Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Oma membuka kebenaran


Setelah berdebat dengan David yang seperti


tak ada ujungnya, Roy memilih menyingkir.


Dia memutuskan untuk cepat pergi dari sana dan merencanakan usaha untuk bisa menggagalkan niatan David yang akan membawa pergi Mery ataupun niatan untuk mempersunting gadis itu.


Dengan perasaan kesal Roy pergi meninggalkan rumah besar itu.


David di ruang tengah tetap melanjutkan menimang dan mengajak putranya bicara,


ayah muda itu tidak tahu bahwa perkataannya tadi telah melukai serta membuat takut seorang gadis di dalam kamarnya.


"Tadi aku mendengar suara Roy, sekarang kemana dia nak David?." Tanya Wulan dengan membawa secangkir kopi untuk diberikan kepada menantunya.


Wulan menaruh secangkir kopi itu ke atas


meja tepat di depan menantunya.


David menerima kopi yang dibuatkan oleh mertuanya dengan senang hati, kemudian memberikan putranya pada sang mertua


untuk diambil alih gendong oleh mertuanya yang juga ingin menggantikan untuk menggendongnya.


"Dia sudah pergi Bu, barusan." Berkata satu kalimat kemudian meminum kopinya.


"Oh, tumben cuma sebentar biasanya anak itu lumayan lama kalau di sini."


Wulan mengajak menantunya bicara sambil menimang- nimang cucunya. David segera menghabiskan kopi yang dibuat oleh mertuanya dan pergi meninggalkan ruang tengah.


"Aku tidak tahu Bu, mungkin dia ada urusan lain." Jawab David sekilas sebelum dia


berjalan menuju ruang kerjanya.


David tak mau membicarakan atau


mengatakan pada mertuanya, tentang apa


yang telah dia katakan tadi pada Roy.


David memilih diam dan meninggalkan mertuanya itu bersama dengan putranya.


Wulan berada di rumah besannya yang besar itu bagaikan berada di tempat asing, dia merasa kesepian karena tidak adanya orang yang mengajaknya bercakap.


Keberadaan Mery pun tidak berarti karena gadis itu selalu berada di dalam kamarnya, jarang sekali untuknya keluar kamar.


Wulan yang kesepian pun memutuskan


untuk pergi ke kamar Mery untuk mencari teman bicara, tapi naas pintu kamar gadis itu ternyata di kunci.


Tok, tok, tok โ€ฆ


"Mery, kenapa pintunya dikunci nak? Ibu mau masuk cepat buka pintunya." Wulan


mengetuk pintu kamar Mery, tapi tak kunjung ada jawaban.


Wulan mendekatkan telinganya ke pintu, waspada jika Mery berbuat hal yang menakutkan di dalam sana.


Tidak terdengar suara yang aneh, satu suara orang kesegukan yang terdengar di telinga Wulan.


Wulan mengulangi panggilan, menunggu beberapa saat pintu kamar Mery pun akhirnya terbuka, mengeluarkan penghuni di dalamnya dengan wajah kusut yang khas orang setelah menangis.


"Silahkan masuk Bu!." Suara lemas Mery yang setelah membuka pintu langsung masuk kembali ke dalam kamar.


Wulan cepat ikut masuk dan menutup


pintunya kembali, menaruh cucunya di atas tempat tidur kemudian memeriksa Mery,


takut jika ada sesuatu hal konyol yang diperbuat gadis itu di dalam kamarnya.


Huh ..


Wulan menghembuskan nafas lega, setelah memeriksa sekujur tubuh Mery dan juga memeriksa keadaan sekeliling ruangan ternyata tetaplah aman.


"Kau kenapa lagi Mer usap air matamu cepat! aku tidak mau melihat kau menangis lagi, tangisanmu tidak akan bisa membuat Joy kembali." Memberikan sapu tangan pada Mery.


Mery menerima dan mengusapkan pada wajahnya.


"Hiks, hik .. ibu aku tidak menangis karena kak Joy, tapi .. ." Mery berjongkok melanjutkan tangisannya.


Wulan memandang Mery dengan bingung.


"Lalu, kau menangis karena apa?." Wulan semakin bingung, Mery tidak menjelaskan malah melanjutkan menangis.


Wulan menyuruh gadis itu berdiri paksa.


"Berdiri! jelaskan padaku dan jangan membuatku takut Mery." Wulan memegang lengan Mery dan menggoyangkan tubuh gadis itu.


Mery menceritakan tentang apa yang dia dengar tadi, percakapan antara Roy dan


kakak iparnya. Dari percekcokan sampai rencana kakak iparnya yang akan menjadikannya istri semua Mery ceritakan pada ibu angkatnya itu dengan detail sambil sesekali menangis,


Wulan syok menutup mulutnya.


"Tidak mungkin itu akan terjadi, aku tidak


akan membiarkannya, apa David sudah gila, kebenaran meninggalnya Joy saja belum


jelas dia sudah mau membuat perkara denganku."


Wulan terduduk di ranjang tepat di samping cucunya, Wulan tidak percaya dengan apa


yang dikatakan oleh Mery, wanita paruh baya


itu menggeleng berulang kali, hatinya remuk merasakan masalah yang bertubi-tubi.


Wulan berdiri menghadap anak angkatnya.


"Jaga adikmu! Aku akan bicara pada David." Dengan wajah geram Wulan meninggalkan kamar Mery.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di ruang kerja, David bercengkrama dengan Oma, membicarakan tentang hasil otopsi jenazah Joy yang belum selesai.


Wulan yang penuh emosi langsung masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu,


tanpa tau siapa saja yang ada di dalam


ruangan itu.


Plakk ..


Satu tamparan telapak tangan Wulan berhasil tepat mengenai pipi mulus David. Menatap menantunya dengan penuh kegeraman.


"Belum cukup kau mengambil putriku,


sekarang kau mau mengambil dan


mencelakai putriku yang lain?."


Suara keras Wulan menggelegar di ruangan David, setelah berhasil memberikan satu tamparan. David menggosok pipinya yang terkena tamparan.


"Ibu, aku minta maaf tentang meninggalnya Joy, tapi apa maksud ibu aku akan


mencelakai putri ibu yang lain,aku tidak mengerti."


yang masuk dengan tiba-tiba dan langsung menampar cucunya, niatnya untuk


membahas masalah Joy, Oma urungkan dan mencari tahu apa yang membuat besannya


itu marah besar.


"San, ada apa ini sebenarnya? coba kita bicarakan dengan baik-baik, tidak usah


dengan emosi, mungkin ada


kesalahpahaman." Suara Oma sambil


mengelus pundak sang besan dan mengajaknya duduk.


Wulan terkejut tak tahu jika Oma juga ada


di ruangan itu, Wulan duduk dan mengambil nafas untuk menahan emosinya.


"Tanyakan pada dia, apa dia sudah tidak


waras, jenazah istrinya saja belum tentu


benar dan sekarang sudah berani mau menikahi Mery, apa itu pantas?."


Wulan bicara dengan lantang sambil


menunjuk David, Oma kaget.


"Itu tidak mungkin, David sangat mencintai


Joy dan tidak mungkin untuknya semudah itu melupakan istrinya, jelaskan David!." Oma duduk di sebelah besannya.


Wulan masih marah, dia malas berdebat dan memberikan pandangan jengah pada menantunya.


"Ibu .., aku sangat mencintai putri ibu dan selamanya pasti mencintainya, aku tidak berniat sedikitpun untuk menikahi Mery, tadi perkataan itu keluar begitu saja, karena aku kesal dengan Roy, aku tidak mau jika Roy


dekat dengan Mery, aku menganggap Mery seperti adikku sendiri dan tidak mungkin untukku menjadikannya istri."


Jelas David sambil memegang kepalanya


yang terasa pening.


"Dengarkan? David tidak akan mengambil putrimu, jangan terbawa emosi." Oma menenangkan besannya.


"Aku akan pegang kata-katamu, aku masih marah tentang kepergian joyyana, aku masih tidak terima Joy pergi saat dia bersamamu." Kecam Wulan pada menantunya, kemudian meninggalkan ruang kerja David.


Kepergian Wulan menyisakan Oma dan David berdua, perbincangan mereka tertunda dan sekarang malas untuk meneruskan.


"Sudah jangan dipikirkan, aku yakin kita pasti bisa melewati semua masalah ini." Menepuk pundak cucu kesayangannya lalu ikut keluar mengikuti sang besan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di kantor


Pagi ini Oma pergi ke Kantor untuk meninjau keadaan perusahaannya, sudah dua minggu wanita tua itu menelantarkan perusahaannya dengan menyuruh Andreas untuk menangani masalah Kantor.


Di ruangan David, Oma memeriksa berkas.


Tanpa Oma sadari ada seorang pria masuk


ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu.


"Nenekku tersayang bagaimana kabarmu?." Sapaan pria itu membuat Oma mengangkat kepalanya.


Oma meletakkan pena yang di pegang nya


dan menatap intens pada pria yang menyapanya.


"Untuk apa kau kemari, aku bukan nenekmu." Ketus Oma pada tamu yang tak diundang itu.


"Oh rupanya masih kurang aku memberikan pelajaran pada kalian. Masih sombong sekali, hahaha .. ." tawa pria itu sambil berjalan mendekati meja Oma.


"Kenapa aku tidak boleh sombong, aku mampu." Bantah Oma enteng.


"Nenekku tersayang kenapa kau tidak pernah menerima keberadaanku, padahal jika kau mengemis sedikit padaku, aku akan menghentikan pertikaian ini." Tomy duduk


di meja kekuasaan David.


"Selamanya aku tidak akan pernah mengakui atau meminta belas kasihmu, kau hanyalah anak haram yang keluar dari rahim wanita


tidak tahu diuntung."


Brakk ..


Tomy menggebrak meja, tidak terima dengan perkataan Oma.


Hahaha..


Tawa Oma melihat Tomy marah.


"Kalian akan menerima balasan telah


menghina ibuku." Tomy berbicara sambil melotot pada Oma.


"Balasan apa, ibumu itu sudah diperkosa dan diselamatkan oleh ayahnya David, tapi ibumu tak tahu berterima kasih malah menjebak ayahnya David untuk menikahinya, aku yang melarang putraku untuk menikahi ibumu, karena ibumu adalah wanita tidak tahu diri." Oma menjelaskan.


"Semua itu bohong." Teriak Tomy semakin


tidak terima.


"Putraku dan menantuku melarangku untuk menjebloskan ibumu kedalam penjara


karena mereka masih punya belas kasihan padamu, mereka tidak mau jika kau lahir di dalam penjara dan sekarang kebaikan


mereka kau balas dengan menghancurkan keluarga kami, kau sama dengan ibumu


yang tidak tau diri." Oma membantah dengan lantang.


Tomy bingung mana yang harus dia percayai, cerita yang dia tahu hanyalah bahwa


keluarga Alexander lah yang selalu memberikan penderitaan padanya, tapi sekarang fakta lain yang bertolak belakang.


"Kalau tau begini sejak dulu aku akan membunuhmu, agar tidak bisa


menghancurkan keluargaku seperti ini."


Mendengar kata Oma yang terakhir membuat Tomy tersulut emosi, Oma mengarahkan


pucuk pistol kedepan wajah Oma.


"Sebelum kau berniat membunuhku aku


akan membunuhmu."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


up dikit oyoyoyoyyyyyy... jejaknya mana


sayangkuuu ๐Ÿ˜˜