Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Kecemburuan Roy .


Dengan penuh kegirangan , David mempercepat laju mobilnya mengarungi


jalanan , karena waktu sudah mulai sore


dan desakan Joy yang ingin segera


kembali ke Jakarta , membuatnya


tergesa-gesa agar cepat sampai .


David mengendarai mobilnya masuk


kedalam pekarangan Rumah yang dia


tempatinya saat ini . Joy yang masih


didalam mobil melihat ke arah luar


dengan wajah yang penuh tanya .


" David kenapa kita kesini ?, kau bisa kan


menurunkan aku tadi disana ." tangannya


menunjuk arah belakang .


Dengan senyum nakal , David tidak


menanggapi cercahan istrinya dan


mobil pun berhenti , David segera turun


dan berjalan sedikit berlari memutari


mobil , agar bisa membukakan pintu


untuk istrinya .


" David ...." Joy memanggil dengan


manja saat berada di ambang pintu


dengan muka cemberut , David malah


tersenyum tidak menjawab dengan


cekatan dia membantu istrinya turun .


" Hati - hati sayang ." dengan sigap


memegangi tangan dan tubuh istrinya .


Dengan penuh perhatian David mengajak


Joy masuk kedalam rumah , Joy yang


sedang malas berdebat menuruti apa


kata suaminya .


Sampai didalam Rumah , suasana yang


sangat sepi bak rumah tak berpenghuni ,


Joy melangkah semakin masuk kedalam


dilihatnya hamparan ruang tamu yang


luas tanpa jejak orang berada disana .


Sorot mata Joy mengitari setiap sudut


ruangan , sedikit mencari tahu jikalau


ada orang disana .


Dengan sedikit langkah Joy mendekatkan


diri ke jendela , David mengikutinya dari


belakang dengan sekali tangkup


dipeluknya Joy dari belakang ,


melingkarkan kedua tangannya di


permukaan perut istrinya yang sudah


membesar , dengan elusan lembut


sembari meluapkan rasa rindunya , tak


tertinggal kecupan lembut diberikan


David dibelakang leher jenjang istrinya .


" Sayang , sudah lama aku tidak


menjenguk my boy , pasti dia merindukan


papanya ." bisikan manja David membuat


nafas hangatnya masuk kedalam telinga


Joy .


Seakan menggetarkan sesuatu didalam


hati yang membangkitkan secuil ingatan manis yang pernah mereka berdua


lakukan . Alhasil membuat Joy geli dan memejamkan mata .


" David kita kan mau kembali keJakarta ,


kita nanti bisa terlambat ."


Joy mencoba membujuk suaminya , agar


jangan sampai suaminya marah dan


tersinggung , Joy berkata dengan lembut


dengan satu tangannya yang menyentuh


satu sisi pipi David , didekatkan agar


menempel di pipinya .


" Hanya sebentar saja ." bujuk rayu David


yang memanyunkan bibirnya .


Belum keluar jawaban dari bibir Joy,


sebuah suara deheman mengagetkan


mereka berdua , " ehemm ." seketika


David melepaskan pelukan dan sepasang suami istri ini pun menoleh bersamaan , mencari sumber suara .


Terlihat Roy yang sedang berdiri


di tangga dengan memakan satu appel


di tangannya , tersirat wajah malu Joy bercampur rasa syok yang masih


memenuhi dirinya , tak mampu menatap


Roy , dia pun terpaksa membuang


pandangan nya .


" Kalau ingin bermesraan jangan disini ,


diatas masih banyak kamar , gratis


tidak usah bayar ." masih terkejut dengan


adanya Roy, David semakin ingin marah


dengan perkataan Roy barusan , dia


melotot pada temannya itu , malah dibalas dengan senyuman yang mengejek oleh


Roy .


" Kalian boleh melakukan sesuka hati


kalian tapi jangan disini, apa kalian tidak


kasihan denganku yang masih


sendirian ." ejek Roy yang mengangkat


kedua alis dan menjulurkan lidahnya ,


kemudian berlari keluar sebelum


David bertambah murka .


Keinginan David yang akan mengejar


Roy , di halangi oleh cekalan tangan


Joy yang memegangi lengannya .


" David jangan ." Joy menggeleng .


" Biarkan aku menghajar Roy , biar dia


tidak bisa lagi kurang ajar , karena sudah


berani mengganggu kita berdua ."


mencoba melepaskan tangan Joy


yang melingkar di lengannya .


" Tidak usah , biarkan dia pergi ." Joy


memasang seutas senyum di bibirnya.


David yang masih marah memandang


wajah istrinya , bukan kemarahan yang


di tunjukkan oleh Joy malah sebuah


senyuman senang . David berfikir


kenapa Joy tidak terganggu dengan keberadaan Roy yang merusak mood


mereka , tapi malah sebaliknya .


" Apa Joy tidak suka jika berduaan


denganku ? , apa dia sekarang tidak


merindukanku." batin David yang tidak


melepas pandangan matanya pada


sosok istrinya .


" Sayang , my Boy rindu papanya ." Joy


menempelkan telapak tangan David


kepermukaan perutnya .


Kemudian memberikan satu kecupan


di bibir David dan menunduk malu .


dengan cepat David menggendong


istrinya menuju satu kamar di lantai


bawah , tak ingin menunda waktu


sedetik pun untuk mempersatukan


rindu diantara keduanya .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Rumah Mery


Roy yang takut terkena amukan dari


David , segera menghindar dan lari


menuju Rumah sebrang sana , tak lain


adalah Rumah gadis yang telah mengisi


ruang di hatinya . Kedatangan nya


disambut oleh tatapan Anggi yang meremehkan .


" Hey Roy , kenapa kau kembali lagi


kemari ?."


Anggi duduk di kursi teras dengan kaki menyilang dan satu botol minuman di tangannya .


Tidak menjawab pertanyaan Anggi , Roy


malah nyelonong masuk ke dalam , yang


ada di fikirannya kini hanyalah Mery .


Tepat seperti apa yang dikhawatirkan


oleh Roy , kini didepan matanya


terpampang gadis pujaan hatinya sedang


duduk berduaan dengan laki - laki lain .


Dengan penuh amarah , Roy mendekati


pasangan yang sedang duduk bersama


dengan santainya tidak menghiraukan


kehadirannya .


Dengan penuh amarah , Roy segera


menarik pergelangan tangan Bimo ,


untuk menyeretnya keluar .


" Aku tidak mengijinkan orang asing ada


disini ." Bimo terlempar keluar, untung


saja dia sigap , yang membuatnya


tanggap dan dia tidak sampai jatuh .


Roy dan Bimo saling mengeluarkan


tatapan yang penuh amarah , rasanya


Bimo ingin menghajar Roy saat ini juga,


tapi dia tidak mau membuat keributan .


" Memang nya apa hakmu mengusirku


dari sini ." Bimo tak terima dengan


perlakuan Roy padanya.


" Terserah aku mau apa , karena ini


adalah Rumahku ." belum hilang rasa


marahnya , malah ditambah lagi dengan


pengakuan Roy barusan .


" Apa ini , kau jangan bicara konyol."


tertawa meremehkan .


Roy tidak menjawab , malah memutar


bola matanya , seakan jengah untuk


menjelaskan , menurutnya itu tidak


penting , karena yang ada di otaknya


hanyalah bagaimana caranya untuk


menjauhkan pria ini dari Mery .


Tak cukup Bimo yang kaget , Anggi juga


ikut syok dengan pernyataan yang


diucapkan Roy .


" apa - apaan ini , coba jelaskan padaku !." yang seketika berdiri dan menatap pada


Roy , mencari kebenaran .


Mery keluar , " Rumah ini memang


sekarang sudah menjadi milik kak Roy ."


menyahut dengan suara lirih dan


kemudian menunduk .


Merasa tak enak hati , Roy segera


mengalihkan pembicaraan .


" Kau cepatlah pergi, karena disini sudah


tidak ada yang mengharapkan mu ."


Roy melirik bimo yang ada di depannya.


" Sudah , sudah jangan berantem atau


gelud di sini , bahkan main mata pun


di larang , hormati aku yang jauh dari


kekasihku ." Anggi tertawa garing ,


agar suasana sedikit mencair , namun


usahanya percuma , karena tidak ada


yang menggubrisnya .


Anggi yang sebal , segera mencari akal


" Eh Roy , memangnya kemana Joy


jam segini belum pulang ?." menarik


Roy , agar menjauh dari Bimo .


" Di Rumah ." satu kata yang berhasil


membuat Anggi bertambah syok .


" Haa??," dengan tatapan tidak percaya ,


Anggi tak sanggup berkata , hanya


menunjuk Rumah mewah yang ada di sebrang jalan , dengan menunggu


jawaban dari Roy .


" Memang Joy ada di sana dari tadi ,


sekarang dia bersama dengan suaminya , sedang memadu kasih , kalau kau


tidak percaya , kau bisa saja periksa


sendiri ." mengangkat ujung bibirnya


Roy menatap Anggi .


Mery yang tidak suka mendengar


perkataan Roy , dengan cepat memukul


punggungnya . " mereka suami istri kak ,


terserah mereka mau apa , bukan


urusan kak Roy ." berbalik masuk


kedalam dengan membawa rasa sebel


pada Roy .


Roy tau jika Mery marah padanya , dia


mengikuti Mery masuk kedalam, tapi


sebelum dia melangkahkan kaki , Roy


sempatkan berkata pada Anggi .


" Nggi jaga orang ini , jangan biarkan


dia masuk kedalam ." kemudian


Roy hilang dari pandangan.


Dengan rasa tersinggung di hati , Bimo


pergi meninggalkan rumah yang sudah


di klaim milik pria sombong yang


menjadi saingannya .


" Sekarang aku bisa terima , tapi lain


kali kau yang harus terima jika Mery


jagi milikku ." batin Bimo , tertawa


dalam hati .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


_


_


Bingung mau ngomong ap πŸ™„..


NEXT aj dech 😊😊😊