
Siang ini cuaca agak mendung sepertinya sebuah pertanda jika akan turun hujan, udara yang gerah dan lembab membuat orang serba salah mau berbuat apa.
Tapi bertolak belakang dengan suasana hati joyanna yang kini terasa begitu cerah ceria karena setelah dia menyantap makan siang yang dimasakkan oleh ibunya tadi, dia mendapatkan kabar dari Dokter jika nanti
sore dia sudah boleh pulang.
Joy yang sangat senang membuatnya tak sabar untuk menunggu waktunya sore tiba,
dia tak ingin berlama-lama lagi tinggal di Rumah Sakit ini.
Joy sangat bosan sudah beberapa hari
berdiam di dalam kamar tidak bisa kemana-mana, bahkan ke ruangan tempat putranya saja Oma tidak memperbolehkannya, sekarang dia sudah lega karena sebentar lagi dia akan bisa pulang dan berkumpul dengan putranya tanpa ada ruang yang memisahkan mereka.
Seorang perawat masuk kedalam kamar Joy dirawat, dengan membawa seorang bayi digendongannya, wajah Joy ceria dengan senyuman yang mengembang dan kedua tangannya yang direntangkan.
"Oh my boy β¦ mommy kangen."
Teriak Joy sambil menghembuskan nafasnya dengan berat merasakan kelegaan dalam hati saat melihat sosok putranya yang akan mendekat.
"Cepat bawa kemari, kau sangat lambat."
Cerca Joy yang tidak sabar.
Wulan yang duduk di kursi sebelah putrinya pun menepuk pundaknya.
"Sabar Joy .., pasti dia akan memberikan bayimu, lihatlah dia masih berjalan kemari." Sahut Wulan saat melihat anaknya yang tidak sabaran sambil menggelengkan kepala.
"Aku sudah bersabar Bu, dari pagi aku belum melihat putraku sama sekali, apa kalian tidak kasihan padaku." Memasang wajah cemberut.
Perawat itu hanya tersenyum, dia tahu betapa rindunya sang ibu saat tak sabar ingin menggendong anaknya.
"Baik nyonya, ini putra anda maafkan saya
yang terlalu kecil melangkah." Dengan pelan memberikan bayi kepada Joy.
'Semoga putriku tidak memiliki nasib buruk sepertiku, yang terpisah dengan darah dagingnya dan semoga dia diberikan kebahagiaan yang melimpah, Amin.'
Sambil memandang putrinya Wulan meneteskan air mata, seketika ingatannya memutar balik saat dia dulu melahirkan joy yana.
Wulan hanya bisa menggendong putrinya sekali dan tak pernah melihat ataupun mendengar tangisannya lagi, karena ayahnya yang tidak merestui hubungannya dengan
ayah kandung joyyana, memisahkan dia dan putrinya dengan membuang joyyana ke Panti Asuhan yang Wulan tak tahu dimana
persisnya panti asuhan itu berada.
Sampai dia frustasi dan hampir saja mengakhiri hidupnya, tapi ayah joyyana mengajaknya kawin lari sambil pelan-pelan mencari keberadaan anak mereka berdua.
Takdir berkehendak lain mereka tidak menemukan putri kecil mereka sampai bertahun-tahun hingga akhir hayat sang
suami, dia masih belum bertemu dengan putrinya.
Andai waktu bisa terulang Wulan pasti
memilih untuk membawa lari putrinya itu sebelum ayahnya memisahkan mereka,
Wulan sangat bersyukur dan bahagia
meskipun dengan jarak yang sangat lama
dia masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan putri semata wayangnya itu.
Tapi ada sedikit keadaan yang membuatnya berat yaitu belum puas dia berkumpul
bersama putrinya, sekarang sudah
dipisahkan lagi karena putrinya itu diajak tinggal bersama dengan keluarga suaminya.
Dengan hati berat, mau tidak mau Wulan
harus menyetujuinya sebab itu demi kebahagiaan putrinya.
πΉKembali pada joyyana.
Joy sangat rindu dengan putranya,
di ciumnya seluruh wajah mungil si bayi dengan lembut seraya meluapkan rasa rindu yang hampir tidak terbendung.
"Joy pelan - pelan nanti dia sakit." Ucap Wulan yang tak tega melihat pipi sang cucu
memerah akibat berulang kali nya pipi itu di cium Joy.
Joy tak menggubris ucapan ibunya, dia
masih saja memeluk dan mencium putranya berulang kali tanpa ada rasa bosan.
"Joy .. ." Panggil Wulan sambil menyentuh
bahu Joy untuk menghentikan gerakannya.
"Apa sih Bu, biarkan aku melepaskan rasa rinduku padanya, pasti sebentar lagi perawat
itu membawanya pergi." Membantah ibunya sambil melihat si perawat dengan bibir manyun.
"Maaf nyonya tadi saya membawa putra anda kemari bermaksud untuk meminta asi anda, karena sekarang sudah waktunya untuk dia minum asi." Perawat berjalan mendekati Joy ingin membantu memberikan pengarahan
saat Joy menyusui bayinya.
"Jangan tidak usah, aku bisa sendiri." Joy menjauhkan bayinya dari tangan sang
perawat, merasa takut jika perawat itu akan mengambil anaknya.
"Joy kau ini apa - apaan sih, dia hanya ingin membantumu bukan menculik bayimu, jadi biarkan dia mengajarimu agar kau bisa menyusui dengan benar, apa kau tidak ingin bayimu mendapat asi yang cukup, kalau kau tidak tahu caranya bisa- bisa hidungnya tertutup oleh payud*ramu."
Penjelasan Wulan membuat Joy terdiam.
"Maaf." Ucap Joy pada perawat dan merasa bersalah sudah berpikiran yang tidak - tidak.
Joy membiarkan si perawat mengajarinya,
dia menurut dengan serius setiap tindakan yang diajarkan padanya.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, semua yang
ada di kamar melihat siapa yang
membukanya, masuk seorang gadis dengan wajah yang cemberut, gadis itu tidak menganggap keberadaan orang yang ada di sana, di otaknya hanyalah rasa kesal dan kesal yang di dapatnya dari luar tadi.
Gadis itu adalah Adinda yang baru masuk dengan menghentakkan kakinya dan
langsung duduk di sofa. Wulan menatap heran.
"Kenapa dengan anak itu?." Berbicara sendiri sambil masih menatap gerak gerik keponakannya.
"Coba ibu dekati dan tanyakan padanya pasti terjadi sesuatu di luar sana." Wulan mengangguk lalu mendekati Adinda.
Duduk di samping keponakannya Wulan mengelus pucuk kepala sang keponakan.
"Ada apa Din, coba cerita pada Tante." Adinda mendengus kesal.
"Mas Roy Tante ." Sambil memukul bantal sofa.
"Roy?." Wulan terkejut langsung mengalihkan pandangannya pada joyyana. Joy
mengangkat kedua bahunya.
"Iya Tante, mas Roy tadi mengusirku mentang-mentang dia lagi bersama Mery,
yang adiknya itu siapa sih, aku atau Mery?." Teriak Adinda menjelaskan.
Semakin membuat Wulan Bingung, setelah kemarin Roy memberitahukan jika akan menikahi wanita yang katanya dia adalah sekretaris menantunya itu, malah sekarang
Roy bersama Mery, sebenarnya mana yang disukai oleh keponakannya itu.
"Bersama dengan Mery, dimana Din?."
Sambil menyusuri Joy bertanya.
Adinda memandang kakak sepupunya,
"Di lift kak, mereka hanya berdua disana saat aku akan masuk mas Roy malah melarangku, dia hanya ingin berdua dengan Mery."
Joy langsung mengambil ponselnya yang berada di bawah bantal hendak menghubungi Mery tapi dicegah oleh ibunya.
"Joy jangan ikut campur, sekarang fokuskan menyusui bayimu biarkan mereka." Berjalan mendekati putrinya untuk mengambil ponsel yang ada di tangan Joy.
Sambil mata berkaca-kaca Adinda menceritakan tentang hubungan Mery
dengan Bimo kalau mereka sekarang sudah resmi jadian. Tak kurang dari penjelasannya
dia juga menceritakan saat dirinya menceritakan juga pada kakaknya.
Dan menyimpulkan sendiri jika keadaan di dalam lift saat ini bisa jadi termasuk emosi kakaknya yang tidak terima jika Mery menjalin hubungan dengan pria lain, Adinda juga mengklaim jika kakaknya itu sebenarnya sangat mencintai Mery bukan pada wanita
yang akan dinikahinya.
Semua orang tercengang mendengar penuturan Adinda, tanpa mereka sadari ada dua pasang telinga yang ikut mendengarkan suara gadis itu saat berkoar mengeluarkan sebuah kenyataan.
"Kau bicara apa Adinda, katakan jika semua yang kau ucapkan tadi adalah bohong." Suara lantang sang ibunda bersamaan dia
melangkah kakinya masuk kedalam, dari tadi dia berdiri di depan pintu bersama dengan Isabella.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Q nulis sambil deg degan, aku kira
Jantungan ehhh ternyata aku lapar
Ihhhh .. malunya πππππ
Jangan lupa jejaknya ya say π₯³π₯³π₯³
Next gakkk ππππ