
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Setelah mengikrarkan hubungannya
dengan Isabella , Roy hendak mengajak
Isabella untuk pergi dari sana , tak ingin
jika wanita itu mendengar hal yang tidak -
tidak dari orang yang ada didalam ruangan
sepupunya itu .
Hal yang paling di takuti adalah jika
Isabella sampai mendapat pertanyaan
yang konyol dari seorang nenek lampir ,
yang bisa membuat runyam semua
rencananya .
" Ayo Isabel kita pergi dari sini !."
menarik pelan pergelangan tangan
sekertaris David .
" Sebentar mas saya selesaikan tugas
saya dulu ." mencekal tangan Roy agar
berhenti .
" Tugas ?." Isabella mengangguk .
" Iya mas , pak David menyuruh saya
untuk membawakan makanan kesukaan
ibu joyyana setiap jam makan siang ."
Isabella menjinjing bungkusan yang
di bawanya untuk ditunjukkan pada Roy ,
membuktikan maksud dia datang kesana .
" Ya sudah berikan pada Joy cepat dan
kita pergi dari sini , aku menunggu di luar ."
meninggalkan ruangan , tanpa berkata lagi .
Semua orang terdiam , hanya menjadi
penonton dan pendengar setia dari
percakapan sepasang kekasih yang
baru saja mengakui hubungan mereka .
Entah itu hubungan yang sebenarnya
atau hubungan yang pura - pura , hanya
orang yang mengakuinya yang tahu .
" Astaga pengakuan mas Roy membuatku
gugup , gimana nih ,, mas Roy malah
meninggalkan ku sendiri , semoga
penilaian ibunya mas Roy baik padaku ."
Hati Isabella berdetak kencang , mengiringi
setiap kakinya melangkah .
Isabella mendekati istri dari atasannya
itu dengan penuh kesopanan , tak ingin
gegabah dalam bersikap , takut jika
nanti menimbulkan pandangan buruk
di depan calon mertuanya .
Dengan adanya pengakuan dari Roy tadi ,
Isabella sudah memantapkan hatinya
jika hubungan mereka pasti akan menuju
ke jenjang pernikahan .
Berpegang teguh dari mulut sang asisten
dari atasannya itu , Isabella membuka
hatinya untuk sang pria yang baru saja
mengatakan jika dia adalah calon istrinya .
Karena yang dia tahu jika pria itu sudah mendekati nya dari dulu , tapi Isabella
hanya menganggap sikap pria itu hanya gurauan .
Namun tanpa dia sangka jika pria itu
berani mengakui di depan ibunya ,
membuat keraguan di hati Isabel sirna .
" Ini Bu , sesuai perintah pak David , siang
ini saya diperintahkan untuk membawakan
ibu joyyana kurma ." menyerahkan sebuah
bingkisan pada istri atasannya .
" Terima kasih , silahkan duduk !, kau
tidak usah repot-repot ." menerima dan
menunjuk sofa untuk tempat Isabella
duduk , tapi Isabella memilih untuk
tetap berdiri .
" Saya tidak merasa direpotkan Bu , itu
memang sudah tugas saya ." tersenyum
pada semua orang yang ada di sana .
Anggi tak percaya dengan pengakuan
Roy yang barusan dia dengar , dia merasa
ada kejanggalan , ada sesuatu yang
sengaja di tutupi oleh Roy dan menjadikan
sosok wanita di depannya kini menjadi
penutup untuk sesuatu itu .
" Tidak mungkin Roy menjatuhkan
pilihannya pada wanita ini , jelas - jelas
saat di Surabaya aku melihat sorot
matanya mengatakan jika sangat
mencintai Mery , kenapa tiba disini
malah berbelok begini , aku tak percaya
aku harus membuktikan jika tebakan ku
ini benar adanya dan pengakuan Roy yang
salah ."
Tatapannya tak lepas dari wanita yang
akan dipersunting Roy .
" Apa ada yang ibu joyyana butuhkan ,
bisa ibu katakan pada saya ." Isabella
masih berdiri menunggu perintah selanjutnya .
" Tidak usah , terima kasih . Kau jangan
seformal itu , usia kita hampir sama tidak
perlu sesopan itu , anggap saja aku
temanmu ." Joy mengakrabkan diri .
" Duduklah dulu kita berbincang , kita kan
sebentar lagi menjadi keluarga , kenalkan
ini ibuku , beliau kakak dari ibundanya
Roy ." Joy menunjuk seorang wanita
paruh baya yang masih terlihat cantik
meskipun usianya hampir lima puluh tahun .
Wulan dan Isabella saling bersalaman ,
dilanjutkan berkenalan dengan Rani ,
Rani mengamati wanita yang akan
menjadi menantu nya ini .
Memuaskan matanya untuk memandang
wajah Isabella dari dekat ," ternyata
pilihan Roy cantik juga , ." bersalaman
cukup lama , enggan melepaskan .
" Ehemmmm..."
Deheman Anggi membuahkan gelak
tawa di ruangan Joy , Rani melepaskan
tautan jabatan tangannya .
" Gantian Tante , aku juga ingin berkenalan
dengan calon adik ipar ku ." ucap Anggi
menyodorkan tangannya .
Roy yang baru saja masuk , mendengar
pernyataan Anggi , merasa tak terima
jika menyebut Isabella sebagai calon
adik iparnya Anggi .
" Kenalan ya kenalan , tapi bukan calon
Nggi , usia ku saja masih di atas mu ."
sewot Roy tak terima .
" Biarin , terserah aku dong ,,,, kan aku
mandangnya dari Andreas , wekk.."
Anggi menjulurkan lidah .
Saat berjabat tangan Anggi tak mau
melepas kesempatan , dia ingin
melontarkan pertanyaan pada Isabella
mumpung ada orang dewasa disini .
" Perkenalkan aku Anggi teman joyyana ,
sudah kenal lama ya Isabella sama Roy ?." bersalaman sambil menatap mata Isabella .
" Lumayan , setahun yang lalu , saat saya
baru masuk di perusahaan pak David ."
jawab Isabella ramah .
" Sejak kapan jadian , pasti sering dicium
juga ya sama Roy , upsss,, keceplosan
maaf ." menutup mulut sambil meringis ,
mukanya menunjukkan wajah menyesal
tapi didalam hati Anggi ," mampus kau Roy ,"
Anggi sengaja melontarkan pertanyaan itu
ingin mengetahui bagaimana tanggapan
Isabella .
Isabella syok , mendapatkan pertanyaan
yang diberikan oleh wanita yang baru
saja di kenalnya , langsung keluar tanpa
menggunakan filter .
Roy getar getir dengan Anggi , segera
menghampiri Isabella ," sudah acara
perkenalkan nya , aku mau berkencan
dengan calon istriku , lepaskan Nggi !,
lama bersama denganmu bisa membuat
luntur kecantikannya ." melepas dengan
paksa .
" Jangan gila kau Roy , mana bisa
kecantikan luntur gegara bersalaman
denganku , yang ada kau takut jika aku
membongkar kedok mu ." muka jutek
Anggi muncul saat jengkel dengan
kata - kata Roy .
Roy hampir saja tidak bisa membendung
amarahnya , mendengar ocehan Anggi
yang semakin menyudutkan nya , tak mau
berlama lagi , segera mengajak pergi
Isabella dari sana .
" Kedok apa kau yang selalu
mengada -ada , sudah jangan dengarkan
dia , ayo kita pergi ."
Isabella tak bisa menolak ajakan Roy ,
tangannya yang sudah di cengkeram
kuat untuk menggandengnya keluar .
Selepas hilangnya Roy dari pandangan
Anggi merasa tak enak hati , " maaf Tante ,
Joy , aku cuma ingin mengetes Roy dan
calon istrinya ." meringis karena malu .
Joy sudah hafal dengan temannya yang
satu ini dia tak kaget , tak mau ambil
serius dia malah asik membuka
bingkisan yang dibawa oleh sekertaris David .
Rani yang dari tadi cuma bisa diam ,
sekarang ingin mendekati Joy , ingin
mengorek tentang bagaimana
kepribadian dari calon menantunya itu .
" Joy kau kenal dia ( Isabella ) ?."
mengangkat bahunya.
" Tidak begitu kenal sih , tapi aku tahu
jika dia itu gadis yang baik , Tante gak
suka ?." menikmati manisan kurma yang
dibawa oleh Isabella .
" Bukan begitu Joy , aku kan juga ingin
tahu bagaimana calon menantuku ,
harus bisa menimbang bibit bebet dan
bobotnya ." ikut mengambil kurma
di pangkuan Joy .
" Kalau sudah jodoh , memangnya Tante
bisa menolaknya ?."
Joy tak setuju dengan penuturan yang
tantenya itu berikan , karena yang dia tahu
jodoh itu di tangan Tuhan bukan
tergantung seperti pendapat tantenya itu .
Ingin masuk dalam perbincangan , Wulan
ikut menimpali .
" Sudah ku bilang , kita sebagai orang tua
tidak boleh ikut campur terlalu dalam , serahkan semuanya pada mereka yang
akan menjalaninya , kita hanya perlu
memberikan dukungan dan nasihat jika
mereka membuat kesalahan ." menepuk
bahu adiknya , Wulan memberi nasihat .
" Jadi jika Roy memilih gadis itu , restui
saja kan dia yang akan merasakan
suka dan sedihnya ." memberikan
senyuman pada adik semata wayangnya itu .
ππ
Karena sudah memasuki pukul satu siang
seorang perawat masuk membawa
seorang bayi untuk diberikan pada ibunya .
Sudah waktunya dia mendapat ASI
karena sedari tadi bayi itu sudah menangis .
" Oh sayangku kau datang juga ." Joy
merentangkan tangan , tak sabar untuk
menggendong putranya .
Perawat itu memberikan bayi itu pada
sang ibu , berpindah tangan suara
tangisan pun berhenti .
" Tante kebanyakan menimbang , kalau
terlanjur sudah ada si kecil begini , apa
Tante masih bisa berfikir lagi ?." semua
mata menoleh pada Anggi .
" Astaga aku keceplosan lagi , aku tidak
enak dengan Joy , duh nih mulut tidak
bisa di kondisikan ."
Anggi menutup matanya , hampir tak
punya muka .
" Joy ,,, ." memberanikan diri menatap Joy
dengan telapak tangan yang disatukan .
" Maaf ." muka mewek tak bernyali .
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Q usahain up tiap hari π, jgn lupa
ninggalin jejaknya y sayang π..
Langsung aja ... Next π