
Joy pergi dari Kantor David dengan
perasaan kesal dan marah , tanpa
menyapa seorang pun yang berpapasan dengannya.
" Wanita ****** dan pria gan**n , itu
adalah julukan yang paling pas untuk
mereka berdua." batin Joy .
Dengan menaikki sebuah Taksi , Joy
pergi menuju Taman . Disana dia
menangis sendiri , meluapkan semua
perasaan yang sesak didalam hatinya.
"Apa aku harus lari , atau kah tetap
bertahan dengan semua cobaan yang
kau berikan tuhan ."
" Aku ingin bertahan, tapi David sendiri
sepertinya sudah tidak berniat untuk
mengingatku , aku lebih merasa jika
dia kini sudah membuang semua rasa
cintanya padaku."
Joy menangis, meratapi nasibnya.
Di kejauhan Rendi sedang duduk
bersantai di sebuah Cafe , dia melihat
Joy yang duduk sendirian di kursi Taman
di bawah pohon bunga Tabebuya .
Rendi mempertajam penglihatan nya ,
di lihatnya ternyata Joy sedang menangis.
Rendi segera menyudahi acara minum
kopinya , dia mulai berdiri mendekati
meja kasir untuk membayar secangkir
kopi yang sudah diminumnya.
Sebelum pergi Rendi menyempatkan
membeli dua bungkus es krim yang
juga di jual di Cafe itu , kemudian
pergi dari sana .
Dia berjalan ke Taman , ke tempat di
mana dia melihat Joy duduk sekarang.
" Joy , apa kau mau es krim ?." berdiri di
depan Joy , menyerahkan eskrim yang
di bawanya ,
Melihat Rendi , Joy segera menghapus
air matanya, "terimakasih kak ." mengambil
es krim di tangan Rendi.
Rendi duduk tepat di sebelah Joy ,
"Ada apa lagi , apa kau bertengkar
dengan David ?." melirik Joy sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya.
Joy menggeleng kepala," bicaralah , apa
kau sudah tidak mengganggapku
sebagai kakakmu lagi ."
Mendengar apa yang di tuturkan Rendi
padanya , Joy langsung menangis
tersedu - sedu .
" Jangan kau katakan , jika kau sulit
mengucapkan nya , tapi itu membuatku
sakit bila aku melihatmu menangis."
menepuk punggung Joy dengan pelan.
" David kak , dia sudah melupakanku."
Joy mulai bercerita.
" Maksudmu ?." menoleh pada Joy ,
dengan wajah yang tak mengerti.
" David mengalami kecelakaan seminggu
yang lalu , saat dia mengurus perusahaan
nya di Inggris .," Rendi diam mendengarkan.
" Kecelakaan itu membuat dia kehilangan
sebagian ingatannya." air mata Joy mulai
mengalir .
" Kehilangan ingatan ? jangan katakan
kalau sekarang David tidak mengingatmu,
terlebih sama sekali tidak mengenalimu ."
Joy mengangguk tanpa bicara.
" Astaga Joy,,, lalu sekarang bagaimana
denganmu , apa itu yang membuatmu
menangis di sini ?." Joy menggeleng.
" Lalu ?." mencari jawaban di wajah Joy
yang menangis.
" Tadi aku memergoki David sedang bermesraan di Kantor nya ." pandangan
Joy lurus kedepan , seperti orang yang
sedang melamun.
Dengan sigap Rendi langsung memeluk
Joy ," Kurang ajar , aku harus memberinya
pelajaran , kau yang sabar dan hapus air
matamu , dia tak pantas kau tangisi ."
"Tidak kak , biarkan saja dia seperti itu
aku akan bertahan sampai anak kami
lahir ." melepas pelukan Rendi.
" Aku akan melihat bagaimana perasaan
David padaku , jika sampai anakku sudah
lahir dia masih tidak mengingatku , aku
akan pergi meninggalkannya ." berbicara
dengan memakan es krim di tangannya.
" Baiklah , apapun keputusan yang sudah
di buat oleh adikku, aku akan mendukung
nya , karena aku tahu jika itu adalah yang
terbaik untukmu ." mereka tertawa bersama.
Joy ingin melupakan sejenak rasa
sakitnya , dan berusaha mengalihkan
topik pembicaraan.
" Kak bagaimana kelanjutan hubungan
kalian ?."
" Maksudmu aku dan Sofia ?." Joy
tersenyum dan mengangguk.
"Kami akan segera menikah , sebenarnya
aku ingin menikah dan menetap disini ,
tapi Sofia menolaknya ." Joy terkejut.
" Dia ingin secepatnya pulang ke Inggris
dan menikah di sana , dengan terpaksa
aku menyetujuinya."
Dengan wajah kecewa Joy berbicara
pada Rendi " jadi aku tidak bisa melihat
kak Rendi menikah ?," Rendi menunduk.
" Tidak apa-apa kak , kakak bisa mengirim
foto pernikahan kalian kepadaku." Joy
mengukir senyum di bibirnya.
" Jangan khawatir , itu pasti ."
Karena hari sudah cukup siang , Joy
pamit pada Rendi untuk pulang .
Rendi mengijinkan tapi dengan satu
syarat , Joy harus bersedia di antarnya
pulang.
***
Di Kantor,,
Melihat Joy pergi dengan mata yang berkaca-kaca , Roy mengerti pasti Joy
sakit hati melihat suaminya didalam
sana, tanpa perlu berfikir kedua kali dia segera masuk ke ruangan Direktur.
" Kau keterlaluan David ." memukul
wajah tampan David.
" Rosa , aku sudah bilang padamu kalau
David sudah mempunyai istri." menatap Rosa.
" Kau juga, aku sudah menyuruhmu
untuk segera pulang , tapi kau malah bercumbu dengannya." teriak Roy marah,
tangannya menunjuk kearah Rosa .
David tak mampu membalas pukulan
dari Roy . Karena dia tahu , dialah yang
salah di sini.
" Apa maksudmu wanita tadi masuk
kesini adalah istrinya David ?." ucap Rosa
dengan wajah kaget .
" Iya kenapa?." bentak Roy .
" Wanita itu tak pantas untuk David ." ucap Rosa merapikan pakaiannya.
" Kalau menurutmu dia tak pantas
menjadi istri David , lalu siapa yang
lebih pantas , dirimu ?." Roy tertawa hambar.
Rosa kesal dengan ucapan Roy yang
baru saja dia dengar, " wanita itu yang
terluka , kenapa kau yang marah ?." teriak Rosa yang tidak mau kalah dengan Roy .
Roy berjalan mendekati Rosa .
" Jelas saja aku marah , kau wanita ******
sengaja merayu temanku , dan melukai
hati saudaraku." Roy menunjuk Rosa
dengan keras sampai dia mundur kebelakang.
" Saudara ?." ucap Rosa dengan wajah
bingung.
" Ya , istri David adalah sepupu kandungku."
Mendengar perdebatan dua orang didepannya , David memutuskan untuk
mengusir Rosa .
" Rosa , cepat tinggalkan Kantorku ."
mendengar ucapan David yang
mengusirnya , Rosa tidak terima.
" Apa maksudmu David ?." dengan nada
bersedih .
" Apa kau tak dengar apa yang aku
katakan , cepat keluar ." bentak David ,
nyali Rosa menciut .
Dengan segera Rosa pergi dari ruangan
itu , tapi dia sempat berhenti di sebelah
Roy ," Aku akan membuat perhitungan
denganmu." ucapnya kemudian
melanjutkan langkahnya.
" Apa benar yang kau katakan tadi ?."
mendekati Roy .
" Yang mana ?." Roy tak mengerti
dengan pertanyaan David .
" Kau tadi bilang , jika Joy adalah
sepupumu , berarti kau tahu bagaimana
aku bisa bertemu dengannya." ucap
David dengan wajah penasaran.
" Kau tidak perlu bertanya padaku
tanyakan pada orangnya langsung
karena hubungan kalian berdua yang
lebih tahu adalah kau dan Joy ."
Roy keluar dari ruangan Direktur, meninggalkan David sendirian disana .
***
Joy duduk termenung di kamarnya,
memikirkan bagaimana kelanjutan
rumah tangganya , dia tak tahu harus
berbuat apa lagi untuk membuat David
mengingat tentang dirinya .
Suara pintu terbuka mengagetkannya,
David masuk kedalam kamarnya,
mendapati istrinya duduk di atas ranjang
dengan lampu kamar yang padam.
David duduk di tepi ranjang , " Maaf ."
suaranya menggema , mengisi
kesunyian di dalam kamar.
" Itu tidak perlu kau ucapkan , karena
jarak diantara kita sudah terlalu jauh."
Joy beranjak pergi .
" Tunggu ." suara David menghentikan Joy.
" Aku bisa jelaskan." David melanjutkan.
"Tidak perlu , aku sudah tidak membutuhkannya , sekarang aku sudah
memutuskan aku akan tetap menjadi
istrimu sampai anak kita lahir ."
air mata Joy mulai menetes.
" Tepat pada saat itu , aku akan bercerai
denganmu ." Joy keluar dari kamar David.
David terpaku tak bisa bergerak ,
merasakan sesuatu yang teramat sakit
di dalam hatinya , setelah mendengar
apa yang Joy ucapkan.
_
_
Gimana , lanjut ? nanggung nih ,,,
author nulis dulu yπ,,,
seperti biasa jangan lupa ninggalin
jejaknya ya ππβοΈβοΈ
Next π