Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Awwww,,


Selepas Roy mengantarkan Rani , Wulan


dan Adinda ke Apartemennya , dia segera


pergi dari sana , dia berencana untuk pergi mencari Hotel mumpung waktunya belum begitu malam .


Dengan menaiki mobil Fortuner miliknya


Roy menyusuri jalanan kota Jakarta ,


sambil menyetir dia memikirkan di Hotel


mana dia nanti akan bermalam .


" Kenapa aku repot - repot mencari tempat


tinggal , di Rumah Oma kan ada kamarku ."


Roy memukul setir sambil tertawa .


Roy memutar balik arah mobil nya untuk


menuju Rumah Oma , yang tiba-tiba


di otaknya terbersit muncul pandangan


saat adegan Mery bermesraan di Restauran tadi siang .


" Sial , gadis itu sudah mulai


menggangguku lagi , sedang apa ya dia sekarang ?."


Menginjak pedal gas , Roy melajukan


mobilnya kencang agar cepat sampai


di tujuan .


" Pasti anak ini ada di Rumah , harus aku


beri pelajaran ." tersenyum memikirkan


ide , Roy semakin ngebut tak sabar ingin


cepat bertemu dengan Mery .


🌷🌷🌷🌷


Pukul 20 .30 ,,


Mery nonton TV di dalam kamar , memakai


kaos oblong warna hijau dengan setelan


celana jeans pendek selutut Mery duduk


selonjoran diatas kasur empuk yang


menjadi tempat tidurnya .


Dengan boneka katak di pangkuan Mery


meraup kenyamanan , memencet tombol


remot control berulang kali mencari


station TV yang asik untuk di tonton .


" Akhh,,, gak ada yang bagus , udah aku


scroll semua nya , kenapa membosankan


begini sihhh ,, ." desah Mery dengan kesal .


Bukan salah acara televisi nya yang tidak


bagus , tapi mood dari hatinya yang


sekarang tidak baik , membuat semua


yang di lakukan nya menjadi membosankan .


Keadaan rumah yang sepi membuat Mery


asing berada di sana , ingin pergi ke


Rumah Sakit namun sudah terlalu malam,


di benaknya " pasti nanti baru sampai


disana sudah di suruh Tante Wulan


pulang " berulang kali Mery berfikir .


Sebenarnya mery tidak sendirian disana ,


masih banyak pembantu dan penjaga


Rumah yang ikut menjadi teman


menghuni Rumah besar bak istana itu .


Tapi yang dia kenal hanya lah para majikan


yang sekarang tidak ada satu pun ada


di Rumah , Mery bagai tinggal di istana


yang tak berpenghuni .


Mery keluar dari kamar , mencari sesuatu


hal yang bisa membuang rasa bosannya ,


dia berjalan ke dapur untuk mencari


cemilan , untuk melampiaskan rasa


kesal atas kebosanan .


Mobil Roy masuk kedalam parkiran


Rumah , dengan berjalan melewati pintu belakang Roy masuk kedalam Rumah


melalui dapur .


Berjalan sedikit berlari Roy bersiul ,


dari arah belakang banyak para pembantu


yang masih gadis mengagumi Roy ,


tanpa Roy ketahui mereka sering


mencuci pandang saat Roy bertugas


disana .


Namun mereka tak berani menatap


jika ada di depan Roy , takut jika mendapat


kecaman apalagi yang lebih parah bahkan


pemecatan yang sepihak bisa Roy lakukan ,


karena Roy adalah orang kepercayaan


dari majikan utama .


Hanya rasa kagum yang terpendam yang


bisa mereka lakukan , karena memandang


wajah Roy yg tampan dengan tubuh


tinggi tegap serta kulit putih bersih yang


ikut melengkapi .


Semua itu menjadi penyemangat para


pembantu untuk menjalani tugas


demi tugas mereka .


Kembali pada Roy yang masuk kedalam


Dapur , disana dia di suguhkan dengan pemandangan seorang gadis yang


menjadi tujuan awalnya kemari , ternyata


dia sedang ada di Dapur .


Gadis itu sedang membuka pintu lemari pendingin , mengeluarkan beberapa


cemilan dan es krim dari sana .


" Kebiasaan kalau sudah pikirannya


kacau , pasti dilampiaskan dimakanan ."


Senyuman Roy terukir di bibirnya saat


pandangan nya tak lepas dari gerak - gerik


sang gadis .


" Hanya memakai baju biasa saja , kau


sudah bisa menggoda adik kecilku , Mery


kau memang spesial bagiku ."


Roy tak sadar dengan apa dia ucapkan


barusan didalam hatinya , karena yang


dia rasakan hanya sesuatu yang seakan


meronta akibat melihat lekuk tubuh Mery .


Padahal Mery hanya memakai kaos


longgar dan celana pendek , itu saja


sudah bisa mengundang gairah dari


pria yang sudah dewasa ini .


Memang Mery hanya memakai kaos


oblong , tapi sesuatu yang menonjol


di dadanya masih terlihat mont*k


meskipun memakai kaos longgar .


Roy bersembunyi di balik pintu yang


menghubungkan antara taman belakang


dan Dapur , dia masih setia mengintip


gadis yang tidak menyadari akan


kehadirannya .


Seorang pembantu lewat didepan Roy ,


dia hendak menyapa memberi hormat


pada Roy , tapi Roy sudah lebih dulu


meletakkan satu jarinya di depan bibir ,


sebuah isyarat untuk diam , agar Mery


tidak tahu jika dia ada disana .


Pembantu itu mengangguk , melanjutkan


pekerjaannya , tapi Roy memanggilnya


dengan gertikan jari , bicara pelan yang


nyaris tidak terdengar .


" Kau dekati dia , tanya apa yang dia


butuhkan ." Roy menunjuk arah Mery .


Pembantu itu mengangguk , tanda faham


atas kode bibir dari atasannya itu .


Segera mendekati Mery , pembantu itu


menawarkan bantuan , tapi Mery menolak .


Akhirnya pembantu itu hanya memberikan


sebuah wadah untuk tempat Mery


menaruh semua cemilan yang sudah


diambilnya .


Dengan senang hati Mery menerimanya ,


masukkan semua kedalam wadah


kemudian dia kembali masuk kedalam


kamar membawa semua cemilan .


" Astaga dia makan semuanya didalam


kamar , "


Roy tak percaya dengan apa yang dilihatnya .


Dia masuk kedalam rumah mengikuti


Mery dari belakang tanpa sepengetahuan


dari gadis itu .


Roy berhenti di depan kamar Mery ,


" aku masuk apa ,,,,." celetuk Roy


Akhirnya dia pergi dari sana ,


mengurungkan niatnya lalu menuju


kamarnya sendiri , dia hendak


membersihkan dirinya dulu sebelum berhadapan dengan gadis yang mau


diberinya pelajaran itu .


# Tiga puluh menit sudah berlalu ,,,


Roy sudah segar dan bersih , dia berdiri


didepan cermin , memandang wajahnya


sendiri dan sembari bergumam .


" Tidak buruk ." memegang dagunya


Roy menyombongkan diri .


Didalam kamar Mery masih duduk


didepan TV , tapi bedanya yang tadi


dia duduk diatas tempat tidur tapi


sekarang dia duduk diatas karpet yang


ada dibawah tempat tidurnya .


Dengan di temani cemilan , es krim dan


tisu Mery asik menonton drama roman


disana , tak terasa Mery ikut meneteskan


air mata karena ikut terbawa alur drama


yang di tonton nya .


Didepan kamar Mery Roy memegang


handle pintu ," pasti tidak di kunci ." Roy


mencoba membuka .


Ceklekkk,,,


Nilai seratus untuk Roy , karena


tebakannya benar , Mery tidak mengunci


kamarnya .


Roy Tersenyum .


Tanpa menunggu di beri aba - aba , Roy


segera masuk , melangkahkan kaki


kanannya , Roy melewati pintu .


Mery masih hanyut akan drama Korea


yang dia tonton , sampai tak menyadari


kedatangan Roy yang sudah masuk


kedalam kamarnya .


Selangkah demi selangkah Roy mendekati


Mery , " dasar rakus , tukang makan ."


gumam Roy dalam hati , melihat sisa


plastik bekas pembungkus eskrim dan


cemilan yang isinya sudah habis dimakan


oleh Mery .


Mery mengambil tisu , meletakkannya


di hidung kemudian mengeluarkan


semua yang ada di dalamnya , hasil dari


terlenanya dia dalam alur cerita drama


Korea yang dia tonton .


" Ihh,, jorok sekali ." kritik Roy dalam hati .


Tapi semua itu tak mengurungkan niat


Roy , lebih mendekat Roy duduk di


samping Mery .


" E, kodok ." kaget Mery mengumpat asal .


" Kodok , kodok , lihat dengan benar mana


ada kodok di sini ." Roy mengusap wajah


Mery dengan tangannya .


Mery kesal mendorong Roy ," kau itu


kodoknya , tanpa mengetuk pintu sudah


berani masuk ke kamarku ." Mery berdiri .


Roy mengikutinya , berdiri bersejajar


dengan berhadapan ," memangnya ini


rumah siapa aku harus ijin dulu padamu ."


menjewer telinga Mery .


Keusilan Roy semakin membuat Mery


kesal , sudah dari kemarin Roy memporak-porandakan hatinya , di


tambah lagi dengan sikapnya tadi siang


membuat Mery kesal .


Dan malah sekarang tiba - tiba Roy ada


di hadapannya , semakin membuat Mery


meluap - luap emosi, seakan ingin rasanya


saat ini juga Mery memukul dan memakan


Roy .


" Rumah suami kakakku , memang


kenapa?." Mery tak mau kalah dengan


mendongakkan kepalanya menghadap


wajah Roy yang berada lebih tinggi darinya .


" Hey jangan lupa Joy juga kakakku ingat


itu ." menunjuk kening Mery dengan jarinya .


Mery nyengir akibat tunjukkan jari Roy


yang membuat keningnya panas .


" Jadi kita imbang , sama - sama tidak


mempunyai hak milik akan rumah ini ,


jadi ingat satu hal aku tidak pernah masuk


ke kamar kak Roy , jadi itu pun berlaku


sebaliknya , jika kak Roy masih ingin


aku menghormatimu mengerti ?."


Mery menegaskan .


Di akhir kata - katanya Mery mendorong


Roy sampai terjatuh keatas tempat tidur,


tapi sebelum dia sampai jatuh , tangannya


sudah lebih dulu meraih kaos Mery ,


membuat mereka jatuh bersamaan


dengan posisi Mery yang ada di atas dan


Roy ada dibawah Mery .


" O ,, ini maksudmu ?, rupanya kau


mendorongku sengaja ingin menindihku ,


kenapa tidak bilang , tau gitu aku akan


dengan senang hati siaga dengan posisi


senyaman mungkin agar kita bisa


melakukannya dengan tanpa malu ."


Goda Roy saat melihat wajah Mery yang


ada di atasnya .


Mery semakin kesal , malas berdebat


dia segera beranjak bangkit , tapi tangan


Roy yang melingkar di pinggangnya


membuatnya kesulitan untuk berdiri .


" Lepasin !, selalu saja begini apa kak Roy


tak tahu malu , memutar balikkan fakta


padahal kak Roy sendiri yang masih


mengharapkan ku ."


Kata - kata Mery membuat Roy semakin mengeratkan pelukannya , dengan satu


tangannya yang lain malah ikut bergerilya


di punggung Mery .


" Lepaskan kak , kalau kak Roy masih tidak


mau melepaskan lututku yang akan


berbicara ."


Roy hanya tertawa , tak menggubris


semua yang Mery ucapkan .


" Aku sudah memberi peringatan , jangan


salahkan aku jika adik kecilmu meronta


kesakitan ." gumam Mery geram .


Sambil memandang wajah Roy yang masih


tertawa ,Mery mengarahkan lututnya


pada adik kecil Roy .


" Awwww,,, apa yang kau lakukan Mery ,


kau pasti menyesal sudah melakukannya." teriak Roy melepas lingkaran tangannya , beralih memegang adik kecilnya .


" Kan sudah kubilang dari tadi , kak Roy


sih bandel ." sewot Mery yang tak mau


di salahkan .


Mery segera bangkit menjauh dari Roy ,


sengaja mengambil jarak takut jika


Roy tak terima .


" Tapi bukan dia juga yang kau serang ,


jika terjadi apa - apa bagaimana apa kau


mau bertanggung jawab , ha,, ."


Roy berguling guling diatas kasur ,


merasakan nyeri yang tak bisa di


ungkapkan dengan kata-kata .


_


_


Lanjut gak,,, lanjut donkkkkk


tapi jejaknya duluuuu,,, masa dah


capek-capek nulis gada jejak n hadiahnya


πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Next 😍