Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Situasi di Kantor


Usai makan siang David dan Roy kembali


ke Kantor , hendak menyelesaikan


pekerjaan di kantor pusat , agar jika


ditinggal untuk meninjau kantor cabang


urusan disini tidak terbengkalai .


Mereka berdua kembali ke Kantor bersama


dengan menggunakan satu mobil milik


David dan Roy yang mengemudi .


Sebenarnya di Kantor juga disediakan


Kantin untuk makan siang karyawan , jika


David mau dia juga bisa makan siang


di sana , karena kualitas makanan nya


sudah di jamin dan di masak oleh koki


handal .


Tidak perlu ragu untuk rasanya , meskipun


sekedar kantin tapi rasa di jamin tidak


kalah jauh dengan hotel bintang lima .


David ingin memberikan yang terbaik untuk


para karyawan yang sudah ikut membantu


membangun perusahaan bisa menjadi


sebesar ini sekarang .


Mobil yang David tumpangi bersama


dengan Roy tiba di depan kantor , seorang


satpam mengambil alih untuk membantu


memakirkannya .


Dia berjalan memasuki loby dengan Roy


di sampingnya ," kau nanti ikut ke ruangan


ku saja , bantu aku memeriksa dokumen


yang masih menumpuk di mejaku ."


David berbicara pada sahabatnya tanpa


menoleh dengan tatapan lurus kedepan ,


Roy mengeluh meskipun semua itu


percuma , dia tahu bagaimana sahabatnya


ini kalau sudah serius tidah terbantahkan .


" Tidak bisakah aku kerjakan di tempatku


sendiri saja ." mengikuti langkah lebar David .


" Tidak , aku tidak mau urusan kantor


nantinya membuatku lembur ." masuk


kedalam lift .


" Ok , ok bos ,, aku akan menuruti apa


yang anda perintahkan ." memasang


wajah jengah , mulut bisa berucap tapi


hati nya meronta ingin menolak .


" Dasar David , kalau sudah begini aku


bisa apa ." melihat jam tangannya .


Kedua petinggi Kantor itu pun keluar


bergantian dari dalam lift , berjalan


beriringan menuju ruangan Direktur .


Seorang sekretaris perempuan seketika


berdiri , melihat dari kejauhan kedua


atasannya berjalan mendekat .


" Selamat siang pak , saya sudah


kumpulkan semua dokumen yang bapak


minta tadi sebelum bapak pulang untuk


makan siang , " tak berani menatap , hanya


menunduk .


" Thank you Isabel , tolong buatkan dua


cangkir kopi untuk kami berdua ." berkata


sebelum masuk kedalam ruangannya .


" Baik pak ."


Roy yang berada di belakang David


berhenti tepat di depan Isabella , seorang


gadis yang menjabat sebagai sekretaris


David , Roy bersuara dengan nada pelan


seraya seorang pria yang menggoda


wanitanya .


" Kau tahu kan seleraku , kopi buatan mu


tiada duanya cantik ." berbisik dengan


mengedipkan sebelah matanya .


Roy mengikuti David , meninggalkan


Isabella yang jantungnya kini berdetak


kencang akibat ulah Roy yang


mendekatkan wajahnya seraya hendak


mencium pipi putih Isabella .


" Pak Roy selalu saja menggodaku ,


jangan - jangan dia memang begitu


kesemua cewek , ah sudahlah mikir apa


aku ini , mungkin dia lagi kehabisan obat ,


aku tidak boleh baper tidak mungkin lah


pak Roy suka padaku ." mengomel dalam hati .


Roy memang sering menggoda Isabella


karena mereka sering di pertemukan


dalam setiap rapat , jikalau ada rapat yang


tidak terlalu penting , David sering


menugaskan Roy bersama dengan Isabella,


Karena mereka berdua adalah dua orang


kepercayaan David .


Kini David dan Roy sedang bertarung fokus


dengan tumpukan dokumen yang sempat


tidak tersentuh oleh tangan David karena


aksinya yang takut kehilangan sang


pujaan hatinya hingga membuatnya lupa


akan kewajiban nya sebagai Direktur


di perusahaan nya .


" Dokumen sebanyak ini kapan selesainya


aku harus meminta bantuan seseorang


lagi ." berfikir siapa orang yang tepat untuk


di mintai bantuan .


Pintu terbuka dengan suara ketukan ,


" permisi pak , saya mau mengantarkan


kopi yang tadi pak David minta . "


mendekati meja Direktur untuk menaruh


kopi .


Roy melirik Isabella dan muncullah ide


untuk mengajak perempuan manis itu


agar ikut membantu pekerjaannya .


" David apakah kau tidak berniat menambah


formasi di tim kita , kalau kita cuma


berdua kapan bisa selesai , kalau kau


suka lembur tidak apa-apa sih ." menutup


satu dokumen berwarna biru dengan


tatapan yang tak lepas dari wajah manis


Isabella .


" Hem, maksud mu ?." menatap orang yang


ada didepan nya.


Roy yang mendapat tatapan dari David


pun menjawab dengan isyarat sorotan


dari bola matanya yang mengarah ke


wanita manis dengan rambut terurai ,


meskipun memakai kaca mata masih


tidak menutupi kecantikan nya .


Roy mengajak sekertaris nya itu , dia


tidak mau berdebat karena sejatinya


temannya yang satu ini memang dari


dulu suka merayu Isabella , bisa dikatakan


jika Roy seorang playboy .


" Terserah kau lah , yang aku mau hanyalah


semua dokumen ini cepat selesai ."


" Oh jelas , dijamin kau akan pulang


sebelum pukul enam malam , bukankah


begitu Isabel ?."


Isabella yang beranjak akan pergi


merasa bingung karena dia yang tidak


tahu menahu malah diikutkan dalam


perbincangan .


" Maaf pak Roy , kenapa tanya ke saya ."


Seketika Roy menarik pergelangan tangan


Isabella agar dia bisa duduk di


sampingnya , " Terus aku harus tanya


kepada siapa lagi , karena kamu juga


ikut membantu mengerjakan kami


disini , iya kan David ?."


" Hemm."


Isabella masih tidak mengerti , karena


dia tidak menerima tugas dari atasannya


itu secara langsung .


" Tapi pak ,, pekerjaan saya masih


menumpuk , " hendak berdiri tapi dicegah


oleh Roy .


" Pekerjaanmu masih bisa di pending


dulu , yang disini ini yang perlu di utamakan


karena harus diselesaikan malam ini juga."


Isabella bimbang dengan keputusan nya


menunggu arahan dari sang atasan


yang dari tadi tidak kunjung angkat bicara ,


dan dengan terpaksa Isabella


memberanikan diri untuk bertanya .


" Maaf pak David sebelumnya, apakah


saya harus membantu disini apa


melanjutkan tugas saya ."


David diam tanpa ingin berdebat , dia


ingin memfokuskan fikirannya pada


pekerjaan , pertanyaan yang terlontar dari


bibir sekertaris nya itu hanya di jawab


dengan suara " hemm." tanpa membuka


mulutnya sedikit pun.


" Lihat , kau dengarkan tadi bosmu bilang


apa , kalau dia sudah berdehem itu


tandanya dia setuju , sudah jangan


mengajak berdebat lagi , kapan kita


menyelesaikan nya ."


" Apa - apaan pak Roy ini , jelas - jelas jika


pak David tidak mengucapkan satu kata


pun , mana bisa satu deheman dibilang


ucapan , dasar pak Roy ,, bilang saja kalau


ingin aku tetap disini ."


Dengan terpaksa Isabella menuruti apa


yang Roy perintahkan , meskipun dia


belum menerima perintah langsung


dari atasannya itu yang mengharuskannya untuk ikut andil dalam memeriksa


dokumen yang seyogyanya adalah


tugas sang Direktur .


Semua orang hening , memfokuskan


pada pekerjaan mereka masing-masing ,


membaca kata demi kata dalam setiap


kertas putih agar tahu jika ada sesuatu


yang tidak beres .


" Isabel ,"


Panggilan Roy memecahkan keheningan ,


" iya pak ." jawaban spontan Isabella yang


menyembunyikan rasa kagetnya .


" Selama aku pergi , apa kau merindukan


keberadaan ku ." mengambil kopi yang


di suguhkan untuknya .


Isabella salah tingkah , tak tahu harus


menjawab apa , jikalau dia cuma berdua


dengan Roy pastilah dia berani menjawab ,


tapi kali ini yang ada didepannya adalah


bos besar yang tak lain atasannya ,jika


salah bicara dia takut mendapat teguran .


Akhirnya dia memutuskan untuk pura- pura


tidak mendengar , menurut nya itu adalah


jalan pintas terbaik agar bisa terselamatkan


dari situasi yang mencekam saat ini .


" Isabel , apa kau tidak mendengar


pertanyaanku ? apa kau tak mampu


menjawabnya jika ada seseorang disini ,


ok aku mengerti , sekarang kau takut kan


dengan bosmu itu , anggaplah dia


tidak ada jadi kau bisa menjawab dengan


isi hatimu ."


Pertanyaan Roy membuyarkan konsentrasi


Isabella , ingin rasanya dia memukul


orang yang di sebelahnya ini , yang


sedari tadi berbicara ngelantur tidak tahu


keadaan , tapi apalah daya dia sekarang


berada bersama dengan atasannya .


" Aku mengerti sekarang, rupanya kau


tidak suka kata - kata , melainkan langsung


pada tindakan ." Roy menggeser kursinya


lebih mendekati Isabella .


David yang dari tadi cuma diam , tak


tahan dengan ocehan temannya itu ,


" Roy tahanlah nafsumu sebentar saja ,


kau boleh luapkan nanti setelah pekerjaan


ini selesai , sekarang kalian berdua


jangan mengeluarkan kalimat tak berguna


itu lagi , fokuskan pada pekerjaan ,


MENGERTI ??."


" Nafsu ? apanya yang di luapkan , aku


sama pak Roy saja tidak ada hubungan


kenapa pak David bisa bilang begitu ,


apa pak David mengira kalau ini teman


kencannya pak Roy ."


Isabella kaget dengan kata yang terucap


dari mulut bosnya itu , tapi lain dengan


Roy , dia sudah terbiasa dengan setiap


perkataan dari temannya yang sekaligus


rekan kerjanya .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ