Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Terjebak rasa lama


Sudah dua bulan David kehilangan istri tercintanya, hatinya merasa pilu bak tanah tandus yang merindukan air. Hari-harinya dia


isi dengan bermain dengan putranya, demi membuang rasa yang teramat mengelora


yang tak bisa tercapaikan.


Penyesalan, kekesalan selalu menghantuinya. Sudah sebulan lebih dia menerima kenyataan bahwa di tinggalkan oleh orang yang teramat terkasih, perasaan putus asa menerpa hatinya.


Tapi keberadaan David junior sedikit banyak membuat perasaan itu terobati.


Hari ini Mery akan ikut Wulan pulang ke Jogja, mengemas barang pribadinya yang masih tertinggal disana. Memakai celana jeans dan jaket benang berwarna coklat hasil rajutan mendiang ibunya, yang tidak pernah ketinggalan kemanapun dia pergi.


Di Dalam mobil Mery menunggu kedatangan ibu angkatnya sembari duduk melamun, dengan tatapan kosong gadis belia itu menyandarkan dirinya di tepi jendela kaca.


Dia bingung dengan Lika liku kehidupan yang dihadapinya, seperti telah dipermainkan oleh nasib. Ingin rasanya dia lari jauh dari


sandiwara baru saja akan dimulainya dan meninggalkan kenangan pahit membuat hatinya terluka.


Tapi Mery tak sanggup untuk melakukannya, akhirnya dia hanya bisa menjadi boneka dan membuang setiap keinginan apapun dihatinya.


Adinda dan ibundanya sudah lebih dulu


pulang tanpa berpamitan pada kakaknya,


Rani malu dan tidak berani bertatap muka langsung dengan kakak kandungnya itu, dia tahu pasti dia akan mendapat ceramah karena telah mencela anak angkat dari kakaknya itu.


Roy yang tahu jika Mery akan kembali ke Jogja pun mempunyai niat untuk mengikutinya secara diam-diam, dia ingin mencuri kesempatan agar bisa berbicara empat mata dengan gadis yang telah mencuri hatinya dari awal bertemu.


Roy merahasiakan keberadaannya dengan membuntuti Mery dan ikut satu pesawat dengannya.


Mery tak menyadari hal itu, sampai pada saat


di dalam pesawat dia duduk bersebelahan dengan seorang pria yang aneh tapi


di hatinya tidak merasakan takut atau tak nyaman sedikit pun.


Mery merasa tidak asing saat pertama kali


melihat pria yang tak dikenalnya itu datang menghampirinya dan duduk tepat di sebelahnya.


Pria itu memakai celana dan jaket kulit serba hitam dan masker hitam yang menutupi wajahnya, serta kacamata hitam yang menjadi aksesoris pelengkap dalam penyamarannya.


Kursi Mery dan Wulan terpisah, hal itu tak


luput dari campur tangan Roy agar bisa


duduk berdua dengan Mery.


'Siapa sih orang ini.' risau Mery dalam hati.


Sambil curi pandang Mery mencoba mengumpulkan ingatan sepertinya mereka pernah bertemu, tetiba saja pria itu menoleh pada Mery.


"Aihsss .. ." Mery memalingkan muka.


Dia sangat malu saat acara mencuri pandangnya kepergok oleh orangnya, bagai seorang maling yang ketahuan Mery mulai salah tingkah.


Diambilnya cepat sebotol air mineral dalam


tas, gadis itu seketika meneguknya sampai tandas, serasa menyiram sesuatu yang bergemuruh dalam dirinya, yaitu rasa yang teramat memalukan.


Roy tersipu saat melihat perilaku Mery, jarang sekali dia bisa berdua dan menggoda gadis


itu, apalagi sekarang dengan penyamarannya.


'Kau tetap sama seperti saat pertama kita bertemu, tingkah jaim dan kekonyolanmu membuatku tak bisa berpaling darimu.'


Sambil memalingkan wajah Roy tersenyum sendiri, tak ingin jika gadis yang berada disampingnya ini melihatnya.


Mery berdiri seketika,


"Maaf permisi, boleh singkirkan kaki anda karena aku ingin lewat." Meminta izin saat


akan melewati orang di sampingnya.


Roy menekuk kakinya sembari memberikan ruang untuk Mery agar bisa lewat di depannya. Roy menatap punggung Mery.


Otak licik Roy mulai bekerja, sekejap dia pun ikut berdiri dan mengikuti Mery yang sedang berjalan ke toilet.


Roy mengintip Mery dan seperti dugaannya, sekarang Mery berdiri di depan toilet sambil berbicara sendiri dan Roy pun memutuskan untuk menguping.


"Bodohnya aku, kenapa bisa kepergok dia sih, tapi aku tidak berniat apa-apa aku melihatnya hanya untuk memastikan dia itu siapa, itu saja tidak lebih." Bersandar di dinding sambil mencubit dagunya.


Roy tak sadar tersenyum.


"Eh, tapi dia tampan juga." Mery menutup


mulut tertawa sendiri.


"Ahhh sudahlah, kalau ada orang tahu aku bicara sendiri nanti aku dianggap gila lagi."


Mery hendak kembali tiba-tiba ada seseorang mendorongnya untuk masuk ke dalam toilet, Mery tergagap kaget.


"Kau si .. ."


Mery tak bisa melanjutkan pertanyaannya karena bibirnya sudah di bungkam oleh


sebuah telapak tangan.


Mery melotot, gadis itu menyeruak kaget saat pandangannya mengarah pada dua manik


mata yang tak asing lagi, mata yang membuat jantungnya berdebar meskipun telah membuatnya kecewa.


'Kak Roy.' hati Mery berbicara.


Menyadari bahwa kini dia sedang dihadapkan dengan pria yang pernah singgah di dalam hatinya.


Terhimpit ruang yang sempit, mereka berdiri berdempetan. Roy meletak satu kakinya


di atas kloset duduk dan mengangkat tubuh Mery kemudian mendudukkannya di atas pangkuannya.


Melingkarkan satu tangannya di perut gadis


itu Roy menatap sambil tersenyum dengan perlahan membuka masker yang dipakainya.


Mery membuang muka.


" Sudah kuduga." Menggigit bibir bawahnya sambil menahan senyum menyeringai.


Meskipun sudah berulang kali dilukai tapi


rasa tidak bisa membohongi, perasaan yang dulu pernah tumbuh tidak bisa begitu saja hilang.


Begitulah yang dialami Mery sekarang, masih tersimpan di dalam hati sedikit perasaan


cinta untuk Roy.


Roy menarik perlahan dagu Mery," hey tatap aku, apakah hatimu sudah tahu jika yang bersamamu tadi aku?." Mery tertarik dan menoleh pada Roy.


"Tidak, aku tidak tahu. Aku hanya merasa tidak asing saja." Berusaha turun, tapi Roy mencegah dan semakin mengeratkan.


"Diam jangan bergerak, aku hanya ingin berbicara berdua empat mata denganmu."


Mery menolehkan kepalanya.


"Untuk apa kak, semua sudah jelas tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Mery teringat olokan ibunda Roy serta olokan Isabella saat tempo hari.


"Ada, tentang kita."


"Kita?." Mery tertawa hambar.


"Tidak ada KITA, yang ada itu kakak dengan DIA." Berusaha menahan emosi.


Roy meraup mukanya, berusaha menjelaskan.


"Dengarkan aku dulu, aku sudah terus terang pada bunda jika aku tidak menyukai Isabella tapi aku menyukaimu, bagaimanapun caranya dan apapun kondisinya aku akan lebih memilihmu."


Memhela nafas masih memberikan tatapan penuh pada seorang gadis yang ada di pangkuannya.


Mery syok dengan pengakuan Roy, dia memalingkan wajah tak terasa air matanya mencair dan jatuh di lembaran pipinya yang halus. Mery merasa tak pantas jika dirinya diperjuangkan seperti itu.


Menoleh kembali pada orang yang mengajaknya bicara, "tapi itu sudah percuma kak." Air mata Mery tak tertahankan dan


keluar dengan derasnya saat pandangannya bertemu dengan mata elang Roy.


Roy menghapus air mata Mery.


Roy sudah tahu apa yang dimaksud Mery,


tapi dia tak putus asa.


"Aku akan memperjuangkanmu." Mery menggeleng.


"Tidak, tidak perlu. Mungkin kita tidak


berjodoh, kak Roy cari wanita lain saja."


Tolak Mery secara halus, tidak mau ada pertikaian lagi dan takut jika ada


pertumpahan darah.


"Hal itu tidak mungkin aku lakukan, yang ku inginkan hanya KAU, bukan wanita lain. Meskipun bunda menentang dan aku harus membuang semuanya, aku akan tetap melakukannya dan memilihmu menjadi wanitaku." Perkataan Roy membuat Mery ingin terjun kedalam lautan terdalam.


Dulu saat tidak ada penghalang, Roy


berpaling pada wanita lain dan memilih


untuk menuruti apa kata bundanya, tapi sekarang saat keadaan semua sudah


berubah hati Roy pun berubah, malah kembali memperjuangkannya.


Hal itu membuat Mery bimbing dan akhirnya Mery pun memberikan keputusan valid yang bisa menjatuhkan hati Roy agar menjauh darinya.


"Hatiku sudah milik kak Bimo, maafkan aku." Memberikan tatapan tegas pada Roy.


Roy tertawa terbahak-bahak dan berhenti seketika lalu memberikan tatapan serius


pada Mery.


"Kau mau membodohiku, hatimu tetaplah milikku dan selamanya akan tetap sama."


"Kau mau menikah dengan David tapi kau membuat alasan hatimu milik Bimo, jika kau memang menyukai Bimo pasti kau sudah menolak rencana pernikahan itu." Roy


menolak mentah-mentah semua penjelasan Mery.


"Tapi .. ." Roy menyetop sangkalan gadis itu dengan meletakkan telunjuk di ujung


bibirnya, sambil menggeleng.


"Ussssttt, aku tak ingin mendengar alasanmu lagi sayang." Roy mendekatkan diri.


Hati Mery semakin berdebar, ketika Roy mendekatkan bibirnya di telinganya.


"Aku sangat mencintaimu, dari awal kita bertemu sampai detik ini hatiku hanya


milikmu, apapun yang terjadi kau harus menjadi milikku, walaupun satu nyawa ini menjadi taruhannya." Nafas hangat Roy


masuk kedalam telinga Mery tanpa permisi.


Mery mematung saat mendengar pengakuan dari Roy, dia tidak pernah mendengar


langsung dan jelas pengutaraan cinta dari


pria yang membuat hatinya bergejolak kali ini.


Roy sedikit menegakkan badannya tapi terpanggil oleh bentuk bibir Mery yang seakan meminta untuk dijamah.


Serasa tertarik oleh magnet, bibir Roy mendekati bibir merah alami milik Mery.


Mery yang masih hanyut akan pengakuan


Roy tersadar oleh sentuhan dari bibir pria itu, tapi ketangkasan bibir Roy membuat Mery


yang masih polos itu tak bisa melepaskan


diri dan malah membuatnya ikut hanyut


dalam kelembutan atas permainan bibir.


Tangan Roy tak bisa tinggal diam, perlahan masuk kedalam punggung Mery, memberikan sentuhan hangat yang seketika bisa membangkitkan hawa panas dalam tubuh Mery.


Mery yang terlena membuatnya memejamkan mata, merasakan setiap serangan halus dan hangat yang diberikan oleh Roy, yang membuatnya seolah terbang dan tak ingin kembali turun.


Jemari nakal Roy yang handal tiba pada satu titik, yaitu pada pengait yang berada di punggung mery, dengan sekali jentikan terlepaslah pengait itu.


"Ah, .. ." Sedikit ******* tak sadar Mery luapkan, saat ada rasa bergeser sedikit pada tubuhnya.


Satu tangan Roy memegang tubuh Mery agar tidak terjatuh dari pangkuannya, satu tangannya lagi menjelajahi tubuh atas Mery.


Ciuman Roy jatuh kebawah, berpindah pada leher Mery. Kekompakan bibir dan jari Roy membuat Mery terbang karena perlakuan ini pertama dia dapatkan.


Sampai pada saat telapak tangan Roy baru meremas sesuatu yang kenyal, Roy melepaskan ciumannya dan menatap Mery.


"Bolehkah aku meneruskan lebih jauh lagi?." Mery menelan ludahnya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Gada hadiah, jadi mls up🙈🙈🙈🙈


tapiii... q nya pingin up


next aj y ....❤️