
Sebuah pesawat telah terbang membawa
Bimo meninggalkan kota Jakarta dan akan menuju kota Surabaya, dua orang gadis
sedang melihat ke langit yang tadinya
nampak pesawat itu melintas. Mereka
berdua mencoba melepaskan kepergian pemuda itu dengan ikhlas walau ada rasa
berat di lubuk hati mereka.
Andreas yang berdiri tak jauh dari mereka mengajak ibunya untuk kembali pulang, dia sekarang sedang buru-buru akan berangkat
ke Kantor.
"Mer, ayo kita pulang! ikhlaskan kepergiannya dia pasti kembali, anak itu hanya pergi menuntut ilmu bukan untuk berperang, jadi
kau tenang saja."
Sambil tertawa Andreas menggoda Mery.
Ucapan Andreas membuat ibunya kesal, sebuah telapak tangan berhasil terbang ke lengan pria itu.
Plakk ..
"Hust, jaga bicaramu ini di Bandara." Menarik lengan putranya untuk segera mengajaknya pergi.
Mery tersadar jika dari tadi dia sedang melamun, mengikuti Andreas dia pun pergi
dari sana.
Keluar Bandara mereka menuju tempat parkir, "kau pulang naik apa nak?." Tanya ibunya Andreas yang ingin menawari tumpangan.
"Bersama supir Tante." Menunjuk satu
mobil dengan seorang laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya.
"Oh .. kalau begitu Tante pergi dulu ya, anak Tante mau berangkat ke Kantor." Mengelus pundak Mery setelah itu berjalan ke arah mobilnya.
Adinda melihat semua itu sedikit tak suka kenapa selalu saja Mery yang menjadi perhatian, hal itu membuatnya iri pada temannya yang satu ini.
'Selalu Mery, kak Bimo perhatiannya pada
Mery, Oma, kak Joy, Tante Wulan sampai - sampai kakakku sendiri lebih perhatian pada anak satu ini, apa sih kelebihannya dia.'
Adinda menggerutu dalam hatinya, dia kesal gemas meratapi nasibnya dengan meremas tangannya sendiri gadis itu menahan sesak yang menghujam di dadanya.
Dalam diam Adinda masih menatap temannya.
"Tenang Bimo pergi masih ada Roy di sini,
dia masih tetap menyukaimu." Sambil mendekat pada Mery, Andreas berbicara
lirih sambil melambaikan tangan pada seseorang.
Mery terkejut dengan ucapan Andreas kemudian manik matanya mengikuti arah tangan lelaki itu.
"Hai dia di sini." Teriak Andreas membuat seorang pria berbaju putih menoleh.
"Iya kan benar kataku, aku pergi dulu."
Imbuh Andreas sambil berjalan mendekati mobil.
"Mas Roy." Adinda melongo.
Sama halnya dengan Mery, Adinda pun
terkejut dengan keberadaan kakaknya yang juga ada di Bandara, dia mengira pasti kakaknya itu membuntuti dari belakang
sama seperti yang dia lakukan kemarin.
Andreas mendekati temannya terlihat
mereka berbincang serius, sesaat sebelum kekasih Anggi itu masuk kedalam mobilnya, sambil sesekali melihat Mery kedua pria itu serius bercakap.
Yang ada di pikiran Mery pasti mereka
sedang membicarakannya, karena terlihat sangat jelas dari mimik mereka saat memandang Mery yang berulang kali.
Sesaat kemudian Andreas masuk ke dalam mobilnya, sebab panas sinar matahari yang mulai menyengat mengenai tubuhnya yang memberitahukan jika hari sudah mulai
siang, membuatnya ingat akan tugasnya di Kantor yang sudah menanti.
Mobil Andreas pergi, Roy kemudian
mendekati kedua gadis yang tak asing
baginya, Mery ingin segera pergi dari sana melangkahkan kakinya cepat sambil
menarik pergelangan tangan temannya.
"Ayo kita pergi dari sini." Adinda malah
menarik balik.
"Tunggu, apa kau tidak lihat kakakku akan kemari." Tersenyum sumringah melihat kakaknya sudah dekat, Mery cemberut.
'Kenapa pake kesini segala sih, malas aku.'
Mery berdecak kesal mendapati Roy yang berjalan ke arahnya, dengan penuh percaya
diri pria itu menyibak rambutnya seraya
tebar pesona.
"Mas Roy mengikuti kami ya?." Teriak Adinda sembari berlari ke pelukan kakaknya.
"Kalian harus pulang bersamaku!."
Membalas pelukan adiknya tapi
pandangannya jatuh pada Mery.
"Tidak usah repot, aku ada mobil yang bisa
aku tumpangi dan tidak harus ikut di satu
mobil bersama buaya, bisa - bisa aku nanti
digigit."
Mery segera meninggalkan kedua bersaudara yang saling berpelukan. Roy menggertakkan gigi mendapatkan sindiran menohok dari perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Buaya, maksud Mery siapa, kamu mas?."
Melepaskan pelukan heran dengan kakaknya.
"Mery kau mau kemana, apa kau tidak ingin
ke Rumah Sakit bersama kami?."
Teriak Adinda yang melihat temannya itu masuk mobil yang tadi mereka naiki saat berangkat kesini. Kemudian mobil itu pergi meninggalkan dirinya.
"Biarkan saja kau sekarang masuklah aku
akan mengantarmu."membukakan pintu
untuk adiknya.
kakaknya menuju Rumah Sakit, mengikuti mobil yang ditumpangi Mery dari belakang.
"Mas Roy jadi menikahi wanita itu?."
Memandang kakaknya mencoba mencari kepastian, Roy menoleh sekilas.
"Maksudmu?." Bertanya balik sambil menyetir.
"Yang kak Roy bilang kemarin saat kita bersama bunda di kamar kak Joy, ingat
kan?." Roy menghentikan mobilnya.
"Memang bunda bilang apa saja padamu?."
Roy memandang adiknya penuh intens.
Adinda menceritakan semua tentang apa rencana bundanya pada kakaknya, Roy
awalnya terkejut dia tak habis pikir bisa - bisanya bundanya mengambil keputusan
tanpa bertanya lebih dulu padanya, niatnya
hanyalah untuk memenuhi keinginan
bundanya saja.
Yang ingin di perkenalkan oleh seorang
wanita teman dekat putranya, jika Roy tidak
memenuhi itu pasti dia akan dijodohkan
dengan putri dari teman bundanya itu.
Roy yang menjalani dan Roy juga yang
bilang akan menjadikan Isabella istrinya
tapi bukan untuk waktu dekat, melainkan
dia ingin fokus dengan pekerjaan yang di tugaskan David padanya.
Menurutnya tugas itu sangatlah penting
sebab menyangkut keselamatan
saudaranya juga.
Untuk saat ini Roy tidak bisa memikirkan masalah pribadinya, masih fokus mencari
tersangka utama di balik maka petaka
yang hampir merenggut nyawa Joy dan
bayinya.
"Jika Mas Roy menjadikan wanita itu istri bagaimana kelanjutan hubungan kalian?."
Roy ingin menyalakan mesin langsung di urungkan," kalian?" Memandang Adinda.
"Mas Roy dan Mery,"
"Maksudmu apa sih Din? Mas dan Mery
tidak ada hubungan apa-apa."
Menginjak pedal gas, mobil pun menyala.
Mobil melaju kencang menebas jalanan,
dalam pikiran Roy melambung tinggi memikirkan apa yang adiknya tadi ucapkan.
'Sepertinya aku harus jujur pada bunda, tapi apa bunda bisa menerima Mery, sedangkan bunda menuntutku untuk mencarikan
menantu yang seperti Isabella, tapi apa
Isabella bisa memaafkan ku jika dia tahu
kalau aku hanya memanfaatkannya."
Sambil menyetir pikiran Roy melalang
buana, mencari solusi tentang masalah pribadinya.
Adinda sibuk dengan ponselnya, dia
sedang mencari novel favorit yang belum selesai dia baca, sambil jemari asik
mengscroll layar di ponsel dia mencoba mengajak kakaknya bicara.
"Mas .. mas Roy tahu jika kemarin Mery
dan kak Bimo meresmikan hubungan
mereka, mereka sekarang resmi berpacaran
lho mas, aku mendengarkan sendiri dan
Mery juga sudah mengaku padaku."
Seketika Roy menekan rem, mobil pun berhenti.
"Ulangi!."
Tatapan tajam Roy menyidik pada Adinda, gadis itu takut mendapat tatapan yang tidak pernah dia liat dari sorot mata kakaknya itu.
"Ceritakan padaku apa yang kau dengar dan kau lihat semuanya tanpa ada satu katapun yang tertinggal." Memiringkan kepalanya menatap penuh pada Adinda.
Adinda terlalu takut akan kata kasar dan tatapan tajam yang diberikan oleh kakaknya, sambil terbata gadis itu menceritakan dari
dia di Rumah Sakit, ke Bioskop sampai di Rumah Oma sambil mengingat apa yang
Bimo dan Mery ucapkan.
Serta pengakuan Mery pun tak luput
menjadi berita yang teraktual yang wajib
dia ceritakan pada kakaknya itu.
Sambil meremas setir mobil, Roy menahan geram. Menjalankan mobilnya sekencang mungkin ingin segera bertemu dengan gadis yang telah membuat hatinya kesal.
"Kurang ajar, kau harus menerima hukuman dariku." geram Roy memukul stir.
Adinda semakin ketakutan, Roy tidak menyadari jika sikapnya itu membuat
adiknya takut, kini yang dia pikirkan
hanyalah ambisinya saja, tidak memikirkan apapun.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Klo q jadi Mery harus bagaimana ya???
πππππ
Next??