
Anggi mengajak Mery ke kantin.
Kemarahan Anggi pada Roy
Kepergian Rani menyisakan kesedihan Mery yang mendalam, gadis itu tidak tau apa kesalahan besarnya yang membuat ibunda Roy sampai ngamuk padanya.
Menurutnya dia tidak pernah sekalipun berniat untuk merayu atau pun mendekati Roy, tapi kenapa Tante Rani yang dikenalnya baik sampai tega menghujat dan mengatainya sekejam itu.
Dia menyadari, jika status nya kini sudah berubah, dia bukan lagi Mery yang dulu.
Dulu Mery masih bisa menyombongkan diri, karena dia masih mempunyai keluarga yang utuh, tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Status Mery hanyalah seorang anak yatim-piatu, yang tidak mempunyai bibit, bebet dan bobot. Yang tak pantas jika di sandingkan dengan Roy.
Masih di kursi Taman, Mery duduk berdua ditemani oleh Anggi, berulang kali gadis itu mengusap sisa air matanya yang tadi menetes, dengan masih terisak Mery mengingat perkataan Tante Rani yang masih terngiang di telinganya.
"Sudah lah Mer, jangan di pikirkan semua yang diucapkan oleh ibu tadi, lupakan ya! Beliau memang lebih tua dari kita, tapi kalau tidak bisa menjaga bicaranya tidak perlu kita hormati."
Anggi berusaha menenangkan Mery, memeluknya dari samping dengan satu tangannya menepuk lengan Mery.
Dengan sisa isak tangis, Mery berusaha melupakan kejadian yang menimpanya tadi.
Anggi berdiri, "yuk mer, kita ke kantin mencari minum, aku sangat haus." Membenarkan bajunya.
Mery mendongakkan wajahnya agar bisa memandang Anggi, "tidak usah kak, kakak pergi saja sendiri, aku juga mau pulang kok." Mery ikut berdiri.
Mery akan melangkahkan kakinya untuk pergi tapi di halangi oleh Anggi.
"Mau kemana kamu, enak saja kabur." Anggi menarik cepat baju Mery.
Anggi tidak menerima penolakan Mery, dia berusaha menarik Mery agar mau menuruti kemauannya.
"Ayok ikut! aku tidak menerima bantahan, aku tahu jika tenggorokanmu juga kering, apa kau tidak mau mentraktirku? Sebagai imbalan aku yang tadi telah membelamu."
Anggi menggandeng Mery, sambil tersenyum usil mengangkat kedua alisnya.
Akhirnya Mery tak bisa menolak dan mengikuti apa kemauan Anggi. Mereka bersama-sama berjalan menuju kantin.
"Sekarang kau sudah tahu kan, kenapa kakakmu tidak suka jika kau dekat-dekat dengan Roy?." Ucap Anggi sambil masih berjalan.
Mery mendengarkan dengan sesekali melirik teman baik kakaknya itu. Mencoba memahami dan mengingat apa yang pernah diperingatkan oleh kakaknya.
"Ya itu tadi, kau bisa melihat sendiri kan bagaimana seramnya ibunya Roy saat marah, aku tak bisa membayangkan jika kau berada satu rumah dengannya, hahaha .. ."
Anggi tertawa sambil membayangkan ketika Mery dimarahi oleh ibunya Roy, jika dia jadi menantu.
Anggi bisa mengetahui jika ibunya Roy itu garang dari Andreas, Andreas sering menceritakan kekesalan Roy yang selalu mendapat kekangan dari ibunya yang membuatnya malas untuk pulang, dan betah sekali tinggal sendiri di Apartemen walaupun itu hari libur.
Sebelum Anggi dan Mery sampai di kantin, Roy lebih dulu pergi dari sana. Roy ke ruang rawat untuk menengok sepupunya, melihat keadaan Joy dan mempersiapkan kepulangannya nanti.
Andai saja Roy masih di kantin, pasti mereka akan bertemu.
Anggi dan Mery sampai di kantin, mereka langsung masuk.
"Carilah tempat duduk, aku mau pesan minuman, kau ingin minuman apa?." Tanya Anggi sebelum pergi ke meja kasir.
"Es jeruk gak usah pake air tapi di kasih es batunya saja yang banyak." Anggi mendelik, mendengar minuman yang diminta Mery.
"Apa gak kurang ruwet Mer pesanan mu, gak sekalian yang manis dan jeruknya yang banyak juga." Mery mengangkat jempolnya, pertanda jika anjuran Anggi tadi sangat bagus.
Anggi pergi sambil menggeleng, menertawakan minuman yang di pesan oleh Mery.
Di depan meja kasir, Anggi memesan dan membayar minumannya langsung.
"Mbak dengar kan yang dikatakan orang itu?." Ucap Anggi pada pegawai kasir sambil menunjuk Mery.
Pegawai kasir itu mengangguk.
"Kalau begitu, aku tidak perlu mengulanginya lagi dan untuk aku samakan saja biar mbak gak repot - repot amat." Pegawai yang bertugas di kasir pun tertawa mendengar penuturan Anggi.
Setelah membayar, Anggi pergi menuju meja tempat Mery duduk.
"Sudah ku pesankan seperti apa yang kau katakan." Duduk di depan Mery.
Mery mengangguk, " terima kasih kak."
"Santai saja, sekarang ceritakan padaku apa yang membuat ibu tadi sampai melabrakmu?."
Mery menceritakan kejadian di lift pada Anggi, sampai perbincangan di kamar rawat kakaknya pun ikut terbahas, hingga perasaan Adinda pada Bimo juga ikut di ungkap oleh Mery.
Anggi mendengar hanya tersenyum.
"Memang tak enak jika berebut satu lelaki dengan sahabat sendiri, antara harus memilih teman apa pacar. Sebuah pilihan yang rumit tapi kita harus memilih, persahabatan yang hancur atau melepaskan perasaan kita."
Sruttt β¦ sruttt β¦ Es jeruk milik Mery habis. Mery menggoda Anggi, dengan melirik es jeruk yang ada di depan Anggi.
Sekejap Anggi menarik gelas dan meminum habis es miliknya.
"Habis, wekkk .. ." Anggi menjulurkan
lidah.
Keduanya tertawa bersama.
"Sebentar Mer, kok aku baru sadar dengan apa yang kau ceritakan tadi." Menatap Mery serius.
"Yang mana kak?."
"Yang tadi Mer, aku baru menyimpulkan ternyata kau dan Bimo jadian ya?." Teriak Anggi, membuat Mery menaruh telapak tangannya ke mulut Anggi.
"Uussst .. jangan keras-keras kak!." Satu tangannya ditaruh di depan bibirnya dan satu tangannya lagi dibuat untuk membungkam Anggi.
Anggi tak terima, di tariknya telapak tangan Mery agar melepaskan bungkamannya.
"Lepaskan, dasar anak kurang asem, tanganmu bau tau." Ejek Anggi membuat Mery mencium telapak tangannya.
"Enggak kok, hidung kak Anggi saja yang bau, pake ngatain telapak tangan aku yang bau."
Mery mengambil ponsel di dalam tasnya, menyalakan untuk melihat jam berapa sekarang. Kemudian gadis itu mengambil dompet untuk mengganti minuman yang telah dibayarkan oleh Anggi.
"Mau kemana Mer?."
"Pulang." Menaruh uang pecahan lima puluh ribuan ke atas meja di depan Anggi.
"Tidak usah uangku banyak, sebentar lagi aku akan jadi istrinya pak Bos, kalau hanya sekedar segelas es masa aku tak mampu mentraktirmu." Menggeser uang menjadi didepan Mery.
"Pak Bos? Jadi kak Anggi akan menikah dengan kak Andreas, kapan?."
Antusias Mery ingin tahu, membuatnya mendudukkan dirinya kembali. Bertumpu tangan menghadap teman kakaknya itu demi memuaskan hasrat keingintahuannya.
Anggi tersenyum keisengan saat melihat ekspresi Mery, sampai dia tak tahan karena menahan keinginannya untuk tertawa.
"Wahahaha .. , sebegitu seriusnya kau Mer, aku cuma bercanda tadi, sudahlah simpan saja uangmu! Aku ingin ke Joy, apa kau mau ikut?." Mery menggeleng, menolak ajakan Anggi.
"Ya sudah, kalau kau ingin pulang duluan silahkan, aku ke ruangan Joy dulu ya?."
Anggi beranjak berdiri diikuti oleh Mery, kemudian mereka bersama keluar kantin dan berpisah saat berada di arah belokan.
Anggi menuju ruangan joyyana dan Mery menuju arah keluar Rumah Sakit.
Saat berada di depan ruangan joyyana, Anggi bertemu dengan Wulan.
"Tante mau kemana?."
"Ke tempat cucuku, masuklah ada Roy didalam." Menyentuh bahu Anggi sebelum kemudian melanjutkan ke tujuannya.
Tiba-tiba hati geram Anggi meronta, ingatannya tentang kejadian di Taman tadi terulang.
Dengan cepat Roy membuka pintu dan masuk kedalam kamar. Sorot matanya langsung menangkap gambar Roy yang sedang duduk di kursi tepat di sebelah joyyana.
'Rupanya bajing*n ini ada di sini.'
Anggi bergegas melebarkan langkahnya agar sampai di dekat sasarannya.
"Kurang ajar, dasar kau biang kerok."
Anggi menarik jas yang dipakai Roy dari samping dengan sekuat tenaga sampai pria itu terjatuh dari kursi yang didudukinya.
Roy yang mendapat serangan mengejutkan tidak bisa berkata apa-apa, hanya mampu memandang Anggi dengan linglung.
Tak jauh berbeda dengan Roy, Joy pun sama terkejutnya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Maaf lama Ndak upππ..
dikarenakan othor lagi berduka.
mohon di maklumi π
jangan lupa jejaknya ya,,
salam cinta dari author ππππ