Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
What ??


Tok..tok..tok..


Suara ketukan membangunkan David ,


kelelahan yang teramat membuat nya


malas untuk menanggapi siapa yang


masih pagi sudah berani mengetuk


pintu kamarnya .


" David , ini aku Roy .. apa kau sudah


bangun ." satu suara menjelaskan


siapa dalang di balik gangguan yang


mengusik tidurnya .


Di balik pintu Roy berdiri menunggu


atasan sekaligus temannya untuk


bangun , karena dia sudah diperintahkan


oleh Oma untuk cepat mengajak David


ke Kantor .


Karena tak ada sahutan ataupun respon


dari David , Roy pun memutuskan untuk


menghubungi nya , meskipun dari tadi


dia juga sudah mencobanya .


" David cepat angkat telponnya , jangan


buat aku di marahi Oma lagi , "


meletakkan ponsel di dekat telinga


dengan satu tangannya memijat


pelipis nya .


David yang masih malas untuk bangun


tetap tidak merubah posisi nya , dia


masih tetap tiduran dengan posisi


memeluk istrinya dari belakang ,


meskipun matanya terbuka .


Suara ketukan berhenti dan berubah


dengan suara ponsel yang berdering ,


matanya melirik arah sumber suara


ternyata yang menelfon nya adalah Roy ,


" Roy ? kenapa lagi dia , rapatnya kan


masih jam sepuluh nanti siang ,


menggangguku saja ."


Dengan terpaksa dan pelan David


melepaskan pelukannya , mengambil


ponsel dan mengangkatnya ,


" Hallo Roy , ada apa ." David turun dari


tempat tidur , sedikit menjauh agar


suaranya tidak terdengar oleh istrinya .


Roy menjelaskan semua yang diucapkan


Oma padanya , yang meminta agar dia


segera mengajak David untuk pergi


ke Kantor saat ini juga .


David paham betul jika Oma sudah


mulai marah berarti ada hal yang serius


untuk di bicarakan .


Setelah mematikan telfonnya , David


segera masuk ke kamar mandi , dia


bersiap dengan tergesa-gesa tanpa


membuat kegaduhan di dalam kamar ,


kali ini dia pergi ke Kantor tanpa pamit


pada istrinya .


Tapi David tidak tega saat melihat raut


wajah istrinya yang nampak sangat


kelelahan dalam matanya yang masih terpejam .


David berada di depan pintu hendak


membukanya , dia diam menatap


sosok istrinya sejenak , merasa masih


berat David pun kembali mendekati


ranjang .


" Maafkan aku sayang , aku tidak ingin mengganggu istirahat mu , tidurlah


yang nyenyak , aku akan cepat pulang ."


David berbicara lirih pada istrinya ,


seraya berpamitan tanpa ingin didengar


oleh calon ibu dari anaknya ini, tak lupa


diakhir kalimatnya dia pun


meninggalkan kecupan di kening


sebagai pertanda rasa sayang yang


teramat dari lubuk hatinya .


David turun ke lantai bawah , disana


sudah ada kepala pembantu yang siap


akan menyambut perintah sang tuan .


" Saya sudah mempersiapkan sarapan


untuk tuan ." berbicara dengan menunduk .


" Tidak usah , aku sarapan di Kantor ,"


berbicara sambil berjalan , pembantu


itu masih mengikuti tuannya dari


belakang .


Di luar Rumah sudah ada Roy di dalam


mobil yang setia menunggu


kedatangannya , " akhirnya orang ini


keluar juga ."


David berhenti , membalikkan badannya


" jangan bangunkan istriku , biarkan dia


bangun dengan sendirinya dan jika


dia sudah bangun , katakan padanya


jika aku ke Kantor atas panggilan Oma ."


David berpesan pada kepala pembantu


yang di percayai nya , dia takut jika


nanti istrinya bangun mencari


keberadaan nya , karena David tidak


pernah pergi tanpa memberi kabar


atau pun tanpa pamit pada istrinya .


" Baik tuan ." menjawab pesan tuannya


dengan menunduk , tanpa berani untuk


menatap langsung pada sang pemberi


pesan .


David memasuki mobil dan pergi


bersama Roy menuju Kantor .


πŸ€πŸ€πŸ€


# Flashback on ,,,


Oma duduk di meja makan sedang


menikmati sarapannya , berdiri


di sampingnya seorang pembantu


kepercayaannya yang tak lain adalah


Bi Narsih sang kepala pembantu di


Rumah itu .


Bi Narsih menceritakan keadaan rumah


tentang kepulangan David dan Joy tadi


malam , Oma terkejut kenapa tak ada


seorang pun yang memberi tahu atau


pun membangunkannya .


Bi Narsih menjelaskan jika mereka


melarang siapa pun untuk


memberitahukan kabar kepulangan nya


pada Oma , karena mereka berdua tidak


ingin jika Oma repot menunggu kedatangannya .


Oma pun mengerti dan faham atas


maksud baik cucu nya , karena Oma tahu


jika dia mengetahui kabar jika cucunya


akan pulang , pasti Oma tergopoh-gopoh


untuk menjemput ke Bandara .


Hal pertama yang Oma tanyakan adalah


bagaimana keadaan Joy dan kandungan


nya , beliau sangat takut jika terjadi hal


yang tidak di inginkan , apalagi usia


kandungan Joy sudah tinggal menunggu


hari .


Bi Narsih mengatakan pada Oma , jika


Joy dan kandungan nya baik - baik saja ,


Joy malah terlihat agak gendutan .


Hal itu membuat Oma senang dan lega ,


apa lagi mendengar kabar jika keadaan


cucu dan calon buyutnya baik -baik saja ,


kini yang di fikirkan Oma hanyalah


masalah perusahaan , rasanya beliau


tak sanggup jika harus mengurusnya


sendiri .


Akibat ulah ceroboh David yang


meninggalkan perusahaan beberapa


hari yang lalu , membuat para


musuhnya di dunia bisnis mengambil kesempatan untuk menjatuhkan nilai


saham perusahaannya .


" Kemaren tuan dan nyonya pulang


bersama dengan mas Roy dan saudara


perempuan nyonya Joy , dan sekarang


mereka menginap di kamar tamu nyonya ."


Oma mengangguk faham .


Meletakkan garbu dan pisau di tangan ,


Oma menatap bi Narsih , " Roy juga


menginap disini ?." di jawab dengan


anggukan berbarengan dengan kata


" ya , " yang ikut memperjelas jawaban .


" Kalau begitu sekarang cepat panggil


Roy untuk menghadap ku ."


Tanpa menunggu , bi Narsih segera


melaksanakan perintah dari Oma , tak


lama bi Narsih datang bersama dengan


Roy yang masih belum sadar penuh ,


karena tadi saat bi Narsih memanggilnya


Roy masih tidur .


" Duduklah Roy !." menunjuk satu tempat


duduk , Oma menyuruh Roy duduk dan


sarapan bersamanya .


" Terimakasih Oma ."mengambil tempat


Roy tahu jika kali ini Oma memanggilnya


pasti karena hal kepergian David atau


tidak beliau ingin membicarakan masalah


penting , jadi mau tidak mau dia harus


menghadapi cercahan dari amarah Oma .


Roy tak berani membuka suara , jika


bukan Oma yang bertanya atau


mengajaknya bicara duluan . Dia takut


jika salah bicara bisa menimbulkan


suatu kemurkaan dari Oma .


" Cepat makanlah makananmu , kau


dan David harus ke Kantor lebih awal ."


Roy seketika menoleh .


" Kau ini sudah tau di perusahaan


banyak pekerjaan yang menumpuk ,


malah ikut David berkeliaran ." Roy


mendengarkan , tak mampu menjawab .


" Kalian ini bukan anak - anak lagi ,


yang menunggu di tegur dulu baru


sadar , sudah tau David kekanakan


kau malah mendukungnya ." roy


menikmati sarapannya dengan lauk


kemarahan Oma .


Tak mau melanjutkan amarahnya


di Rumah , Oma pun menghentikan


ocehan nya , membiarkan Roy


menikmati sarapannya .


Oma diam sibuk memainkan ponselnya ,


di satu sisi Mery yang baru keluar dari


kamar tamu pun langsung menuju meja makan , karena melihat sosok Oma .


Mery merasa sungkan , dari


kedatangannya semalam kemari , dia


belum sempat menyapa dan memberi


salam pada Oma .


" Oma maafkan Mery karena menginap


di Rumah Oma tanpa pamit , dan Mery


bangun kesiangan , jam segini baru


memberi salam pada Oma ." mencium


punggung tangan Oma dan dilanjutkan


kedua pipi Oma .


Oma tersenyum senang dengan


kesopanan Mery , " tidak apa-apa , ini


juga Rumah Joy kakakmu , kau tidak


perlu sesungkan itu ,," memeluk Mery .


" Ayo sarapan !, kau pasti belum makan


dari semalam ." mendengar hal itu Roy


langsung tersenyum menahan tawa .


Oma kaget ," kenapa Roy ?." seketika


Roy menghentikan tawanya .


" Tidak ada apa-apa Oma , hanya saja


aku teringat tadi malam ada tikus


di dapur ." Mery melotot pada Roy ,


dengan satu kakinya menendang kaki


Roy di bawah meja .


" Apa sih ,, maunya orang ini , apa tidak


bisa menjaga bicaranya , ini didepan


Oma , kalau oma sampai tahu aku kan


jadi malu ."


Pelototan Mery di balas oleh Roy dengan


moncongan bibir yang meledek atas


kemarahan Mery .


Oma tak mengerti dengan jawaban dari


Roy , apalagi melihat tingkah laku dua


anak muda didepannya ini , menambah kepalanya semakin pusing .


" Tikus ?," Oma menatap Roy , meminta


penjelasan .


" Iya Oma , semalam aku melihat seekor


tikus betina yang lapar ,sedang mencuri


makanan di dapur , bahkan ice cream


pun doyan ."


Bukan tambah mengerti , Oma malah


di buat semakin bingung dengan


penjelasan dari Roy , mustahil ada tikus


di Rumah nya , karena Oma sudah


menyuruh para pembantu untuk


membersihkan setiap sudut ruangan ,


dan membasmi setiap hewan yang


merusak kenyamanan lingkungan


Rumahnya .


" Narsih ..." teriak Oma kencang ,


Dari arah dapur , Bi Narsih berjalan cepat


memenuhi panggilan Oma ," iya nyonya ,"


" Cepat cari tikusnya di dapur , kata Roy


dia semalam melihat ada tikus disana ,


aku tidak mau lagi mendengar ada


orang yang melihat tikus di Rumahku ."


Oma meninggalkan meja makan .


" Iya nyonya ," tak berani bertanya, jika


oma sudah marah .


Oma masuk ke dalam kamar , dan tak


berapa lama beliau pun kembali dengan


membawa tas kecil di tangannya .


" Roy ingat pesanku tadi , aku tak mau


kalian datang terlambat ," berbicara


dengan tegas .


" Dan kau Mery sebaiknya kau pindah


saja kesini , kau bisa dekat dengan


kakakmu dan selanjutnya bisa kuliah


kemana pun yang kau mau ." Mery


mengangguk .


Oma berpamitan pada Roy dan Mery


jika beliau akan berangkat ke Kantor ,


dengan di ikuti dua orang pengawalnya


Oma keluar Rumah .


Tak jauh Oma melangkah kakinya


terhenti , berbalik ingin menyampaikan


sesuatu yang masih mengganjal


di fikirannya .


" Mery sudah punya kekasih ?." Mery


menggeleng .


" Kalau begitu sekolah yang rajin , kalau


kau sudah lulus kuliah nanti Oma


jodohkan dengan cucu Oma." Mery syok ,


tidak bisa berkata apa-apa dia hanya


tersenyum hambar , menunjukkan rasa setujunya pada usulan dari Oma .


" Ha .. Oma menjodohkan aku ,


bagaimana ini ?, aku masih kecil


dan aku juga ingin menikah dengan


orang yang aku cintai ." Melihat kepergian Oma .


Roy yang tak kalah syok dengan Mery


hanya bisa mematung , hatinya


berkecamuk namun tak mampu


memberontak . Hanya bisa diam


menyimpan rasa amarahnya .


Sepeninggal Oma , menyisakan Roy


dan Mery dalam keterdiaman , mata


bulat mereka saling berpandangan .


" Kau mau menikah dengan cucu Oma ?." meletakkan kedua tangannya di atas meja .


Mery tak menjawab ," memangnya kak


David mau menikah lagi ?." balik


bertanya pada orang yang berada di


depan nya .


" Aku tak tahu , mungkin cucu dari


saudara Oma ." mencari respon dari


raut muka Mery .


Mery sedikit lega , karena bukan suami


dari kakaknya yang di maksutkan oleh


Oma , tapi ada sesuatu yang menjadi


kegusarannya .


" Apa iya , aku menikah dengan orang


yang tidak aku kenal ." Mery melamun .


Tatapan Roy semakin dalam , perasaan


takut kehilangan orang yang dia


cintai pun muncul , dia berfikir


bagaimana caranya dia menggagalkan


niatan Oma , mustahil dia bisa , kecuali


jika dia sudah memiliki nya .


" Mer,,, maukah kau menikah


denganku ?." ucapan Roy seketika


membuyarkan lamunan Mery .


Mery syok berat mendengar ucapan


Roy , berusaha menelan ludahnya


dengan kasar , otaknya masih


berputar untuk mencerna sepenuhnya


kata demi kata dari perkataan Roy


barusan .


" Ampun , ampun, ampunnnnnn,,,, apa


ini , huhhhh,, mimpi apa aku semalam


ini mimpi atau nyata , kak Roy


melamarku ? , papa ,, mama,, aku harus


jawab apa ? ."


Flashback off...


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


_


_


Next 😍😍😍😍😍😍