
Berada satu ruangan dengan wanita
yang sudah di nobatkan akan menjadi
calon istri dari pria sempat mengisi
hatinya , membuat hati Mery panas
kegerahan , rasanya ingin sekali dia cepat
keluar dari sana .
Tapi ..
Terlalu mencolok seperti dia tak suka
akan kehadiran wanita itu , padahal
sebenarnya dia ingin mengetahui dan mengenal lebih jauh tentangnya , mengulik
sisi apa yang membuat Roy sampai
menjatuhkan pilihannya pada si wanita .
Sambil tetap tenang , Mery memperhatikan
Isabella dari jauh , mencuri pandang untuk
mengamati lebih detail , Mery fokus
menilai .
Wajah oval kulit putih dengan polesan
tipis membuat wajah Isabella terlihat
cantik luar biasa di mata Mery .
Pantesan kak Roy langsung kesem - sem
laaa .. wajahnya saja cantik begini , lihat
saja body nya , hemm .. sangat pas
apalagi tatanan rambutnya , kalah jauh
aku .
Mery diam berkecamuk dengan fikirannya
menilai penampilan Isabella yang sangat
terlihat sempurna Mery minder membandingkan dengan dirinya .
Dasar kak Roy buaya , tidak bisa lihat
body mont*k dikit langsung loncat .
Keramaian canda tawa didalam ruangan
Joy , tak membuat Mery terusik atas
kesibukan hati dan pikirannya , yang
dari tadi dalam diam dia memperhatikan
Isabella .
Keterdiaman Mery membuat Wulan
penasaran .
" Mer .. Mery .. duh ni anak ." panggil Wulan
yang memperhatikan dari tadi Mery hanya
diam .
Adinda tertawa mengetahui temannya itu kepergok melamun , dia tahu jelas apa
yang membuat Mery tak memfokuskan
jika diajak bicara dari tadi .
" Sudah lah Tan , pasti fikiran Mery sedang
melayang sibuk mengoreksi kak Isabella ,
iya kan Mer ?." melempar Mery dengan
buah leci yang telah diambilnya dari meja
kecil disebelah ranjang kakak sepupunya .
Seketika semua orang memandang Mery ,
raut ingin bertanya apa yang dituduhkan
oleh Adinda , apa benar adanya .
" Aish .. ."
Mery terperanjat kaget , menggosok
pelipisnya yang terkena lemparan leci oleh Adinda .
Adinda menjulurkan lidah , mengejek
Mery yang tertangkap basah telah
memperhatikan calon kakak iparnya dari
tadi , merasa malu Mery pamit pada semua yang ada di ruangan untuk menyusul
Anggi ke Ruang NICU .
" Malu nih ye .. ." goda Adinda menjadi
saat melihat temannya itu ingin melarikan
diri agar tidak ketahuan .
" Apaan sih Din , aku hanya ingin melihat
dedek bayi apa tidak boleh ." mendekati
Bimo kemudian menarik tangannya agar
ikut bersamanya , " yuk ! ."
Bimo tersenyum pada semua orang yang
ada di ruangan , sebuah pertanda pamit
meninggalkan kamar . Semua orang
mengangguk membalas senyuman Bimo .
Bimo dan Mery keluar bersama lalu tak
berapa lama Adinda berdiri .
" Aku ikut ." mengambil tas dan mengantungkannya dibadan .
" Semua aku ikut Mery yah ." melambaikan
tangan sebelum berjalan keluar .
ramai akibat ulah Adinda , Joy kecewa
mendapati sepupunya itu akan pergi lagi
Joy berusaha mencegah agar gadis itu
tetap tinggal di ruangan nya , tak ingin
suasana sepi .
" Disini saja dek , kakak masih rindu kamu
lho , masa kakaknya ditinggal lagi ." langkah
Adinda terhenti .
" Kak Joy , aku kan juga kangen sama
keponakanku , lihat deh si ganteng sudah
pergi aku kan ingin mengejarnya ." ucap
Adinda manja .
" Iya deh iya , Sono pergi kejar tuh si
ganteng kamu , awas jangan rusuh ."
Dinda langsung berlari keluar .
πΉπΉπΉ
Di Ruang NICU
Anggi bersama dengan Andreas duduk
didepan sebuah ruangan yang berlapis
kaca , yang menunjukkan apa isi didalam ruangan itu , sambil bersandar di pundak Andreas Anggi melepas lelah .
"Dre kamu tidak ke Kantor , apa papa kamu
tidak mencarimu jika kamunya tetap disini ,
pulanglah biarkan aku disini menemani
Joy ." masih merasakan kenyamanan kehangatan pundak kekar kekasihnya .
" Aku akan tetap disini menemanimu ,
tidak ada pekerjaan penting kok di Kantor ."
Anggi mengangkat kepalanya beralih
menghadap pada Andreas .
" Tidak boleh , kau harus pulang sekarang
ini paksaan , kamu ingin aku marah ?."
Anggi cemberut .
Andreas langsung memeluk kekasihnya
mengelus punggung dengan pelan
sembari membujuk sang pujaan hati .
" Sayang kita disini bersama , pulang
juga harus bersama , aku tidak mau jika
kita pulang sendiri - sendiri , jadi jika kamu
tetap disini maka aku juga akan tetap
menemanimu disini , mengerti ?."
mengeratkan pelukannya .
Anggi merajuk .
Dari jauh Mery dan Bimo melihat
pemandangan dua insan yang sedang
bermesraan , Bimo yang tadinya berjalan
sedikit berjauhan dengan Mery sekarang
lebih merapatkan jalannya .
" Mau ?." suara lirih Bimo menawarkan .
Dengan sigap siku Mery mengarah pada
perut Bimo ,"jangan macam-macam ."
Bimo menggosok perutnya yang sakit .
" Sakit Mer , siapa yang macam-macam
aku cuma bilang kamu mau kesana
nggak , itu disana ada dua sejoli kan
tidak enak jika kita mengganggu mereka ."
Mery menggigit bibirnya , menahan malu
telah berburuk sangka pada Bimo .
" Maaf ... , sakit ya ." meringis sambil
menyentuh perut Bimo , mencari dimana
letak yang sakit .
Mendapat sentuhan Bimo malah nyengir
pura - pura merintih agar Mery bersimpati .
" Aww .. sakit sekali , mungkin sebuah
pelukan bisa membuatnya lebih baikan ."
Mery terkejut dengan respon Bimo , merasa
gemas telah dipermainkan Mery mencubit
perut Bimo yang sakit .
" Nakal ." mendorong Bimo dan berjalan
duluan .
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Yang sudah ngasih jejak n hadiah
makacih banyak , kalian terlove dah
salam cinta dari author πππ
Next πππ