Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Perdebatan lagi ..


Joy mulai meradang , kekhawatiran nya


akan keadaan Mery ternyata percuma ,


karena apa yang dilihatnya kini tidak


seperti yang dia bayangkan .


Lain dengan David , dia malah tertawa


dengan terpergoknya ulah Roy yang


jauh hari sudah diperingatkan olehnya .


" Tika cepat bantu Mery naik dan berikan


dia handuk ." menyuruh seorang pembantu


agar cepat menolong Mery yang terlihat


kedinginan .


" Cepat bawa dia ke kamar ,"


" Baik nyonya ." memakaikan handuk yang


sudah dibawanya dan melaksanakan


seperti apa yang di perintahkan padanya .


Tanpa berani memandang , Mery diam dan


menunduk lewat di sebelah kakaknya .


" Kenapa kau malah ketawa sayang ?,


lihat kelakuan temanmu sudah tahu


Mery masih kecil , masih saja digoda


dan tadi kau juga lihat kan kalau dia


mencium nya , pasti kau Roy yang


memaksanya , aku tak terima semua ini ."


Joy yang geram ingin melepaskan diri


dari pegangan suaminya , ingin


memberikan pelajaran pada Roy agar


tidak mengulanginya lagi .


" Sudah sayang kendalikan dirimu , ingat


saat ini kau sedang mengandung ,"


Bukan nya takut Roy malah tertawa dan


dengan entengnya dia keluar dari kolam ,


" Kecil dari mana , jari kelingking nya itu


yang kecil , orang bisa buat anak kecil


juga ." Roy berjalan melewati Joy tanpa


merasa bersalah .


" Ha ,, apa - apaan kau Roy , Mery itu


masih kecil dia masih sekolah ." tak mau


kalah argumen .


" Sayang , kau dengar sendiri kan Roy


bilang apa tadi , dia sangat mengesalkan ,


teman seperti itu masih saja dipelihara ."


Semakin meluap amarah Joy , dia pun


meminta dukungan pada suaminya , tapi


apa yang di dapat tidak seperti yang ia


harapkan .


" Iya sayang dia memang teman ku , tapi


dia itu juga saudara sepupu kamu yang ."


" What , "


Joy menutup mulutnya , kaget dengan


penuturan yang suaminya berikan ,


bukan nya membela malah memojokkan


istrinya .


Oma yang baru datang bingung dengan


perdebatan Joy dan Roy , masalah nya


apa Oma tidak mengerti .


" Ada apa ini David , kenapa kau biarkan


Joy marah seperti itu , keadaan emosi


yang seperti itu tidak baik untuk anak


di dalam kandungan nya , Joy tenangkan


dirimu , masalah nya apa coba jelaskan


padaku ."


Seperti ada angin segar Joy mengadu pada Oma ," Roy Oma , aku sudah khawatir jika


terjadi sesuatu yang berbahaya pada Mery ,


eh ternyata mereka malah berci......" David


membungkam bibir istrinya .


" Tidak ada apa-apa Oma , sayang kita


makan siang dulu yuk , my boy pasti


sudah lapar iya kan ?, Oma kami ke meja


makan dulu ."


David langsung memotong ucapan


istrinya , tak ingin jika Oma mengetahui


hal yang Roy lakukan tadi , takut jika Roy


terkena ocehan Oma , bisa - bisa mereka


berdua langsung dinikah kan .


Karena David tahu sudah lama Oma


menyuruh Roy untuk segera menikah ,


Oma tidak suka jika ada seorang laki-laki


seumuran Roy melajang dan masih


bermain perempuan .


" Huh, baiklah ayo kita makan oma juga


sudah mulai lapar ."


Tidak ingin memperpanjang urusan , Oma


pun tidak mau membahasnya lebih lanjut


dan segera menuju ke tempat Ruang makan .


πŸ€πŸ€πŸ€


Di dalam kamar Mery kesal sendiri ,


masih tidak terima dengan tuduhan yang


Roy berikan padanya .


" Bisa - bisanya kak Roy malah melempar


kesalahan padaku , padahal kan dia tadi


sendiri yang sengaja memelukku ."


mengomel sambil memakai celana


pendeknya .


" Eh tunggu , kenapa sih pria itu suka


sekali mencuri ciuman ku dan bodohnya


lagi kenapa juga aku diam saja ."


Mery tertawa sendiri dengan memukul


pelan keningnya , merutuki kebodohannya


karena tidak menolak malah ikut


menikmati pertemuan bibir mereka .


" Issshh... rupanya aku semakin di buat


gila oleh kak Roy deh , bisa - bisanya aku


diam saja , hahahah..."


Tok tok tok....


" Nona Mery , sudah ditunggu nyonya Joy


dimeja makan non , sudah waktunya


makan siang ." Mery tersentak kaget .


Panggilan pembantu suruhan Joy


membuyarkan haluan Mery , yang sedari


tadi sedang mengoceh tak jelas , akibat


ulah Roy .


" Iya sebentar lagi aku akan keluar , "


teriakan Mery kencang sambil menyisir


rambutnya .


Mery bercermin , " ternyata aku manis


juga , pantas saja kak Roy menyukaiku ,"


" eh apa yang aku katakan , kenapa aku


jadi kepedean begini sih , pikiran itu tidak


boleh ada , kak Roy dan aku itu berbeda


dia orang berada , sedangkan aku siapa ."


menggigit bibir bawahnya , Mery meratapi


nasibnya .


" Yang harus aku pikirkan sekarang adalah


bagaimana aku bisa melanjutkan


pendidikan dan tidak mengecewakan kak


Joy , titik ." Berjalan menuju pintu .


Tepat Mery berada di depan pintu hendak


membuka dia berhenti dan apa yang ada


di pikirannya tiba - tiba terlintas adegan


dirinya tadi di kolam .


Dengan memejamkan mata , Mery


merasakan bagaimana bibirnya tadi


bertemu dengan bibir Roy , rasa lembut


dingin dan hangatnya suasana di Kolam


seakan masih terasa .


Dertttt...derttt... ponsel di saku bergetar ,


membuyarkan pikiran kotor Mery .


" Astaga , hilang kau pergi sana pikiran


kotor , kau sudah merusak otakku yang


masih belum tercemar ." menjambak


rambutnya sendiri .


Dengan sekali tarikan pintu pun terbuka .


πŸ€πŸ€πŸ€


Mery berjalan menuju meja makan,


disana sudah terduduk Oma , Joy dan


suaminya , serta tak ketinggalan Roy


yang sudah duduk manis dengan khas


gaya sok cool nya .


" Idih ada pria itu lagi , kenapa dia malah


melirikku , pliss deh jangan memberi


tatapan seperti itu , aku kan jadi salah


tingkah , nih jantung juga gak bisa


diajak kompromi , pake dag-dig-dug lagi ."


Hati Mery semakin tak karuan akibat


ulah tatapan tajam Roy , yang tak lepas


seraya harimau ingin menerkam mangsanya .


" Mery aku sudah lapar , gara - gara


menunggumu kita semua tidak makan ,


kau mengerti tidak , sini cepat kemari !."


Mery berlari dan mengambil duduk tepat


di depan Roy , " sudah -sudah ayo kita


makan , kalian berdua kan setelah ini mau kembali ke Kantor , cepat makan yang


banyak kalian butuh tenaga yang banyak , karena kalian harus mempersiapkan diri


untuk keberangkatan kalian besok .


Mery yang tidak faham hanya diam ,


tidak mau ikut masuk dalam pembahasan .


" Dan kalian harus menyelesaikan


masalah disini dulu sebelum kalian berdua


meninggalkan nya ." Roy mengangguk .


Mereka di layani oleh pembantu yang


berbeda , saat seorang pembantu akan


mengambilkan nasi untuk David, Joy


melarangnya .


" Tunggu , biarkan aku sendiri yang


mengambilkan nya , kalian bisa bantu


yang lain ." Joy berdiri mengambil alih


piring yang ada di depan suaminya .


David senang melihat Joy melayaninya ,


hal ini yang membuat dia selalu ingin


makan siang di Rumah , seakan kurang


sedap jika tidak dari tangan istrinya yang


menyajikan makanan untuknya .


" Kau juga ingin seperti kakak mu , ini


kau bisa mengambilkan untukku ." Roy


menyodorkan piringnya di depan Mery .


" Ogah , ambil sendiri sana kan masih


ada embak - embak itu yang bisa bantu


kak Roy ngambilin nasi ." sewot Mery .


Aksi sok jual mahal Mery tunjukan pada


Roy sengaja dia lakukan , karena tidak


mau dipandang rendah oleh seorang


laki - laki .


" Sebenarnya aku mau , tapi masa iya


harus melakukannya didepan kak Joy ,


ini mustahil ."


" Ok lah , besok aku akan meresmikan mu


agar kita bisa seperti mereka ." Roy


tersenyum dengan mengangkat kedua


alisnya .


" Sudah kalian bahas apa sih , resmi ,,


resmi , waktunya masih panjang tidak


ada resmian , cepat makanlah Mery


jangan kau dengarkan omongan tak


bermanfaat ini , dan kau Roy besok


kau itu ke luar negeri , belum makan


aku sudah kenyang bucinan kalian ."


Joy tidak suka jika Roy mendekati


Mery , di angannya sekarang Mery harus


mengejar impiannya bukan malah


berhubungan dengan pria yang selalu


mengajaknya memutuskan impian .


" Joy...., kapan kau makan kalau dari tadi


kau marah terus ."


" Iya Oma maaf ."


Setelah satu kalimat Oma terlontar , tiada


lagi percakapan diantara mereka , semua


diam hanya ada dentingan garpu sendok


yang seakan menari diatas piring .


Gerakan kaki Roy menyenggol pucuk


sepatu orang yang ada di depannya ,


sengaja ingin .


Mery terlonjak melihat kebawah , tenyata


kaki Roy yang sengaja menyenggol nya .


Tanpa basa-basi Mery menginjak sepatu


Roy ," awwww....." teriak Roy .


" Rasakan ." tersenyum menatap Roy yang


meringis kesakitan .


Ketiga orang yang berada di satu meja ,


menatap Roy bersamaan .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Next aj Yach πŸ€­πŸ™ˆ