Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Oh tuhan ..


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Berjalan mendekati tempat tidurnya


Mery naik keatas ranjang , lalu diraih


selimut untuk menutupi kakinya yang


ditekuk .


Bersandar di kepala ranjang Mery meratapi


hidupnya , " cobaan apalagi ini , dikala


hatiku tertutup ada saja orang yang


berusaha untuk membukanya , tapi kenapa


saat hatiku yang sudah terbuka malah


ditinggal pergi ."


Matanya melihat layar televisi yang masih


menyala , menampakkan tayangan drama


yang tadi dia tonton sebelum Roy masuk


kesana .


Mery melamun , matanya melihat tapi


hatinya lari tak berada pada raga .


Diluar Mery nampak tegar , tapi didalam


hatinya teriris saat mendapati seseorang


yang mengisi hatinya itu bersama wanita


lain , apalagi yang lebih parahnya dia mendengar jika mereka malah sudah merencanakan untuk menikah .


Bak diguyur air garam pada luka yang


masih menganga , Mery meremas


selimut .


" Aku pasti kuat menjalani cobaan yang


kau berikan tuhan , aku yakin ini pasti


awal dari kebahagiaan ."


Bibirnya tersenyum tapi manik matanya


mengeluarkan butiran kesedihan , Mery


berusaha memantapkan hatinya .


Dulu semua itu pernah terjadi , saat hatinya terisi oleh nama Bimo , lelaki itu malah


meninggalkan nya jauh sendiri , meskipun kepergiannya adalah untuk menggapai


cita - cita , tapi Mery sangat terluka .


Sekarang Bimo sudah kembali , mencari


sosok gadis yang sudah di tinggalkannya ,


Bisakah perasaan yang sudah hilang


kembali lagi untuk memupuk kerinduan


pihak yang diliputi perasaan bersalah ,


yang telah meninggalkan orang yang


terkasih .


Entah itu disebut dengan sebuah pelarian


atau malah sebuah cinta yang sudah


lama dan akan bersemi kembali diatas


hati yang terluka .


Mery memejamkan matanya ,


membayangkan wajah Bimo dulu saat


saat mereka berdua masih diliputi rasa


suka , saat masih satu sekolah .


Berusaha untuk membuang perkara yang


membuat lukanya semakin menganga ,


melainkan mengolah suatu hal yang lama


agar bisa menumbuhkan kembali sebuah perasaan cinta .


Direbahkan nya raga yang sedang mengambang akan rasa yang hambar ,


luka dan kebimbangan , Mery ingin


melepaskan segala nya .


Mery bergelut dengan hati dan pikirannya ,


memutarkan beberapa cuplikan yang


bisa membuatnya emosi dan senang


bergemuruh menjadi satu , sampai dia


terhanyut ke alam mimpi , membawa


perkara yang memporak-porandakan


hatinya .


" Aku akan mengikuti permainanmu tuhan ."


Mery memejamkan mata , bergelut akan


pikirannya dia sampai terlelap .


🌷🌷🌷🌷🌷


Pukul 22.00 , Oma sampai di Rumah ,


melangkahkan kakinya masuk dengan


pelan .


Kaki renta itu tak kuat berjalan cepat seperti


layaknya anak muda , hanya mampu


melangkah dengan kesabaran yang mewakili rasa lelah di hati dan raganya , ingin segera melepas lelah yang dialaminya seharian ini , Oma malas tuk berbicara .


Kedatangannya disambut oleh seorang


kepala pembantu , berdiri dengan


menunduk ingin memberikan informasi


apapun yang terdetail di Rumah ini saat


dirinya keluar .


" Selamat malam nyonya , makan malam


sudah siap , apa nyonya ingin makan


sekarang ?." pembantu itu berbicara masih dengan menunduk .


Oma mengangkat satu tangannya untuk


memberikan isyarat " tidak usah " kepala pembantu itu mengangguk mengerti .


" Tuan Roy pulang kesini nyonya , sekarang


ada di kamarnya ." imbuh kepala pembantu


memberikan informasi dengan menunjuk


pintu kamar Roy .


" Suruh dia ke ruang kerja David sekarang , katakan padanya jika aku menunggunya ."


Oma berjalan meninggalkan pembantu


yang masih mengikutinya , " baik nyonya


akan saya laksanakan ." menunggu sang


majikan menjauh , sebelum dirinya


melaksanakan perintah yang diberikan


untuk nya .


Berdiri didepan pintu , Oma memerintahkan


pengawalnya untuk tetap di luar ,


memegang handle pintu Oma masuk


kedalam ruang kerja cucunya .


Dulunya Ruangan itu adalah milik


almarhum suaminya yang tak lain adalah


kakeknya David , setelah meninggal dunia


Ruangan itu menjadi milik putranya


sekarang beralih ke tangan sang cucu


satu - satunya .


Oma masuk sendirian , kakinya melangkah


menuju meja kerja David , sebuah meja


terbuat dari kayu jati asli dengan tumpukan


buku diatasnya .


Oma mendudukkan dirinya dengan pelan sambil melihat sekeliling ruangan ,


mengenang saat dirinya dulu sering


menemani suaminya saat lembur di rumah .


Sorot matanya terhenti saat melihat foto


besar terpampang di dinding .


Sebuah foto berukuran satu meter ,


memperlihatkan seorang pria berusia


kepala empat dengan di sampingnya


seorang anak kecil laki - laki sedang


memegang bola ditangannya .


" Persis seperti ayahnya ." gumamnya


sambil tersenyum .


Air mata perempuan tua itu menetes ,


melihat foto almarhum suaminya bersama


dengan putra mereka , kemungkinan foto


itu diambil ketika mereka baru selesai


bermain sepak bola bersama .


" Kalian tega meninggalkanku , aku tidak


terima semua ini , aku pasti memberikan


pelajaran pada orang yang merampas


kalian dariku ." mengusap sisa air mata


di pipi , Oma berusaha tegar .


Ratih adalah seorang wanita yang ditinggal


meninggal oleh suaminya , saat usia


pernikahan mereka menginjak 15 tahun ,


suaminya meninggal akibat kecelakaan


yang tidak wajar .


Mobil yang di kendarai suaminya masuk


kedalam jurang saat perjalanan pulang


masih tinggal di Inggris .


Suaminya meninggalkan seorang putra


buah cinta dari pernikahan mereka ,


Devaan Alexander adalah putra satu satunya


Ratih , Devan di didik Ratih menjadi anak


yang mandiri dan tegar karena dirinya harus kehilangan sosok ayah saat usianya masih terlalu remaja .


Kejadian naas suami Ratih berlanjut pada


putranya , hal yang sama terjadi yaitu


sebuah kecelakaan merenggut nyawa


sepasang suami istri yang meninggalkan


putra mereka .


Karena seorang ibu berhasil melempar


anak laki-lakinya keluar dari jendela mobil


saat sebuah truk melaju sangat kencang


dari kejauhan menuju kearah mobil


mereka , seperti sebuah tabrakan yang di sengaja .


Setelah kejadian itu , Ratih mengajak


cucunya untuk pindah ke Indonesia , dia


tak mau kejadian yang menimpa


orang - orang yang di sayanginya terulang .


Ratih tau jika kecelakaan yang menimpa


suami , putra serta menantunya itu adalah


ulah tangan dari orang yang membenci


keluarga mereka .


Orang yang tak suka dan ingin


menjatuhkan , bahkan merebut kekayaan


milik keluarga Alexander .


Tapi Ratih hanya diam , karena saat itu


dia hanya ingin melindungi sisa


keturunannya dan menjauh dari tangan


kotor orang yang bisanya hanya main


di belakang .


Saat itu di fikirannya hanyalah bagaimana


caranya dia mengajak cucunya itu untuk


pergi sejauh- jauhnya , meninggalkan


kenangan pahit dan memulai hidup yang


baru , walau bagaimanapun kenangan itu


tidak mungkin akan bisa hilang .


Tapi Ratih akan berusaha agar cucunya


keluar dari Rana bahaya yang sewaktu


waktu pasti akan mengintai nya juga .


###


Tok , tok , tokkkk,,,


" Oma ,,, ini aku Roy , boleh aku masuk ?."


Suara ketukan membuyarkan lamunan


Oma , suara itu berhenti bergantian dengan


suara Roy yang sekarang sedang berdiri


menunggu jawaban dari orang yang berada


di dalam .


" Masuklah ." melihat pintu yang terbuka .


" Duduklah , ada hal penting yang ingin aku


bicarakan dengan mu ."


Roy cepat menuju kursi yang ada di depan


meja kerja David , tak berani melihat sorot


mata Oma yang tadi sempat di lihatnya tadi saat dirinya masuk , sorot mata yang


sangat tajam siap akan menusuk seseorang yang menatapnya .


Roy menunduk , tak berani membuka


pembicaraan sebelum Oma yang terlebih


dahulu mengajaknya bicara .


" Kau dari tadi kemana ?."


Sebuah kalimat yang halus tapi berasa bentakan yang keras jika Oma yang mengucapkan nya .


" Apartemen Oma ." melihat sekilas


kemudian kembali menunduk .


Roy tahu jika kali ini Oma sedang marah ,


tak mungkin Oma mengajaknya bicara


empat mata jika tak ada pembicaraan serius .


" Kau bersantai di Apartemenmu ,


sedangkan kau sendiri tahu jika kakakmu bertarung nyawa di Rumah Sakit ." Roy mengangkat kepalanya kaget .


" Bertarung nyawa ?." menatap Oma , Roy


tidak mengerti .


" Apa harus aku yang menjelaskan , tanya


pada pengawal yang kau tugaskan untuk


menjaga cucuku ." teriak Oma emosi .


Roy meraup mukanya , dia tidak di beritahu


apapun oleh anak buahnya , mungkin


mereka takut jika Roy mengetahui hal yang


sebenarnya .


" Sungguh Oma , mereka tidak memberi tahukan apapun padaku , aku ke Apartemen


tadi hanya untuk mengantar bundaku dan


Tante Wulan saja , setelah itu aku kemari ."


" Aku kira aman - aman saja , mereka tidak


mengabari ku sama sekali ." Roy


menegakkan badannya .


Berusaha menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang nya .


" Tadi nyawa Joy hampir melayang , ada


seorang wanita masuk kedalam kamarnya


untung saja ada Anggi , aku tak tahu lagi


harus bicara apa pada David , jika terjadi


sesuatu pada istrinya ."


Roy mengambil sebuah ponsel miliknya


ingin menghubungi anak buahnya , untuk


mempertanyakan benar tidaknya apa


yang dikatakan Oma .


" Percuma kau hubungi mereka , sudah


aku usir dan ku gantikan dengan orang


kepercayaanku ."


Pernyataan Oma mengurungkan niatan


Roy , dia memasukkan kembali ponselnya


kedalam saku celana , membenarkan


duduknya untuk siap mendengar


penuturan Oma selanjutnya .


" Jadi bagaimana rencanamu , sudah kau


temukan siapa dalang dibalik obat


penggugur kandungan , pasti pelakunya


adalah orang yang sama ."


Roy mengangguk ," aku mengerti Oma ."


" Jangan mengerti - mengerti saja , cari


siapa pelakunya , dan satu lagi camkan


ini baik - baik , jangan sampai perkara


Joy kali ini terdengar oleh telinga David ."


bentak Oma sambil berdiri menghadap Roy .


" Aku tidak mau jika kefokusan David


di ganggu dengan persoalan di sini ."


menggebrak meja kemudian pergi dari


sana meninggalkan Roy sendiri .


" Aku harus mengambil cctv Rumah


Sakit segera ."


Roy segera menelfon pihak Rumah Sakit


untuk meminta rekaman cctv , tapi dia


dibuat kaget dengan apa yang didengarnya .


Ternyata rekaman cctv telah hilang pas


di menit ketika kejadian penyusupan


itu terjadi . Roy meraup mukanya kasar ,


dia tak habis pikir ternyata lawannya


kali ini adalah orang yang berpengalaman .


" Oh tuhan,,,, huhhhhh,,, apa ini , siapa


pelakunya , kenapa aku susah sekali


menangkap nya ."


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir


dan batin πŸ™ , mumpung masih suasana


lebaran , author minta maaf y lama


Ndak up 🀭😜😜😜😜


jangan lupa jejaknya y sayang 😘


next 😍