Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Mery tidak terima


Kesunyian di dalam lift menemani dua orang yang sedang bersitegang, Mery yang gemetaran tak mampu menatap pria yang sedang murka dihadapannya kini.


Roy menatap Mery intens dengan kedua tangannya diletakkan di kedua sisi tubuh


gadis itu yang sedang berdiri, masih diam seribu bahasa keduanya berbicara dengan kode tatapan mata, seakan hati mereka bisa berinteraksi mendengar dan berbicara satu sama lain.


Pintu lift terbuka, lagi-lagi Roy mengusir orang-orang yang hendak masuk sampai tertutup pintu lift itu kembali, keadaan yang seperti itu terjadi berulang kali, tanpa ada


satu orang pun yang berani membantah perintahnya.


' Apa dia gila, memangnya Rumah Sakit ini miliknya apa, main usir seenak jidatnya saja.' racau Mery dalam hati yang kesal melihat sikap Roy.


Mery belum tahu jika Rumah Sakit ini adalah milik David, dan Roy adalah salah satu orang kepercayaan David, jika tidak ada David, pasti Roy lah yang bertugas memegang kendali penuh atas Rumah Sakit ini.


Semua dokter dan pegawai Rumah Sakit


sudah tahu siapa Roy, jadi jika ada satu


ucapan keluar dari mulut pria itu, tidak ada yang berani membantahnya karena ucapan


Roy sama seperti ucapan David yang wajib dipatuhi.


Mery meronta ingin lepas dari Kungkungan


pria itu, semakin dia bersikeras maka Roy


pun semakin memepetkan dirinya pada gadis itu, akhirnya Mery memutuskan untuk diam, menunggu apa yang diinginkan orang yang menurutnya sudah gila ini.


"Apa mau kak Roy sekarang? Cepat katakan!." Bentak Mery kesal dengan wajah mendongak ke atas menatap Roy dengan mimik menantang.


Roy menyunggingkan bibir saat melihat


gadis yang selalu membuatnya gemas, hati


Roy yang sedang murka seketika hilang saat tatapannya saling bersahutan dengan


tatapan Mery.


'Astaga .. , kemana rasa kesalku padanya, rasanya aku tak kuat jika tidak ******* bibir mungil itu.' menggertakkan gigi, Roy


meredam keinginan yang bergejolak di dalam dada.


Mery takut saat pertanyaannya tidak dijawab oleh Roy, malah tatapan nakal yang diberikan Roy ketika melihatnya.


'Beneran nih orang sudah gila, senyum-


senyum begitu juga.' seketika Mery bergidik ngeri, terpaksa menelan ludahnya demi meredakan rasa takutnya.


"Kak Roy, hello .. , tuli apa pura - pura gak denger ha? Aku tanya kak Roy sekarang maunya apa, biarkan aku keluar dari sini, huhhh." Teriak Mery lagi dengan di akhir


kalimat dia sengaja meniup wajah pria yang dari tadi diam tidak mengeluarkan suara.


Roy langsung berkedip, Mery tersenyum merasa semburan udara yang mengenai


wajah Roy telah berhasil menyadarkan pria


itu dari lamunan.


"Kau sekarang sudah berani ya berhubungan dengan lelaki banci itu."


Kalimat Roy membuat Mery bingung,


"lelaki banci?." Mengulang kata yang membuatnya tidak mengerti.


"Jangan sok bodoh jika bersamaku, bersamanya kau sangat pemberani."


Masih mengukung Mery dengan kedua tangannya.


"Kak Roy ini bicara apa sih, beneran aku tidak tahu kak.. ." Mendorong tubuh Roy agar


sedikit menjauh darinya.


Bukan gerakan menjaga jarak yang Roy lakukan, malah Roy mempersempit jarak


agar keduanya saling menempel satu sama lain.


"Ceritakan padaku sejak kapan kau berhubungan dengannya dan putuskan dia sekarang juga." Berbicara dengan mata yang masih bertatap.


Pernyataan Roy membuka jawaban jika dari tadi yang mereka bahas adalah Bimo, Mery baru faham dan seketika itu juga mendorong Roy sekuat tenaga.


Dorongan tangan Mery keras berhasil


membuat Roy terjungkal ke belakang.


"Cukup kak Roy ikut campur urusanku,


karena kita bukan siapa-siapa." Bantah Mery yang tidak terima dengan perintah yang Roy berikan padanya.


"Sudah berani kau sekarang."


Melangkah mendekati Mery, menabrakkan tubuh gadis itu kembali ke tembok, tapi yang berbeda sekarang Roy mencekal pergelangan tangan Mery dan mengangkatnya ke atas dengan menempel di tembok.


"Lepaskan!." Mery berusaha bergerak namun tidak bisa, kekuatannya kalah jauh dengan Roy.


"Jawab pertanyaanku dahulu baru aku akan melepaskanmu." Mendekatkan wajahnya


"Sudah lama aku tidak memberikan hukuman padamu kelinci kecil." Semakin mendekat.


'Astaga.' terkejut Mery mendapati nafas


hangat Roy mengenai lehernya.


Mery gemetaran, merinding karena tidak adanya pilihan lain, selain menuruti apa kata pria gila ini, dia tidak ingin mendapat


perlakuan yang lebih jauh lagi dari Roy.


"Baiklah aku akan jujur sekarang." Perkataan Mery menghentikan kegiatan Roy yang menyesap leher Mery.


Roy mengangkat kepalanya, lalu menatap


Mery.


"Aku .. aku resmi berhubungan dengan kak Bimo semalam, apa hak kak Roy tidak


terima?." Berusaha memantapkan hatinya melawan Roy.


"Bagus, pintar sekali pertanyaanmu." Jawab Roy sambil tertawa kecil.


"Aku sudah menjawabnya jadi lepaskan aku sekarang kak!." Mery meronta.


"Tidak semudah itu, kau adalah milikku dan selamanya akan menjadi milikku, paham?." Mery tertawa mendengar ucapan Roy, " pernyataan apa itu aku tidak terima."


"Terserah apa katamu Mery, aku tidak akan tinggal diam jika ada lelaki yang


mendekatimu, jadi jauhkan niatmu untuk menjalin hubungan dengan pria lain."


Roy melepaskan cengkraman tangannya


pada pergelangan Mery, kemudian berbalik membelakangi Mery.


Mery lega bisa lepas dari kungkungan Roy,


dia memeriksa pergelangan tangannya yang merasa agak sakit.


"Ini konyol, kak Roy bilang aku adalah milik kakak? Hahaha .. lucu, kak Roy bebas


bersama dengan perempuan lain tapi aku


tidak boleh dengan lelaki lain kan lucu,


kak Roy ingat kita tidak ada hubungan


apa-apa, dan kita tidak terikat satu sama lain , CAMKAN itu!." Roy langsung berbalik badan.


"Kau sekarang sudah pintar berbicara ya."


Roy mendekati Mery dan langsung menciumnya. Hati Mery semakin geram, merasa tidak mempunyai harga diri lagi.


Sudah berulang kali Roy memperlakukannya begitu, selalu saja mencuri ciuman gadis itu tanpa ijin.


Kali ini dia tidak bisa tinggal diam, menarik


tas di samping nya yang dari tadi dia bawa dan memukulkannya pada Roy.


'Rasakan ini.' ucap Mery dalam hati.


Kedua bibir mereka akhirnya terlepas.


"Cukup kak, aku sudah muak dengan


perlakuan kak Roy padaku, aku memang


pernah menyukai kakak, tapi kak Roy sudah memilih wanita lain, itu sangat menyakitkan hatiku, ku mohon kak Roy jangan perlakukan aku seperti itu lagi, cukup." Mery menangis terduduk di lantai lift.


Roy merasa bersalah, dia ikut berjongkok di hadapan gadis itu, sambil menenangkan


Mery yang menangis, Roy memeluk Mery.


"Maafkan aku Mer, aku tidak bermaksud melukai hatimu, aku hanya …." Roy tak


mampu melanjutkan ucapannya karena


pintu lift tiba-tiba terbuka.


"Apa yang kalian lakukan didalam sini?."


Teriak seorang wanita mengagetkan keduanya, seketika Roy dan Mery berdiri.


_


_


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Aku bingung harus jadi siapa, Mery apa jadi Isabella,, aku jadi author aja dah agar bisa ngatur mereka πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Next gakkkkkπŸ“’πŸ“’