Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Amarah ,,,


" Andreas bagaimana ini , Joy disana


kritis karena ulah mulut terkutukku Dre,,"


di dalam pelukan Andreas , Anggi


menangis tersedu-sedu duduk diatas


kursi Taman Rumah Sakit .


Mencoba menenangkan kekasihnya


yang sudah histeris saat mendapati


sahabatnya itu hampir nyawanya tidak


tertolong .


" Tenangkan dirimu sayang , Joy dan


anaknya pasti baik - baik saja ." memeluk


erat dari samping .


Hati Anggi merasa bersalah , niat


candaannya berujung petaka untuk


sahabatnya .


Saat tiba di Rumah Sakit dia


mendengarkan penuturan dari Dokter


bahwasanya mereka telat sedikit


membawanya pasti para medis tidak


bisa berbuat apa-apa .


Serasa hatinya hancur , menyesali sebuah emosi sesaat yang didapatnya dari Kantor Andreas diluapkan pada candaan tentang


Mery ternyata bisa membuat temannya itu


terguncang .


" Bodoh,, bodoh ,, bodoh,, bisa - bisanya


mulutku ini lancang tidak bisa melihat


situasi . " sambil menampar sendiri


pipinya , Anggi merutuki kebodohannya .


Andreas memegang tangan Anggi ,


menahan agar tidak bisa lagi melakukan


hal konyol yang tidak akan mungkin bisa


merubah keadaan .


" Cukup sayang , hentikan !, kita tunggu


kabar selanjutnya dari mery , kita doakan


saja , semoga yang kau pikirkan bertolak belakang dengan yang ada di dalam ."


Anggi tak bisa berbuat apa-apa , ingin


masuk kedalam , namun di cegah oleh


Andreas , karena didalam tadi Mery


mengatakan pada Andreas jangan sampai


mengajak Anggi masuk , harus menunggu


kabar selanjutnya darinya .


" Sayang sebenarnya apa yang terjadi ,


kemarin Joy kelihatan baik - baik saja ."


mengelus pucuk kepala wanita berambut


sebahu itu .


Menegakkan tubuhnya , Anggi menoleh


pada Andreas ," Dre , Joy celaka karena


ulah ku ." Anggi mewek air matanya


keluar kembali .


" Sudah , jangan di bahas dulu , tenangkan


dirimu kita Kantin ya ." Anggi menolak .


Anggi menceritakan kejadiannya pada


Andreas , dari awal hingga Joy tak


sadarkan diri . Tanpa di duga respon


Andreas hanya diam dengan memejamkan mata .


Mengambil nafasnya dalam , membentuk


Wajah biasa saja agar kekasihnya itu


tidak khawatir .


" Masalah ini David tak boleh tahu ,


bisa - bisa Anggi dan keluarganya


ditebas habis olehnya . " menyusun tak tik untuk menutupi kesalahan kekasihnya .


Andreas mengajak Anggi ke Kantin


untuk membeli minuman buat orang


di dalam sana , alih-alih beralasan pamit


ingin ke Toilet , Andreas menghubungi


anak buahnya .


Untuk mencari informasi siapa saja yang mengetahui kejadian di Toko bunga ,


agar dia bisa mencari celah untuk


mengahalangi situasi yang bisa


membawa kekasihnya itu ke Rana yang


bahaya .


Andreas tahu bagaimana sifat David , jika


ada orang yang mencelakai keluarga nya


maka David tak akan tinggal diam , dia


pasti menghancurkan sampai ke akar


hingga orang itu menyesal bisa


bermasalah dengan seorang David .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Sebelum sampai di Rumah Sakit , Roy


menyempatkan diri untuk mampir


ke sebuah Restoran , memesan makanan


dan minuman untuk dibawanya nanti


ke Rumah Sakit .


Dia tahu jika sejak makan siang tadi ,


temannya itu belum makan apapun dan


dari informasi yang dia dapat keadaan


sepupunya itu sekarang kritis , hal itu


tidak memungkinkan David untuk


ke luar .


Pasti David dengan mati - matian ingin


menunggu istrinya sampai keluar dari


masa kritisnya .


" Isabel sayang kau suka minuman apa


nanti aku pesankan , atau jika kau mau


kau bisa memilihnya sendiri ."


Menggandeng jemari mungil wanita berkacamata itu untuk mengajaknya


masuk kedalam Restoran .


Berjalan di belakang Roy , Isabel ingin


mensejajarkan diri namun tak bisa


karena langkahnya kalah lebar dengan


lelaki tampan yang menggandengnya ini .


" Terserah bapak , saya ikut saja ."


Roy menghentikan langkahnya saat


berada di depan pintu , " jangan panggil


aku bapak , aku tidak setua itu , kau bisa


memanggilku mas atau sayang juga


boleh ." mencium pipi Isabel sebelum


melanjutkan mengajaknya masuk


kedalam Restauran .


" A,,a,,aaaaa,, pak Roy menciumku lagi


aduh, ini di tempat umum lagi , hah ."


suara hati Isabel meronta bersamaan


dengan jantungnya yang berdebar hingga pipinya bersemu merah .


Roy memesan makanan dan minuman


lumayan banyak , yang dia tahu pasti


disana tidak hanya ada David yang


menunggu Joy .


" Isabel kita makan dulu disana , sambil


menunggu makanan yang kita pesan


siap untuk di bawa ke Rumah Sakit nanti ." menunjuk satu meja terletak di dekat jendela .


Wanita itu menurut saja apa yang


di katakan oleh Roy , karena bagaimana


pun disini Roy adalah pengganti atasannya .


Mereka berdua menikmati makanannya


sambil melihat pemandangan jalanan


mengeluarkan cahaya lampu saat langit


sudah hampir menghitam , menandakan


jika kini sudah memasuki waktu


menjelang malam .


" Sayang jangan biarkan saos itu


mengotori bibir indahmu , apa mau aku


harus bantu membersihkannya dengan lidahku ." memandang Isabella dengan


tatapan buaya yang sedang kelaparan .


Perkataan Roy seketika membuat


wanita manis itu gelabagan , berkata


gugup hingga membuatnya salah tingkah .


" Ti,, tidak pak,, saya bisa sendiri ."


mengambil tisu kemudian mengusap


sisa saos yang belepotan mengenai


bibirnya .


" Parah ,,, berlama-lama dengan pak Roy


bisa membuatku jantungan ."


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Sesampainya di Rumah Sakit Roy


langsung menuju Ruang Operasi dimana


letak sepupunya itu mendapat penanganan .


Dari kejauhan Mery melihat sepasang


orang berjalan beriringan dengan tangan


yang sedang bergandengan .


Memicingkan matanya agar lebih jelas


siapa orang yang berjalan mendekat


kearahnya .


" Hah ,itu bukannya kak Roy , eit bersama


siapa dia ."


Semakin mendekat orang itu semakin


jelas pula ternyata memang orang yang


tadi siang mengerjainya di Kolam .


Isabella memberikan satu persatu


makanan yang dia bawa pada orang yang berada di depan Ruangan operasi , seperti dalam pikiran nya pasti semua orang


yang ada disini sedang mempunyai tujuan


yang sama .


Roy melepaskan gandengan kemudian


mendekati David ," Bagaimana keadaan


Joy terkini ?." David berhambur meraup


tubuh kekar temannya .


David tak mampu menahan sakit yang


teramat menusuk di hatinya , dia tak


kuasa harus kehilangan kedua orang


yang terpenting di hidupnya .


" Roy ,, anakku Roy , aku membunuhnya


dengan tanganku sendiri , ayah macam


apa aku ini ."


Untuk pertama kalinya Roy melihat


temannya itu menangis .


" David apa ini , seorang David menangis?


apa kau tak malu dengan anakmu , jika


dia tahu kalau ayahnya menangis , pasti


dia malu punya ayah cengeng sepertimu ."


Mendorong tubuh David yang memeluknya


sengaja membuat candaan receh untuk


mengalihkan emosi temannya ini .


Alhasil satu pukulan dari tangan David


terjun bebas mengenai kepala Roy .


" Perset*n dengan rasa malu , kau


memang tak berguna Roy , sana pergi


dari sini ." Mendorong Roy .


Roy tak menggubris cacian David ,


dia merasa lega temannya itu masih bisa


emosi dan memarahinya , Roy berharap


kemarahan David padanya tadi bisa


mengurangi beban hati dan pikiran .


Isabella mendekati Roy dengan


menunjukkan ponsel yang di bawanya ,


" Mas Roy , anda mendapat pesan dari


bunda , jika beliau sudah berada


di Bandara meminta kita untuk


menjemputnya ."


Bagai terkena petir disiang bolong , Mery


syok mendengar panggilan wanita yang


datang bersama dengan Roy .


" What , dia memanggil " MAS " pasti


kakak itu pacarnya kak Roy , dasar kutu


kucing , lelaki buaya kudisan , sudah


punya pacar masih saja kegatelan ."


Mery menggertakkan gigi sambil


menggenggam erat segelas jus pemberian wanita yang memanggil Roy dengan


sebutan "mas " tadi .


Melihat orang yang sudah membuatnya


suka kini malah bercakap mesra di depan


matanya , Mery menahan cemburu .


" Sabar , sabar ,,, anggap saja dia kucing


lewat ."


Roy lupa disana ada Mery , dengan


santainya dia menggandeng Isabel


mengajaknya untuk menjemput bundanya


di Bandara .


" David aku pergi dulu , bunda dan Tanteku


sudah menunggu ." menepuk lengan David


dia mengangguk .


" Berikan permintaan maaf ku , karena


aku lupa tidak memberi kabar dan


menjemput mereka ."


" Santai saja masih ada aku , ok bro aku


berangkat dulu ," mengajak Isabella


pergi .


" Sayang kita jemput bunda dulu ."


Tak jauh darinya ada Mery yang dengan


santai nya melihat adegan di depannya ,


berjalan melewati Mery dia tak sadar


siapa orang yang di lewatinya .


Tepat Roy lewat di depannya , Mery


meluruskan kakinya , Roy yang fokus


dengan Isabel pun terjungkal jatuh


kelantai .


" Upsss,, maaf tak sengaja , sakit ya ?,"


Mery berdiri mendekati Roy , dia kira


Mery hendak menolongnya ternyata


tidak , Mery malah menginjak jari Roy .


" Upss,, maaf lagi tidak sengaja ."


Meninggalkan Roy yang tengkurap


di lantai dengan rasa sakit dan malu


bercampur menjadi satu .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Lanjut gak,,, lanjut gak,, masa nggak ???


lanjut dongggggg๐Ÿคญ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ


Jejak nya mana oy oy ๐Ÿ’ƒ


Next ๐Ÿ˜