
Seorang gadis manis baru membuka
mata , mengusap wajahnya yang kucel
dia berusaha bangun dari tidurnya ,
mengingat sepercik kejadian kemarin
yang membuat hatinya hampir drop
dengan berita yang memaksanya untuk
mengingat pada rasa pahit dalam kehidupannya .
Sebuah rasa yang teramat dia benci
hingga tak mau lagi terulang di
kehidupan selanjutnya . Tatkala
sebuah ketakutan kehilangan orang
orang yang sangat dia sayangi .
Kabar yang menyebutkan jika kakak
satu - satunya yang dia miliki tidak bisa
di selamatkan lagi , berita itu hampir saja
membuatnya pingsan .
Meskipun orang itu bukanlah kakak kandungnya , tapi hanya dialah keluarga
yang tersisa sekarang .
Andai semua itu benar terjadi , Mery
tak bisa berfikir lagi , dia harus tinggal
dengan siapa lagi .
" Syukurlah tuhan engkau masih
menyayangi ku , engkau masih bersedia
memberikan kesempatan untukku
memiliki seorang kakak yang baik
seperti kak Joy dan semoga dia cepat
baikan agar bisa berkumpul bersama
kami , Amien ."
Mery mengusap wajahnya dengan kedua
telapak tangan kemudian turun dari
tempat tidurnya .
Semalam dia bisa tidur sangat nyenyak
karena sebelum dia kembali ke Rumah
Oma , kakaknya sudah mulai siuman .
Karena perintah dari ibu kandung
kakaknya , Mery tak bisa membantah .
Dia pulang bersama dengan Adinda ,
Oma menyuruhnya untuk mengajak
Adinda beristirahat bersamanya agar
bisa menemaninya di Rumah karena
sebagian besar orang Rumah sedang menunggu Joy di Rumah Sakit .
Masih di Rumah Oma , Mery tidur
di kamar tamu yang menjadi tempat
tidurnya , disana dia di temani oleh
Adinda adik dari Roy , seorang pria yang
telah memberikan perhatian palsu padanya.
Semalam dia pulang cukup malam ,
bersama seorang supir yang
menggunakan mobil milik Oma , dia
menolak saat Roy menawarkan diri
untuk mengantarkan .
Hal itu di lakukan nya untuk menjaga
harga dirinya serta masih bergemuruh
rasa benci pada pria buaya itu .
Setibanya di Rumah Oma semalam , dia
tak banyak bicara dengan Adinda ,
mungkin mereka berdua sama-sama
diliputi rasa lelah dan kantuk , membuat
mereka langsung tidur sehabis mandi
dan makan malam .
" Din , adinda ,, bangun gih !, ini sudah jam
tujuh pagi , apa kau tidak mau menjenguk
kak Joy di Rumah Sakit , ha ?."
Mery menggoyang tubuh Adinda ,
sembari dia duduk di sampingnya
dengan satu tangan yang memegang
ponsel , karena tadi terdengar ada suara
pesan yang masuk .
" Uhmm,, Apa sih Merrr,, ini masih pagi
juga , ngantuk tau , kita ke sana nanti ya ,, ."
jawab Adinda yang malas masih
memejamkan mata .
Mengambil selimut untuk menutupi
tubuhnya kembali .
" Dasar kebo ." Mery berdiri , meninggalkan
temannya yang masih tertidur , dia
keluar menuju balkon .
Sudah terhitung tiga hari dia
meninggalkan kota kelahirannya itu dan
sekarang bersama kakaknya tinggal
di Jakarta untuk sementara , dia pergi
tanpa pamit dan bicara dulu pada
sahabatnya .
Sebelumnya dia sempat memberikan
nomornya pada sahabatnya itu , tapi
tak ada satupun pesan yang dikirim
ataupun panggilan masuk darinya .
Di hatinya ada rasa bersalah karena
kepergian yang tiba-tiba menghilang
tanpa jejak perkataan pada sahabatnya itu .
Hari ini Mery di kejutkan oleh satu pesan
dari orang yang sempat menjadi
tambatan hatinya walau hanya terselip
dan tak pernah dia keluarkan , tapi
jika mereka sering bertemu dan
berbincang pasti rasa itu bisa muncul kembali .
Duduk disebuah kursi dengan satu meja
yang terdapat di balkon , Mery tersenyum
sendiri , dia membuka pesan saat sinar
matahari mengenai wajahnya , terasa
sejuk rambutnya yang hitam sebahu
tertiup angin sepoi-sepoi .
" Kak Bimo , tumben dia mengirim pesan
padaku ." sambil senyum-senyum .
π- Dear Mery , ini aku Bimo π
bagaimana pagimu , semoga cantik
secantik matahari pagi , jangan lupa
cuci muka dan bercermin , lihatlah
disitu ada orang yang sudah lari
membawa kabur hatiku yang sudah
berhasil dia curi , jika tahu orangnya
tolong beritahu aku , semangat mencari
πͺππ,~ pesan dari Bimo .
Mery mengangkat kakinya diatas kursi
mengubah posisi duduknya menjadi
miring , memutar otak balasan apa yang
pantas untuk membalas pesan Bimo
padanya .
" Apa ya ,, apa ya ,, hemmm ya aku tahu ."
Tak lama kemudian dia mengetikan
satu persatu huruf untuk menyalin
suatu kalimat yang muncul di fikirannya .
πΊ- Belum ketemu kak , di Rumah kak Joy
tidak ada cermin , nanti aku coba cari
di Toko furnitur mungkin di sana ada ,π€
Mery tertawa cekikikan saat membalas
pesan , tak perlu menunggu lama
balasan dari Bimo pun masuk .
π- Kelamaan kalau menunggu keluar
rumah , coba ke kamar mandi , pasti
bercermin di air masih bisa , cepat gih
aku sudah tidak sabar , kalau sudah
ketemu bilang aku merindukannya .~
Mery terkejut dengan apa yang tertulis
di pesan Bimo , meskipun seperti kata
kiasan tapi terbaca jika Bimo menyatakan
perasaannya kini padanya .
" Kak Bimo merindukanku ?, masa sih
ah jangan GR, jangan GR , sadar Mery ,,
sadar ." Menaruh ponselnya di dada .
Ketikan jari mungil Mery belum
membalas sudah ada balasan pesan
Bimo yang masuk kembali .
π- Jangan bilang kalau disitu gak ada
airnya , yang pegang hp itu pasti
orangnya , senyum kan ? senyum kan ?
pasti senyum sambil jantungnya
berdebar , berarti kita sama , tunggu aku,,
lusa aku kesana , Miss you π~
Seakan tak percaya Mery langsung
melotot , menyalakan ponselnya kembali
dan mengulang baca pesan Bimo
yang terakhir , sambil mengingat saat
mereka masih sekolah bersama dulu .
Tanpa di sangka Bimo mengirim pesan
kembali , sebuah foto dirinya yang
saat itu sedang duduk bersantai
bersandar di kursi untuk mengurangi
rasa rindu Mery .
π- cisssβοΈβοΈβοΈπ~
Mery terkejut namun suka dengan foto
yang di kirim Bimo , disana Bimo terlihat
tampan yang memakai kaos berwarna
kuning dengan muka yang khas baru
π- Suka kan ? , jangan di pandang terus
nanti bosen , masih cakepan kalau
ketemu langsung kok , sabar ya π₯°~
Mery bingung harus membalas apa ,
mau mengakui tapi gengsi , takut jika
Bimo juga buaya seperti Roy .
πΊ- Cakep dari mana , Hongkong ?,
PD nya beli dimana kakak ,, .~
Mery menarik kaos oblong berwarna
pink yang dipakainya , lalu menggigitnya
sambil menahan senyum .
" Hey , senyum - senyum sama siapa
dah gila kamu ya ?, ayo kita sarapan
cacing ku sudah bergoyang ." memukul
punggung temannya , Adinda
mengagetkan Mery .
" Apa sih Din , tadi di bangunin gak mau
sekarang malah ngagetin orang , dasar ."
Adinda mengambil duduk di depan
Mery , ikut berjemur di Balkon .
" Eh Mer , bagaimana kelanjutan hubungan
kalian ?."
Rasa penasaran membuat Adinda ingin mengorek informasi hubungan kakaknya
dengan temannya yang satu ini .
" Kalian , maksudnya ? ."
Menaruh ponselnya diatas meja , Mery
membenarkan posisi duduknya .
" Hubungan kau dan kakak ku ."
Memasang wajah jengah Mery beranjak
dari duduknya ," Sudah jangan bahas itu,
aku lagi moody jika kau menyenggol
namanya aku tak mau lagi berbicara
denganmu ." meninggalkan Adinda sendiri
yang masih penasaran .
" Dasar , kalau lagi seneng aja curhat
ngomongin mulu , sekarang ,, boro- boro
ngomongin , dih nyebut namanya saja
ogah , emangnya apa yang di perbuat
kak Roy pada Mery sih , eh jangan -
jangan mereka ,, ."
Anggi membayangkan hal yang tidak
tidak antara kakaknya dan Mery .
Mery berbalik menggedor pintu kaca
yang menghubungkan antara kamarnya
dan balkon .
" Hey buaya kecil katanya mau sarapan
yuk , aku sudah keroncongan ."
Adinda kaget dengan sebutan baru yang
di berikan Mery padanya ," Buaya kecil ?."
menunjuk dirinya , Mery mengangguk .
" Siapa lagi ." pergi duluan , meninggalkan
Adinda dengan mukanya yang cemberut .
###
Di meja makan Mery dan Adinda
menikmati sarapan pagi cuma berdua ,
" Mer , ternyata rumah suaminya kak
Joy kayak istana ya ?, kau tahu dimana
mas Roy tinggal ?, aku yang adeknya
sendiri saja belum pernah kesana ."
Berbicara sambil memoles selai kacang
di atas rotinya , Mery yang diajak bicara
hanya diam saja .
" Mer , kenapa kau diam saja , kau masih
tersinggung dengan kakakku ?, " Mery
menaruh rotinya kemudian menatap
Adinda .
Dalam diam Mery menaruh kedua
sikunya diatas meja ," mau lho apa
sih Din , kan tadi udah ku bilang , jangan
sebut nama kakakmu disini ." mengambil
roti dan menggigitnya dengan kasar .
Adinda kesal memanyunkan bibirnya ,
" huhu..." Mery tak terima " apa , heee?."
Semakin sebal Adinda mengeluarkan
apa yang ada di pikirannya ," hai Mer ,
jangan - jangan kalian sudah ,,,."
Adinda memotong kalimat yang keluar
dari mulutnya , tak berani meneruskan
melihat raut muka temannya yang sudah
mulai murka .
" Jangan ngawur kau Din , aku dan
kakakmu tidak pernah melakukan apapun
seperti yang kau pikirkan , terus soal
julukan yang kemarin itu pantas untuknya,
maaf kalau itu menyinggung mu ."
Mery berdiri setelah meneguk segelas
jus jeruk yang di buatkan pembantu
untuknya , " Din aku mau bersiap ,
sebentar lagi kita ke Rumah Sakit , aku
ingin mengetahui kondisi kak Joy
pagi ini ." memasukkan kursi kedalam meja .
" Buru - buru sekali ." mengambil rotinya
yang kedua .
" Bukan buru - buru , kita gantian nunggu
kita kesana biar kak David dan Oma yang
gantian pulang,, dodol , " menuju kamar .
Tepat di depan kamar Mery berhenti ,
" Din , tu kamar kakakmu kalau mau tahu ."
Mery menunjuk satu kamar tempat di
sebelah kamarnya .
" Hah kamar mas Roy , ternyata disini ,
astaga mereka bersebelahan , ini berita
yang bisa menghasilkan uang jika
aku adukan pada bunda ."
Adinda meringis dengan ide jahilnya .
###
Sudah lima belas menit kedua gadis itu
bersiap , Mery yang sudah siap keluar
kamar duluan .
Dia menuju dapur mencari sesuatu
yang bisa bawa untuk ke Rumah Sakit .
Bekal makanan yang sudah Oma
pesan sebelumnya .
Adinda yang tak tahu langsung menuju
pintu depan , tepat saat Adinda ingin
membuka pintu , ada seorang laki-laki
tampan berdiri di sana .
Kulit yang putih bersih , hidung yang
mancung dan bibir tipis merah pink
melukiskan wajah sang laki laki
itu sempurna .
" Alamak , mimpi apa aku semalam
sekarang aku ketemu artis disini ."
Mata lentik Adinda tak berkedip , merasa
tak bosan untuk memandang , lelaki itu
membalas tatapan Dinda .
" Maaf saya bisa bertemu dengan Mery ?."
Adinda syok ternyata lelaki itu malah
mencari Mery ," Mery ?, dia mencari Mery ,
ada masalah apa cowok ini mencari
Mery , aku tidak terima ." greget Adinda
di dalam hati .
Lamunan Adinda tersadar saat lelaki
itu menyentuh bahunya , " Nona ."
" I,,iya ada dia di dalam , sebentar saya
panggilkan ." menutup pintu sedikit
kemudian berteriak kencang ," Meryyyyy
ada orang yang mencari mu ."
Mery berjalan mendekat setengah
berlari , tak enak hati bila Adinda
mengulangi teriakannya .
" Iya aku datang , jangan keras-keras
aku tidak budeg , siapa sih yang
mencari ku ."
Wajah jutek Adinda berikan pada
temannya , menunjukkan rasa iri ada
cowok tampan yang mencari temannya
itu , padahal dia yang membukakan pintu .
" Lihat sendiri sana , " berjalan keluar
melewati sang lelaki .
Lelaki itu setia menunggu , tak berapa
lama Mery keluar sambil menenteng
bekal makanan untuk di bawanya
nanti .
" Kamu ?." teriak Mery terkejut ,
melihat siapa yang mencarinya .
Seutas senyum terukir diwajah lelaki
tampan , tak kuasa menyimpan rindu
lelaki itu memeluk Mery .
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Ayokkkkkkk...mna dukungannya
banyak jejak langsung lanjut π€πβοΈ
salam cinta dari author π
Next π