
πππππππππ
Sebuah mobil Limousine berhenti didepan
gerbang sebuah Rumah mewah bak
istana , menunggu sepasang pintu
gerbang untuk terbuka . Para pengawal
yang berjaga di depan rumah pun
segera membukakan gerbang , setelah
tahu mobil siapa yang datang .
Setelah pintu gerbang berhasil terbuka ,
mobil pun masuk kedalam halaman
rumah yang luas dan berhenti tepat
di depan pintu , yang sudah berdiri
beberapa orang pembantu yang sudah
siap sedari tadi menyambut kedatangan tuannya .
Mery takjub dengan keadaan yang terjadi
di Rumah David , dia tidak pernah sekali
pun datang ke Rumah itu . Pemandangan
Rumah yang megah , serta pengawal dan
pembantu yang berjajar rapi hendak
menyambut kedatangan mereka ,
melengkapi keterkejutan Mery .
" Kak apa ini benar Rumah kak David ?."
memandang para pengawal dan pembantu
David dari dalam mobil .
" Ya benar , apa kau ingin Rumah seperti
ini." mengubah tempat duduk di sebelah
Mery .
" Hah ,ti,, tidak ..." kaget dan gugup
dengan kedatangan Roy yang tiba-tiba
ada di sebelahnya .
Mery waspada , dia segera menjaga
jarak aman , takut jika Roy berbuat
apa-apa bila sudah ada di dekatnya .
" Aku tidak akan berbuat apa-apa
padamu , kau tenang saja dan perlu
kau ingat aku tidak akan berbuat
mesum padamu jika kau tidak
mengijinkan nya ." Roy mengangkat
kedua alisnya saat bertukar pandang
dengan Mery .
" Huh..., kata - kata yang tidak bisa di
pegang ." mendorong dada bidang Roy
saat pintu sudah terbuka , dan segera
keluar menghindarinya .
Roy tertawa dan ikut turun bersama
Mery ," kalau kau tak nyaman tinggal
disini , kau bisa tinggal di Apartemenku ."
berbisik mendekatkan bibirnya d telinga
Mery . Lagi - lagi sikap Roy membuat
Mery salah tingkah .
" Apa sih kak ." menyikut perut Roy .
Joy turun dari mobil di bantu David ,
" Selamat datang kembali nyonya ,"
sapa seorang kepala pembantu saat
melihat Joy yang baru keluar dari mobil.
" Terimakasih Bi , Oma sudah tidur ?."
melihat kearah dalam Rumah .
" Sudah nyonya , dari tadi sore dan kami
tidak memberitahukan perihal
kepulangan nyonya dan tuan ." ingin
mengambil alih untuk membantu Joy
tapi di larang oleh David .
" Lepaskan aku David !, aku bisa berjalan
sendiri ."
Joy mengajak Mery masuk kedalam ,
kemudian menyuruh salah satu pembantu
untuk segera menyiapkan kamar , untuk
Mery istirahat . Dengan suara pelan
dia masuk kedalam Rumah , tidak ingin
membuat Oma terbangun .
Para pembantu mengikuti Joy dan Mery
dari belakang , " nyonya kami sudah
menyiapkan makanan untuk nyonya dan
tuan , silahkan ." menunjuk ke sebuah
meja makan yang sudah tersedia berbagai
makanan kesukaan Joy .
" Terimakasih Bi , bibi tau saja kalau aku
sudah lapar , " mengelus lengan sang
kepada pembantu .
" Tolong panggilkan David dan Roy ya Bi'..
pasti mereka masih di luar , ayo Mery
kita duduk duluan ." Menggambil tempat
duduk untuk didudukinya , dan menunjuk
satu kursi untuk Mery .
Mery terpaku melihat makanan yang
tersedia banyak di atas meja , dia
sempat berpikir dan berbicara di dalam
hati tentang makanan yang di suguhkan
di Rumah suami kakaknya ini .
" Apa setiap hari kak Joy menikmati
makanan seperti ini , apa semua ini
harus dihabiskan ?."
Mery masih terdiam , setengah melamun
tidak mendengar apa yang Joy ucapkan
padanya ," Mery ... ayo cepat duduk ."
melempar sebutir anggur pada Mery dan
mengenai tepat di pipinya .
" Isssttt..."
Dengan memegangi pipinya yang terkena
lemparan dari Joy , Mery pun segera
duduk , dia malu karena ketahuan sedang
melamun oleh kakaknya .
Roy yang datang bersama dengan David
tiba-tiba tertawa cekikikan , kemudian
mengambil tempat duduk tepat di dekat
Mery , tanpa menunggu dipersilahkan
oleh sang tuan rumah , Roy mengambil
makanan yang tersedia di atas meja .
" Makan yang banyak , aku lebih suka
gadis yang gemuk dari pada kurus
yang terlihat hanya tulang yang
terbungkus kulit ." memindahkan nasi
keatas piring Mery .
" Makan ini , akhir- akhir ini kau terlihat
kurus ." mengambil dua potong ayam
goreng dan banyak sayuran di taruhnya
di atas piring Mery lagi .
Joy menaruh kedua tangannya di atas
meja , enggan untuk mengambil
makanan untuknya maupun membantu
mengambilkan makanan untuk suaminya ,
Roy pada Mery .
" Kau juga ingin di perlakukan begitu
sayang ?." David menyentuh jemari
istrinya , Joy menggeleng .
Mendapat penolakan dari Joy , David
malah mengambil piring istrinya ,
mengambil
Tapi David berbeda dengan Roy , tanpa
kata maupun bualan , dia mengambilkan
makanan serta menyuapkan langsung
ke bibir Joy .
Awalnya Joy menolak , lama kelamaan
dia pun menuruti suaminya sampai
makanan di piringnya pun habis .
" Lahap sekali , pasti my boy ingin
di suapi papa ya .." mengelus perut Joy .
Joy pun tersenyum melihat tingkah
lucu David ," sudah sekarang gantian
aku yang mengambilkan nasi untukmu ."
Joy hendak mengambil piring tapi
di tolak oleh David ," tidak usah , kau
masuklah kedalam kamar , pasti my boy
lelah ." Joy mengangguk .
Joy meninggalkan meja makan dan
menuju ke kamar yang sudah beberapa
hari di tinggalkan nya . Dia tak lupa
berpamitan pada Mery dan menyuruh
pembantu untuk mengantarkan Mery
ke kamar tamu .
Belum sampai jauh Joy melangkah ,
dia sudah kembali lagi ," Roy kau tidur
dimana ?." seketika Roy menghentikan
acara makan nya .
" Malam ini aku akan tidur disini ,"
melihat Joy sekilas dan melanjutkan
memakan sisa nasi di piringnya .
Joy ingin melarang , tapi David lebih dulu
menjelaskan jika Roy punya satu kamar
di Rumah ini , yang biasa Roy gunakan
jika lembur masalah kerjaan dengan David .
Tanpa ingin berdebat , Joy meninggalkan
meja makan dan menuju kamarnya ,
ingin segera melepas kelelahan yang
memenuhi dirinya .
ππππππ
Di lain tempat Anggi yang mendapat
ciuman mendadak dari Andreas , telah
membuatnya tidak bisa tidur dengan
nyenyak , rasa cinta dan marah masih
memenuhi di hati dan pikirannya .
Pukul 03.00 pagi , Anggi tiba -tiba
terbangun dan mendudukkan dirinya,
mengambil satu gelas air diatas meja
dekat tempat tidurnya , kemudian
dengan cepat meminumnya sampai
habis .
" Aku harus mencari tahu siapa wanita
itu ." berbicara sendiri , dan kembali
menidurkan tubuhnya .
Rasa kantuknya yang teramat membuat
nya berhasil kembali tertidur dengan
pulasnya .
****
Pagi - pagi Anggi di bangunkan oleh
suara ketukan pintu dan teriakan sang
nenek yang tidak henti hentinya
berkumandang di telinga Anggi .
Dengan mata yang masih terpejam ,
Anggi terpaksa bangun dan berjalan
kearah pintu .
" Ada apa Nek ?." menggaruk rambutnya
yang tidak gatal , dengan mata yang
di paksa untuk terbuka .
" Ini ada surat untuk mu , tadi ada pak pos
kesini ." menyerahkan amplop pada Anggi .
Menerima pemberian Nenek dengan
kesadaran yang belum terkumpul
penuh ," amplop ?, dari siapa ini Nek ?."
melihat kepergian Neneknya .
" Lihat saja sendiri Anggi , disitu pasti
ada alamat pengirimannya ." pergi menjauh.
Anggi menutup pintu dan kembali
ketempat tidurnya , membolak - balikkan
amplop mencari nama dari pengirim
surat ," tidak ada , lalu siapa yang
mengirimkannya ?." melempar amplop
ke atas meja dan kembali tidur .
Rasa malas dan kantuk membuat nya
ingin kembali melanjutkan tidurnya ,
mata yang terpejam tapi pikiran nya
masih penasaran dengan isi dari surat
yang tidak tercantum nama sang
pengirim . Akhirnya Anggi memutuskan
untuk kembali bangun , mengambil
surat yang telah dibuangnya di atas meja tadi .
Dengan penuh hati - hati dia membuka
isi amplop , " Hah , apa ini ?." terkejut
yang ada didalam amplop bukanlah
surat , melainkan beberapa foto .
Anggi pun segera mengeluarkan semua
isi didalamnya , melihat satu persatu
foto yang sekarang ada di tangannya .
"Kurang ajar , ternyata wanita ini yang
bersama Andreas tadi malam ,
Andreas .... kau harus menerima
pelajaran , rupanya kau tidak bisa
di tinggal sebentar saja ."
Geram Anggi yang berbicara di dalam
hati , bersamaan dengan suara ponsel
yang ingin segera di angkat .
Anggi melihat siapa orang yang sepagi
ini menghubunginya , ternyata adalah
Andreas , seketika Anggi mematikan
ponselnya dan membanting nya diatas
kasur , malas untuk berbicara .
πππππππππ
_
_
Next π