
Usai makan siang David dan Roy kembali
ke Kantor , hendak menyelesaikan
pekerjaan di kantor pusat , agar jika
ditinggal untuk meninjau kantor cabang
urusan disini tidak terbengkalai .
Mereka berdua kembali ke Kantor bersama
dengan menggunakan satu mobil milik
David dan Roy yang mengemudi .
Sebenarnya di Kantor juga disediakan
Kantin untuk makan siang karyawan , jika
David mau dia juga bisa makan siang
di sana , karena kualitas makanan nya
sudah di jamin dan di masak oleh koki
handal .
Tidak perlu ragu untuk rasanya , meskipun
sekedar kantin tapi rasa di jamin tidak
kalah jauh dengan hotel bintang lima .
David ingin memberikan yang terbaik untuk
para karyawan yang sudah ikut membantu
membangun perusahaan bisa menjadi
sebesar ini sekarang .
Mobil yang David tumpangi bersama
dengan Roy tiba di depan kantor , seorang
satpam mengambil alih untuk membantu
memakirkannya .
Dia berjalan memasuki loby dengan Roy
di sampingnya ," kau nanti ikut ke ruangan
ku saja , bantu aku memeriksa dokumen
yang masih menumpuk di mejaku ."
David berbicara pada sahabatnya tanpa
menoleh dengan tatapan lurus kedepan ,
Roy mengeluh meskipun semua itu
percuma , dia tahu bagaimana sahabatnya
ini kalau sudah serius tidah terbantahkan .
" Tidak bisakah aku kerjakan di tempatku
sendiri saja ." mengikuti langkah lebar David .
" Tidak , aku tidak mau urusan kantor
nantinya membuatku lembur ." masuk
kedalam lift .
" Ok , ok bos ,, aku akan menuruti apa
yang anda perintahkan ." memasang
wajah jengah , mulut bisa berucap tapi
hati nya meronta ingin menolak .
" Dasar David , kalau sudah begini aku
bisa apa ." melihat jam tangannya .
Kedua petinggi Kantor itu pun keluar
bergantian dari dalam lift , berjalan
beriringan menuju ruangan Direktur .
Seorang sekretaris perempuan seketika
berdiri , melihat dari kejauhan kedua
atasannya berjalan mendekat .
" Selamat siang pak , saya sudah
kumpulkan semua dokumen yang bapak
minta tadi sebelum bapak pulang untuk
makan siang , " tak berani menatap , hanya
menunduk .
" Thank you Isabel , tolong buatkan dua
cangkir kopi untuk kami berdua ." berkata
sebelum masuk kedalam ruangannya .
" Baik pak ."
Roy yang berada di belakang David
berhenti tepat di depan Isabella , seorang
gadis yang menjabat sebagai sekretaris
David , Roy bersuara dengan nada pelan
seraya seorang pria yang menggoda
wanitanya .
" Kau tahu kan seleraku , kopi buatan mu
tiada duanya cantik ." berbisik dengan
mengedipkan sebelah matanya .
Roy mengikuti David , meninggalkan
Isabella yang jantungnya kini berdetak
kencang akibat ulah Roy yang
mendekatkan wajahnya seraya hendak
mencium pipi putih Isabella .
" Pak Roy selalu saja menggodaku ,
jangan - jangan dia memang begitu
kesemua cewek , ah sudahlah mikir apa
aku ini , mungkin dia lagi kehabisan obat ,
aku tidak boleh baper tidak mungkin lah
pak Roy suka padaku ." mengomel dalam hati .
Roy memang sering menggoda Isabella
karena mereka sering di pertemukan
dalam setiap rapat , jikalau ada rapat yang
tidak terlalu penting , David sering
menugaskan Roy bersama dengan Isabella,
Karena mereka berdua adalah dua orang
kepercayaan David .
Kini David dan Roy sedang bertarung fokus
dengan tumpukan dokumen yang sempat
tidak tersentuh oleh tangan David karena
aksinya yang takut kehilangan sang
pujaan hatinya hingga membuatnya lupa
akan kewajiban nya sebagai Direktur
di perusahaan nya .
" Dokumen sebanyak ini kapan selesainya
aku harus meminta bantuan seseorang
lagi ." berfikir siapa orang yang tepat untuk
di mintai bantuan .
Pintu terbuka dengan suara ketukan ,
" permisi pak , saya mau mengantarkan
kopi yang tadi pak David minta . "
mendekati meja Direktur untuk menaruh
kopi .
Roy melirik Isabella dan muncullah ide
untuk mengajak perempuan manis itu
agar ikut membantu pekerjaannya .
" David apakah kau tidak berniat menambah
formasi di tim kita , kalau kita cuma
berdua kapan bisa selesai , kalau kau
suka lembur tidak apa-apa sih ." menutup
satu dokumen berwarna biru dengan
tatapan yang tak lepas dari wajah manis
Isabella .
" Hem, maksud mu ?." menatap orang yang
ada didepan nya.
Roy yang mendapat tatapan dari David
pun menjawab dengan isyarat sorotan
dari bola matanya yang mengarah ke
wanita manis dengan rambut terurai ,
meskipun memakai kaca mata masih
tidak menutupi kecantikan nya .
Roy mengajak sekertaris nya itu , dia
tidak mau berdebat karena sejatinya
temannya yang satu ini memang dari
dulu suka merayu Isabella , bisa dikatakan
jika Roy seorang playboy .
" Terserah kau lah , yang aku mau hanyalah
semua dokumen ini cepat selesai ."
" Oh jelas , dijamin kau akan pulang
sebelum pukul enam malam , bukankah
begitu Isabel ?."
Isabella yang beranjak akan pergi
merasa bingung karena dia yang tidak
tahu menahu malah diikutkan dalam
perbincangan .
" Maaf pak Roy , kenapa tanya ke saya ."
Seketika Roy menarik pergelangan tangan
Isabella agar dia bisa duduk di
sampingnya , " Terus aku harus tanya
kepada siapa lagi , karena kamu juga
ikut membantu mengerjakan kami
disini , iya kan David ?."
" Hemm."
Isabella masih tidak mengerti , karena
dia tidak menerima tugas dari atasannya
itu secara langsung .
" Tapi pak ,, pekerjaan saya masih
menumpuk , " hendak berdiri tapi dicegah
oleh Roy .
" Pekerjaanmu masih bisa di pending
dulu , yang disini ini yang perlu di utamakan
karena harus diselesaikan malam ini juga."
Isabella bimbang dengan keputusan nya
menunggu arahan dari sang atasan
yang dari tadi tidak kunjung angkat bicara ,
dan dengan terpaksa Isabella
memberanikan diri untuk bertanya .
" Maaf pak David sebelumnya, apakah
saya harus membantu disini apa
melanjutkan tugas saya ."
David diam tanpa ingin berdebat , dia
ingin memfokuskan fikirannya pada
pekerjaan , pertanyaan yang terlontar dari
bibir sekertaris nya itu hanya di jawab
dengan suara " hemm." tanpa membuka
mulutnya sedikit pun.
" Lihat , kau dengarkan tadi bosmu bilang
apa , kalau dia sudah berdehem itu
tandanya dia setuju , sudah jangan
mengajak berdebat lagi , kapan kita
menyelesaikan nya ."
" Apa - apaan pak Roy ini , jelas - jelas jika
pak David tidak mengucapkan satu kata
pun , mana bisa satu deheman dibilang
ucapan , dasar pak Roy ,, bilang saja kalau
ingin aku tetap disini ."
Dengan terpaksa Isabella menuruti apa
yang Roy perintahkan , meskipun dia
belum menerima perintah langsung
dari atasannya itu yang mengharuskannya untuk ikut andil dalam memeriksa
dokumen yang seyogyanya adalah
tugas sang Direktur .
Semua orang hening , memfokuskan
pada pekerjaan mereka masing-masing ,
membaca kata demi kata dalam setiap
kertas putih agar tahu jika ada sesuatu
yang tidak beres .
" Isabel ,"
Panggilan Roy memecahkan keheningan ,
" iya pak ." jawaban spontan Isabella yang
menyembunyikan rasa kagetnya .
" Selama aku pergi , apa kau merindukan
keberadaan ku ." mengambil kopi yang
di suguhkan untuknya .
Isabella salah tingkah , tak tahu harus
menjawab apa , jikalau dia cuma berdua
dengan Roy pastilah dia berani menjawab ,
tapi kali ini yang ada didepannya adalah
bos besar yang tak lain atasannya ,jika
salah bicara dia takut mendapat teguran .
Akhirnya dia memutuskan untuk pura- pura
tidak mendengar , menurut nya itu adalah
jalan pintas terbaik agar bisa terselamatkan
dari situasi yang mencekam saat ini .
" Isabel , apa kau tidak mendengar
pertanyaanku ? apa kau tak mampu
menjawabnya jika ada seseorang disini ,
ok aku mengerti , sekarang kau takut kan
dengan bosmu itu , anggaplah dia
tidak ada jadi kau bisa menjawab dengan
isi hatimu ."
Pertanyaan Roy membuyarkan konsentrasi
Isabella , ingin rasanya dia memukul
orang yang di sebelahnya ini , yang
sedari tadi berbicara ngelantur tidak tahu
keadaan , tapi apalah daya dia sekarang
berada bersama dengan atasannya .
" Aku mengerti sekarang, rupanya kau
tidak suka kata - kata , melainkan langsung
pada tindakan ." Roy menggeser kursinya
lebih mendekati Isabella .
David yang dari tadi cuma diam , tak
tahan dengan ocehan temannya itu ,
" Roy tahanlah nafsumu sebentar saja ,
kau boleh luapkan nanti setelah pekerjaan
ini selesai , sekarang kalian berdua
jangan mengeluarkan kalimat tak berguna
itu lagi , fokuskan pada pekerjaan ,
MENGERTI ??."
" Nafsu ? apanya yang di luapkan , aku
sama pak Roy saja tidak ada hubungan
kenapa pak David bisa bilang begitu ,
apa pak David mengira kalau ini teman
kencannya pak Roy ."
Isabella kaget dengan kata yang terucap
dari mulut bosnya itu , tapi lain dengan
Roy , dia sudah terbiasa dengan setiap
perkataan dari temannya yang sekaligus
rekan kerjanya .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ