
Joy berdiri dari duduknya , " David ayo
kita pulang !." berjalan duluan , mendekati
tempat motor terparkir.
" Baiklah sayang." berjalan mengikuti
di belakang istrinya.
David naik keatas motor , dengan Joy
berboncengan . Dia menambah kecepatan
motornya , agar mereka cepat sampai.
Diatas motor, David tersenyum bahagia
karena seorang wanita yang sangat di
cintai nya sudah mau memaafkannya,
juga kembali padanya.
Sesekali David menoleh ke belakang,
tak puas rasanya jika mereka harus
pulang secepat ini.
" Sayang aku kedinginan." rayu David ,
Joy mengeratkan pelukannya, David
tersenyum sumringah merasakan
kembali kehangatan yang selama ini
pergi.
" Sayang , aku suka bibir manismu .' ucap
David , dengan mengelap sisa ciuman
mereka tadi , dengan menggunakan lidahnya.
" Kau jangan mulai merayuku David ini
di jalan , lihatlah kearah depan." omel
Joy yang melihat David yang berulang
kali melirik padanya.
" Boleh aku minta lagi sayang ?." semakin
ingin menggoda istrinya.
" permintaanmu konyol sekali David."
Joy mulai kesal.
David menggeser tangan Joy agak
kebawah , alhasil Joy menyentuh
sesuatu di bawah sana yang sudah mulai
tegang .
" David kau mulai lagi." ucap Joy karena terkejut.
" Kenapa sayang , apa kau tidak merindukannya ?." David menatap
kedepan dengan senyum terukir di bibirnya.
" Menurutmu ?.' Joy menarik tangannya.
Perbincangan mereka terjadi di sepanjang
jalan.David tidak menyadari jika sudah
sampai didepan rumah Mery.
" Kenapa cepat sekali sampai." gumam
David menghentikan motor yang di
naikinya.
Joy menggelengkan kepalanya, berjalan
meninggalkan David . Mery muncul ,
saat dia mendengar suara motor yang
berhenti di depan rumah nya. Dia berdiri
di depan pintu , menatap sepasang suami
istri yang baru masuk pagar.
Joy menyerahkan bungkusan di
tangannya pada Mery ," terimakasih kak."
ucapnya dan kembali masuk ke dalam Rumah.
Joy tidak ikut masuk, dia berdiri diam
menanti David keluar dari Garasi.
" Terimakasih David , kau bisa pulang
sekarang ." ucap Joy saat David
mendekatinya.
" Sayang , apa aku tidak bisa menjenguk
my boy ?." David memelas .
" Tidak ada , cepat kau pulang sana ." Joy
mendorong David.
David berbalik memegang kedua tangan
istrinya , " kalau begitu , bolehkah aku
menyentuhnya ?." bisik David dengan
menunjuk kearah perut Joy .
" Hanya menyentuh." ucap Joy menegaskan.
Merasa mendapat persetujuan, David
mulai menyusupkan tangannya kedalam
perut istrinya, meraba setiap permukaan
tempat anak mereka bersemayam.
Tangan David mulai nakal , sedikit demi
sedikit naik keatas ," kak Joy ..." teriak
Mery yang baru keluar , mengagetkan
mereka berdua.
Joy dan David salah tingkah , menahan
malu . Joy berjalan kearah Mery , " ada
apa Mer..?." berusaha seperti tidak terjadi
apa- apa.
Mery menyerahkan satu box martabak
pada Joy " aku tidak mau martabak asin
kak." dan kembali masuk ke dalam rumah.
Joy memandang box di tangannya,
dia memikirkan sesuatu ," ini untukmu."
menyerahkan box itu pada David ,
kemudian beranjak masuk kedalam meninggalkan David sendirian .
" Sayang ," mencekal tangan istrinya.
Joy menoleh , seketika melangkahkan
kakinya kearah David, tanpa bicara Joy
mengecup bibir David ," pulanglah."
dengan perlahan melepaskan tangannya
dari cekalan David.
Merasakan sesuatu yang menyentuh
bibirnya, dengan cepat David menarik
kembali istrinya, mengambil sebuah
ciuman yang telah di curi .
Dengan cepat jemari David mendekap
kedua pipi istrinya, mel***t habis bibir
yang telah menggoda naluri nya. Joy
berusaha melepaskan diri karena
kehabisan nafas , namun itu percuma .
Joy mengarahkan tangannya pada
pinggang suaminya , berusaha mencubit
tapi tubuh kekar David membuat joy
tak bisa menemukan sesuatu yang bisa
dia cubit .
Tidak ada cara lain, Joy segera meremas
sesuatu di bawah sana , dengan cepat
David mengakhiri ciumannya , dan Joy
pun berjalan cepat masuk kedalam rumah.
David tersenyum sendiri, melihat tingkah
lucu istrinya , selanjutnya dia kembali
pulang dengan di penuhi rasa suka cita
di dalam hatinya.
" David kau masih waras kan ?." Roy
yang berbeda.
David tidak menjawab, berjalan menuju
kamarnya setelah meletakkan.
sebungkus martabak di depan Roy .
" Apa ini David ?." mengambil sesuatu
yang di letakkan David di atas meja.
" Makanlah , itu dari Mery ." ucap David
yang sudah tidak terlihat batang hidungnya.
Roy membukanya , mengambil sepotong
martabak dan memasukkan pada
mulutnya. Menikmati satu gigitan demi
gigitan dengan membayangkan wajah
imut Mery .
πππ
Keesokan harinya...
Joy duduk di teras , menikmati segelas
susu dengan ditemani roti bakar
kesukaan nya , dia menanti kedatangan
Rudi , yang akan datang bersama calon
pembeli rumah Mery .
Drrrt....drrrt...drrrt....
Ponsel Joy bergetar , menandakan jika
ada yang menghubunginya. Dengan cepat
dia mengambilnya ," hallo Rud..." jawabnya
saat menggangkat ponsel nya.
" Joy aku nanti kesana agak siangan ,
karena harus mengurus surat tanda
jadinya." ucap Rudi .
" Maksudmu ?."
Joy bertanya, tapi manik matanya
mengarah pada sosok David yang sedang
di atas balkon sedang melambaikan
tangan padanya.
" Mereka sudah meninjau Rumah Mery ,
dan mereka langsung bersedia untuk
membelinya , dan aku sekarang mau
mengurus surat jual belinya ."
Joy terkejut ," apa kau tidak bercanda ?,"
" Tidak Joy , aku mengatakan yang sebenarnya . Maaf Joy aku sudahi
dulu perbincangan kita , aku mau
mengurusnya dulu , nanti jika sudah
selesai , aku akan kesana."
Setelah berpamitan , Rudi mematikan
ponselnya . Joy melihat David yang
berjalan kearahnya , terukir senyum manis
di wajahnya , membuat Joy terpesona
dengan ketampanan wajah suaminya.
" Sayang, kau jangan memandang ku
seperti itu , nanti aku tidak tahan ingin
menerkam mu ."
David duduk di dekatnya , membuyarkan
lamunan Joy , satu kecupan di hadirkan
David pada kening istrinya.
Joy tersenyum tapi kemudian hilang ,
" Apa kau tidak punya pekerjaan David?."
memandang wajah tampan suaminya.
" Pekerjaan ku sekarang adalah mengajak
istriku kembali pulang." mengambil satu
potong roti bakar yang ada di atas meja.
" Pulanglah , siapa yang mengurus
perusahaan , jika kau berada disini.,"
" Sudah ada Andreas yang mengurusnya,
jika kau mau kembali , aku akan segera
pulang."
Joy tidak menjawab , dengan tenang
dia menghabiskan susunya.
" Sayang apa kau mau berjalan- jalan
lagi ." David menggenggam jemari
istrinya.
" Untuk saat ini tidak David , siang ini
Rudi akan kemari." David melepaskan
genggaman tangannya.
" Rudi ??."
" Ya , Rudi akan datang kemari untuk
mengurus jual beli rumah ini." Joy
masuk kedalam rumah dengan
membawa gelas kosong yang sudah
dia habiskan isinya.
****
Rudi sudah tiba , dengan membawa
amplop besar di tangannya, joy
mengajak nya masuk kedalam.
" Ini suratnya sudah jadi Joy , sebentar
lagi orangnya akan tiba ." menyerahkan
pada Joy.
Joy dan Mery saling melempar pandang,
ada segurat rasa berat di hati Mery , dan
Joy menyadarinya ." Mer.. belum
terlambat , surat ini belum di tanda
tangani ." mengelus punggung Mery .
Mery mengangguk.
Tok..tok..tok.. Suara pintu terketuk .
Rudi keluar, di ikuti Joy dan Mery
bersamaan , " Apa anda tuan Aldo ?."
tanya Rudi pada orang yang berdiri
di depan pintu.
Orang itu mengangguk," iya benar tuan ,
tapi saya hanya orang suruhan , yang
sebenarnya pembeli adalah tuan saya ,
Tuan Aditya ." menunjuk orang yang baru datang.
Joy dan Mery mendekat, ingin tahu
siapa orang yang sudah bersedia
membeli Rumahnya.
Datang seorang pria tampan , tapi
wajahnya tidak asing lagi bagi
mereka , Joy masih tidak percaya jika
pria itu yang telah membelinya.
" Roy......" teriak Joy kencang ,
mengagetkan semuanya.
_
_
Jangan lupa ninggalin jejak ya π₯°
maaf ya author lama up-nya πππ
next...