Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Wanita gil*...


Di Rumah Sakit


Joy yang merasa agak baikan menyuruh


ibunya untuk beristirahat di rumah Oma


tapi ibunya menolak , masih tetap ingin


menjaga anak semata wayangnya .


Joy tak ingin jika ibunya ini nantinya malah


sakit , meskipun di Rumah Sakit beliau


bisa istirahat , tapi Joy tak suka melihat


ibunya itu tidur di sofa .


" Bu ku mohon , ibu malam ini istirahat


di rumah Oma ya ?." Joy menaruh telapak


tangan Wulan di dadanya .


Wulan tersenyum sambil mengelus pipi


mulus putrinya , meskipun putrinya


sudah dewasa tapi di matanya joyyana


masih anak-anak , yang rasanya Wulan


ingin selalu menjaganya .


" Tidak nak biarkan ibu tetap disini untuk


menjagamu , jika kau membutuhkan


bantuan , ibu ada disini ." mencoba


memberi penjelasan pada putrinya .


Joy cemberut , sudah berulang kali dia


membujuk ibunya ini , tapi tetap saja


penolakan yang dia dapat .


" Sudahlah embak yu , kita turutin saja


kemauan Joy , toh dia tidak tega melihat


ibunya sengsara ."


Duduk di samping putrinya , Rani ikut


menimpali .


" Sengsara gundulmu , mana ada kata


sengsara jika seorang ibu menjaga


anaknya , disini kita juga tidur di sofa


yang empuk ."


Wulan tak terima dengan apa yang


dituturkan oleh adiknya , dia merasa


perkataan Rani itu sungguh berlebihan .


" Iya embak aku tahu , tapi turutin saja


Joy nanti dia ngambek kayak embak ,


kalau sudah ngambek lama ."


Rani memukul lengan putrinya , meminta


dukungan untuk penjelasan nya tadi ,


Adinda yang terkena pukulan langsung


manggut-manggut .


" Bener tuh apa kata Tante Rani , ibu


sama Tante sekarang ke rumah Oma ,


besok baru kesini lagi , biar aku telfon Roy untuk menjemput kalian ."


Joy menunjuk tas hitam kecil di lacinya


pada Dinda , meminta bantuan agar


di ambilkan .


" Kok cuma bunda sama Tante , laaa


aku gimana kak ?." menyerahkan tas


milik kakak sepupunya .


Wulan melarang putrinya agar tidak


merepotkan Roy , dia tidak mau


kedatangannya membuat orang lain


merasa kerepotan .


Tapi pernyataan itu di tuding oleh Rani


ibunda Roy , sebab Roy juga termasuk


keluarga jadi pantaslah jika meminta


bantuan padanya .


Muncul ide di benak Rani , bagaimana jika malam ini mereka tidur di Apartemen Roy


saja , karena dari dulu mereka belum


pernah sekali pun kesana .


Ide itu langsung disetujui oleh Adinda ,


dia juga penasaran bagaimana bentuk


dan rupa dari Apartemen kakaknya itu ,


tempat yang bagaimana yang bisa


membuat kakaknya betah untuk tidak


pulang , meskipun ibundanya menyuruhnya pulang berkali kali .


" Sip,, kalau sudah bunda yang minta


pasti mas Roy gak bisa nolak ."


Adinda tertawa sendiri .


Joy menelfon Roy , ternyata yang di telfon


masih di jalan , " mungkin masih


mengantarkan Isabella Tante ." Joy


kembali menghubungi Roy .


" Sudah biarkan saja , tinggalkan pesan


saja nanti pasti dibuka ."


### Tiga puluh menit kemudian..


Setelah membuka pesan suara dari Joy ,


Roy langsung menuju Rumah Sakit untuk


menjemput bundanya , dia tidak tahu


jika rencana bundanya berbalik dengan


pesan suara yang Joy berikan .


" Sudah siap ?, ayo kita berangkat


sekarang ." ajak Roy tanpa duduk ,


mengambil tas besar milik bundanya


kemudian menjinjing nya berjalan keluar ruangan .


" Mas tunggu , bunda mau bicara ." Roy


berhenti . " ada apa Bun ?."


Dinda tertawa jahil membuat Roy mulai


curiga ," pasti ada sesuatu ."


Dengan berbicara sambil berjalan , Rani


membujuk putranya agar di perbolehkan


untuk menginap di Apartemen nya ,


awalnya Roy menolak tapi dengan


perdebatan panjang , akhirnya Roy luluh


juga , tak bisa berkutik jika bundanya


sudah mulai ngambek .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Setelah kepergian ibu dan tantenya , Joy sendirian di Ruangannya , menunggu


kedatangan Anggi yang masih dalam perjalanan karena dia berangkat di jam


orang pulang dari kantor .


Sesekali melihat jam yang melingkar di


pergelangan tangannya Anggi gelisah .


" Astaga kenapa bisa macet begini sih ,


kalau begini caranya ."


Kesal Anggi yang sudah sepuluh menit


di dalam taxi tanpa pergerakan sedikit pun .


" Pak masih lama kah ?." berulang kali


Anggi melihat kearah depan dan belakang .


" Sebentar neng , mungkin sebentar lagi ."


Anggi resah memikirkan keadaan


temannya , entah apa yang membuatnya


gelisah , rasanya dia ingin cepat sampai


di Rumah Sakit .


####


Pintu Ruangan VVIP yang Joy tempati


berbunyi , ada orang mengetuk dari luar .


Tok, tok , tokkk,,,


Joy melihat kearah pintu ," siapa ya , pasti


itu Anggi ."


" Masuklah pintu tidak di kunci ." jawab


Joy yang mengira jika orang itu adalah


Anggi .


Klik , klik , klik, klik, kllik..


Bunyi sepatu orang melangkah , Joy


penasaran melihat kearah pintu karena


orang itu belum juga menampakkan dirinya .


" Nggi , jangan aneh - aneh , aku tahu itu


kau ." teriak Joy merebahkan dirinya


yang dari tadi duduk .


Orang itu tidak menjawab .


Seseorang melangkahkan kakinya pelan


mendekati ranjang joyyana , sepatu


hak tingginya ikut melangkah menemani


kaki jenjang nan cantik .


Apalagi celana kulit warna hitam ,


melengkapi betapa seksi wanita itu ,


wajah yang tertutup masker membuat


joyyana tak bisa mengenali orang itu .


" Siapa kau ?." Joy kaget sedikit curiga ,


tidak mengenali siapa orang yang


menghampiri nya .


Joy kembali terduduk , menjaga jarak


aman dengan wanita didepannya ini .


Joy merasa was-was dan takut secara


bersamaan , dia tak mampu berdiri


dengan baik , untuk duduk saja dia


harus bersusah payah .


" Kau ternyata kuat tidak seperti yang aku


bayangkan , aku sudah meremehkanmu


sekarang tidak lagi , ini sudah waktunya


aku melenyapkan mu ." mengeluarkan


pisau kecil yang disimpan di saku jaketnya .


Joy gemetar ingin melarikan diri namun


tak mungkin , " tunggu , jelaskan padaku


siapa dirimu , apa salahku padamu ." teriak


Joy gelagapan yang sedikit memundurkan


duduknya .


Hahahaha,,, takut ?


Suara tawa lantang wanita itu tanpa ada


rasa takut ," kau bertanya padaku , hahaha,,


bukannya terbalik kau siapa , berani -


beraninya merebut segalanya dariku ,


kau dan bayimu harusnya mampus dari


kemarin , dan tidak usah membuatku


bersusah payah membunuhmu kembali ."


Joy syok dengan apa yang diucapkan


wanita itu ," membunuh , jadi kemarin


itu ulahmu ?." teriak Joy marah .


" Hahaha ,, kau tidak perlu marah , korban


disini adalah aku , kau yang merebut


milikku , jadi kau tak perlu sok teraniaya ."


Tepat disamping Joy , wanita itu


mengangkat tangannya , siap akan


menancapkan pisau yang di bawanya


ke perut joyyana .


" Rasakan ini ."


Aaaaaaaaa,,,,,, Teriak Joy ketakutan .


Datang Anggi diwaktu bersamaan ,


dengan sekali pukulan menggunakan


tas kecil yang menggantung di bahunya .


Anggi tepat mengenai sasaran .


" Rasakan ini wanita jal*ng ." wanita itu


tersungkur .


Pisau yang dibawanya terlempar ke sofa ,


Anggi berlari mengambilnya .


" Ayo kesini kalau berani aku akan


menghunuskan nya di perutmu , ayo


sini ." wanita itu berlari keluar .


Anggi membuang pisau yang di


pegangnya itu kesembarang tempat ,


berlari mendekati temannya yang sudah


gemetaran .


" Nggi perutku , sakit ." menyimpitkan


matanya menahan sakit , dengan satu


tangannya menyentuh perut .


Anggi tak kuasa melihat temannya itu ,


memencet tombol meminta bantuan


berulang kali kemudian keluar dari


kamar rawat .


" Kau tunggu sebentar aku akan


memanggil dokter ." berbicara sebelum


sempat dirinya berlari .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Ayok mana hadiah nya biar author nya


semangat nulis 🀭,,,


yang udah ngasih dukungan


makacihhjjj bangetttt 😘😘😘😘


Next 😍