Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Mulut pedas Anggi ..


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Setelah mengikrarkan hubungannya


dengan Isabella , Roy hendak mengajak


Isabella untuk pergi dari sana , tak ingin


jika wanita itu mendengar hal yang tidak -


tidak dari orang yang ada didalam ruangan


sepupunya itu .


Hal yang paling di takuti adalah jika


Isabella sampai mendapat pertanyaan


yang konyol dari seorang nenek lampir ,


yang bisa membuat runyam semua


rencananya .


" Ayo Isabel kita pergi dari sini !."


menarik pelan pergelangan tangan


sekertaris David .


" Sebentar mas saya selesaikan tugas


saya dulu ." mencekal tangan Roy agar


berhenti .


" Tugas ?." Isabella mengangguk .


" Iya mas , pak David menyuruh saya


untuk membawakan makanan kesukaan


ibu joyyana setiap jam makan siang ."


Isabella menjinjing bungkusan yang


di bawanya untuk ditunjukkan pada Roy ,


membuktikan maksud dia datang kesana .


" Ya sudah berikan pada Joy cepat dan


kita pergi dari sini , aku menunggu di luar ."


meninggalkan ruangan , tanpa berkata lagi .


Semua orang terdiam , hanya menjadi


penonton dan pendengar setia dari


percakapan sepasang kekasih yang


baru saja mengakui hubungan mereka .


Entah itu hubungan yang sebenarnya


atau hubungan yang pura - pura , hanya


orang yang mengakuinya yang tahu .


" Astaga pengakuan mas Roy membuatku


gugup , gimana nih ,, mas Roy malah


meninggalkan ku sendiri , semoga


penilaian ibunya mas Roy baik padaku ."


Hati Isabella berdetak kencang , mengiringi


setiap kakinya melangkah .


Isabella mendekati istri dari atasannya


itu dengan penuh kesopanan , tak ingin


gegabah dalam bersikap , takut jika


nanti menimbulkan pandangan buruk


di depan calon mertuanya .


Dengan adanya pengakuan dari Roy tadi ,


Isabella sudah memantapkan hatinya


jika hubungan mereka pasti akan menuju


ke jenjang pernikahan .


Berpegang teguh dari mulut sang asisten


dari atasannya itu , Isabella membuka


hatinya untuk sang pria yang baru saja


mengatakan jika dia adalah calon istrinya .


Karena yang dia tahu jika pria itu sudah mendekati nya dari dulu , tapi Isabella


hanya menganggap sikap pria itu hanya gurauan .


Namun tanpa dia sangka jika pria itu


berani mengakui di depan ibunya ,


membuat keraguan di hati Isabel sirna .


" Ini Bu , sesuai perintah pak David , siang


ini saya diperintahkan untuk membawakan


ibu joyyana kurma ." menyerahkan sebuah


bingkisan pada istri atasannya .


" Terima kasih , silahkan duduk !, kau


tidak usah repot-repot ." menerima dan


menunjuk sofa untuk tempat Isabella


duduk , tapi Isabella memilih untuk


tetap berdiri .


" Saya tidak merasa direpotkan Bu , itu


memang sudah tugas saya ." tersenyum


pada semua orang yang ada di sana .


Anggi tak percaya dengan pengakuan


Roy yang barusan dia dengar , dia merasa


ada kejanggalan , ada sesuatu yang


sengaja di tutupi oleh Roy dan menjadikan


sosok wanita di depannya kini menjadi


penutup untuk sesuatu itu .


" Tidak mungkin Roy menjatuhkan


pilihannya pada wanita ini , jelas - jelas


saat di Surabaya aku melihat sorot


matanya mengatakan jika sangat


mencintai Mery , kenapa tiba disini


malah berbelok begini , aku tak percaya


aku harus membuktikan jika tebakan ku


ini benar adanya dan pengakuan Roy yang


salah ."


Tatapannya tak lepas dari wanita yang


akan dipersunting Roy .


" Apa ada yang ibu joyyana butuhkan ,


bisa ibu katakan pada saya ." Isabella


masih berdiri menunggu perintah selanjutnya .


" Tidak usah , terima kasih . Kau jangan


seformal itu , usia kita hampir sama tidak


perlu sesopan itu , anggap saja aku


temanmu ." Joy mengakrabkan diri .


" Duduklah dulu kita berbincang , kita kan


sebentar lagi menjadi keluarga , kenalkan


ini ibuku , beliau kakak dari ibundanya


Roy ." Joy menunjuk seorang wanita


paruh baya yang masih terlihat cantik


meskipun usianya hampir lima puluh tahun .


Wulan dan Isabella saling bersalaman ,


dilanjutkan berkenalan dengan Rani ,


Rani mengamati wanita yang akan


menjadi menantu nya ini .


Memuaskan matanya untuk memandang


wajah Isabella dari dekat ," ternyata


pilihan Roy cantik juga , ." bersalaman


cukup lama , enggan melepaskan .


" Ehemmmm..."


Deheman Anggi membuahkan gelak


tawa di ruangan Joy , Rani melepaskan


tautan jabatan tangannya .


" Gantian Tante , aku juga ingin berkenalan


dengan calon adik ipar ku ." ucap Anggi


menyodorkan tangannya .


Roy yang baru saja masuk , mendengar


pernyataan Anggi , merasa tak terima


jika menyebut Isabella sebagai calon


adik iparnya Anggi .


" Kenalan ya kenalan , tapi bukan calon


Nggi , usia ku saja masih di atas mu ."


sewot Roy tak terima .


" Biarin , terserah aku dong ,,,, kan aku


mandangnya dari Andreas , wekk.."


Anggi menjulurkan lidah .


Saat berjabat tangan Anggi tak mau


melepas kesempatan , dia ingin


melontarkan pertanyaan pada Isabella


mumpung ada orang dewasa disini .


" Perkenalkan aku Anggi teman joyyana ,


sudah kenal lama ya Isabella sama Roy ?." bersalaman sambil menatap mata Isabella .


" Lumayan , setahun yang lalu , saat saya


baru masuk di perusahaan pak David ."


jawab Isabella ramah .


" Sejak kapan jadian , pasti sering dicium


juga ya sama Roy , upsss,, keceplosan


maaf ." menutup mulut sambil meringis ,


mukanya menunjukkan wajah menyesal


tapi didalam hati Anggi ," mampus kau Roy ,"


Anggi sengaja melontarkan pertanyaan itu


ingin mengetahui bagaimana tanggapan


Isabella .


Isabella syok , mendapatkan pertanyaan


yang diberikan oleh wanita yang baru


saja di kenalnya , langsung keluar tanpa


menggunakan filter .


Roy getar getir dengan Anggi , segera


menghampiri Isabella ," sudah acara


perkenalkan nya , aku mau berkencan


dengan calon istriku , lepaskan Nggi !,


lama bersama denganmu bisa membuat


luntur kecantikannya ." melepas dengan


paksa .


" Jangan gila kau Roy , mana bisa


kecantikan luntur gegara bersalaman


denganku , yang ada kau takut jika aku


membongkar kedok mu ." muka jutek


Anggi muncul saat jengkel dengan


kata - kata Roy .


Roy hampir saja tidak bisa membendung


amarahnya , mendengar ocehan Anggi


yang semakin menyudutkan nya , tak mau


berlama lagi , segera mengajak pergi


Isabella dari sana .


" Kedok apa kau yang selalu


mengada -ada , sudah jangan dengarkan


dia , ayo kita pergi ."


Isabella tak bisa menolak ajakan Roy ,


tangannya yang sudah di cengkeram


kuat untuk menggandengnya keluar .


Selepas hilangnya Roy dari pandangan


Anggi merasa tak enak hati , " maaf Tante ,


Joy , aku cuma ingin mengetes Roy dan


calon istrinya ." meringis karena malu .


Joy sudah hafal dengan temannya yang


satu ini dia tak kaget , tak mau ambil


serius dia malah asik membuka


bingkisan yang dibawa oleh sekertaris David .


Rani yang dari tadi cuma bisa diam ,


sekarang ingin mendekati Joy , ingin


mengorek tentang bagaimana


kepribadian dari calon menantunya itu .


" Joy kau kenal dia ( Isabella ) ?."


mengangkat bahunya.


" Tidak begitu kenal sih , tapi aku tahu


jika dia itu gadis yang baik , Tante gak


suka ?." menikmati manisan kurma yang


dibawa oleh Isabella .


" Bukan begitu Joy , aku kan juga ingin


tahu bagaimana calon menantuku ,


harus bisa menimbang bibit bebet dan


bobotnya ." ikut mengambil kurma


di pangkuan Joy .


" Kalau sudah jodoh , memangnya Tante


bisa menolaknya ?."


Joy tak setuju dengan penuturan yang


tantenya itu berikan , karena yang dia tahu


jodoh itu di tangan Tuhan bukan


tergantung seperti pendapat tantenya itu .


Ingin masuk dalam perbincangan , Wulan


ikut menimpali .


" Sudah ku bilang , kita sebagai orang tua


tidak boleh ikut campur terlalu dalam , serahkan semuanya pada mereka yang


akan menjalaninya , kita hanya perlu


memberikan dukungan dan nasihat jika


mereka membuat kesalahan ." menepuk


bahu adiknya , Wulan memberi nasihat .


" Jadi jika Roy memilih gadis itu , restui


saja kan dia yang akan merasakan


suka dan sedihnya ." memberikan


senyuman pada adik semata wayangnya itu .


πŸ€πŸ€


Karena sudah memasuki pukul satu siang


seorang perawat masuk membawa


seorang bayi untuk diberikan pada ibunya .


Sudah waktunya dia mendapat ASI


karena sedari tadi bayi itu sudah menangis .


" Oh sayangku kau datang juga ." Joy


merentangkan tangan , tak sabar untuk


menggendong putranya .


Perawat itu memberikan bayi itu pada


sang ibu , berpindah tangan suara


tangisan pun berhenti .


" Tante kebanyakan menimbang , kalau


terlanjur sudah ada si kecil begini , apa


Tante masih bisa berfikir lagi ?." semua


mata menoleh pada Anggi .


" Astaga aku keceplosan lagi , aku tidak


enak dengan Joy , duh nih mulut tidak


bisa di kondisikan ."


Anggi menutup matanya , hampir tak


punya muka .


" Joy ,,, ." memberanikan diri menatap Joy


dengan telapak tangan yang disatukan .


" Maaf ." muka mewek tak bernyali .


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Q usahain up tiap hari 😊, jgn lupa


ninggalin jejaknya y sayang 😘..


Langsung aja ... Next 😍