
Setelah mendapat kritik dari mertuanya,
David langsung menjelaskan pada Mery tentang apa yang dikatakannya pada Roy
di ruang tengah jika semua itu tidak serius, hanya semata-mata untuk menjauhkannya dengan Roy saja.
Mery memahami dan memaklumi kakak iparnya, dia sekarang sudah tidak bersedih
lagi dan mau menurut jika nanti kakak iparnya itu bakalan mengirimnya ke luar negeri untuk berkuliah, seperti yang diinginkan oleh kakaknya, joyyana.
Antara David dan Mery sekarang sudah tidak ada kesalahpahaman lagi, Wulan pun menjadi tenang.
πΉπΉπΉ
Di kantor
Oma dihadapkan dengan sebuah pistol yang tepat mengarah ke wajahnya. Oma merasa gemetaran tapi keadaan itu tidak beliau tunjukkan di depan Tomy, bocah tengil
menurut Oma.
Oma tidak mau terlihat lemah dan takut di depan bocah tengil itu, saat pistol itu
mengarah dan peluru yang siap untuk masuk menghujam tepat di keningnya, Oma hanya tertawa, hal itu membuat Tomy semakin tidak bisa menahan keinginannya untuk menarik pelatuk.
Dalam ruangan David kini hanya ada Oma
dan Tomy, pria itu tak main-main untuk menembakkan senapan kepada Oma, tapi sebelum menembak Tomy ingin
bermain-main dulu dengan Oma.
Andreas tahu Oma di kantor, dia memutuskan untuk tidak ke kantor Oma, tapi mengunjungi kantor ayahnya, melihat keadaan di sana mumpung kantor ada Oma yang memegang.
Jadi sekarang Oma sendirian di kantor
tepatnya di ruangan direktur utama,
sedangkan saat Tomy masuk semua
pengawal Oma tidak diperbolehkan untuk masuk.
Semua pengawal Oma dalam cekalan anak buah Tomy.
"Kau masih berani tertawa orang tua?." Masih dengan membawa pistol, Tomy tak terima melihat Oma tertawa.
Pria itu tak segan-segan menarik senapan.
"Hahaha, kalau tidak tertawa apa aku harus menangis? Jika aku ditakdirkan untuk mati sekarang, aku akan terima. Agar aku bisa bertemu dengan suamiku kembali karena aku sudah lelah menghadapi masalah
di kehidupan ini, apalagi berurusan denganmu."
Tawa Oma yang masih menggema, membuat Tomy menggertakkan gigi.
"Nyawa sudah diujung kau masih menyombongkan diri, satu .. ." Tomy menghitung.
"Apa kau masih punya keinginan terakhir?." menimang waktu untuk menembak Oma.
Raut wajah Oma tenang, tak sedikit pun rasa takut Oma tunjukkan.
"Aku tidak ada keinginan apapun, cuma
setelah kepergianku kau harus berjanji tidak akan melukai David dan keluarganya lagi, karena dia tidak tahu menahu tentang kehidupanmu." Tegas Oma lantang.
Tomy menyunggingkan ujung bibirnya, menertawakan keinginan Oma yang terakhir karena hal itu tak mungkin akan dia lakukan, yang pasti tujuannya adalah menghancurkan David dan keluarganya.
Tomy iri dengan kehidupan yang diterima David, seharusnya dia yang merasakan kebahagiaan punya keluarga utuh dan kehidupan yang layak, tapi semua itu tidak pernah dia rasakan.
Rasa iri dengki yang terpupuk dari kecil membuat Tomy dendam dan memutuskan untuk menghancurkan David.
"Kau sudah banyak bicara nenek tua.
Dua, ti β¦ ."
Hitungan Tomy terhenti, ada satu tangan
yang sedang membawa pistol juga dan pistol itu sekarang sedang mengarah di pelipisnya.
Tomy menolehkan wajahnya dengan pelan,
tapi wajahnya tak bisa menoleh lagi karena tekanan pistol yang mengenai pinggiran kepalanya sangatlah keras.
"Jika kau ingin bermain-main aku bisa ladeni, jika ingin biji besi ini langsung masuk di kepalamu aku juga bisa langsung masukkan." Nyali Tomy menciut mendengar ancaman.
Oma syok mendengar suara yang seperti
tidak asing baginya.
Sambil menekan pistol, orang itu menyuruh Tomy.
Pistol yang yang di pegang Tomy diturunkan dengan perlahan, mencari celah agar bisa memberontak.
Oma memiringkan kepalanya, mencari tahu siapa orang yang menyelamatkannya.
"Joy." Suara lirih saat Oma berucap haru.
Oma tak menyangka cucu menantunya itu ternyata masih hidup.
Orang itu mengangkat satu tangannya diarahkan pada Oma lalu beralih meletakkan
ke bibir, tanpa kata mengisyaratkan agar Oma diam.
"Terima kasih telah menyadarkanku, bahwa
ada orang yang mengintai keselamatan keluargaku, sekarang kau harus diberi pelajaran."
Dor ..
Satu tembakan mengenai kaki Tomy,
" uhh," Tomy meringis kesakitan.
"Kau siapa?." Sambil meringis, Tomy memperhatikan wajah orang yang menembakkannya.
Wajah Joy memakai masker dan kaca mata, membuat Tomy tidak bisa mengenalinya.
"Itu belum cukup, kita bermain - main dulu." Senyum Joy tunjukkan saat melihat wajah ketakutan Tomy.
Dor ..
Joy mengarahkan tembakan pada satu kaki yang lain, darah Tomy keluar dari lubang
bekas tembakan.
Joy tersenyum.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang perlu
kau tahu sekarang hanyalah jika tidak ada orang yang mampu menyelamatkanmu,
semua anak buahmu diluar sudah aku musnahkan." Tomy semakin ketakutan.
"Aku kasihan pada ibumu yang sudah melahirkan orang yang tidak berguna sepertimu, kau tidak perlu hidup lama - lama yang pasti akan menambah dosamu."
Dor, dor, dor .. .
"Jangan nak!." Teriak Oma, tapi Joy tidak menggubris.
Ucapan Joy akhiri dengan tiga tembakan
yang mengenai kepala Tomy. Pria itu
tergeletak tidak bernyawa dengan darah
keluar deras dari kepalanya.
Joy membuang pistol yang dia gunakan untuk menembak pria bajingan itu. Joy berlari memeluk Oma, membuang rasa rindu yang selama ini tidak tertuntaskan.
"Oma tolong jaga putraku, jangan beritahu David tentang keadaanku saat ini yang masih hidup, biarkan semua ini tetap menjadi
rahasia." Menatap Oma sambil menitikkan air mata.
Oma mengusap air mata Joy, kemudian mengangguk.
"Baiklah, Oma akan menuruti semua yang kau ucapkan, kau mau kemana Joy?."
"Aku akan menunjukkan jati diriku pada David jika sudah waktunya." Ucap Joy melepaskan pelukan.
Joy pergi meninggalkan Oma dan keluar dari ruangan David dengan terburu-buru.
"Selamat tinggal Oma, jaga diri baik-baik."
Joy hilang dari pandangan.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Gimana, up lagi gakkkkk..
mna jejaknya boskyuuuu..
π€π€π€π€