untuk kembali ke kota


asal tempat tinggal mereka , dengan


begitu dia bisa sekalian melepas rindu dengan keluarganya .


Rasanya dia berat untuk kembali lagi ke


Jakarta . Tapi apa mau dikata , dia juga


tidak tega jika melihat neneknya harus


mengurus sendirian Toko bunga .


Didalam lamunan , Anggi teringat dengan Andreas . Dari dia tiba di Surabaya tidak sekalipun Anggi menghubungi nya dan


begitu pula dengan Andreas .


Dari sebelum keberangkatannya


ke Surabaya , Andreas memang telah berpesan kepadanya , jika nanti sudah sampai , Anggi hanya perlu memberi kabar jika dia sudah tiba saja , agar Andreas tahu


bahwa Anggi sudah tiba dengan selamat .


Selebihnya Andreas ingin Anggi memfokuskan hanya untuk keluarganya ,


Andreas tidak mau mengganggu atau


pun merusak momen bahagia Anggi


saat berkumpul bersama keluarganya .


Tapi Anggi sendiri lupa belum memberi


kabar sama sekali pada Andreas , ketika


dia sampai .


Dalam kesendirian Anggi , muncullah


rasa rindu di hatinya pada Andreas ,


karena beberapa hari ini dia sudah


menahan niatnya untuk menghubungi


maupun melempar pesan pada


kekasihnya itu .


Diambilnya satu ponselnya yang


tergeletak di meja , mencari satu nama


dan segera di hubungi nya .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Di lain tempat , seorang pria tampan


dengan memakai kemeja hitam dan


celana jeans biru , sedang duduk


sendirian di sebuah Cafe dengan ditemani


secangkir coffe latte yang tinggal separo ,


sisa dia minum dan tersaji di meja .


Dengan memakai sebuah kacamata


yang menambah ketampanannya , hampir


semua melirik atau pun mencuri pandang


kepada pria itu .Di dalam hati mereka ,


ingin rasanya menemani walaupun hanya sekedar duduk bersantai satu meja dengannya .


Tapi pria itu cuek , bahkan terlihat dingin


yang tak mempedulikan orang yang ada


disekitarnya .


Pria tampan itu adalah Andreas , yang


duduk sendiri di satu kursi dengan satu


meja sedang menunggu seseorang yang membuat janji untuk mengajaknya


bertemu , Mendapat pesan jika orang


yang ditunggunya bakal datang terlambat ,


Andreas memutuskan untuk memesan


minuman terlebih dahulu .


Merasa cukup lama menunggu , Andreas


sudah mulai bosan , pandangannya kini


tertuju kearah luar Cafe , dengan sesekali


ditengoknya satu arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Andreas sudah mulai jengah dengan


keadaan di sekitarnya , dia tidak mau


ambil pusing meskipun banyak pasang


mata wanita yang berbisik dengan


sesekali meliriknya , yang membuatnya


kesal hanyalah tak kunjung datangnya


orang yang ditunggunya .


Dalam kebosanan , andreas merasakan


getaran didalam saku jas yang dipakainya,


di rogohkan satu tangannya untuk


mengambil ponsel yang tersimpan


didalamnya . Tatapannya kini berfokus


pada layar , mengukir senyum dibibir nya


dengan secepat kilat , Andreas segera


mengangkatnya .


πŸ€" Hallo sayang ." menjawab telepon


dengan menempelkan tepat didepan


telinga .


Ucapan Andreas mengagetkan para


wanita yang dari tadi mengintainya .


🌻"Kenapa lama sekali kau


mengangkatnya ?." Teriak Anggi yang


sudah tidak sabar ingin mendengar


suara kekasihnya .


πŸ€" Iya maaf , tadi aku hanya sedang


menghabiskan kopi saja , nadanya juga


aku matikan lupa aku nyalakan kembali,


jadi tidak bisa mendengar jika ada orang


yang menelfon ." berusaha menjelaskan


pada Anggi agar tidak semakin marah .


🌻" Kau sekarang ada dimana ?." Anggi


yang penasaran karena mendengar ada


suara orang lain yang ikut masuk didalam


telfonnya .


πŸ€" Di Cafe , sayang .."


Sorot mata Andreas tertuju ke arah pintu ,


seorang wanita yang memakai pakaian


seksi dengan wajah yang berpoles


make up menambah sinar kecantikannya ,


sedang berjalan kearah meja tempat


Andreas duduk di sana .


🌻" Benarkah , dengan siapa ?." Andreas


tak menjawab , karena pandangannya


berpusat pada orang yang di depannya.


" Maaf , sudah menunggu lama ." Andreas


tidak membalas sapaan rekannya yang


baru datang , dia hanya mengangguk dan


menunjuk satu kursi di depannya ,


sebagai isyarat jika dia mempersilakan


wanita itu untuk duduk bersamanya .


" Terimakasih ." sambil duduk pada


kursi yang di tunjuk Andreas tadi .


Kali ini Anggi menangkap dua kali suara wanita yang sangat jelas , dia yakin dan


memastikan jika kini Andreas di Cafe


tidak sendirian , melainkan bersama


dengan seorang wanita .


πŸ€" Hallo sayang , apa ada yang ingin


kamu sampaikan ?." pertanyaan Andreas


yang tidak mendengar suara sahutan dari


kekasihnya .


Yang di tanya tidak menjawab , malah


mematikan sambungan telfonnya ,


merasa sangat kesal yang memuncak


sampai ke ubun-ubun .


" Keterlaluan kau Andreas , aku tinggal


sebentar saja kau sudah dengan wanita


lain , awas kalau aku sampai di Jakarta


ku pastikan kau akan menerima


akibatnya ." celotehan Anggi di dalam


hati .


Joy yang keluar bersama dengan David


dan Mery , siap untuk berangkat .


" Nggi apa kau sudah siap ?." melihat


Anggi yang sedang melamun .


" Sangat ." jawab Anggi yang langsung


berdiri , lalu melempar sisa gigitan appel


ke arah jalan .


Joy kaget melihat tingkah Anggi yang


berbeda , memalingkan wajahnya ke


David dan mereka saling bertukar


pandang , penuh tanya dengan sikap


Anggi .


_


_


Next πŸ€...


Bingung mau bicara apa ... terimakasih


buat yg sudah mendukung novel


oh my Girl sampai di bab hampir 100 ,


Blum tamat kok ,, gimana mau d tamatin


cepet apa lanjut ...


jangan lupa ninggalin jejak ya πŸ₯°


salam cinta dari author 😘😘..