Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Kamu ?


Seorang gadis manis baru membuka


mata , mengusap wajahnya yang kucel


dia berusaha bangun dari tidurnya ,


mengingat sepercik kejadian kemarin


yang membuat hatinya hampir drop


dengan berita yang memaksanya untuk


mengingat pada rasa pahit dalam kehidupannya .


Sebuah rasa yang teramat dia benci


hingga tak mau lagi terulang di


kehidupan selanjutnya . Tatkala


sebuah ketakutan kehilangan orang


orang yang sangat dia sayangi .


Kabar yang menyebutkan jika kakak


satu - satunya yang dia miliki tidak bisa


di selamatkan lagi , berita itu hampir saja


membuatnya pingsan .


Meskipun orang itu bukanlah kakak kandungnya , tapi hanya dialah keluarga


yang tersisa sekarang .


Andai semua itu benar terjadi , Mery


tak bisa berfikir lagi , dia harus tinggal


dengan siapa lagi .


" Syukurlah tuhan engkau masih


menyayangi ku , engkau masih bersedia


memberikan kesempatan untukku


memiliki seorang kakak yang baik


seperti kak Joy dan semoga dia cepat


baikan agar bisa berkumpul bersama


kami , Amien ."


Mery mengusap wajahnya dengan kedua


telapak tangan kemudian turun dari


tempat tidurnya .


Semalam dia bisa tidur sangat nyenyak


karena sebelum dia kembali ke Rumah


Oma , kakaknya sudah mulai siuman .


Karena perintah dari ibu kandung


kakaknya , Mery tak bisa membantah .


Dia pulang bersama dengan Adinda ,


Oma menyuruhnya untuk mengajak


Adinda beristirahat bersamanya agar


bisa menemaninya di Rumah karena


sebagian besar orang Rumah sedang menunggu Joy di Rumah Sakit .


Masih di Rumah Oma , Mery tidur


di kamar tamu yang menjadi tempat


tidurnya , disana dia di temani oleh


Adinda adik dari Roy , seorang pria yang


telah memberikan perhatian palsu padanya.


Semalam dia pulang cukup malam ,


bersama seorang supir yang


menggunakan mobil milik Oma , dia


menolak saat Roy menawarkan diri


untuk mengantarkan .


Hal itu di lakukan nya untuk menjaga


harga dirinya serta masih bergemuruh


rasa benci pada pria buaya itu .


Setibanya di Rumah Oma semalam , dia


tak banyak bicara dengan Adinda ,


mungkin mereka berdua sama-sama


diliputi rasa lelah dan kantuk , membuat


mereka langsung tidur sehabis mandi


dan makan malam .


" Din , adinda ,, bangun gih !, ini sudah jam


tujuh pagi , apa kau tidak mau menjenguk


kak Joy di Rumah Sakit , ha ?."


Mery menggoyang tubuh Adinda ,


sembari dia duduk di sampingnya


dengan satu tangan yang memegang


ponsel , karena tadi terdengar ada suara


pesan yang masuk .


" Uhmm,, Apa sih Merrr,, ini masih pagi


juga , ngantuk tau , kita ke sana nanti ya ,, ."


jawab Adinda yang malas masih


memejamkan mata .


Mengambil selimut untuk menutupi


tubuhnya kembali .


" Dasar kebo ." Mery berdiri , meninggalkan


temannya yang masih tertidur , dia


keluar menuju balkon .


Sudah terhitung tiga hari dia


meninggalkan kota kelahirannya itu dan


sekarang bersama kakaknya tinggal


di Jakarta untuk sementara , dia pergi


tanpa pamit dan bicara dulu pada


sahabatnya .


Sebelumnya dia sempat memberikan


nomornya pada sahabatnya itu , tapi


tak ada satupun pesan yang dikirim


ataupun panggilan masuk darinya .


Di hatinya ada rasa bersalah karena


kepergian yang tiba-tiba menghilang


tanpa jejak perkataan pada sahabatnya itu .


Hari ini Mery di kejutkan oleh satu pesan


dari orang yang sempat menjadi


tambatan hatinya walau hanya terselip


dan tak pernah dia keluarkan , tapi


jika mereka sering bertemu dan


berbincang pasti rasa itu bisa muncul kembali .


Duduk disebuah kursi dengan satu meja


yang terdapat di balkon , Mery tersenyum


sendiri , dia membuka pesan saat sinar


matahari mengenai wajahnya , terasa


sejuk rambutnya yang hitam sebahu


tertiup angin sepoi-sepoi .


" Kak Bimo , tumben dia mengirim pesan


padaku ." sambil senyum-senyum .


🍁- Dear Mery , ini aku Bimo 😊


bagaimana pagimu , semoga cantik


secantik matahari pagi , jangan lupa


cuci muka dan bercermin , lihatlah


disitu ada orang yang sudah lari


membawa kabur hatiku yang sudah


berhasil dia curi , jika tahu orangnya


tolong beritahu aku , semangat mencari


πŸ’ͺ😍😍,~ pesan dari Bimo .


Mery mengangkat kakinya diatas kursi


mengubah posisi duduknya menjadi


miring , memutar otak balasan apa yang


pantas untuk membalas pesan Bimo


padanya .


" Apa ya ,, apa ya ,, hemmm ya aku tahu ."


Tak lama kemudian dia mengetikan


satu persatu huruf untuk menyalin


suatu kalimat yang muncul di fikirannya .


🌺- Belum ketemu kak , di Rumah kak Joy


tidak ada cermin , nanti aku coba cari


di Toko furnitur mungkin di sana ada ,🀭


Mery tertawa cekikikan saat membalas


pesan , tak perlu menunggu lama


balasan dari Bimo pun masuk .


🍁- Kelamaan kalau menunggu keluar


rumah , coba ke kamar mandi , pasti


bercermin di air masih bisa , cepat gih


aku sudah tidak sabar , kalau sudah


ketemu bilang aku merindukannya .~


Mery terkejut dengan apa yang tertulis


di pesan Bimo , meskipun seperti kata


kiasan tapi terbaca jika Bimo menyatakan


perasaannya kini padanya .


" Kak Bimo merindukanku ?, masa sih


ah jangan GR, jangan GR , sadar Mery ,,


sadar ." Menaruh ponselnya di dada .


Ketikan jari mungil Mery belum


membalas sudah ada balasan pesan


Bimo yang masuk kembali .


🍁- Jangan bilang kalau disitu gak ada


airnya , yang pegang hp itu pasti


orangnya , senyum kan ? senyum kan ?


pasti senyum sambil jantungnya


berdebar , berarti kita sama , tunggu aku,,


lusa aku kesana , Miss you 😘~


Seakan tak percaya Mery langsung


melotot , menyalakan ponselnya kembali


dan mengulang baca pesan Bimo


yang terakhir , sambil mengingat saat


mereka masih sekolah bersama dulu .


Tanpa di sangka Bimo mengirim pesan


kembali , sebuah foto dirinya yang


saat itu sedang duduk bersantai


bersandar di kursi untuk mengurangi


rasa rindu Mery .



🍁- cisss✌️✌️✌️😜~


Mery terkejut namun suka dengan foto


yang di kirim Bimo , disana Bimo terlihat


tampan yang memakai kaos berwarna


kuning dengan muka yang khas baru


🍁- Suka kan ? , jangan di pandang terus


nanti bosen , masih cakepan kalau


ketemu langsung kok , sabar ya πŸ₯°~


Mery bingung harus membalas apa ,


mau mengakui tapi gengsi , takut jika


Bimo juga buaya seperti Roy .


🌺- Cakep dari mana , Hongkong ?,


PD nya beli dimana kakak ,, .~


Mery menarik kaos oblong berwarna


pink yang dipakainya , lalu menggigitnya


sambil menahan senyum .


" Hey , senyum - senyum sama siapa


dah gila kamu ya ?, ayo kita sarapan


cacing ku sudah bergoyang ." memukul


punggung temannya , Adinda


mengagetkan Mery .


" Apa sih Din , tadi di bangunin gak mau


sekarang malah ngagetin orang , dasar ."


Adinda mengambil duduk di depan


Mery , ikut berjemur di Balkon .


" Eh Mer , bagaimana kelanjutan hubungan


kalian ?."


Rasa penasaran membuat Adinda ingin mengorek informasi hubungan kakaknya


dengan temannya yang satu ini .


" Kalian , maksudnya ? ."


Menaruh ponselnya diatas meja , Mery


membenarkan posisi duduknya .


" Hubungan kau dan kakak ku ."


Memasang wajah jengah Mery beranjak


dari duduknya ," Sudah jangan bahas itu,


aku lagi moody jika kau menyenggol


namanya aku tak mau lagi berbicara


denganmu ." meninggalkan Adinda sendiri


yang masih penasaran .


" Dasar , kalau lagi seneng aja curhat


ngomongin mulu , sekarang ,, boro- boro


ngomongin , dih nyebut namanya saja


ogah , emangnya apa yang di perbuat


kak Roy pada Mery sih , eh jangan -


jangan mereka ,, ."


Anggi membayangkan hal yang tidak


tidak antara kakaknya dan Mery .


Mery berbalik menggedor pintu kaca


yang menghubungkan antara kamarnya


dan balkon .


" Hey buaya kecil katanya mau sarapan


yuk , aku sudah keroncongan ."


Adinda kaget dengan sebutan baru yang


di berikan Mery padanya ," Buaya kecil ?."


menunjuk dirinya , Mery mengangguk .


" Siapa lagi ." pergi duluan , meninggalkan


Adinda dengan mukanya yang cemberut .


###


Di meja makan Mery dan Adinda


menikmati sarapan pagi cuma berdua ,


" Mer , ternyata rumah suaminya kak


Joy kayak istana ya ?, kau tahu dimana


mas Roy tinggal ?, aku yang adeknya


sendiri saja belum pernah kesana ."


Berbicara sambil memoles selai kacang


di atas rotinya , Mery yang diajak bicara


hanya diam saja .


" Mer , kenapa kau diam saja , kau masih


tersinggung dengan kakakku ?, " Mery


menaruh rotinya kemudian menatap


Adinda .


Dalam diam Mery menaruh kedua


sikunya diatas meja ," mau lho apa


sih Din , kan tadi udah ku bilang , jangan


sebut nama kakakmu disini ." mengambil


roti dan menggigitnya dengan kasar .


Adinda kesal memanyunkan bibirnya ,


" huhu..." Mery tak terima " apa , heee?."


Semakin sebal Adinda mengeluarkan


apa yang ada di pikirannya ," hai Mer ,


jangan - jangan kalian sudah ,,,."


Adinda memotong kalimat yang keluar


dari mulutnya , tak berani meneruskan


melihat raut muka temannya yang sudah


mulai murka .


" Jangan ngawur kau Din , aku dan


kakakmu tidak pernah melakukan apapun


seperti yang kau pikirkan , terus soal


julukan yang kemarin itu pantas untuknya,


maaf kalau itu menyinggung mu ."


Mery berdiri setelah meneguk segelas


jus jeruk yang di buatkan pembantu


untuknya , " Din aku mau bersiap ,


sebentar lagi kita ke Rumah Sakit , aku


ingin mengetahui kondisi kak Joy


pagi ini ." memasukkan kursi kedalam meja .


" Buru - buru sekali ." mengambil rotinya


yang kedua .


" Bukan buru - buru , kita gantian nunggu


kita kesana biar kak David dan Oma yang


gantian pulang,, dodol , " menuju kamar .


Tepat di depan kamar Mery berhenti ,


" Din , tu kamar kakakmu kalau mau tahu ."


Mery menunjuk satu kamar tempat di


sebelah kamarnya .


" Hah kamar mas Roy , ternyata disini ,


astaga mereka bersebelahan , ini berita


yang bisa menghasilkan uang jika


aku adukan pada bunda ."


Adinda meringis dengan ide jahilnya .


###


Sudah lima belas menit kedua gadis itu


bersiap , Mery yang sudah siap keluar


kamar duluan .


Dia menuju dapur mencari sesuatu


yang bisa bawa untuk ke Rumah Sakit .


Bekal makanan yang sudah Oma


pesan sebelumnya .


Adinda yang tak tahu langsung menuju


pintu depan , tepat saat Adinda ingin


membuka pintu , ada seorang laki-laki


tampan berdiri di sana .


Kulit yang putih bersih , hidung yang


mancung dan bibir tipis merah pink


melukiskan wajah sang laki laki


itu sempurna .


" Alamak , mimpi apa aku semalam


sekarang aku ketemu artis disini ."


Mata lentik Adinda tak berkedip , merasa


tak bosan untuk memandang , lelaki itu


membalas tatapan Dinda .


" Maaf saya bisa bertemu dengan Mery ?."


Adinda syok ternyata lelaki itu malah


mencari Mery ," Mery ?, dia mencari Mery ,


ada masalah apa cowok ini mencari


Mery , aku tidak terima ." greget Adinda


di dalam hati .


Lamunan Adinda tersadar saat lelaki


itu menyentuh bahunya , " Nona ."


" I,,iya ada dia di dalam , sebentar saya


panggilkan ." menutup pintu sedikit


kemudian berteriak kencang ," Meryyyyy


ada orang yang mencari mu ."


Mery berjalan mendekat setengah


berlari , tak enak hati bila Adinda


mengulangi teriakannya .


" Iya aku datang , jangan keras-keras


aku tidak budeg , siapa sih yang


mencari ku ."


Wajah jutek Adinda berikan pada


temannya , menunjukkan rasa iri ada


cowok tampan yang mencari temannya


itu , padahal dia yang membukakan pintu .


" Lihat sendiri sana , " berjalan keluar


melewati sang lelaki .


Lelaki itu setia menunggu , tak berapa


lama Mery keluar sambil menenteng


bekal makanan untuk di bawanya


nanti .


" Kamu ?." teriak Mery terkejut ,


melihat siapa yang mencarinya .


Seutas senyum terukir diwajah lelaki


tampan , tak kuasa menyimpan rindu


lelaki itu memeluk Mery .


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Ayokkkkkkk...mna dukungannya


banyak jejak langsung lanjut 🀭😜✌️


salam cinta dari author 😘


Next 😍