
Di Rumah Sakit
Joy yang merasa agak baikan menyuruh
ibunya untuk beristirahat di rumah Oma
tapi ibunya menolak , masih tetap ingin
menjaga anak semata wayangnya .
Joy tak ingin jika ibunya ini nantinya malah
sakit , meskipun di Rumah Sakit beliau
bisa istirahat , tapi Joy tak suka melihat
ibunya itu tidur di sofa .
" Bu ku mohon , ibu malam ini istirahat
di rumah Oma ya ?." Joy menaruh telapak
tangan Wulan di dadanya .
Wulan tersenyum sambil mengelus pipi
mulus putrinya , meskipun putrinya
sudah dewasa tapi di matanya joyyana
masih anak-anak , yang rasanya Wulan
ingin selalu menjaganya .
" Tidak nak biarkan ibu tetap disini untuk
menjagamu , jika kau membutuhkan
bantuan , ibu ada disini ." mencoba
memberi penjelasan pada putrinya .
Joy cemberut , sudah berulang kali dia
membujuk ibunya ini , tapi tetap saja
penolakan yang dia dapat .
" Sudahlah embak yu , kita turutin saja
kemauan Joy , toh dia tidak tega melihat
ibunya sengsara ."
Duduk di samping putrinya , Rani ikut
menimpali .
" Sengsara gundulmu , mana ada kata
sengsara jika seorang ibu menjaga
anaknya , disini kita juga tidur di sofa
yang empuk ."
Wulan tak terima dengan apa yang
dituturkan oleh adiknya , dia merasa
perkataan Rani itu sungguh berlebihan .
" Iya embak aku tahu , tapi turutin saja
Joy nanti dia ngambek kayak embak ,
kalau sudah ngambek lama ."
Rani memukul lengan putrinya , meminta
dukungan untuk penjelasan nya tadi ,
Adinda yang terkena pukulan langsung
manggut-manggut .
" Bener tuh apa kata Tante Rani , ibu
sama Tante sekarang ke rumah Oma ,
besok baru kesini lagi , biar aku telfon Roy untuk menjemput kalian ."
Joy menunjuk tas hitam kecil di lacinya
pada Dinda , meminta bantuan agar
di ambilkan .
" Kok cuma bunda sama Tante , laaa
aku gimana kak ?." menyerahkan tas
milik kakak sepupunya .
Wulan melarang putrinya agar tidak
merepotkan Roy , dia tidak mau
kedatangannya membuat orang lain
merasa kerepotan .
Tapi pernyataan itu di tuding oleh Rani
ibunda Roy , sebab Roy juga termasuk
keluarga jadi pantaslah jika meminta
bantuan padanya .
Muncul ide di benak Rani , bagaimana jika malam ini mereka tidur di Apartemen Roy
saja , karena dari dulu mereka belum
pernah sekali pun kesana .
Ide itu langsung disetujui oleh Adinda ,
dia juga penasaran bagaimana bentuk
dan rupa dari Apartemen kakaknya itu ,
tempat yang bagaimana yang bisa
membuat kakaknya betah untuk tidak
pulang , meskipun ibundanya menyuruhnya pulang berkali kali .
" Sip,, kalau sudah bunda yang minta
pasti mas Roy gak bisa nolak ."
Adinda tertawa sendiri .
Joy menelfon Roy , ternyata yang di telfon
masih di jalan , " mungkin masih
mengantarkan Isabella Tante ." Joy
kembali menghubungi Roy .
" Sudah biarkan saja , tinggalkan pesan
saja nanti pasti dibuka ."
### Tiga puluh menit kemudian..
Setelah membuka pesan suara dari Joy ,
Roy langsung menuju Rumah Sakit untuk
menjemput bundanya , dia tidak tahu
jika rencana bundanya berbalik dengan
pesan suara yang Joy berikan .
" Sudah siap ?, ayo kita berangkat
sekarang ." ajak Roy tanpa duduk ,
mengambil tas besar milik bundanya
kemudian menjinjing nya berjalan keluar ruangan .
" Mas tunggu , bunda mau bicara ." Roy
berhenti . " ada apa Bun ?."
Dinda tertawa jahil membuat Roy mulai
curiga ," pasti ada sesuatu ."
Dengan berbicara sambil berjalan , Rani
membujuk putranya agar di perbolehkan
untuk menginap di Apartemen nya ,
awalnya Roy menolak tapi dengan
perdebatan panjang , akhirnya Roy luluh
juga , tak bisa berkutik jika bundanya
sudah mulai ngambek .
ππππ
Setelah kepergian ibu dan tantenya , Joy sendirian di Ruangannya , menunggu
kedatangan Anggi yang masih dalam perjalanan karena dia berangkat di jam
orang pulang dari kantor .
Sesekali melihat jam yang melingkar di
pergelangan tangannya Anggi gelisah .
" Astaga kenapa bisa macet begini sih ,
kalau begini caranya ."
Kesal Anggi yang sudah sepuluh menit
di dalam taxi tanpa pergerakan sedikit pun .
" Pak masih lama kah ?." berulang kali
Anggi melihat kearah depan dan belakang .
" Sebentar neng , mungkin sebentar lagi ."
Anggi resah memikirkan keadaan
temannya , entah apa yang membuatnya
gelisah , rasanya dia ingin cepat sampai
di Rumah Sakit .
####
Pintu Ruangan VVIP yang Joy tempati
berbunyi , ada orang mengetuk dari luar .
Tok, tok , tokkk,,,
Joy melihat kearah pintu ," siapa ya , pasti
itu Anggi ."
" Masuklah pintu tidak di kunci ." jawab
Joy yang mengira jika orang itu adalah
Anggi .
Klik , klik , klik, klik, kllik..
Bunyi sepatu orang melangkah , Joy
penasaran melihat kearah pintu karena
orang itu belum juga menampakkan dirinya .
" Nggi , jangan aneh - aneh , aku tahu itu
kau ." teriak Joy merebahkan dirinya
yang dari tadi duduk .
Orang itu tidak menjawab .
Seseorang melangkahkan kakinya pelan
mendekati ranjang joyyana , sepatu
hak tingginya ikut melangkah menemani
kaki jenjang nan cantik .
Apalagi celana kulit warna hitam ,
melengkapi betapa seksi wanita itu ,
wajah yang tertutup masker membuat
joyyana tak bisa mengenali orang itu .
" Siapa kau ?." Joy kaget sedikit curiga ,
tidak mengenali siapa orang yang
menghampiri nya .
Joy kembali terduduk , menjaga jarak
aman dengan wanita didepannya ini .
Joy merasa was-was dan takut secara
bersamaan , dia tak mampu berdiri
dengan baik , untuk duduk saja dia
harus bersusah payah .
" Kau ternyata kuat tidak seperti yang aku
bayangkan , aku sudah meremehkanmu
sekarang tidak lagi , ini sudah waktunya
aku melenyapkan mu ." mengeluarkan
pisau kecil yang disimpan di saku jaketnya .
Joy gemetar ingin melarikan diri namun
tak mungkin , " tunggu , jelaskan padaku
siapa dirimu , apa salahku padamu ." teriak
Joy gelagapan yang sedikit memundurkan
duduknya .
Hahahaha,,, takut ?
Suara tawa lantang wanita itu tanpa ada
rasa takut ," kau bertanya padaku , hahaha,,
bukannya terbalik kau siapa , berani -
beraninya merebut segalanya dariku ,
kau dan bayimu harusnya mampus dari
kemarin , dan tidak usah membuatku
bersusah payah membunuhmu kembali ."
Joy syok dengan apa yang diucapkan
wanita itu ," membunuh , jadi kemarin
itu ulahmu ?." teriak Joy marah .
" Hahaha ,, kau tidak perlu marah , korban
disini adalah aku , kau yang merebut
milikku , jadi kau tak perlu sok teraniaya ."
Tepat disamping Joy , wanita itu
mengangkat tangannya , siap akan
menancapkan pisau yang di bawanya
ke perut joyyana .
" Rasakan ini ."
Aaaaaaaaa,,,,,, Teriak Joy ketakutan .
Datang Anggi diwaktu bersamaan ,
dengan sekali pukulan menggunakan
tas kecil yang menggantung di bahunya .
Anggi tepat mengenai sasaran .
" Rasakan ini wanita jal*ng ." wanita itu
tersungkur .
Pisau yang dibawanya terlempar ke sofa ,
Anggi berlari mengambilnya .
" Ayo kesini kalau berani aku akan
menghunuskan nya di perutmu , ayo
sini ." wanita itu berlari keluar .
Anggi membuang pisau yang di
pegangnya itu kesembarang tempat ,
berlari mendekati temannya yang sudah
gemetaran .
" Nggi perutku , sakit ." menyimpitkan
matanya menahan sakit , dengan satu
tangannya menyentuh perut .
Anggi tak kuasa melihat temannya itu ,
memencet tombol meminta bantuan
berulang kali kemudian keluar dari
kamar rawat .
" Kau tunggu sebentar aku akan
memanggil dokter ." berbicara sebelum
sempat dirinya berlari .
ππππππππππππππππ
Ayok mana hadiah nya biar author nya
semangat nulis π€,,,
yang udah ngasih dukungan
makacihhjjj bangetttt ππππ
Next π