
"Kau bicara apa Adinda? katakan jika semua yang kau ucapkan tadi tidak benar."
Suara maraton Rani menggema di kamar
rawat keponakannya, raut wajahnya yang
penuh amarah mengikuti rasa terkejutnya karena merasa di bodohi oleh putranya.
"Kamu tahu dari mana Din, apa mas mu
sendiri yang bicara padamu? Kalau kamu
tidak tahu kenyataannya jangan mengada-
ada, kamu juga dengar kan kemarin mas mu bilang apa, dia mengatakan sendiri jika
sudah memilih Isabella yang akan menjadi istrinya."
Rani menarik Isabella ke hadapan putrinya,
dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara putra dan calon menantunya itu, kesempatan untuk mendapatkan menantu secepatnya
tidak ingin tertunda akibat omong kosong Adinda.
"Maaf Bun." Ucap Adinda lirih sambil
menunduk sedikit berpaling.
"Sekarang bunda tidak mau tahu kamu harus jelaskan pada calon mbak mu jika semua
yang telah kamu katakan tadi cuma bercanda." Paksa Rani pada putrinya.
Wulan memutar mata malas sambil menarik nafasnya dalam, merasa jengah dengan
semua pertikaian yang terjadi, cuma
gara - gara hal sepele adiknya itu sampai
teriak di ruang perawatan anaknya.
Wulan hanya menjadi pendengar tanpa ada keinginan untuk ikut masuk ke dalam perdebatan.
Adinda bergidik mendengar cercaan dari bundanya, dia merasa menyesal dengan kalimat - kalimat yang telah diutarakannya
tadi, ingin rasanya dia menarik ulang ucapannya, jika dia mampu.
"Ya deh terserah bunda." Berdiri hendak
keluar, tapi tangannya berhasil ditarik oleh Rani.
"Tunggu, kamu mau kemana Din? Jelaskan dulu baru kamu boleh pergi."
Adinda sangat kesal jika harus berhadapan dengan calon kakak iparnya itu, apalagi sekarang dia harus berdebat dengan bundanya.
"Apa sih Bun? gada yang perlu dijelaskan, semua sudah bunda dengar dan jika bunda masih tidak percaya, coba bunda lihat sendiri sana." Adinda duduk kembali, dengan bibir manyunnya yang tak ketinggalan.
"Apa benar yang kau katakan tadi Din, jika masmu sekarang bersama Mery, mungkin anggapanmu tadi salah, mungkin saja kan mereka cuma mau kesini bareng."
'Huh, apa apaan sih bunda ini, masih bela
mas Roy terus.' gerutu Adinda dalam hati.
Adinda semakin kesal, kemudian dia berdiri hendak membantah bundanya.
"Terserah bunda, sekarang mau percaya padaku atau tidak tapi perlu bunda tahu, aku pernah lihat sendiri jika mereka sedang berpelukan, apa itu masih belum jelas untuk membuktikan jika mereka ada hubungan?." Rani terbengong syok, tak sengaja menjatuhkan tas yang dibawanya.
Adinda beralih memandang Isabella.
"Maafkan aku kak Bella, aku tidak bermaksud menyakiti hati kakak tapi bunda memaksaku untuk menjelaskannya pada kakak." Menangkupkan kedua telapak tangannya di depan calon kakak iparnya.
Isabella hanya diam dan memaksakan untuk tersenyum, menahan sesak di dadanya, dia mencoba menarik air matanya kembali untuk tidak keluar, dia tidak ingin terlihat cengeng
di depan calon ibu mertuanya.
Dia berusaha tabah, membuang semua prasangka dan ingin mendengarkan nya langsung dari mulut Roy.
Joyanna merasa pusing melihat perdebatan
ini, " Bu, tolong suruh Tante Rani mencari tempat untuk berbicara, jangan disini.
Aku tak mau putraku mendengar hal-hal yang tidak baik, apalagi suara Tante Rani yang
terlalu kencang seperti tadi." Bisik Joy setelah berhasil menarik baju sang ibu.
Wulan mengangguk.
"Rani, sudah ku bilang dari kemarin, jika kau ingin membahas masalah keluargamu
jangan disini, ajak putri dan calon
menantumu ke Apartemen Roy saja, disana
kau bisa berteriak sepuasmu."
Wulan berbicara pelan pada adiknya, seraya mengusir secara halus..
Seketika Rani melepaskan pegangan tangannya pada Adinda, "iya mbak yu maaf."
Isabella tak enak hati, menganggap semua perdebatan yang terjadi karena adanya
dirinya, dia memutuskan untuk pamit pergi,
tapi Rani melarang.
"Kau boleh berbicara disini, tapi bisa kan
ingin cucuku menirukan omongan mu nanti, dan lihat akibat suaramu yang terlalu
kencang membuat calon menantumu takut."
Mendengar penuturan kakaknya Rani
langsung menoleh pada Isabella, lalu
mengelus lengannya.
"Maafkan bunda sayang, bunda tidak bermaksud menakutimu."
Adinda menoleh ke samping sambil menjulurkan lidahnya, " hoekk.. ," muak dan sebal dengan panggilan yang ditujukan bundanya untuk calon menantunya itu.
'Dih, belum resmi saja dipanggil sayang, aku yang anaknya tidak pernah tuh mendapat panggilan itu.' gumam Adinda dalam hati.
"Ya mbak, maaf kedatanganku menimbulkan keributan." Mendekat pada keponakannya.
"Joy Tante tidak sengaja, maaf ya." Mengelus rambut putranya Joy.
"Ya .. nanti setelah minta maaf, ulangi lagi ya nek." Sindir Wulan pada adiknya, Rani yang serius jadi tertawa.
"Mbak ini bisa saja, ya udah aku mau
ke tempat Roy dulu." Berpamitan pada Wulan dan Joy, dan berjalan menuju meja untuk mengambil tasnya yang terjatuh.
"Ingat ini di Rumah Sakit, jangan mencari keributan Rani." Rani tidak menjawab, hanya tersenyum.
"Kau tetap disini." Ujar Rani pada putrinya.
Rani keluar lagi bersama Isabella, berjalan cepat menuju lift untuk memastikan apa yang telah dituturkan oleh Adinda.
Menunggu lift terbuka Rani berdiri di depan pintu lift.
"Jangan dianggap serius perkataan Adinda,
dia sering salah menduga." Isabella mengangguk.
"Baik bunda."
Tak lama pintu lift pun terbuka.
Pemandangan yang tak terduga, ada dua
orang di sana, satu orang gadis sedang terduduk di lantai lift dan seorang pria yang sedang memeluk gadis itu.
Seketika jantung Isabella berhenti berdetak,
tak bisa merasakan emosi apa yang
sekarang bergemuruh di dalam dirinya.
Rasa amarah dan cemburu tak bisa diungkapkan.
"Apa yang kalian lakukan di dalam sini?."
Suara calon ibu mertuanya menggema di telinganya, membuat aliran darah didalam tubuh Isabella kembali berjalan dan dia pun tersadar dari lamunan.
Bibirnya kelu tak mampu berucap, serta
hatinya pun teramat sakit.
'Astaga, semoga yang ku lihat ini tidak benar, aku harus bersabar dan menunggu penjelasan mas Roy langsung, aku tidak boleh terbawa emosi." Rintihan Isabella.
Isabella tak bisa berucap, hanya mampu memenangkan hatinya, sambil meremas
ujung bajunya dia menunduk.
Rani yang geram langsung menarik tangan putranya agar keluar dari lift, lalu
mengajaknya pergi menjauh.
Mery juga tidak kalah terkejutnya dengan Isabella, saling diam setelah bersitatap
sekilas dia keluar juga dari lift. Lewat di sisi Isabella tanpa bicara dan tanpa niatan ingin menyentuh meskipun ujung kain yang menempel di tubuh masing-masing.
Mery menghindar dan Isabella pun sama.
Mery kembali pada tujuan awalnya yaitu menjenguk kakaknya, dengan perasaan
campur aduk dia melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditempati oleh kakaknya beberapa hari ini.
Masuk kedalam kamar, Mery bertemu dengan Adinda, Adinda seketika berdiri.
"Kau tadi bertemu bunda?." Mery diam memandang orang yang bertanya padanya.
"Pasti semua ini ulahmu, apa salahku padamu Din?." Berjalan ke arah Adinda.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
kenapa sering gini sihhh... kyknya kebalik
deh q up nya π€ππππ , ketuker gtu
episode nya ππ
dah lah gpp, yg penting up, jangan lupa ninggalin jejaknya ya, ngasih gift seikhlasnya
jg gppπ€π
NEXT πππ