
Sinar langit berwarna orange menandakan
jika sang surya sudah mulai redup akan
cahaya indahnya dan senja pun sudah tiba.
Tepatnya pukul lima sore Mery sampai
di Jogja, bersama dengan Wulan dia menaiki taksi berdua. Dalam satu taksi tiada tali
cakap diantara mereka.
Semenjak peristiwa terpergoknya Mery yang sedang berduaan di dalam toilet pesawat bersama dengan Roy membuat Wulan mendiamkan putri angkatnya itu.
Saling menghadap ke jendela mereka berdua bagai dua orang yang tidak saling kenal. Perasaan takut dan malu bercampur menjadi satu, ingin menyapa duluan Mery tak punya nyali.
Mery merasa tak enak hati memutuskan
untuk diam tak berani mengeluarkan suara, meskipun hanya sekedar menyapa nyali
Mery menciut.
Rasanya dia bingung mau menaruh
mukanya dimana, hal itu membuat hatinya bergemuruh bagai ombak di lautan.
Wulan kesal pada Mery, sudah berulang kali dipermalukan oleh ibunya Roy masih saja
mau didekati lagi oleh anaknya. Wulan tak habis pikir bisa-bisanya Mery melupakan hinaan dari ibunda keponakannya itu.
Wulan tidak terima jika putri yang sudah dianggapnya seperti putri kandungnya
sendiri itu harus menelan ejekan dan hinaan berulang kali, meskipun ejekan itu datang
dari adik kandungnya.
Bukan Wulan tidak suka atau pula tidak menyetujui hubungan Mery dengan keponakannya tapi Wulan hanya tidak tega
saja jika melihat gadis sebatang kara itu harus menerima hinaan dari perkara yang tidak sepatutnya dia terima.
Sampai di rumahnya taksi yang mereka tumpangi pun berhenti. Wulan melihat
sekilas rumahnya, memeriksa ternyata tidak ada yang berubah, tetap sama seperti
sebelum dua bulan lalu dia tinggalkan.
Wulan mengambil nafas dalam sebelum kemudian menghadap pada seorang gadis yang ada di sampingnya, betapa malangnya nasib gadis ini membuat Wulan tak tega.
Wulan berusaha meredam amarah dalam dirinya, membuang semua rasa kesal pada gadis itu lalu mengeluarkan suara tuk mengawali pembicaraan.
"Mery, ayo kita turun! Kau pasti lelah, kita
sudah sampai nak." Sapa Wulan pada Mery dengan menyentuh pelan pundaknya, saat
taksi sudah berhenti.
Mery Terperanjat kaget, seketika menatap
pada ibu angkatnya.
"I, iya bu." Mery tergagap, Wulan tersenyum menatap.
Digapainya satu pipi sang putri seraya membujuk secara halus, demi membuang
rasa tidak nyaman yang sepanjang jalan
telah menggemuli hati keduanya.
"Kita sudah sampai, maafkan sikap ibu
ya nak!, ibu tidak bermaksud apa-apa.
Ayo kita turun, Abang taksinya sudah menunggu." Ucap Wulan halus.
Satu telapak tangan yang tadinya berada
di pipi Mery sekarang berpindah ke pucuk kepala gadis itu, mengelus rambut panjang
nan hitam milik Mery.
Mery terharu membuatnya ingin
mencucurkan air mata, Wulan menyudahi sentuhan tangannya lalu segera membuka pintu dan meminta bantuan pada sang supir untuk membantu menurunkan koper
miliknya dan milik Mery.
Wulan berjalan ke arah pagar melihat
keadaan rumahnya, suasana rumah terlihat sepi akhirnya Wulan memutuskan untuk memanggil seseorang yang ada di dalam.
Dipikirkannya pasti si bibi lagi asik di dalam nonton televisi, kalau cuma panggilan pasti tidak sampai di telinga nya.
"Mbok, tolong bukakan pintu pagarnya."
Teriak Wulan dengan kencang
sampai-sampai tetangga pun bisa mendengar.
Setelah satu teriakan Wulan berkumandang
tak berapa lama keluarlah seorang wanita
agak tua dari dalam rumah.
Wanita itu tak langsung menghampiri, dia mengamati sejenak siapa orang yang memanggilnya, suaranya seperti tak begitu asing tapi dia masih belum percaya karena majikannya tidak memberi kabar apapun jika akan pulang.
Sembari menunggu kedatangan sang pembantu Wulan mengambil koper miliknya dibantu oleh Mery.
"Biar aku yang bawakan Bu." Larang Mery
saat melihat ibunya akan menenteng sebuah koper miliknya.
Wulan menolak tak ingin merepotkan Mery.
"Tidak usah, ini berat lho nanti kamu bisa pingsan jika mengangkatnya." Canda Wulan melepas rasa sungkan.
Keduanya tertawa.
Melihat ternyata benar yang memanggilnya
tadi adalah majikannya,
wanita berdaster dengan rambut yang
tertutup kerudung itu segera berjalan cepat
dan membuka pagar rumah dan segera menghampiri majikannya.
"Maaf nya, saya tadi tidak dengar. Kenapa nyonya tidak memberi kabar dulu kalau mau pulang hari ini." Berbicara dengan raut wajah tak enak hati.
"Kalau aku mengabarimu bukan jadi kejutan lagi dong bi, lagipula aku sudah
kangen masakanmu." Sahut Wulan sembari berjalan masuk ke pekarangan rumahnya.
Wanita itu tergopoh-gopoh mengambil alih
satu koper yang ada di tangan Mery.
"Biar saya saja non." Meraih koper, berusaha mengambil tugas.
"Tidak usah BI, biar saya bawa sendiri tas
milik saya, bibi bawakan punya ibu Wulan
saja." Mengalungkan tas ke pundak.
Mery dan pembantu masuk kedalam pekarangan bersama tapi sebelum menjauh bibi pembantu menutup pagar terlebih dahulu.
rumah yang tidak begitu mewah tapi nyaman, taman yang lumayan indah karena putrinya yang menata dengan tangan terampilnya.
Tiba-tiba muncul bayangan saat putrinya merapikan tanaman bunga potong sambil tersenyum padanya, Wulan mengedipkan matanya berulang kali demi memastikan
jika itu hanyalah khayalan.
Wulan membuang muka malah
pandangannya terlempar pada satu kursi
yang biasa ditempati oleh putrinya duduk
saat malam mendera, air mata Wulan mulai berair. Segera dia menghempas ingatan itu agar tidak larut dalam kesedihan.
Wulan segera masuk kedalam rumah.
"Bi, jangan lupa buatkan aku teh sereh
seperti biasanya ya, aku sangat lelah
hari ini." Imbuh Wulan hilang dari pandangan sang pembantu.
Mery ikut masuk kedalam rumah langsung menuju ke kamarnya, antara rindu dan sedih meruntuki hatinya.
Mery rindu akan suasana kamarnya tapi dia juga sedih karena di rumah ini dia teringat sekali dengan sosok kakaknya itu, seorang kakak yang telah membawanya kemari dan memberikan kembali rasa pelukan sebuah keluarga.
Tak berapa lama.
Tok, tok, tok..
Pintu kamar Mery terketuk, memaksa Mery yang sedang merebahkan tubuhnya
di ranjang menjadi duduk.
"Non Mery." Panggil orang dari luar kamar.
Menyeret kakinya yang masih terbujur, Mery berusaha bangkit dan turun dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju ke pintu.
"Ada apa bi?." Tanya Mery dengan wajah lesu.
Sang pembantu menjelaskan jika dia mau memberikan teh buatannya pada sang
majikan tapi saat dicari di dalam kamar ternyata tidak ada, sudah dicari di setiap
titik rumah pun belum juga nampak.
Mery mulai khawatir. Tiba-tiba dia teringat dengan kakaknya.
"Bibi sudah cari ibu ke kamar kak Joy?." Pembantu menggeleng.
Mery langsung keluar dari kamarnya dan menuju kamar kakaknya dan benar
tebakannya ternyata Wulan ada di dalam sedang duduk diatas ranjang dimana tempat biasanya Joy tidur.
Wulan sedang menangis dengan memeluk sebuah pigura kecil yang didalamnya
terdapat sebuah foto putrinya.
Mery mengambil secangkir teh yang ada di tangan bibi dengan perlahan melangkahkan kakinya mendekat ke ranjang, lalu duduk di sebelah ibu angkatnya.
"Bu, diminum dulu mumpung masih hangat." Menyentuh punggung ibunya, dengan pelan menyodorkan secangkir teh yang sudah dibawanya.
Wulan kaget dengan cepat mengusap air matanya dan menatap Mery.
"Maafkan ibu." Mengambil secangkir teh ditangan Mery.
Mery mengambil pigura dari dekapan Wulan, melihat sebuah buah wajah yang tertera di dalamnya.
Digoyangkan telapak jempolnya pada foto
yang ada di pigura mengusap dengan penuh haru Mery mulai masuk kedalam dunia
Wulan yang sangat merindukan sosok orang yang telah dianggap mereka sudah tiada itu.
"Cantik, kak Joy sangat cantik sama seperti
ibu Wulanku, kalian berdua sangat mirip."
Bulir air dari manik mata indah Mery menetes.
Wulan yang baru meminum tehnya pun menoleh.
"Maksudmu apa Mery?." Menaruh cangkir
di atas nakas.
"Kak Joy dan ibu mempunyai hubungan kandung membuat wajah kalian sama sedangkan aku berbeda, aku sedih kenapa
aku tidak terlahir dari rahimmu ibu." Tangis Mery.
"Cukup kau tidak boleh bicara begitu, kau
sama saja tidak menghargai perjuangan ibu kandungmu yang telah bersusah payah melahirkanmu." Teriak Wulan menyadarkan pemikiran Mery.
Mery beranggapan andai saja dia dulu
terlahir dari rahim Wulan, dia tidak akan merasakan kehilangan orang terkasih dan
pasti bahagia bisa menjadi saudara kandung dengan kakaknya joyyana.
"Bukan begitu Bu, maksudku hanya.." bantah Mery membela diri.
"Cukup Mer, jangan kau ulangi lagi kau
bicara seperti tadi, aku sangat tidak suka. Dengarkan aku!, meskipun kau tidak terlahir dari rahimku tapi kasih sayang ibu tak kalah dengan kasih sayang ibu kandungmu."
Menarik Mery kedalam pelukannya.
"Ibu masih tidak mengikhlaskan kepergian
kak Joy?." Tanya Mery membuat Wulan melepaskan pelukan.
"Ibu bukan tidak ikhlas nak, tapi ibu masih belum percaya jika harus kehilangan putri
ibu lagi, ibu hanya sebentar merasakan bagaimana berkumpul dengan putri ibu."
"Aku juga putri ibu, ibu jangan terlalu larut dalam kesedihan ini, ibu adalah penguat bagiku."
Mereka berdua saling menguatkan satu
sama lain, berusaha membuang kesedihan akan kepergian seseorang yang mereka sayangi.
Tiba-tiba ada suara gedoran dari arah pintu depan, membuat sang pembantu terpaksa memeriksa. Setelah tahu dia pun kembali kepada majikannya.
"Nyonya ada tamu, nyonya Rani sedang mencari anda memaksa masuk ingin
bertemu dengan nyonya." Berbicara pelan
takut mengganggu.
"Rani, untuk apa dia kemari?." Pandangan
yang tadinya ditujukan pada bibi beralih
kepada Mery.
Mery dan Wulan saling menatap, pikiran mereka penuh tanda tanya.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Lama y g upnya, othor nya ketiduran π€ͺ
Up lagi dah , otwπ΄π΄π΄