
Di Apartemen Isabella bingung mau
apa , dia berusaha sebisa mungkin untuk
membantu apa yang dia bisa , menemani
calon mertua memasak Isabella tak berani
berbicara , sebelum ibunda Roy yang
lebih dulu mengajaknya bicara .
Bagai sebuah pintu yang tidak akan
terbuka jika tidak mengetuknya , seperti
itulah perumpamaan seorang tamu ,
layaknya Isabella yang takut menimbulkan pemikiran negatif tentang nya , dia
berusaha menjaga sikap didepan calon
ibu mertuanya .
Sepasang calon mertua dan menantu itu
berkutat di dapur , memasak dan sesi
tanya jawab pun terjadi bersamaan
disana , ada dua orang sedang duduk
bersantai di meja makan mengamati
kedua orang itu .
" Lihat deh Tan , tu bunda akrab sekali
sama calon menantunya , Tante percaya
kalau mas Roy beneran memilih wanita
itu sebagai istrinya ? ." berbicara sambil memakan kacang .
" Kita tidak tahu apa yang ada di fikiran
orang , jadi kita tidak boleh menilai orang
itu dari luarnya , kita hanya bisa melihat
dan melihat , itu saja tidak lebih , karena
hanya mereka yang tahu dan yang akan
menjalani nya ." ikut melihat kearah dapur .
Wulan berusaha berfikir bijak , sebisa
mungkin dia membimbing Adinda agar
tidak ikut campur dalam urusan orang
dewasa .
" Tante mudah bilang begitu , tapi aku tak
rela Tante jika mas Roy menikah dengan
wanita itu , mas Roy itu sukanya sama
Mery Tan , karena permintaan bunda yang
berlebihan saja membuat mas Roy
memilih wanita itu ." Wulan menatap
keponakan nya .
" Apa yang kau bicarakan Adinda ,
kenapa kau bawa - bawa nama Mery ,
dan jelaskan pada Tante apa permintaan
bundamu ." mendengar permintaan
tantenya , Dinda segera menggeser kursinya .
Dinda berbicara lirih setengah berbisik
pada tantenya , dia menjelaskan tentang
hubungan kakaknya dan Mery yang terjalin
secara sembunyi-sembunyi , Adinda tahu
karena Mery pernah bercerita padanya .
Adinda juga menceritakan jika dirinya
sempat mendengar perdebatan antara
kakak dan bundanya itu yang menyinggung
masalah perjodohan , bundanya tidak
akan pernah setuju jika kakaknya itu
memilih seorang wanita yang terlalu
muda .
Malah ada satu hal yang membuatnya
kaget , yaitu bundanya mematok berapa
usia wanita yang pantas dijadikan istri
oleh putranya .
" Sampai segitunya Rani , apa dia sudah
gil* , bisa - bisanya dia memaksakan
kehendaknya seperti itu ." Wulan geram
setelah mendengarkan penjelasan Adinda .
Adinda manggut-manggut , setuju dengan
pendapat tantenya . Wulan menggenggam
jemari keponakan nya , sembari menahan
agar tidak terbawa emosi .
"Tenanglah biar nanti aku yang
menasehati nya , serahkan semuanya pada
Tante ."
" Iya Tan ."
Adinda mengarahkan mukanya pada
arah belakang tantenya , memberikan
isyarat jika ada orang dibelakang .
Isabella datang membawa hasil masakan
dan menaruhnya diatas meja .
" Wah ... ."
Air liur Adinda seketika encer , menelan
ludah Adinda tak kuasa menahan ingin
segera memakannya .
" Usap air liurmu Din , ini belum semuanya
tuh lihat disana masih banyak masakan
bundamu , belum juga kepiting asam
manis kesukaan mu ." Adinda berdiri ,
berlari ke dapur .
Kembali dengan membawa piring ditangan
Adinda siap untuk menyantap , Wulan
tersenyum melihat keponakan nya yang
satu ini , selalu saja lapar jika sudah
berhadapan dengan makanan .
πΊπΊπΊ
Di Rumah Sakit
Mery datang untuk menggantikan Anggi ,
semalam Anggi bermalam menemani
Joy di Rumah Sakit bersama dengan
Andreas , sebuah rasa bersalah Anggi
ingin menebusnya dengan menjaga dan menemani temannya itu dikala
membutuhkan bantuan .
Diluar ruangan ada dua orang penjaga yang selalu stay untuk berjaga dan memeriksa
siapa saja yang akan masuk kedalam .
Mery sempat kaget dengan ketatnya
penjagaan , sampai - sampai dia juga
ikut diperiksa ketika akan memasuki
ruangan kakaknya .
" Heh apa apaan kalian ini , apa kalian
tidak tahu siapa aku , yang didalam itu
adalah kakakku , kalian jangan
keterlaluan ." sewot Mery karena tubuhnya
disentuh untuk diperiksa .
Bimo ingin melarang sang penjaga tapi
tangannya sudah di cegah oleh penjaga
yang lain , dia tidak bisa bertingkah
melihat Mery diperiksa .
" Maaf nona , kami hanya menjalankan
perintah untuk menjaga keamanan nyonya
kami ." ucap salah satu pengawal saat
melepas cekalan tangannya pada Bimo .
Setelah pemeriksaan Mery selesai berganti
dengan Bimo , Bimo diam saat diperiksa
karena dia mengerti jika itu adalah tugas
mereka .
Setelah selesai diperiksa Mery dan Bimo
dipersilahkan untuk masuk ,"silahkan
maaf atas ketidak nyamanan nya ."
membantu membukakan pintu untuk
Mery dan Bimo .
Masih bingung Mery siap mempertanyakan
pada kakaknya jika sudah didalam nanti
Awas ya aku aduin perbuatan kalian
pada kak Joy ku .
Berjalan masuk kedalam , Mery
menggandeng lengan Bimo .
" Kak , kemarin tidak seperti ini deh ,
kok berubah ya ." berbisik pada Bimo .
Tanpa bicara Bimo hanya memanggutkan kepalanya , " sudah ikutin saja , mungkin
ini perintah Oma ." jawab Bimo enteng .
Saat Mery masuk dengan Bimo , Joy
sendirian tiada orang yang menemani .
" Kalian kesini bersama ?." tanya Joy
yang masih tetap diatas ranjang .
Mery tersenyum langsung berlari
berhambur memekuk kakaknya , serasa
lama sekali tidak bertemu , padahal baru
semalam mereka berpisah .
Bimo dan Mery menyalami Joy , kemudian
Bimo mendekati sofa untuk mencari
tempat untuk duduk , sedangkan Mery
memilih duduk didekat kakaknya .
" Makin kesini hubungan kalian semakin
baik yah ." Joy menggoda .
Astaga kak Joy nih , bisa nggak sih
di rem dikit mulutnya .
Mery malu jika di singgung soal hubungan
kedekatannya , berusaha mengalihkan
pembicaraan Mery mencari topik .
" Kak Anggi kemana kak ?." pura - pura
melihat sekeliling ruangan .
Joy memukul lengan Mery ,"dasar anak
udik , pake belokin pembicaraan ,
memangnya kakak tidak tahu ."
Mery melirik Bimo , memeriksa apakah
Bimo mendengar pertanyaan kakaknya
barusan , sambil membelakangi Bimo
Mery menghadap kakaknya .
" Kak Joy jangan bahas itu disini , plisss
aku malu ada Bimo , ussssst ... ." Mery
menaruh jari telunjuk nya dibibir , memberi
isyarat agar Joy tidak membahas nya .
Joy tertawa , berbicara tapi tidak
mengeluarkan suara , " BIARIN ."
Membuang ketegangan Joy mengalihkan
pembahasan , " Bimo kuliah dimana ?."
Bimo mendongakkan kepalanya , membenarkan duduknya mencoba fokus
dengan orang yang mengajaknya bicara .
" Saya kuliah di Inggris kak di Universitas
kedokteran , untuk mengisi liburan
semester saya jalan-jalan kesini ,
memanfaatkan sisa waktu untuk bersama
dengan ... " Bimo tak melanjutkan
ucapannya , dia tersenyum malu karena
Mery sudah menatap nya .
Joy memandang Mery dan Bimo secara
bergantian ," kenapa gak dilanjutin , apa
nunggu aku yang melanjutkannya ?."
goda Joy , Bimo menahan tawa .
" Tidak usah di lanjutkan orangnya saja
sudah tersenyum ." Mery menggigit bibir .
Lagi dan lagi Bimo berhasil mengejutkan
Mery dengan sedikit plesetan yang
membuatnya baper , hatinya meleleh
dan terbang akibat perkataan Bimo yang
selalu dan selalu langsung mengenai
isi hati Mery .
" O .. iya aku tahu ." Joy menutup mulut
dengan telapak tangannya untuk menahan
tawa .
" Sebentar lagi Mery kan sudah lulus
SMA , bagaimana jika kamu mengajaknya
kuliah disana yang sama-sama di jurusan
kedokteran juga , iya kan Mer dulu kau kan
pernah bilang jika ingin mengambil
jurusan itu ." imbuh Joy membuat Bimo
sumringah .
" Benarkah itu Mery , jika benar aku akan
mencarikanmu tempat yang tak jauh
dari tempatku ." ucap Bimo semangat .
Entah hari ini nasib sial Mery atau apa ,
dari pagi dia harus menelan rasa malu
yang berulang kali , tidak dengan Oma ,
Bimo , malah sekarang ditambah dengan
ulah usil kakaknya , Mery tak bisa
membantah tudingan dan godaan atas
dirinya , mau tidak mau dia harus
menghadapinya .
Tak berapa lama pintu terbuka , ada empat
orang wanita datang menjenguk joyyana ,
wajahnya senang siapa yang datang
mereka adalah orang-orang yang tinggal
di Apartemen Roy semalam .
Satu persatu masuk ke dalam ruangan
terakhir Isabella masuk dibarisan paling
akhir , keduanya terkejut melihat siapa
yang datang , Joy menyapa dan memperkenalkan Mery pada Isabella .
Sepintas Isabella terkejut , tak menyangka
dia bertemu disini dengan orang yang
membuatnya penasaran pada sosok
wanita yang bernama Mery . Menatap
intens dari atas sampai bawah Isabella
mengamati gadis muda yang barusan
bersalaman dengannya .
Oh ini rupanya yang bernama Mery ,
memangnya apa sih kelebihannya
sampai - sampai adiknya Roy
membandingkannya dengan ku .
Merasa tak puas jika mengscroll sekali
Isabella mengamati berulang kali . hal
yang sama Mery lakukan , mencari
kelebihan dan kekurangan untuk
membandingkan antara satu sama lain .
" Dor .. ." Adinda memukul keduanya
secara bersamaan , keduanya menatap
Adinda .
" Sudah siap beradu , siapa diantara
keduanya yang bakal menjadi kakak
iparku ." seru Adinda mengejek .
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Muter2 mulu ,, bingung q ..
jejak n hadiahnya dong , biar gak
muter π€, dihhh author nya malak
πππππππ
Next π