Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Perasaan Joy ,,


Joy pergi dari Kantor David dengan


perasaan kesal dan marah , tanpa


menyapa seorang pun yang berpapasan dengannya.


" Wanita ****** dan pria gan**n , itu


adalah julukan yang paling pas untuk


mereka berdua." batin Joy .


Dengan menaikki sebuah Taksi , Joy


pergi menuju Taman . Disana dia


menangis sendiri , meluapkan semua


perasaan yang sesak didalam hatinya.


"Apa aku harus lari , atau kah tetap


bertahan dengan semua cobaan yang


kau berikan tuhan ."


" Aku ingin bertahan, tapi David sendiri


sepertinya sudah tidak berniat untuk


mengingatku , aku lebih merasa jika


dia kini sudah membuang semua rasa


cintanya padaku."


Joy menangis, meratapi nasibnya.


Di kejauhan Rendi sedang duduk


bersantai di sebuah Cafe , dia melihat


Joy yang duduk sendirian di kursi Taman


di bawah pohon bunga Tabebuya .


Rendi mempertajam penglihatan nya ,


di lihatnya ternyata Joy sedang menangis.


Rendi segera menyudahi acara minum


kopinya , dia mulai berdiri mendekati


meja kasir untuk membayar secangkir


kopi yang sudah diminumnya.


Sebelum pergi Rendi menyempatkan


membeli dua bungkus es krim yang


juga di jual di Cafe itu , kemudian


pergi dari sana .


Dia berjalan ke Taman , ke tempat di


mana dia melihat Joy duduk sekarang.


" Joy , apa kau mau es krim ?." berdiri di


depan Joy , menyerahkan eskrim yang


di bawanya ,


Melihat Rendi , Joy segera menghapus


air matanya, "terimakasih kak ." mengambil


es krim di tangan Rendi.


Rendi duduk tepat di sebelah Joy ,


"Ada apa lagi , apa kau bertengkar


dengan David ?." melirik Joy sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya.


Joy menggeleng kepala," bicaralah , apa


kau sudah tidak mengganggapku


sebagai kakakmu lagi ."


Mendengar apa yang di tuturkan Rendi


padanya , Joy langsung menangis


tersedu - sedu .


" Jangan kau katakan , jika kau sulit


mengucapkan nya , tapi itu membuatku


sakit bila aku melihatmu menangis."


menepuk punggung Joy dengan pelan.


" David kak , dia sudah melupakanku."


Joy mulai bercerita.


" Maksudmu ?." menoleh pada Joy ,


dengan wajah yang tak mengerti.


" David mengalami kecelakaan seminggu


yang lalu , saat dia mengurus perusahaan


nya di Inggris .," Rendi diam mendengarkan.


" Kecelakaan itu membuat dia kehilangan


sebagian ingatannya." air mata Joy mulai


mengalir .


" Kehilangan ingatan ? jangan katakan


kalau sekarang David tidak mengingatmu,


terlebih sama sekali tidak mengenalimu ."


Joy mengangguk tanpa bicara.


" Astaga Joy,,, lalu sekarang bagaimana


denganmu , apa itu yang membuatmu


menangis di sini ?." Joy menggeleng.


" Lalu ?." mencari jawaban di wajah Joy


yang menangis.


" Tadi aku memergoki David sedang bermesraan di Kantor nya ." pandangan


Joy lurus kedepan , seperti orang yang


sedang melamun.


Dengan sigap Rendi langsung memeluk


Joy ," Kurang ajar , aku harus memberinya


pelajaran , kau yang sabar dan hapus air


matamu , dia tak pantas kau tangisi ."


"Tidak kak , biarkan saja dia seperti itu


aku akan bertahan sampai anak kami


lahir ." melepas pelukan Rendi.


" Aku akan melihat bagaimana perasaan


David padaku , jika sampai anakku sudah


lahir dia masih tidak mengingatku , aku


akan pergi meninggalkannya ." berbicara


dengan memakan es krim di tangannya.


" Baiklah , apapun keputusan yang sudah


di buat oleh adikku, aku akan mendukung


nya , karena aku tahu jika itu adalah yang


terbaik untukmu ." mereka tertawa bersama.


Joy ingin melupakan sejenak rasa


sakitnya , dan berusaha mengalihkan


topik pembicaraan.


" Kak bagaimana kelanjutan hubungan


kalian ?."


" Maksudmu aku dan Sofia ?." Joy


tersenyum dan mengangguk.


"Kami akan segera menikah , sebenarnya


aku ingin menikah dan menetap disini ,


tapi Sofia menolaknya ." Joy terkejut.


" Dia ingin secepatnya pulang ke Inggris


dan menikah di sana , dengan terpaksa


aku menyetujuinya."


Dengan wajah kecewa Joy berbicara


pada Rendi " jadi aku tidak bisa melihat


kak Rendi menikah ?," Rendi menunduk.


" Tidak apa-apa kak , kakak bisa mengirim


foto pernikahan kalian kepadaku." Joy


mengukir senyum di bibirnya.


" Jangan khawatir , itu pasti ."


Karena hari sudah cukup siang , Joy


pamit pada Rendi untuk pulang .


Rendi mengijinkan tapi dengan satu


syarat , Joy harus bersedia di antarnya


pulang.


***


Di Kantor,,


Melihat Joy pergi dengan mata yang berkaca-kaca , Roy mengerti pasti Joy


sakit hati melihat suaminya didalam


sana, tanpa perlu berfikir kedua kali dia segera masuk ke ruangan Direktur.


" Kau keterlaluan David ." memukul


wajah tampan David.


" Rosa , aku sudah bilang padamu kalau


David sudah mempunyai istri." menatap Rosa.


" Kau juga, aku sudah menyuruhmu


untuk segera pulang , tapi kau malah bercumbu dengannya." teriak Roy marah,


tangannya menunjuk kearah Rosa .


David tak mampu membalas pukulan


dari Roy . Karena dia tahu , dialah yang


salah di sini.


" Apa maksudmu wanita tadi masuk


kesini adalah istrinya David ?." ucap Rosa


dengan wajah kaget .


" Iya kenapa?." bentak Roy .


" Wanita itu tak pantas untuk David ." ucap Rosa merapikan pakaiannya.


" Kalau menurutmu dia tak pantas


menjadi istri David , lalu siapa yang


lebih pantas , dirimu ?." Roy tertawa hambar.


Rosa kesal dengan ucapan Roy yang


baru saja dia dengar, " wanita itu yang


terluka , kenapa kau yang marah ?." teriak Rosa yang tidak mau kalah dengan Roy .


Roy berjalan mendekati Rosa .


" Jelas saja aku marah , kau wanita ******


sengaja merayu temanku , dan melukai


hati saudaraku." Roy menunjuk Rosa


dengan keras sampai dia mundur kebelakang.


" Saudara ?." ucap Rosa dengan wajah


bingung.


" Ya , istri David adalah sepupu kandungku."


Mendengar perdebatan dua orang didepannya , David memutuskan untuk


mengusir Rosa .


" Rosa , cepat tinggalkan Kantorku ."


mendengar ucapan David yang


mengusirnya , Rosa tidak terima.


" Apa maksudmu David ?." dengan nada


bersedih .


" Apa kau tak dengar apa yang aku


katakan , cepat keluar ." bentak David ,


nyali Rosa menciut .


Dengan segera Rosa pergi dari ruangan


itu , tapi dia sempat berhenti di sebelah


Roy ," Aku akan membuat perhitungan


denganmu." ucapnya kemudian


melanjutkan langkahnya.


" Apa benar yang kau katakan tadi ?."


mendekati Roy .


" Yang mana ?." Roy tak mengerti


dengan pertanyaan David .


" Kau tadi bilang , jika Joy adalah


sepupumu , berarti kau tahu bagaimana


aku bisa bertemu dengannya." ucap


David dengan wajah penasaran.


" Kau tidak perlu bertanya padaku


tanyakan pada orangnya langsung


karena hubungan kalian berdua yang


lebih tahu adalah kau dan Joy ."


Roy keluar dari ruangan Direktur, meninggalkan David sendirian disana .


***


Joy duduk termenung di kamarnya,


memikirkan bagaimana kelanjutan


rumah tangganya , dia tak tahu harus


berbuat apa lagi untuk membuat David


mengingat tentang dirinya .


Suara pintu terbuka mengagetkannya,


David masuk kedalam kamarnya,


mendapati istrinya duduk di atas ranjang


dengan lampu kamar yang padam.


David duduk di tepi ranjang , " Maaf ."


suaranya menggema , mengisi


kesunyian di dalam kamar.


" Itu tidak perlu kau ucapkan , karena


jarak diantara kita sudah terlalu jauh."


Joy beranjak pergi .


" Tunggu ." suara David menghentikan Joy.


" Aku bisa jelaskan." David melanjutkan.


"Tidak perlu , aku sudah tidak membutuhkannya , sekarang aku sudah


memutuskan aku akan tetap menjadi


istrimu sampai anak kita lahir ."


air mata Joy mulai menetes.


" Tepat pada saat itu , aku akan bercerai


denganmu ." Joy keluar dari kamar David.


David terpaku tak bisa bergerak ,


merasakan sesuatu yang teramat sakit


di dalam hatinya , setelah mendengar


apa yang Joy ucapkan.


_


_


Gimana , lanjut ? nanggung nih ,,,


author nulis dulu y😜,,,


seperti biasa jangan lupa ninggalin


jejaknya ya 😘😊✌️✌️


Next πŸ€