
Joy mulai meradang , kekhawatiran nya
akan keadaan Mery ternyata percuma ,
karena apa yang dilihatnya kini tidak
seperti yang dia bayangkan .
Lain dengan David , dia malah tertawa
dengan terpergoknya ulah Roy yang
jauh hari sudah diperingatkan olehnya .
" Tika cepat bantu Mery naik dan berikan
dia handuk ." menyuruh seorang pembantu
agar cepat menolong Mery yang terlihat
kedinginan .
" Cepat bawa dia ke kamar ,"
" Baik nyonya ." memakaikan handuk yang
sudah dibawanya dan melaksanakan
seperti apa yang di perintahkan padanya .
Tanpa berani memandang , Mery diam dan
menunduk lewat di sebelah kakaknya .
" Kenapa kau malah ketawa sayang ?,
lihat kelakuan temanmu sudah tahu
Mery masih kecil , masih saja digoda
dan tadi kau juga lihat kan kalau dia
mencium nya , pasti kau Roy yang
memaksanya , aku tak terima semua ini ."
Joy yang geram ingin melepaskan diri
dari pegangan suaminya , ingin
memberikan pelajaran pada Roy agar
tidak mengulanginya lagi .
" Sudah sayang kendalikan dirimu , ingat
saat ini kau sedang mengandung ,"
Bukan nya takut Roy malah tertawa dan
dengan entengnya dia keluar dari kolam ,
" Kecil dari mana , jari kelingking nya itu
yang kecil , orang bisa buat anak kecil
juga ." Roy berjalan melewati Joy tanpa
merasa bersalah .
" Ha ,, apa - apaan kau Roy , Mery itu
masih kecil dia masih sekolah ." tak mau
kalah argumen .
" Sayang , kau dengar sendiri kan Roy
bilang apa tadi , dia sangat mengesalkan ,
teman seperti itu masih saja dipelihara ."
Semakin meluap amarah Joy , dia pun
meminta dukungan pada suaminya , tapi
apa yang di dapat tidak seperti yang ia
harapkan .
" Iya sayang dia memang teman ku , tapi
dia itu juga saudara sepupu kamu yang ."
" What , "
Joy menutup mulutnya , kaget dengan
penuturan yang suaminya berikan ,
bukan nya membela malah memojokkan
istrinya .
Oma yang baru datang bingung dengan
perdebatan Joy dan Roy , masalah nya
apa Oma tidak mengerti .
" Ada apa ini David , kenapa kau biarkan
Joy marah seperti itu , keadaan emosi
yang seperti itu tidak baik untuk anak
di dalam kandungan nya , Joy tenangkan
dirimu , masalah nya apa coba jelaskan
padaku ."
Seperti ada angin segar Joy mengadu pada Oma ," Roy Oma , aku sudah khawatir jika
terjadi sesuatu yang berbahaya pada Mery ,
eh ternyata mereka malah berci......" David
membungkam bibir istrinya .
" Tidak ada apa-apa Oma , sayang kita
makan siang dulu yuk , my boy pasti
sudah lapar iya kan ?, Oma kami ke meja
makan dulu ."
David langsung memotong ucapan
istrinya , tak ingin jika Oma mengetahui
hal yang Roy lakukan tadi , takut jika Roy
terkena ocehan Oma , bisa - bisa mereka
berdua langsung dinikah kan .
Karena David tahu sudah lama Oma
menyuruh Roy untuk segera menikah ,
Oma tidak suka jika ada seorang laki-laki
seumuran Roy melajang dan masih
bermain perempuan .
" Huh, baiklah ayo kita makan oma juga
sudah mulai lapar ."
Tidak ingin memperpanjang urusan , Oma
pun tidak mau membahasnya lebih lanjut
dan segera menuju ke tempat Ruang makan .
πππ
Di dalam kamar Mery kesal sendiri ,
masih tidak terima dengan tuduhan yang
Roy berikan padanya .
" Bisa - bisanya kak Roy malah melempar
kesalahan padaku , padahal kan dia tadi
sendiri yang sengaja memelukku ."
mengomel sambil memakai celana
pendeknya .
" Eh tunggu , kenapa sih pria itu suka
sekali mencuri ciuman ku dan bodohnya
lagi kenapa juga aku diam saja ."
Mery tertawa sendiri dengan memukul
pelan keningnya , merutuki kebodohannya
karena tidak menolak malah ikut
menikmati pertemuan bibir mereka .
" Issshh... rupanya aku semakin di buat
gila oleh kak Roy deh , bisa - bisanya aku
diam saja , hahahah..."
Tok tok tok....
" Nona Mery , sudah ditunggu nyonya Joy
dimeja makan non , sudah waktunya
makan siang ." Mery tersentak kaget .
Panggilan pembantu suruhan Joy
membuyarkan haluan Mery , yang sedari
tadi sedang mengoceh tak jelas , akibat
ulah Roy .
" Iya sebentar lagi aku akan keluar , "
teriakan Mery kencang sambil menyisir
rambutnya .
Mery bercermin , " ternyata aku manis
juga , pantas saja kak Roy menyukaiku ,"
" eh apa yang aku katakan , kenapa aku
jadi kepedean begini sih , pikiran itu tidak
boleh ada , kak Roy dan aku itu berbeda
dia orang berada , sedangkan aku siapa ."
menggigit bibir bawahnya , Mery meratapi
nasibnya .
" Yang harus aku pikirkan sekarang adalah
bagaimana aku bisa melanjutkan
pendidikan dan tidak mengecewakan kak
Joy , titik ." Berjalan menuju pintu .
Tepat Mery berada di depan pintu hendak
membuka dia berhenti dan apa yang ada
di pikirannya tiba - tiba terlintas adegan
dirinya tadi di kolam .
Dengan memejamkan mata , Mery
merasakan bagaimana bibirnya tadi
bertemu dengan bibir Roy , rasa lembut
dingin dan hangatnya suasana di Kolam
seakan masih terasa .
Dertttt...derttt... ponsel di saku bergetar ,
membuyarkan pikiran kotor Mery .
" Astaga , hilang kau pergi sana pikiran
kotor , kau sudah merusak otakku yang
masih belum tercemar ." menjambak
rambutnya sendiri .
Dengan sekali tarikan pintu pun terbuka .
πππ
Mery berjalan menuju meja makan,
disana sudah terduduk Oma , Joy dan
suaminya , serta tak ketinggalan Roy
yang sudah duduk manis dengan khas
gaya sok cool nya .
" Idih ada pria itu lagi , kenapa dia malah
melirikku , pliss deh jangan memberi
tatapan seperti itu , aku kan jadi salah
tingkah , nih jantung juga gak bisa
diajak kompromi , pake dag-dig-dug lagi ."
Hati Mery semakin tak karuan akibat
ulah tatapan tajam Roy , yang tak lepas
seraya harimau ingin menerkam mangsanya .
" Mery aku sudah lapar , gara - gara
menunggumu kita semua tidak makan ,
kau mengerti tidak , sini cepat kemari !."
Mery berlari dan mengambil duduk tepat
di depan Roy , " sudah -sudah ayo kita
makan , kalian berdua kan setelah ini mau kembali ke Kantor , cepat makan yang
banyak kalian butuh tenaga yang banyak , karena kalian harus mempersiapkan diri
untuk keberangkatan kalian besok .
Mery yang tidak faham hanya diam ,
tidak mau ikut masuk dalam pembahasan .
" Dan kalian harus menyelesaikan
masalah disini dulu sebelum kalian berdua
meninggalkan nya ." Roy mengangguk .
Mereka di layani oleh pembantu yang
berbeda , saat seorang pembantu akan
mengambilkan nasi untuk David, Joy
melarangnya .
" Tunggu , biarkan aku sendiri yang
mengambilkan nya , kalian bisa bantu
yang lain ." Joy berdiri mengambil alih
piring yang ada di depan suaminya .
David senang melihat Joy melayaninya ,
hal ini yang membuat dia selalu ingin
makan siang di Rumah , seakan kurang
sedap jika tidak dari tangan istrinya yang
menyajikan makanan untuknya .
" Kau juga ingin seperti kakak mu , ini
kau bisa mengambilkan untukku ." Roy
menyodorkan piringnya di depan Mery .
" Ogah , ambil sendiri sana kan masih
ada embak - embak itu yang bisa bantu
kak Roy ngambilin nasi ." sewot Mery .
Aksi sok jual mahal Mery tunjukan pada
Roy sengaja dia lakukan , karena tidak
mau dipandang rendah oleh seorang
laki - laki .
" Sebenarnya aku mau , tapi masa iya
harus melakukannya didepan kak Joy ,
ini mustahil ."
" Ok lah , besok aku akan meresmikan mu
agar kita bisa seperti mereka ." Roy
tersenyum dengan mengangkat kedua
alisnya .
" Sudah kalian bahas apa sih , resmi ,,
resmi , waktunya masih panjang tidak
ada resmian , cepat makanlah Mery
jangan kau dengarkan omongan tak
bermanfaat ini , dan kau Roy besok
kau itu ke luar negeri , belum makan
aku sudah kenyang bucinan kalian ."
Joy tidak suka jika Roy mendekati
Mery , di angannya sekarang Mery harus
mengejar impiannya bukan malah
berhubungan dengan pria yang selalu
mengajaknya memutuskan impian .
" Joy...., kapan kau makan kalau dari tadi
kau marah terus ."
" Iya Oma maaf ."
Setelah satu kalimat Oma terlontar , tiada
lagi percakapan diantara mereka , semua
diam hanya ada dentingan garpu sendok
yang seakan menari diatas piring .
Gerakan kaki Roy menyenggol pucuk
sepatu orang yang ada di depannya ,
sengaja ingin .
Mery terlonjak melihat kebawah , tenyata
kaki Roy yang sengaja menyenggol nya .
Tanpa basa-basi Mery menginjak sepatu
Roy ," awwww....." teriak Roy .
" Rasakan ." tersenyum menatap Roy yang
meringis kesakitan .
Ketiga orang yang berada di satu meja ,
menatap Roy bersamaan .
ππππππππππ
Next aj Yach π€π