Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Kegundahan David.


Lima hari kemudian...


Hari ini sudah waktunya Joy di


perbolehkan pulang dari Rumah Sakit ,


Dia di jemput oleh Oma yang baru


kemarin pulang dari Inggris.


Satu hari sebelumnya Ibu Wulan pamit


untuk pulang pada putrinya dan kembali


datang bila Joy sudah melahirkan.


Oma sudah tau jika kini ingatan David


sudah kembali , dan Oma juga tahu


duduk perkara yang sudah mereka


hadapi saat ini , namun Oma tidak mau


mencampuri lebih dalam lagi urusan


cucunya , karena beliau tahu jika cucunya


bersalah di sini.


Karena kondisi David sudah mulai lebih


baikan , dia lebih dulu diperbolehkan


pulang , tapi berbeda dengan Joy yang


menunggu hasil USG terlebih dahulu.


Kini joy pulang bersama Oma dengan


menaiki sebuah mobil mewah milik Oma ,


di dalam mobil Joy hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun , sampai


Oma yang mengajaknya bicara.


" Joy kau tidak akan berpisah dengan


David kan sayang?." Joy menoleh pada


Oma , karena dia dari tadi menghadap


jendela .


" Aku sebenarnya tidak berniat berpisah


dengannya Oma , tapi David slalu


mengulangi kesalahannya." Joy


tersenyum pada Oma .


" Tapi Oma tidak menyetujui keputusan


yang kau ambil Joy ."


" Tapi mau bagaimana lagi , kita lihat


saja . Aku sudah memberinya satu


kesempatan , jika dia mengulanginya


dengan terpaksa aku akan bercerai


dengannya." Joy mulai memeluk Oma .


" Sekali lagi aku minta maaf kepada


Oma ." mengeratkan pelukannya.


" Terserah padamu, Oma selalu


mendoakan yang terbaik untuk kalian."


menepuk punggung Joy pelan.


Mobil masuk kesebuah kawasan


komplek rumah elit , dan berhenti tepat


di depan gerbang sebuah rumah mewah ,


tak lain adalah milik Oma .


Setelah gerbang itu terbuka , mobil yang


di naiki Joy dan Oma masuk kedalam pekarangan Rumah mewah itu .


Joy turun dari mobil setelah seorang pembantu membukakan pintunya , dan


selanjutnya pembantu itu membantu


Joy berjalan masuk ke dalam Rumah.


Pemandangan itu tidak lepas dari


pandangan David , yang kini bersembunyi


di balik tirai di jendela kamarnya.


David memandang Joy dari kejauhan,


dengan wajah yang terlihat sedih karena


tak bisa berada di samping istrinya


disaat Joy membutuhkan nya .


David mengepalkan tangannya ,


menyimpan rasa sesak yang ada di


dalam dadanya , ingin rasanya dia datang


menyambut kedatangan istrinya dengan


memeluk nya , tapi itu tak bisa dia


lakukan , karena aturan yang telah


dibuat oleh istrinya.


Oma dan joy masuk ke dalam Rumah ,


" Oma , aku mau istirahat di kamar tamu ."


Joy menghentikan langkahnya saat


masih di ruang tamu.


" Baiklah , jika itu mau mu ." Joy kemudian


berjalan menuju kamar yang dia inginkan,


dengan seorang pembantu yang


membantunya berjalan .


" Aku ingin sendiri , kau keluarlah." ucap


Joy saat sudah berada di dalam kamar ,


dan pembantu itu pun keluar .


Joy melihat keadaan sekeliling kamar,


dia teringat dimana David memaksakan


kehendak nya dan berakibat dia masuk


rumah sakit .


Joy duduk di tepi ranjang , tangannya


menyentuh sprei dengan mata yang


terpejam , membuang perasaan yang


membuat hatinya resah .


🌹🌹🌹


Malam ini Joy makan malam dengan


Oma tanpa di temani seorang David


disana , di dalam lubuk hati Joy merasa


ada secuil kekurangan dimakan


malamnya saat ini.


" Joy kau harus makan yang banyak,


ingat kau sekarang tidak sendirian ."


Joy mengangguk.


" Iya Oma , " meminum segelas jus yang


ada di depannya.


" Oma , aku pamit ke kamar dulu." ucap


Joy menyelesaikan makanannya.


" Kenapa terburu-buru Joy ?." tanya Oma


melihat beranjak dari duduknya.


" Maaf Oma , tapi aku sekarang merasa


cepat lelah." kemudian berjalan menuju


kamarnya , sebelumnya dia melihat


sekilas kearah lantai atas, tempat


kamarnya dan David dulu , dan masuk


kedalam kamar tamu.


Semenjak kandungan Joy memasuki


usia sembilan bulan , dia merasa cepat


lelah , ingin rasanya dia tidur sepanjang


hari di kamar , karena rasa malasnya


untuk keluar.


David membuka pintu kamarnya, dia


ingin keluar untuk makan malam. Tapi


dilihatnya Joy sedang duduk dimeja


makan membuat dia mengurungkan niatnya.


Dia masuk kembali kedalam kamarnya,


tak berapa lama pintu kamarnya terketuk


oleh pembantu yang mengantarkan


makanan untuk makan malamnya.


David membuka pintu " Tuan , ini makan


malam untuk tuan . Nyonya besar yang


kesini ." ucap seorang pembantu di depan


pintu.


" Baiklah, taruh saja di dalam." David


membuka pintunya agak lebar.


Setelah menaruh nampan berisi makanan


pembantu itu segera keluar dari sana .


kemudian David menutup pintu.


David tak berselera untuk menikmati makanannya , dia berjalan ke balkon ,


belum sampai dia keluar dari pintu


langkahnya terhenti karena melihat


Joy yang sedang duduk di kursi balkon


kamarnya, yang terletak tepat disebelah


kamar David.


David mencuri pandang pada istrinya ,


hatinya merasa sedikit terobati bisa


melihat wajah cantik istri yang sangat dia


cintai.


Joy yang merasa kedinginan , berulang


kali menggosokkan telapak tangannya


pada lengannya , untuk mengurangi


rasa dingin ditubuhnya.


Melihat semua itu, David merasakan


dingin pada lengannya , ingin rasanya


dia memeluk erat istrinya dan tak akan


melepaskannya.


Terdengar pintu akan terbuka Joy


menoleh , ternyata suara itu dari kamar


sebelah ,dia langsung masuk kedalam


kamar . Dan pintu terbuka keluarlah


seorang David sedang memandangi


punggung kepergian Joy .


Didalam kamar Joy menerima telepon,


" Hallo Rudi , bagaimana kabarmu?,


apa kau menelfonku untuk memberikan


kabar baik untukku ?." ucap Joy antusias


mengangkat telfon nya.


" Iya Joy , apa kau bisa kesini ? karena


ada orang yang akan menawarnya


dengan harga lumayan mahal." jawab


seseorang bernama Rudi .


" Kapan ? kalau besok aku tidak bisa."


" Tidak kawan , Minggu depan orangnya


akan kesini dan kau juga harus kesini.


Joy kaget.


" Baiklah , Minggu depan aku akan kesana


tapi bagaimana ini , Mery ada di Jogja


dan aku sekarang ada di Jakarta."


" Mery harus ikut Joy , karena rumah itu


milik Mery dan kau juga harus datang,


karena kau adalah walinya.


" Kalau begitu nanti aku akan bicara


padanya ." ucap Joy mematikan telfonnya.


Joy duduk diatas ranjangnya, menghirup


udara sebanyak-banyaknya untuk


mengurangi beban di dalam pikiran nya .


Dia bingung memikirkan bagaimana


caranya dia untuk pergi ke Surabaya,


mendatangi rumah Mery yang akan


di jual.


***


Seminggu kemudian...


Pagi-pagi sekali Joy akan berangkat


ke Bandara , untuk penerbangan nya


ke Surabaya .


Joy tidak ijin pada Oma , karena dia tahu


tidak mungkin Oma akan mengijinkannya.


Jadi Joy pamit ke rumah Anggi tapi


di jalan dia mengarahkan taksi yang di tumpangi nya menuju Bandara , agar


Oma tidak curiga .


Joy mengajak Anggi untuk pulang ke


Surabaya, agar jika ada sesuatu terjadi dengannya , ada orang yang


disampingnya .


David terbangun dari tidurnya, bertanya


pada seorang pembantu yang


mengantarkan sarapan untuknya.


" Apa Joy sudah sarapan ?." pembantu itu


kaget , menjawab dengan terbata - bata .


" Su,, sudah Tuan, sekarang Nyonya Joy


pergi ke Rumah nona Anggi ." pembantu


itu menunduk.


" Apa kau bilang , kerumah Anggi ." David


segera bangun dari ranjangnya , berjalan


keluar kamar mencari keberadaan Oma .


" Oma , apa benar Joy ke Rumah Anggi?."


berdiri di depan Oma .


" Iya , dia sudah pamit padaku." ucap Oma


santai .


David merasa curiga dengan kepergian


istrinya ke Rumah Anggi , dia merasa ada yang tidak beres , kenapa Joy kesana


pada waktu sepagi ini .


David cepat ke kamarnya dan kembali


dengan pakaian yang sudah siap untuk


keluar. Dia pamit untuk menyusul istrinya,


memastikan jika kecurigaannya itu salah .


Dengan mengendarai mobilnya , David


ke Rumah Nenek Anggi , sesampainya


disana dia menanyakan keberadaan


istrinya .


Dan betapa terkejutnya David mendengar Nenek Anggi berbicara, jika Joy dan


Anggi saat ini pergi ke Surabaya .


David terduduk lemas di dalam mobilnya,


memikirkan ternyata kecurigaannya


tentang kepergian Joy adalah benar .


Joy meninggalkannya lagi .


David segera menelfon Roy ," Hallo Roy


kau ikut aku , kita akan segera ke


Surabaya ." dengan wajah marah dan


frustasi David mematikan telfonnya.


*"Bagaimana pun caranya, sekarang


aku tidak peduli, aku harus bisa


membawa Joy kembali ." batin David.


_


_


Maaf ya up nya lama , Author mohon


dukungannya , jangan lupa ninggalin


jejaknya ya 😊😘


Nanti Author tambah lagi up nya


salam cinta dari author 😘😘😘


Next πŸ€