Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Mengunjungi calon mertua


Pagi ini Rani menyuruh putranya untuk


membelanjakan bahan - bahan makanan ,


ibu dua anak itu ingin memasak makanan untuk dibawanya nanti jika ke Rumah Sakit , karena Roy sibuk mengurus kasus Joy dia meminta bantuan pada Isabella .


Berulang kali Roy menyarankan pada


bundanya untuk memesan makanan pada


go food atau Restauran terdekat saja , agar


tidak repot memasak tapi Rani ngeyel


dia ingin memasak sendiri saja karena


terjamin kebersihannya .


###


Seorang wanita Berdiri didepan cermin ,


menatap pantulan dirinya yang berulang


kali mencoba banyak baju untuk mencari


mana yang pas ia gunakan saat menemui


calon mertuanya nanti .


Diatas ranjang telah tertumpuk lebih dari


sepuluh pasang baju sudah dicobanya ,


namun tak juga menemukan mana yang


pas untuk melekat ditubuhnya .


Wanita itu takut terlihat kampungan jika


dirinya memakai baju kedodoran , tapi bila


dia mengenakan baju yang terlalu sempit malah takut di nilai sebagai wanita ganj*n , sungguh sangat merepotkan menurut nya .


Baru kali ini dia berhadapan dengan orang


tua dari pria yang di sukainya , hal itu


membuatnya pusing bukan kepalang .


" Ini gak cocok itu malah lebih parah ,


ahhh,, aku pakai baju yang mana ."


Memilah - Milah baju yang baru saja


dicobanya .


Isabella akhirnya memilih untuk memakai


celana jeans biru tua dengan kemeja


polos berwarna putih untuk menetralkan


penampilannya .


Dengan gaya rambut yang di kuncir kuda


Isabella menunjukkan leher putihnya .


Polesan make up tipis dengan lipstik


berwarna peach semakin melengkapi


pancaran kecantikan alami Isabella .


" Kurasa ini tidak begitu buruk ." melihat


dirinya di cermin , memiringkan tubuhnya


ke kiri dan ke kanan Isabella mencari celah kekurangan dari penampilannya .


Mengambil satu jam tangan warna hitam


di laci , Isabella kemudian memakainya .


Manik mata indah Isabella melotot .


" Oh my God , ini sudah terlalu siang ."


sambil memegang kepala , Isabella syok


saat melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul delapan pagi .


Gadis itu segera keluar dari kamar nya


berlari menuruni tangga , tak mau terlambat untuk tiba di Apartemen calon suaminya ,


dia tidak ingin di cap sebagai wanita teledor


oleh ibu dari pria yang kemarin ingin


menjadikan nya istri


Tadinya Isabella berencana berangkat


ke Apartemen Roy pagi - pagi sekali ,


tapi dia di bingungkan oleh penampilan


yang tak kunjung usai , saat dirinya


melihat penampakan dirinya di cermin .


Kekalutan Isabella memakan waktu


lumayan lama , hingga dia tidak menyadari


jika dia sudah bercermin sekitar dua jam an .


Untung saja setelah menerima perintah


dari Roy , Isabella lebih dulu menghubungi


temannya yang berkerja di sebuah Mini


Market , dia meminta bantuan temannya


itu untuk disiapkan pesanan nya agar nanti


dia bisa langsung mengambil tanpa harus


memakan waktu untuk memilih lagi , jadi keterlambatan Isabella tidak bertambah .


Isabella berangkat ke Apartemen Roy


menggunakan sebuah taxi , mampir


kesebuah Mini Market terlebih dahulu


Isabella mengambil pesanannya .


Sampai didalam Isabella langsung menuju kasir , kebetulan saat itu temannya lah


yang bertugas sebagai kasir disana .


" Is , mau kemana pagi begini sudah rapi


bukannya hari ini kamu libur ?." tanya


seorang kasir wanita pada Isabella .


Isabella mendengar pertanyaan temannya


tapi dia lebih berfokus pada belanjaan .


" Habis berapa ?." Isabella tergopoh-gopoh


membuka resleting tasnya untuk


mengambil sebuah dompet didalamnya .


Mengeluarkan uang tunai dari dompet ,


setelah melihat berapa jumlah nominal


hasil belanjaan . Isabella menyerahkan


tiga lembaran uang pecahan seratus


ribuan kepada temannya .


" Memang sekarang aku libur sin , tapi


calon suamiku memintaku untuk


memberikan ini pada ibunya ." mengambil


satu kantong berisikan penuh barang pesanannya .


Teman Isabella terkejut ," calon suami ?."


Isabella tak sengaja menyebutkan kata


suami pada temannya , dia tersipu malu


menyadari kecerobohannya .


" Kau sudah mempunyai calon suami Is ,


sejak kapan ? , kenapa kau tidak pernah


bercerita padaku sih Is , greget deh ."


Isabella menaruh jari telunjuk nya


di depan bibir temannya .


" Ussssst !." menaruh jari telunjuk didepan


bibir .


" Baru kemarin dia mengakui hubungan


kami , padahal aku dan dia tidak pernah


ada hubungan serius , kami hanya


berteman saja dan selama aku kenal


dia tidak ada pembahasan serius , aku kira


dia cuma main - main , tapi aku tidak menyangka jika kemaren dia mengikrarkan hubungan kami pada ibunya ."


Berbicara pelan sambil mendekatkan


diri pada temannya .


Isabella menjelaskan sambil tersenyum


bahagia , perasaan yang mendalam


mulai tumbuh di hatinya . Perlakuan dan


pengakuan Roy padanya kemaren


telah membuatnya untuk membukakan


hati untuk sang asisten atasannya itu .


" Ya sudah kalau begitu , semoga tidak


ada halangan sampai kalian menikah ."


Isabella mengangkat jempolnya .


Dengan terburu-buru Isabella beranjak


pergi ," tunggu is ." gadis itu menoleh ,


hendak mendorong pintu yang terbuat


dari kaca .


" Apalagi ?." tanyanya dengan wajah jengah .


Kasir itu malah meringis ," kalau menikah


jangan lupa undang aku Yach ."


menunjukkan tatanan gigi rapi yang


menghiasi senyumnya .


Isabella menghembuskan nafasnya kasar


" iya , iya beres , jika sudah tidak ada yang


di katakan lagi aku akan pergi , kau tahu


kan sekarang ini aku sudah sangat


terlambat ." mengangkat satu tangan


untuk menunjukkan arloji yang melingkar


di pergelangan tangannya .


Teman Isabella pun mengangguk , tanpa


satu kata gadis itu meninggalkan Mini


Market tempatnya memesan barang


belanjaan .


🌷🌷🌷🌷🌷


Isabella sampai di depan Apartemen Roy ,


membawa dua kantong plastik gadis


itu memasuki area Apartemen , melihat


ke atas Apartemen Isabella mengukur


seberapa jauh dirinya nanti menuju


tempat calon suaminya itu tinggal .


" Wah jauhnya , huh ,, ." Isabella


memonyongkan bibirnya untuk membuang


nafas .


plastik yang ia tenteng , mengatur nafasnya Isabella membuang rasa grogi yang


yang ikut menyertai detak jantungnya .


Gadis itu segera masuk kedalam area


Apartemen , masuk kedalam lift agar


cepat sampai di lantai tempat tinggal


sang calon suami .


Tepat di lantai dua puluh pintu lift terbuka


Isabella segera keluar , berdiri tegap


untuk mengatur rasa grogi yang ditimbulkan oleh rasa gugup dan detakan jantung yang


tak bisa diatur .


Menghirup oksigen sebanyak - banyaknya


Isabella mengurangi kegugupan ," aman ,,


aman ,,, tidak akan terjadi sesuatu ."


memegang dadanya , Isabella merasakan


detakan jantung .


Berulang kali gadis itu mengambil udara


dan mengeluarkan nya , sebuah upaya


untuk mengikis kegugupan dihati , rasa


yang bisa mengurangi tingkat kepedean


dari gadis itu .


" Aku pasti bisa , semangat ."


Isabella berbicara sendiri untuk


menyemangati dirinya sendiri . Kali ini


dia harus berhadapan dengan ibunda


Roy sendirian , tanpa ada Roy yang


menemani .


Sampai di depan pintu Apartemen


jantung Isabella semakin tak beraturan ,


" apa apaan ini , aku pasti bisa


menghadapinya ." dengan tangan gemetar


Isabella memencet bel .


Menunggu sekitar dua menit pintu


akhirnya terbuka , menampakkan sosok


perempuan manis yang membukakan


pintu ," syukurlah cuma adiknya ." hati


Isabella lega .


Adinda memandang perempuan


didepannya , tanpa ingin mempersilahkan


masuk Adinda malah menyidiknya .


" Kakak yang kemarin kan ?." berbicara


ketus Adinda menyapa ,Isabella


mengangguk .


" Mencari kak Roy ? , kak Roy tidak ada


disini , mungkin dia sekarang berada


dirumahnya kak Joy ."


Isabella menggelengkan kepala , " tidak ,


kamu salah sangka , aku kemari cuma ingin


mengantarkan ini ." menjinjing kantong


plastik yang dibawanya untuk ditunjukkan


pada calon adik iparnya .


" Oh bahan makanan ?." Isabella tersenyum.


" Jadi kak Roy meminta kakak untuk


membelanjakan semua ini ? , kenapa


kakak mau saja di kibulin kak Roy sih ."


Isabella kaget dengan perkataan gadis


didepannya ini , mereka belum saling


mengenal tapi perkataan nya sudah


begitu akrab tapi pedas .


" Maksudnya , apa dik ?."


" Kakak belum menikah dengan kakakku


ya jadi kita belum saudara , panggil saja


aku Adinda ." menunjuk dirinya .


Perdebatan terjadi didepan pintu , Adinda


yang disuruh bundanya untuk


membukakan pintu tidak menyuruh


tamunya untuk masuk malah diajak


berdebat .


Rani dan Wulan berada di dapur , mereka


mendengar ada suara orang berbicara ,


" embak Dinda kok Ndak balik - balik ya ,


disuruh bukain pintu kok lama sekali ."


memandang kakaknya yang sedang membersihkan isi kulkas .


" Datangi sana , anakmu rada sembrono


kalo sama orang yang tidak di kenal ."


tanpa memandang , Wulan masih asik


menata rak di almari pendingin .


Menuruti apa kata kakaknya Rani


mendatangi Adinda , ternyata benar apa


yang dikatakan oleh kakaknya , dengan


pintu yang tidak dibuka lebar , anak itu


mengintrogasi sang tamu .


" Siapa Din ?." tanya Rani dari dalam .


Mendengar suara bundanya , dengan


cepat Adinda membuka pintunya lebar ,


" Ini Bun kakak yang kemarin , bunda


masih ingat kan ." terlihat Isabella yang


sedang tersenyum .


" Pagi Tante maaf saya terlambat , saya


diperintahkan mas Roy untuk


mengantarkan ini untuk Tante ."


menyerahkan kantong plastik yang


berisikan bahan makanan pada ibunda


Roy .


" Oh iya tidak apa-apa , sini masuk , jangan


dengarkan ocehan Adinda dia memang


begitu anaknya , tapi dia manis kok


nanti kalau kamu sudah kenal pasti


sayang banget sama dia ." menggandeng


tangan sang calon menantu untuk diajak


duduk di sofa .


" Dinda sana ambilin minum embak mu ."


Dinda cemberut kemudian meninggalkan


ruang tamu .


" Enak saja bilang embakmu , kapan aku


jadi adeknya , nikah aja belom sudah


pingin dipanggil embak , gak ngeh deh ."


Dinda berbicara dalam hati disepanjang


dia berjalan menuju dapur .


" Jangan sungkan , nanti kita juga jadi


keluarga , kamu sekarang umur berapa


Bella ?." duduk disamping Isabella ,


Rani ingin melihat calon menantunya


dengan dekat .


" Rupanya Roy tidak salah pilih , bibitnya


bagus ."" Mengamati bentuk badan Isabella.


"Saya baru dua puluh tiga Tante ."


" Oh pas itu , Roy sekarang usianya dua


puluh delapan kalau kalian menikah


umurnya serasi itu ." memeluk Isabella .


Rani kegirangan mendapati usia Isabella


tidak begitu muda dan juga tidak begitu


tua rasanya pas untuk dijadikan menantu .


Adinda dari dalam melihat keakraban


Bunda nya bersama calon kakak iparnya


itu tidak begitu suka , dia tak rela jika


kakaknya memilih wanita itu dan


meninggalkan Mery .


" Sudah tua ya kak , kok bisa ya kak Roy


memilih kakak padahal selera kak Roy


itu daun muda lhooo ,,, kayak Mery ."


menaruh dua cangkir teh diatas meja


untuk disajikan pada ibundanya dan


tamu .


Bak di sambar petir di siang bolong


Isabella syok mendengar ucapan adik


dari calon suaminya itu .


" Jaga bicaramu Din , mereka pasangan


yang serasi , awas kalau kau lancang lagi


bunda akan kurangin jajanmu ." melotot


pada putrinya , merasa malu dengan


ucapan anaknya yang mengatai Isabella tua .


" Ampun Bun ,, ampun , maaf ya kak


Dinda cuma bercanda ." berlari masuk


ke dapur .


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Lanjut yuk ...yuk .....πŸ₯°


Next 😍