
Gluk, gluk, gluk ..
Bunyi tegukan air bersoda yang laknat itu
lolos masuk ke dalam tenggorokan Bimo, membasahi rongga yang sudah kekeringan bagai tanah yang sudah tandus, akibat terlalu asyiknya mengobrol.
Beberapa detik setelah Bimo meneguk habis semua minuman bersoda itu tidak terasa efek apapun. Yang dirasakan Bimo hanyalah hilangnya rasa haus seperti halnya dia meminum minuman lain karena dia tidak tahu apa kandungan yang ada di dalam minumannya.
Sonia selaku pelaku yang mengetahui berapa lama obat itu akan bereaksi pun secepatnya mengatur siasat. Sebelum korban serta kekasihnya tahu tentang apa yang telah diperbuatnya.
Sonia secepatnya mengajak kekasihnya untuk meninggalkan tempat Bimo, dia ingin membiarkan Bimo dan Alina berdua dengan reaksi obat yang sudah keduanya minum.
Berusaha memutar otak akhirnya Sonia menemukan akal, dengan cepat dia mengajak Andy untuk pindah ke tempat temannya, Alina.
Andy yang tak tahu apapun tidak berpikir macam-macam dia menuruti saja ajakan dari kekasihnya itu.
Letak kamar kosan Alina bertempat tak jauh dari tempat tinggal Bimo sekarang, itulah
yang membuat dirinya tadi dengan cepat sampai di kamar Bimo. Alih-alih mengajak kekasihnya bercinta, Sonia sebenarnya ingin menjebak Bimo, entah ada dendam apa gadis itu pada Bimo yang membuatnya melakukan hal sekeji itu.
"Sayang aku sudah tidak tahan, aku tak mau melakukannya disini, kita ke kamarnya Alina yuk!." Ajak Sonia yang masih bergelayut
manja, saat kepala Andy sudah berhasil
masuk ke dalam kaosnya.
Seketika Andy menghentikan kegiatannya
di dalam sana.
"Trus Alina bagaimana." Berbicara masih
di dalam kaos.
Sonia masih menahan rasa yang bergejolak akibat kegiatan Andy tadi, menggerakkan jemari kaki Sonia masih menatap temannya dari kejauhan sedang asik bercengkrama.
"Biarkan dia tetap disini, kita kan cuma sebentar dan disini dia juga tidak sendirian, huh ..." Berbaring di sofa, Sonia sudah tidak bisa menahan.
Dia memancing dengan umpan satu tapi mendapatkan dua ikan. Mendapatkan keberhasilan atas jebakan yang dibuatnya sekaligus terpuaskan atas hasrat yang bergemuruh dalam dirinya.
Andy segera mengeluarkan kepalanya dari
kaos Sonia yang membungkus kepalanya, menatap wajah cantik kekasihnya yang sudah merintih menahan *****, Andy pun tak ingin berlama-lama. Andy segera bangkit dan membantu Sonia duduk.
"Ayoklah kalau begitu." Menarik Sonia agar berdiri dan cepat pergi.
Dengan menggandeng tangan kekasihnya
Andy pamit untuk keluar pada Bimo dan juga tak lupa menitipkan Alina sebentar karena dia ingin menggunakan kamar gadis itu.
"Bim aku keluar tidak lama kok, nitip Alina sebentar yah." Sembari berjalan Andy tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
Andy memberikan isyarat pada temannya jika dirinya sedang ingin berduaan dengan kekasihnya. Meskipun tanpa bicara Bimo
sudah mengerti.
"Kemana?." Tanya Bimo dan Alina berbarengan.
Pertanyaan Bimo dan Alina membuat langkah sepasang kekasih itu terhenti dan tertawa.
"Cie kompak, jodoh kali kalian." Goda Sonia, membuat Alina malu dan menundukkan diri.
Bimo menggaruk kepalanya sambil mencuri pandang melirik gadis di sebelahnya.
"Kami mau pinjam kamar Alina dan kami
tidak ingin diganggu, jadi kami menitipkan
Alina padamu dulu ya Bim." Ucap Andy sebelum menarik Sonia untuk cepat keluar
dari kamar Bimo.
"Woy, aku bukan barang." Sewot Alina tapi sasarannya sudah hilang keluar dari pandangan.
"Percuma mereka sudah pergi."
Alina menutup mulutnya karena malu, Bimo berjalan rada menjauh dari Alina.
"Mereka sering begitu ya, berbuat mesum di tempatmu?." Bimo bicara berjalan ke arah balkon.
"Tidak juga." Alina menarik kaos yang terletak
di dadanya berkali-kali, dia mulai berkeringat.
Obat yang Sonia masukkan tadi sudah mulai bereaksi, Bimo sudah mulai kegerahan. Begitupun dengan Alina, Bimo keluar kamar menuju balkon berusaha untuk mencari udara segar demi menghilangkan gerah yang
tiba-tiba saja dia rasakan.
Alina bingung, dia pamit untuk meminjam kamar mandi Bimo, tak jauh beda dengan
Bimo dia pun ingin mengurangi rasa panas
di tubuhnya.
Didalam kamar mandi Alina berusaha mengingat .
'Apa aku salah makan, kenapa aku bisa sepanas ini.' Alina berbicara sendiri sambil memeriksa keningnya yang tidak panas.
'Tidak panas, tapi kenapa aku kepanasan.' dia semakin dibuat bingung dengan yang ia rasakan kini.
Alina tidak pernah mengalami hal yang
seperti ia rasakan kini, jadi dia tidak bisa membedakan jika dirinya kini sedang merasakan efek dari obat perangs*ng yang diberikan oleh temannya yang tidak sengaja
dia minum.
Alina menyilangkan kakinya merasakan sesuatu yang teramat menggelitik di bagian intimnya. Alina mencuri mukanya beberapa
kali mencari kesejukan agar rasa panas itu berkurang tapi percuma, malah hawa panas
itu semakin membara.
Setelah lama di kamar mandi Alina keluar,
saat dirinya berdiri di depan pintu pemandangan pertama yang dia tangkap adalah Bimo, dan pada saat itu juga otak Alina sudah tidak bisa berpikir dengan jernih, pikiran kotor dan liar mulai merasuki imajinasi Alina, hanya hasrat yang ingin terpuaskan yang ada
di otak gadis itu.
Alina tak sadar dia melepaskan kaos pink
yang dipakainya, berjalan menghampiri Bimo yang masih berada di balkon.
"Bim." Lirih Alina diambang pintu balkon, Bimo menoleh.
Bimo sedikit kaget saat melihat keadaan
Alina di depannya, yang pada saat itu tanpa mengenakan apapun di tubuh bagian atasnya, dan hanya menutup dengan kedua tangannya.
Rasa kaget itu hanya sebentar, kalah dengan rasa ***** yang sedari tadi sudah memuncak. Wajah Alina berubah menjadi wajah Mery,
Bimo tersenyum mendekati.
"Mer, kenapa kau melepas bajumu." Berjalan mendekat, memeluk Alina yang dikira Mery
oleh Bimo.
Telinga Alina sudah tidak bisa mendengar, mendapat pelukan serasa mendapatkan hawa segar bagi gadis itu.
Alina membalas pelukan Bimo dengan
kecupan di leher yang semakin
membangkitkan hawa panas Bimo. Bimo tak kuat menahan segera di gendongnya Alina masuk kedalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
Keintiman ini baru pertama kali Bimo lakukan dan begitupun dengan Alina, Bimo memperlakukan Alina dengan halus karena
dia masih mengira jika gadis itu adalah Mery, Alina meringis saat Bimo berhasil menyatukan dirinya.
Bimo tak sadar sudah menggauli siapa, dia seperti sedang bermimpi dan berfantasi dengan seseorang yang dia cintai, dia tidak sadar jika sedang menghancurkan kehidupan seorang gadis.
yang masih menempel disatu sama lain.
####
Di Lain tempat.
Mery menangis tersedu-sedu, tak pernah terpikirkan olehnya jika Bimo
mengkhianatinya, kakak kelas yang sangat
baik dan seperti seorang kakak yang selalu melindunginya kini sudah berubah.
Mungkin karena Bimo salah pergaulan di luar negeri apa memang dulu Bimo hanya berpura-pura baik, pikiran itu berputar di otak Mery.
Apa ini sebuah lambang jika dirinya harus melepaskan cintanya pada Bimo, pertanyaan demi pertanyaan tentang Bimo berusaha memporak-porandakan hati Mery, kali ini dia sangat kecewa.
Di Sela lamunan tiba-tiba pintunya ada yang mengetuk.
"Mer, kau sudah bangun?, Ibu mau ke toko sarapannya ada di meja, jangan lupa sarapan cepat keluarlah." Wulan berpamitan sebelum dirinya berangkat.
"Iya Bu, sebentar lagi aku akan keluar." Mery berkemas karena saat dirinya menelpon Bimo tadi dia baru selesai berdandan.
Mery merapikan tempat tidurnya kemudian mengambil tas kecil dan segera keluar dari kamar. Mencari sosok ibu yang tadi
berpamitan dengannya Mery celingukan, dia ingin ikut ke Toko kue agar tidak bertemu dengan kakak iparnya.
Ternyata ibu angkatnya sudah pergi lebih dulu dengan menaiki taksi, Mery keluar kamar. Dia tertangkap basah oleh David.
Bukan ibu yang dia jumpai melainkan kakak iparnya yang sedang sarapan sendirian
di meja makan.
"Kalau mau keluar sarapan dulu."
Mery hendak menghindar tapi panggilan itu menghentikan langkahnya. Mery membalikkan diri.
"Iya kak." Tak berani menatap Mery berjalan
ke arah meja sambil menunduk.
David tahu jika adik iparnya itu takut dan tak enak hati karena mereka hanya berdua,
situasi canggung membuat gadis itu diam. Mery mendudukkan dirinya pelan, mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit nasi goreng agar dia bisa cepat menghabiskan
nasi goreng itu dan cepat pergi dari sana.
"Kenapa cuma sedikit." Tanya David yang
akan menambahkan nasi goreng ke piring Mery.
"Tidak kak, aku tidak suka sarapan, ini saja cuma buat sekedar pengganjal perut kok." Mengangkat piringnya untuk menghindari David yang akan menambahkan nasi ke piringnya.
Mery melahap habis tanpa sisa, David
tertegun dengan sikap Mery yang seakan
ingin menghindarinya. Nasi sudah habis dan Mery pun meminum air putih di depannya dengan cepat lalu berdiri.
"Aku ke toko ibu Wulan dulu kak." Bicara cepat sekali lalu berlari keluar.
David belum menjawab tapi Mery sudah
hilang dari pandangan.
'Ada apa dengan anak itu, apa ada yang salah denganku.' memandang kepergian Mery yang sudah tidak kelihatan.
Mery berjalan sambil komat-kamit sendiri, meyakinkan dirinya agar hal yang dituduhkan padanya tidak sampai terjadi.
"Aku harus kuat, ini hanya sementara." Mengulang ulang kalimat sampai dia keluar dari pagar.
Mery hendak mencari taksi tapi sebuah
mobil sudah stay di depan rumahnya.
"Sssssst, mer." Panggilan dari seseorang di dalam mobil.
Mery celingukan mencari suara yang memanggilnya, pintu kaca terbuka.
"Woy sini." Suara dan lambaian dari kaca jendela mobil membuat Mery mendekat.
Pintu terbuka tampak sosok Roy disana, Mery tertegun ternyata yang memanggilnya adalah Roy. Menyilangkan kedua tangan didada Mery menatap kearah lain.
"Ada apa?." Tanyanya ketus.
"Ayo cepat masuk, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Berbicara lirih takut David menangkapnya.
Roy masih di dalam mobil, berjaga-jaga agar David tidak melihatnya.
"Bicara apalagi, kurasa kemarin sudah."
Mery hendak menghindar karena terlihat ada taksi dari kejauhan yang akan mengarah ke arahnya. Mery akan melambaikan tangan tapi Roy lebih dulu menarik gadis itu masuk kedalam mobilnya.
"Eih, apa-apaan ini." Spontan Mery hampir berteriak, Roy membungkam mulut Mery.
"Ussttt, jangan berteriak nanti David dengar, turuti saja aku jangan rame." Mendorong Mery untuk bergeser ke kursi di sebelahnya, karena kursi kemudi akan dia duduki.
Roy masuk dan menutup pintunya dengan keras, menarik gas dan melajukan mobilnya dengan kencang agar cepat tidak ketahuan oleh David.
"Kak Roy mau membawaku kemana, pelankan sedikit mobilnya aku takut."
Mengeratkan pegangan di kursi mobil.
Mery belum sempat memakai sabuk
pengaman Roy sudah melajukan mobilnya.
"Pakai sabuk pengamanmu, kita mau menuju KUA kita kawin lari."
Seketika Mery berteriak, "apaaaa .." melongo karena syok.
Roy tersenyum melihat ekspresi gadis pujaan hatinya.
"Jangan kegirangan begitu, hanya jalan itu
yang bisa kita ambil." Mery masih belum
faham dengan ucapan Roy.
Otaknya masih loading.
"Kak Roy, aku tidak bercanda, kak Roy mau
ajak aku kemana?." Mery ingin memukul pria yang ada disampingnya tapi dia tak bisa melepaskan pegangan tangannya karena Roy mengemudi sangat kencang.
Roy mengerem tiba-tiba, Mery tersentak ke depan tapi pegangan tangannya yang kuat tak membuatnya sampai terjatuh.
"Jangan tanyakan itu lagi, aku hanya ingin berdua denganmu saat ini, dan melepaskan semua masalah kita."
Menatap Mery dengan wajah teduh membuat gadis itu tak bisa menoleh dan akhirnya
hanya anggukan lah yang diberikan.
"Kau mau kan." Sekali lagi Mery mengangguk.
Roy melajukan mobilnya lagi, dan Mery pun
tak menolak kemana pun Roy mengajaknya, karena saat ini Mery juga dirundung rasa
putus asa, entah apa yang akan dilakukannya dia hanya ingin sekali ini saja menuruti apa kata hatinya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
G bisa berkata Q, jejak,,,, jejakkkk..
up lagi dah๐๐คช๐คช๐คช