Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Tentang Bimo ..


Pagi yang cerah membangunkan mata


seorang lelaki berusia dua puluh tahunan


ini , udara sejuk di pagi hari menambah


kesejukan suasana di hatinya .


Jarak yang dekat membuatnya tak


sabar untuk segera menemui seorang


gadis tambatan hatinya .


" Aku tak bisa membayangkan jika kita


bertemu nanti ." tersenyum membayangkan


jika dirinya nanti bertemu .


Terduduk diatas tempat tidurnya


masih tertutup selimut setengah badan


lelaki itu mencari letak ponselnya .


Dia adalah Bimo Pramudya , berusia


dua puluh tahun yang sekarang masih


kuliah jurusan kedokteran di Inggris .


Dalam masa liburan dia sempatkan


untuk kembali ke negaranya , disamping


ingin menemui orang tuanya , dia juga


ingin berjumpa dengan seorang gadis


manis yang mengisi hatinya yang


bertempat tinggal di dekat rumahnya .


Alangkah kaget saat dia pulang


mendapati kabar dari ibunya bahwa


orang yang dia cari ternyata sekarang


tidak lagi bertempat tinggal di sana .


Bahkan yang lebih mengejutkan lagi


dia mendengar jika kedua orang tua


gadis itu sudah tiada , perasaan bersalah


dan menyesal pun merasuki hati Bimo ,


tatkala disaat gadis itu membutuhkan


dukungan dan perhatian dia tidak ada


disana .


Entah ini memang berjodoh atau apa pun


itu , saat kecewa tak bisa bertemu lagi


dia malah mendapat kabar burung


dari ibunya , yang mengatakan jika


beliau mendengar dari mulut tetangga


bahwa gadis itu sekarang pulang dan


sedang ada di Rumah nya .


Rasa suka tak bisa dilukiskan dengan


apapun , rasanya bisa bertemu kembali


dan bersama dengannya itu saja bisa


membuat hatinya berbunga-bunga .


Tapi itu bagai mimpi yang tersadar saat


esok hari terbangun dia harus menelan


kabar jika si gadis sudah pergi meninggalkannya .


Bimo tak putus harapan sampai di situ ,


dia menghubungi kakak sepupunya yang


ada di Jakarta , menanyakan kabar


teman saudaranya yang baru saja dari


Surabaya , ternyata pas dugaan Bimo


jika dia ( Mery ) sekarang pindah


ke Jakarta .


Dengan bujuk rayu yang penuh usaha


akhirnya Bimo mendapatkan ijin dari


kedua orang tuanya untuk terbang


ke Jakarta .


Meskipun mendapat ijin , dia masih


harus mengikuti amanah ibunya , jika


dia tidak boleh menginap d Hotel dan


harus tinggal di Rumah saudaranya


di Jakarta .


Bimo tiba di Bandara Jakarta saat tengah


malam , dia tak sempat berbincang


dengan saudara sepupunya itu .


Pagi ini dia berencana untuk menanyakan


alamat teman saudara itu yang dari


Surabaya kemaren .


Dengan wajah khas bangun tidur dan


rambut yang masih berantakan , Bimo


masuk kedalam kamar mandi , mempertemukan tubuhnya dengan air


dan sabun , Bimo melakukan sebuah


ritual didalam sana .


Siap dengan baju santainya , kaos oblong


kuning bergaris dan mengenakan


celana pendek jeans Bimo keluar dari


kamar , mendapati sosok Tante dan


omnya duduk di meja makan sedang menikmati sarapan pagi .


" Kak Andreas kemana Tan ?." celingukan


mencari orang yang dia cari tidak ada .


" Duduklah , kita sarapan bersama


Andreas masih didalam kamar , sebentar


lagi pasti keluar ." memberikan sepotong


roti bakar diatas piring yang ada didepan


Bimo , " ayok dimakan ."


" Bimo suka selai coklat apa yang


kacang?." mengangkat dua botol selai .


" Coklat saja Tan , di campur mungkin


lebih enak ." menerima botol selai


pemberian tantenya , " terima kasih ."


Andreas keluar dari kamarnya dengan


baju yang siap akan pergi ke Kantor ,


mendekati meja makan dan menarik


sebuah kursi untuk di dudukinya .


" Kak ." sapa Bimo melihat kakak


sepupunya itu dengan berkedip .


Andreas menoleh , mendapat kedipan


dia pun membalasnya , kedip berkedip


sebagai isyarat percakapan keduanya .


" Heh , kalian ini ngapain ?, ayok cepetan


sarapan , Andreas duduk dan kau Bimo


makan rotimu nak ." memberikan roti


bakar kepada putranya .


Setelah mengoles roti miliknya dengan


selai Andreas mengajak Bimo menjauh ,


" Maaf ma ada sesuatu yang Andreas


dulu ." membawa roti di tangan , Andreas


meninggalkan meja makan .


Bimo mengikuti kakak sepupunya ,


berjalan ke arah Kolam , mendekati


Andreas yang sudah duduk menunggu


kedatangannya .


" Apa yang ingin kau bicarakan


denganku ?." menggigit rotinya disela


mengajak Bimo bicara .


Bimo tak ingin bertele-tele , dia langsung


menuju ke pokok pembicaraan ," tentang


keberadaan Mery ."


Andreas menceritakan bagaimana


kondisi Mery dan keluarganya sekarang ,


tanpa ingin memperpanjang obrolan


Andreas langsung saja memberikan


alamat rumah David pada Bimo , karena


dia tahu pasti Mery tinggal disana .


" Jangan buat masalah , sekarang


situasi nya sedang tidak baik ." beranjak


berangkat ke Kantor .


Kepergian Andreas menyisakan Bimo


duduk sendirian ditepi kolam ,


mengotak-atik ponsel di tangan


Bimo mengirim pesan .


Sambil sesekali Selfi , Bimo mempotret


wajahnya ," dorrr , hayo dari tadi


whats AAP an sama siapa, Tante


penasaran nih ." gertak ibunya Andreas


mengagetkan Bimo dari belakang .


" Tidak Tan , ini cuma teman kok ,


teman SMA dulu ." berdiri , Bimo


kemudian memasukkan ponselnya kesaku .


" Teman apa demen , dasar anak muda


jaman sekarang maen sembunyi -


sembunyi segala , dikira orang tua


nggak tahu apa ." menggoda


keponakannya yang terlihat malu .


🌿🌿🌿🌿🌿


Menggunakan mobil milik Andreas


Bimo tiba disebuah alamat yang


di berikan oleh kakak sepupunya .


"Oh ini rumahnya gede juga ."


Bimo berhenti di depan sebuah Rumah


elit yang paling besar di antara rumah


di sana . Seorang satpam penjaga


datang mendekati mobilnya , mengetuk


kaca mobil , Bimo akhirnya membukanya .


" Mencari siapa mas ?." bertanya satpam


itu waspada , karena mobil Bimo sudah


berhenti cukup lama disana .


Bimo menjelaskan dan memberikan


ponsel yang terhubung dengan Andreas


pada satpam , setelah berbincang dengan


Andreas , satpam penjaga rumah Oma


membukakan pagar dan mempersilahkan mobil Bimo untuk masuk ," silahkan mas ."


Bimo menyetir mobilnya masuk kedalam


pekarangan rumah , sampai di depan


Bimo turun dan dengan gentel nya


dia mengetuk pintu .


🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Di Rumah Sakit..


David masih terngiang penuturan Dokter


bedah yang menangani istrinya kemarin ,


suatu penjelasan logis tentang hal yang


membuat istrinya terpuruk hingga


hampir merenggut nyawanya dan nyawa


bayi didalam kandungannya .


" Maaf dengan terpaksa saya harus


mengatakan ini pada tuan David dan


nyonya Ratih , kandungan istri tuan


sebenarnya baik - baik saja , malah dalam


kasus baik dan sehat , tapi ,,." dokter


melihat Oma dan David secara bergantian .


Oma mengangguk , tanda menyuruh


Dokter melanjutkan .


" Tapi yang membuat kandungan itu bermasalah adalah nyonya Joy telah mengkonsumsi obat penggugur


kandungan yang sangat kuat dan itu


bisa sangat fatal pada bayinya ."


David menggebrak meja ," ini mustahil ,


jaga bicaramu Dokter , istriku tak mungkin


membunuh bayi kami ."


" Duduklah , tenangkan dirimu , biarkan


Dokter menjelaskan nya , lanjutkan Dok !."


menarik lengan cucunya mengajak nya


duduk .


" Maaf saya tidak tahu entah itu istri


tuan atau ulah orang yang tidak


bertanggung jawab yang sengaja ingin


mencelakai bayi dan sang ibu , yang


pasti saya harus memberitahukan


pada tuan dan nyonya jika gangguan


pada kandungan nyonya joyyana tadi


itu akibat reaksi dari obat keras


penggugur janin ."


Bak di hantam batu , David murka


merasa terkoyak ingin mencari tahu


siapa orang yang sudah berani membuat


gara - gara dengannya .


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Like,,,,,like,,, komen,,, semua dukungannya


mana,,,, klo Rame langsung otw up πŸ™ˆ


makasih yang sudah ngasih jejak n


dukungan , salam cinta dari author 😘


Next 😍