
Selepas dari pandangan Mery , Anggi yang
hilang menjauh tak terlihat , meninggalkan keterdiaman Mery yang masih mematung
dan tak bisa berkutik sambil memegangi bibirnya . Merasa terkena skakmat dari perkataan Anggi , dia tak mampu menjawab .
Ingin rasanya dia mengelak tapi
itu memang kenyataan , dia merasa
tak punya muka setelah ketahuan
melakukan hal yang memalukan didalam kamarnya yang terkunci .
Dengan lemas Mery menghampiri tempat
Roy bersembunyi , kemudian membuka
pintu nya .
" Kak Roy bisa keluar sekarang ! percuma
bersembunyi , kak Anggi juga sudah mengetahuinya , sekarang aku ingin berkemas dan bersiap ." berjalan meninggalkan Roy .
Roy tidak mengerti dengan apa yang
dibicarakan Mery ." Maksudnya , Anggi
sudah tahu apa ? ," masih dengan
mengekori di belakang kemana arah
Mery berjalan .
Mery risih dengan tingkah Roy yang
selalu mengikutinya , langkahnya
berhenti dan berbalik menatap Roy .
" Kak Anggi sudah mengetahui apa yang
sudah kita lakukan didalam kamar kak ."
berbicara dengan nada tegas .
Mendengar seruan Mery , Roy malah tersenyum ," jika dia sudah tahu mengapa
kita bersembunyi , kita lanjutkan saja
yang tadi ." berusaha mendekati Mery .
Belum hilang rasa malunya pada Anggi ,
sekarang ditambah lagi dengan ucapan
Roy yang menganggap enteng , tanpa
beban pikiran jika ada orang yang
mengetahui perbuatan mereka tadi
didalam kamar , alhasil membuat kejengkelannya bertambah .
Mery yang sudah sering kecolongan
dengan tingkah Roy , menjadikannya
lebih waspada , dia sering was- was jika
melihat tingkah Roy yang sudah mulai mencurigakan.
" Sudah cukup kak !," menodongkan satu
tangannya didepan Roy .
" Sekarang aku tidak ingin diganggu , aku
mau berkemas , karena saat ini tidak ada waktu lagi , kak Joy mengajak kembali ke
Jakarta malam ini juga ." Roy tertegun ,
tanpa kata dia langsung pergi keluar dari kamar dan berjalan cepat mencari keberadaan Anggi, ingin mempertanyakan kebenaran dari apa yang baru saja dia dengar .
Berfokus pada satu tujuan , Roy segera
mencari keberadaan Anggi , terdengar
sebuah alunan musik dari arah teras ,
mempercepat langkahnya mendekati
sumber suara . Langkah Roy berhenti
tepat di dekat Anggi , membuang nafas
beratnya sebelum meminta penjelasan
pada Anggi .
Anggi sempat kaget , di lihatnya orang
yang berdiri tegap di sampingnya tanpa
kata dengan kedua tangan yang di taruh
di pinggang , sedang mengamati dirinya .
Tanpa ingin menyapa , Anggi yang hanya
melihat sekilas , segera berpaling tanpa
menghiraukan keberadaannya , karena
orang itu tak lain adalah Roy .
" Nggi , jelaskan padaku ! apakah yang
dikatakan Mery tadi itu benar ?." seketika
Anggi menoleh kembali , mendongakkan
kepala nya keatas menatap Roy yang
berdiri tegak di dekatnya .
" Memangnya Mery tadi bicara apa ? ."
bertanya dengan nada enteng , masih
dengan gaya cueknya , dan kembali
mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Roy menanyakan tentang benar tidaknya
berita jika malam ini juga Joy
merencanakan untuk kembali ke Jakarta,
karena dia masih tidak percaya , jika
memang berita itu benar , kenapa David
tidak memberitahukan kepadanya terlebih
dahulu , saat tadi sempat bertemu .
Yang ditanya tidak memberikan jawaban
yang melegakan , hanya berkata " Ooo.."
yang disertai dengan anggukan saja .
Tak puas dengan jawaban yang di
dapatkan nya dari Anggi , dengan cepat
Roy pergi meninggalkan kecuekan Anggi
menuju rumah di seberang .
Derap kaki Roy yang lebar , membuatnya
cepat sampai tujuan yang ia inginkan , mencari jawaban pasti kepada David .
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu
Roy langsung saja masuk , karena dia
juga tinggal di sana .
Di ruang tamu terlihat David yang sedang berdiri sedang membenarkan jam
tangannya , dengan.koper yang siap
untuk dibawa , menambah rasa ingin
tahu Roy tentang kepastian berita tersebut .
" David , ben..." Roy tak dapat melanjutkan
pertanyaannya karena lebih dulu
terpotong oleh perintah David .
" Roy , cepatlah berkemas ! , pukul delapan
kita harus sampai di Bandara ." tanpa
memandang , masih sibuk dengan
merapikan penampilannya .
" Apa kau bilang , pukul delapan ? , apa
kau sudah gil* , dengan waktu 30 menit
kau suruh aku bersiap , ini konyol sekali ,
apa tidak lebih baik kita berangkat
sekarang saja , biar aku yang tidak usah
mandi dan berganti baju ini langsung kau
ajak berangkat ke Bandara ." bantahan
Roy yang tidak terima akan rencana
David yang selalu tergesa-gesa , tanpa memberitahukan padanya terlebih dahulu .
David yang tidak memperdulikan ocehan
maupun bantahan dari Roy , berlalu meninggalkan Roy yang dipenuhi rasa
kekesalan .
Roy yang semakin kesal hanya bisa
menuruti apa kemauan dan perintah
dari bos sekaligus teman baiknya itu .
Tanpa mau berdebat lagi , Roy segera
berlari ke kamar nya , apa boleh buat dia
takut jika David sampai meninggalkannya
dalam penerbangan kali ini .
πππππ
Dalam diam Anggi melihat David dari
kejauhan , menengok kiri dan kanan
seperti hendak menyeberang .
Terlihat sosok David dengan penampilan
rapi yang siap akan berangkat dengan
satu koper ditangannya .
Masih menatap ke arah David yang
semakin mendekat , dengan sesekali
menggigit satu apel ditangannya ,
Anggi menyapa kedatangan David .
" Tuan David tidak usah berhenti disini ,
karena Joy ada didalam ." menunjuk
arah dalam rumah , seakan mengusir
secara halus saat David akan menyapanya.
David hanya tersenyum dan mengangguk,
mengikuti petunjuk yang Anggi berikan.
Kepergian David melegakan hati Anggi ,
sejujurnya dia tidak mau jika David
sampai ikut duduk menemaninya
bersantai walaupun hanya untuk
menunggu keluarnya Joy , dia tidak
mau di ganggu karena ada rasa sedikit gelisah yang muncul dihatinya .
Kini Anggi yang sudah bersiap terduduk
sendirian sedang bersantai di teras ,
disebuah kursi sendiri memandang
jalanan yang di penuhi oleh lalu lalang
orang lewat , entah kemana arah
tujuannya , hanya mereka yang tahu .
Dengan menghabiskan apel yang masih tersisa di tangan , dia membuang
kebosanan yang telah menderanya .
sahabatnya itu untuk kembali ke kota
asal tempat tinggal mereka , dengan
begitu dia bisa sekalian melepas rindu dengan keluarganya .
Rasanya dia berat untuk kembali lagi ke
Jakarta . Tapi apa mau dikata , dia juga
tidak tega jika melihat neneknya harus
mengurus sendirian Toko bunga .
Didalam lamunan , Anggi teringat dengan Andreas . Dari dia tiba di Surabaya tidak sekalipun Anggi menghubungi nya dan
begitu pula dengan Andreas .
Dari sebelum keberangkatannya
ke Surabaya , Andreas memang telah berpesan kepadanya , jika nanti sudah sampai , Anggi hanya perlu memberi kabar jika dia sudah tiba saja , agar Andreas tahu
bahwa Anggi sudah tiba dengan selamat .
Selebihnya Andreas ingin Anggi memfokuskan hanya untuk keluarganya ,
Andreas tidak mau mengganggu atau
pun merusak momen bahagia Anggi
saat berkumpul bersama keluarganya .
Tapi Anggi sendiri lupa belum memberi
kabar sama sekali pada Andreas , ketika
dia sampai .
Dalam kesendirian Anggi , muncullah
rasa rindu di hatinya pada Andreas ,
karena beberapa hari ini dia sudah
menahan niatnya untuk menghubungi
maupun melempar pesan pada
kekasihnya itu .
Diambilnya satu ponselnya yang
tergeletak di meja , mencari satu nama
dan segera di hubungi nya .
πππππ
Di lain tempat , seorang pria tampan
dengan memakai kemeja hitam dan
celana jeans biru , sedang duduk
sendirian di sebuah Cafe dengan ditemani
secangkir coffe latte yang tinggal separo ,
sisa dia minum dan tersaji di meja .
Dengan memakai sebuah kacamata
yang menambah ketampanannya , hampir
semua melirik atau pun mencuri pandang
kepada pria itu .Di dalam hati mereka ,
ingin rasanya menemani walaupun hanya sekedar duduk bersantai satu meja dengannya .
Tapi pria itu cuek , bahkan terlihat dingin
yang tak mempedulikan orang yang ada
disekitarnya .
Pria tampan itu adalah Andreas , yang
duduk sendiri di satu kursi dengan satu
meja sedang menunggu seseorang yang membuat janji untuk mengajaknya
bertemu , Mendapat pesan jika orang
yang ditunggunya bakal datang terlambat ,
Andreas memutuskan untuk memesan
minuman terlebih dahulu .
Merasa cukup lama menunggu , Andreas
sudah mulai bosan , pandangannya kini
tertuju kearah luar Cafe , dengan sesekali
ditengoknya satu arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Andreas sudah mulai jengah dengan
keadaan di sekitarnya , dia tidak mau
ambil pusing meskipun banyak pasang
mata wanita yang berbisik dengan
sesekali meliriknya , yang membuatnya
kesal hanyalah tak kunjung datangnya
orang yang ditunggunya .
Dalam kebosanan , andreas merasakan
getaran didalam saku jas yang dipakainya,
di rogohkan satu tangannya untuk
mengambil ponsel yang tersimpan
didalamnya . Tatapannya kini berfokus
pada layar , mengukir senyum dibibir nya
dengan secepat kilat , Andreas segera
mengangkatnya .
π" Hallo sayang ." menjawab telepon
dengan menempelkan tepat didepan
telinga .
Ucapan Andreas mengagetkan para
wanita yang dari tadi mengintainya .
π»"Kenapa lama sekali kau
mengangkatnya ?." Teriak Anggi yang
sudah tidak sabar ingin mendengar
suara kekasihnya .
π" Iya maaf , tadi aku hanya sedang
menghabiskan kopi saja , nadanya juga
aku matikan lupa aku nyalakan kembali,
jadi tidak bisa mendengar jika ada orang
yang menelfon ." berusaha menjelaskan
pada Anggi agar tidak semakin marah .
π»" Kau sekarang ada dimana ?." Anggi
yang penasaran karena mendengar ada
suara orang lain yang ikut masuk didalam
telfonnya .
π" Di Cafe , sayang .."
Sorot mata Andreas tertuju ke arah pintu ,
seorang wanita yang memakai pakaian
seksi dengan wajah yang berpoles
make up menambah sinar kecantikannya ,
sedang berjalan kearah meja tempat
Andreas duduk di sana .
π»" Benarkah , dengan siapa ?." Andreas
tak menjawab , karena pandangannya
berpusat pada orang yang di depannya.
" Maaf , sudah menunggu lama ." Andreas
tidak membalas sapaan rekannya yang
baru datang , dia hanya mengangguk dan
menunjuk satu kursi di depannya ,
sebagai isyarat jika dia mempersilakan
wanita itu untuk duduk bersamanya .
" Terimakasih ." sambil duduk pada
kursi yang di tunjuk Andreas tadi .
Kali ini Anggi menangkap dua kali suara wanita yang sangat jelas , dia yakin dan
memastikan jika kini Andreas di Cafe
tidak sendirian , melainkan bersama
dengan seorang wanita .
π" Hallo sayang , apa ada yang ingin
kamu sampaikan ?." pertanyaan Andreas
yang tidak mendengar suara sahutan dari
kekasihnya .
Yang di tanya tidak menjawab , malah
mematikan sambungan telfonnya ,
merasa sangat kesal yang memuncak
sampai ke ubun-ubun .
" Keterlaluan kau Andreas , aku tinggal
sebentar saja kau sudah dengan wanita
lain , awas kalau aku sampai di Jakarta
ku pastikan kau akan menerima
akibatnya ." celotehan Anggi di dalam
hati .
Joy yang keluar bersama dengan David
dan Mery , siap untuk berangkat .
" Nggi apa kau sudah siap ?." melihat
Anggi yang sedang melamun .
" Sangat ." jawab Anggi yang langsung
berdiri , lalu melempar sisa gigitan appel
ke arah jalan .
Joy kaget melihat tingkah Anggi yang
berbeda , memalingkan wajahnya ke
David dan mereka saling bertukar
pandang , penuh tanya dengan sikap
Anggi .
_
_
Next π...
Bingung mau bicara apa ... terimakasih
buat yg sudah mendukung novel
oh my Girl sampai di bab hampir 100 ,
Blum tamat kok ,, gimana mau d tamatin
cepet apa lanjut ...
jangan lupa ninggalin jejak ya π₯°
salam cinta dari author ππ..