
" Andreas bagaimana ini , Joy disana
kritis karena ulah mulut terkutukku Dre,,"
di dalam pelukan Andreas , Anggi
menangis tersedu-sedu duduk diatas
kursi Taman Rumah Sakit .
Mencoba menenangkan kekasihnya
yang sudah histeris saat mendapati
sahabatnya itu hampir nyawanya tidak
tertolong .
" Tenangkan dirimu sayang , Joy dan
anaknya pasti baik - baik saja ." memeluk
erat dari samping .
Hati Anggi merasa bersalah , niat
candaannya berujung petaka untuk
sahabatnya .
Saat tiba di Rumah Sakit dia
mendengarkan penuturan dari Dokter
bahwasanya mereka telat sedikit
membawanya pasti para medis tidak
bisa berbuat apa-apa .
Serasa hatinya hancur , menyesali sebuah emosi sesaat yang didapatnya dari Kantor Andreas diluapkan pada candaan tentang
Mery ternyata bisa membuat temannya itu
terguncang .
" Bodoh,, bodoh ,, bodoh,, bisa - bisanya
mulutku ini lancang tidak bisa melihat
situasi . " sambil menampar sendiri
pipinya , Anggi merutuki kebodohannya .
Andreas memegang tangan Anggi ,
menahan agar tidak bisa lagi melakukan
hal konyol yang tidak akan mungkin bisa
merubah keadaan .
" Cukup sayang , hentikan !, kita tunggu
kabar selanjutnya dari mery , kita doakan
saja , semoga yang kau pikirkan bertolak belakang dengan yang ada di dalam ."
Anggi tak bisa berbuat apa-apa , ingin
masuk kedalam , namun di cegah oleh
Andreas , karena didalam tadi Mery
mengatakan pada Andreas jangan sampai
mengajak Anggi masuk , harus menunggu
kabar selanjutnya darinya .
" Sayang sebenarnya apa yang terjadi ,
kemarin Joy kelihatan baik - baik saja ."
mengelus pucuk kepala wanita berambut
sebahu itu .
Menegakkan tubuhnya , Anggi menoleh
pada Andreas ," Dre , Joy celaka karena
ulah ku ." Anggi mewek air matanya
keluar kembali .
" Sudah , jangan di bahas dulu , tenangkan
dirimu kita Kantin ya ." Anggi menolak .
Anggi menceritakan kejadiannya pada
Andreas , dari awal hingga Joy tak
sadarkan diri . Tanpa di duga respon
Andreas hanya diam dengan memejamkan mata .
Mengambil nafasnya dalam , membentuk
Wajah biasa saja agar kekasihnya itu
tidak khawatir .
" Masalah ini David tak boleh tahu ,
bisa - bisa Anggi dan keluarganya
ditebas habis olehnya . " menyusun tak tik untuk menutupi kesalahan kekasihnya .
Andreas mengajak Anggi ke Kantin
untuk membeli minuman buat orang
di dalam sana , alih-alih beralasan pamit
ingin ke Toilet , Andreas menghubungi
anak buahnya .
Untuk mencari informasi siapa saja yang mengetahui kejadian di Toko bunga ,
agar dia bisa mencari celah untuk
mengahalangi situasi yang bisa
membawa kekasihnya itu ke Rana yang
bahaya .
Andreas tahu bagaimana sifat David , jika
ada orang yang mencelakai keluarga nya
maka David tak akan tinggal diam , dia
pasti menghancurkan sampai ke akar
hingga orang itu menyesal bisa
bermasalah dengan seorang David .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Sebelum sampai di Rumah Sakit , Roy
menyempatkan diri untuk mampir
ke sebuah Restoran , memesan makanan
dan minuman untuk dibawanya nanti
ke Rumah Sakit .
Dia tahu jika sejak makan siang tadi ,
temannya itu belum makan apapun dan
dari informasi yang dia dapat keadaan
sepupunya itu sekarang kritis , hal itu
tidak memungkinkan David untuk
ke luar .
Pasti David dengan mati - matian ingin
menunggu istrinya sampai keluar dari
masa kritisnya .
" Isabel sayang kau suka minuman apa
nanti aku pesankan , atau jika kau mau
kau bisa memilihnya sendiri ."
Menggandeng jemari mungil wanita berkacamata itu untuk mengajaknya
masuk kedalam Restoran .
Berjalan di belakang Roy , Isabel ingin
mensejajarkan diri namun tak bisa
karena langkahnya kalah lebar dengan
lelaki tampan yang menggandengnya ini .
" Terserah bapak , saya ikut saja ."
Roy menghentikan langkahnya saat
berada di depan pintu , " jangan panggil
aku bapak , aku tidak setua itu , kau bisa
memanggilku mas atau sayang juga
boleh ." mencium pipi Isabel sebelum
melanjutkan mengajaknya masuk
kedalam Restauran .
" A,,a,,aaaaa,, pak Roy menciumku lagi
aduh, ini di tempat umum lagi , hah ."
suara hati Isabel meronta bersamaan
dengan jantungnya yang berdebar hingga pipinya bersemu merah .
Roy memesan makanan dan minuman
lumayan banyak , yang dia tahu pasti
disana tidak hanya ada David yang
menunggu Joy .
" Isabel kita makan dulu disana , sambil
menunggu makanan yang kita pesan
siap untuk di bawa ke Rumah Sakit nanti ." menunjuk satu meja terletak di dekat jendela .
Wanita itu menurut saja apa yang
di katakan oleh Roy , karena bagaimana
pun disini Roy adalah pengganti atasannya .
Mereka berdua menikmati makanannya
sambil melihat pemandangan jalanan
mengeluarkan cahaya lampu saat langit
sudah hampir menghitam , menandakan
jika kini sudah memasuki waktu
menjelang malam .
" Sayang jangan biarkan saos itu
mengotori bibir indahmu , apa mau aku
harus bantu membersihkannya dengan lidahku ." memandang Isabella dengan
tatapan buaya yang sedang kelaparan .
Perkataan Roy seketika membuat
wanita manis itu gelabagan , berkata
gugup hingga membuatnya salah tingkah .
" Ti,, tidak pak,, saya bisa sendiri ."
mengambil tisu kemudian mengusap
sisa saos yang belepotan mengenai
bibirnya .
" Parah ,,, berlama-lama dengan pak Roy
bisa membuatku jantungan ."
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Sesampainya di Rumah Sakit Roy
langsung menuju Ruang Operasi dimana
letak sepupunya itu mendapat penanganan .
Dari kejauhan Mery melihat sepasang
orang berjalan beriringan dengan tangan
yang sedang bergandengan .
Memicingkan matanya agar lebih jelas
siapa orang yang berjalan mendekat
kearahnya .
" Hah ,itu bukannya kak Roy , eit bersama
siapa dia ."
Semakin mendekat orang itu semakin
jelas pula ternyata memang orang yang
tadi siang mengerjainya di Kolam .
Isabella memberikan satu persatu
makanan yang dia bawa pada orang yang berada di depan Ruangan operasi , seperti dalam pikiran nya pasti semua orang
yang ada disini sedang mempunyai tujuan
yang sama .
Roy melepaskan gandengan kemudian
mendekati David ," Bagaimana keadaan
Joy terkini ?." David berhambur meraup
tubuh kekar temannya .
David tak mampu menahan sakit yang
teramat menusuk di hatinya , dia tak
kuasa harus kehilangan kedua orang
yang terpenting di hidupnya .
" Roy ,, anakku Roy , aku membunuhnya
dengan tanganku sendiri , ayah macam
apa aku ini ."
Untuk pertama kalinya Roy melihat
temannya itu menangis .
" David apa ini , seorang David menangis?
apa kau tak malu dengan anakmu , jika
dia tahu kalau ayahnya menangis , pasti
dia malu punya ayah cengeng sepertimu ."
Mendorong tubuh David yang memeluknya
sengaja membuat candaan receh untuk
mengalihkan emosi temannya ini .
Alhasil satu pukulan dari tangan David
terjun bebas mengenai kepala Roy .
" Perset*n dengan rasa malu , kau
memang tak berguna Roy , sana pergi
dari sini ." Mendorong Roy .
Roy tak menggubris cacian David ,
dia merasa lega temannya itu masih bisa
emosi dan memarahinya , Roy berharap
kemarahan David padanya tadi bisa
mengurangi beban hati dan pikiran .
Isabella mendekati Roy dengan
menunjukkan ponsel yang di bawanya ,
" Mas Roy , anda mendapat pesan dari
bunda , jika beliau sudah berada
di Bandara meminta kita untuk
menjemputnya ."
Bagai terkena petir disiang bolong , Mery
syok mendengar panggilan wanita yang
datang bersama dengan Roy .
" What , dia memanggil " MAS " pasti
kakak itu pacarnya kak Roy , dasar kutu
kucing , lelaki buaya kudisan , sudah
punya pacar masih saja kegatelan ."
Mery menggertakkan gigi sambil
menggenggam erat segelas jus pemberian wanita yang memanggil Roy dengan
sebutan "mas " tadi .
Melihat orang yang sudah membuatnya
suka kini malah bercakap mesra di depan
matanya , Mery menahan cemburu .
" Sabar , sabar ,,, anggap saja dia kucing
lewat ."
Roy lupa disana ada Mery , dengan
santainya dia menggandeng Isabel
mengajaknya untuk menjemput bundanya
di Bandara .
" David aku pergi dulu , bunda dan Tanteku
sudah menunggu ." menepuk lengan David
dia mengangguk .
" Berikan permintaan maaf ku , karena
aku lupa tidak memberi kabar dan
menjemput mereka ."
" Santai saja masih ada aku , ok bro aku
berangkat dulu ," mengajak Isabella
pergi .
" Sayang kita jemput bunda dulu ."
Tak jauh darinya ada Mery yang dengan
santai nya melihat adegan di depannya ,
berjalan melewati Mery dia tak sadar
siapa orang yang di lewatinya .
Tepat Roy lewat di depannya , Mery
meluruskan kakinya , Roy yang fokus
dengan Isabel pun terjungkal jatuh
kelantai .
" Upsss,, maaf tak sengaja , sakit ya ?,"
Mery berdiri mendekati Roy , dia kira
Mery hendak menolongnya ternyata
tidak , Mery malah menginjak jari Roy .
" Upss,, maaf lagi tidak sengaja ."
Meninggalkan Roy yang tengkurap
di lantai dengan rasa sakit dan malu
bercampur menjadi satu .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Lanjut gak,,, lanjut gak,, masa nggak ???
lanjut dongggggg๐คญ๐๐๐๐
Jejak nya mana oy oy ๐
Next ๐