Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Cucuku?


Joy masih belum sadarkan diri kembali, dia berbaring di tempat tidur di sebuah kamar


tamu dengan tubuh yang penuh perban yang menutupi lukanya akibat kecelakaan mobil yang menimpanya.


"Nyonya Antika silahkan nyonya makan malam dulu, dari tadi nyonya belum makan, biarkan saya yang menggantikan untuk menjaganya." Seorang pembantu membujuk majikannya.


Tapi nenek Antika menggeleng, menolak permintaan dari pembantunya dan ingin tetap menunggu Joy sadar.


Sang pembantu yang mendapat penolakan


dari majikannya pun kembali ke ruang makan untuk memberitahu kepada tuannya, bahwa bujukannya tidak mempan.


Pak Farhan mendengar aduan dari pembantunya pun merasa kecewa, pria tua


itu tahu bahwa istrinya melakukan itu karena rasa kerinduannya dengan anak yang pernah diusirnya dulu, seorang putri yang tidak mau menuruti perintah kedua orang tuanya.


Rasa bersalah itu kembali muncul saat


melihat wajah korban yang dirawat


di rumahnya itu mirip sekali dengan putrinya.


Farhan mengerti jika istrinya tak ingin meninggalkan orang itu, menunggu dengan sabar hingga orang itu sadar untuk menanyai tentang kebenaran dugaan yang timbul


didalam hatinya.


Farhan yakin jika orang yang diselamatkan


oleh pembantunya itu adalah cucu yang


pernah dibuangnya dua puluh lima tahun


silam, jenis kelamin mereka sama dan begitupun wajah keduanya yang tidak jauh beda.


Antika ingin membuktikan benar tidaknya


akan kebenaran dugaannya itu, ingin mendengar langsung dari bibir orang yang masih berbaring dengan menutup mata.


Farhan tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya membiarkan istrinya dengan kemauannya


dan menyuruh pembantunya untuk mengirimkan makan malam ke kamar tamu agar istrinya bisa makan sambil tetap berada


di sisi orang itu.


Farhan bertanya kepada sepasang suami istri yang bekerja di rumahnya, bagaimana awal mula ceritanya mereka bisa menemukan


orang yang mirip dengan anaknya itu.


Farhan kaget, saat mendengar cerita dari pembantunya jika mereka menemukan orang itu dalam keadaan tangan yang masih terikat, mereka menduga jika orang itu adalah korban penyekapan atau lebih pastinya di culik.


Tanpa berpikir panjang Farhan langsung menyuruh pembantunya untuk memanggil orang kepercayaannya, menyuruh untuk menyelidiki tentang asal-usul dan silsilah apapun yang berhubungan dengan orang yang diselamatkan oleh pembantunya tadi.


###


Di dalam kamar


Seorang nenek tua memandangi wajah


orang yang mirip dengan anaknya, mengelus rambutnya, mengingat beberapa cuplikan kenangan yang dulu pernah dia lakukan


saat bersama putrinya.


"Kau mirip sekali dengan Wulan ku, apa kau cucuku yang dulu?." Berkata dengan masih memandang sambil mengelus pucuk kepala.


Tak terasa air mata wanita tua itu menetes, menyesali perbuatannya dulu yang pernah


dia lakukan pada putrinya.


Banyaknya olokan, hinaan, bahkan suatu kalimat mengusir pun ikut serta dalam menuruti ego dan emosi yang membuang


rasa sayang seorang ibu pada putrinya.


"Maafkan aku yang dulu membuangmu." Menggenggam erat jemari Joy dengan penuh penyesalan.


Nenek Antika menangis, membungkuk meratapi penyesalan, andai waktu bisa


berputar pastinya dia tidak akan pernah menyetujui keinginan suaminya yang akan membuang cucu pertamanya itu ke Panti Asuhan.


Kemarahannya yang sangat, membuatnya tak mempunyai hati nurani, sepeninggal anaknya dia baru menyadari bagaimana rasanya kehilangan dan kehampaan tidak adanya


orang yang terkasih.


Meskipun dirinya diliputi banyak harta tapi kehilangan seorang anak tetaplah tidak membuatnya bahagia, penyesalan memang datang di akhir tapi semua sudah percuma tidak bisa mengembalikan keadaan.


Jemari Joy bergerak mengenai jari nenek Antika, seketika wanita tua itu mendongakkan wajahnya, memeriksa benar apa tidaknya


yang ia rasakan tadi.


Joy mulai membuka mata, pandangannya sedikit buram serta pikiran yang masih ling lung membuatnya mengumpulkan kesadaran.


"Dimana aku?." Suara yang lemah, Joy memegang kepalanya.


Sepertinya benturan di mobil membuat kepala ibu muda itu merasakan sakit.


"Kau sudah sadar nak? aku .. aku.. panggilkan dokter." Nenek Antika hendak melepaskan tautan jarinya tapi Joy malah mengeratkan.


Joy menggeleng.


"Tidak perlu, tolong jelaskan aku sekarang


ada dimana?." Joy memandang nenek tua di hadapannya.


Nenek Antika menjelaskan pada Joy, jika dia bisa berada di rumahnya berkat pertolongan kedua pembantunya yang menemukan Joy


di hutan.


Joy diam, mengingat-ingat kejadian yang menimpanya hingga dia tak sadarkan diri.


"Terima kasih, tapi aku ingin pulang." Joy beranjak dari tempat tidurnya, berusaha untuk duduk.


"Jangan lakukan itu kau belum pulih, jika kau sudah pulih aku akan mengantarkanmu pulang." Bujuk nenek Antika.


Nenek Antika tidak ingin Joy


meninggalkannya, dia ingin melepas rasa rindunya pada putrinya dengan merawat


orang asing yang berada di rumahnya sekarang.


Joy yang masih lemas tidak bisa membantah, yang bisa ia lakukan hanya mengangguk dan menuruti permintaan nenek tua di depannya, hati Joy merasa damai saat bersama orang


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di sebuah taman


Pak Farhan duduk di bawah pohon sambil memberi makan burung kesayangannya, berbicara berdua dengan sekertaris sekaligus tangan kanannya. Tak perlu menunggu lama orang kepercayaan pak Farhan sudah bisa mengantongi informasi tentang orang asing yang berada di dalam rumahnya.


Tidak bertele-tele orang kepercayaan pak Farhan menunjukkan semua bukti yang dikumpulkannya pada bosnya.


Pak Farhan memeriksa dan membaca dengan hati-hati apa yang tertulis di sana, dan apa


yang ada di hatinya semua terbukti, air mata pria tua itu seketika menetes dan meletakkan lembaran kertas yang dipegangnya keatas meja.


"Aku tidak menduga bisa dipertemukan


dengan cucuku kembali, apakah ini pertanda jika aku harus menebus kesalahanku yang dahulu."


Farhan melamun sambil berbicara sendiri, ketika menyadari kenyataan di depannya


saat ini, rasa bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.


Dia bahagia karena bisa bertemu kembali dengan cucu yang pernah di buangnya, tapi dia juga merasakan sedih karena pertemuannya kali ini disaat keadaan cucunya yang terluka.


"Sekarang kau harus mencari tahu apa yang menimpa cucuku hingga dia bisa terluka


dan siapa yang melakukannya serta motif dibaliknya kau harus mencarinya." Perintah Farhan pada tangan kanannya.


Sang tangan kanan mengangguk.


"Baik akan saya laksanakan segera." Berbicara sambil menunduk.


Farhan melihat istrinya berjalan menuju kearahnya, "kau boleh pergi sekarang, ****."


Tanpa menunggu perintah kedua kali Dicky cepat meninggalkan Taman, saat berpapasan dengan nyonya besarnya Dicky tak lupa memberi salam hormat.


Antika mendekati suaminya dengan wajah sumringah, saat Farhan melihat


pemandangan itu rasanya senyum yang


indah itu lama sekali tidak dilihatnya.


Farhan senang bisa melihat senyuman itu kembali.


"Pak, dia sudah sadar." Panggil Antika yang ingin berbagi kebahagiaan dengan suaminya.


Farhan membalas senyuman.


Saat berada dekat dengan suaminya, Antika tidak sengaja melihat kertas yang berjajar


di atas meja, didalam hatinya muncul rasa penasaran, diambilnya kemudian dibaca.


"Apa maksud semua ini pak? tolong jelaskan padaku!." Sambil menunjukkan kertas


di tangan, yang sudah dibacanya.


Farhan mendekat dan memeluk istrinya.


"Dia cucu kita, putrinya Wulan." Ucap Farhan sambil menepuk pelan punggung istrinya.


Antika menangis,"aku sudah menduganya, hatiku tak bisa di bohongi." Antika terisak.


"Mungkin ini takdir untuk kita bisa kesalahan yang pernah aku lakukan dulu." Antika mengangguk bahagia.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Dicky hendak pergi meninggalkan rumah pak Farhan tapi dia melihat seorang wanita yang berdebat dengan seorang pembantu.


Dicky mendekati dan bertanya apa yang


terjadi, kata seorang pembantu bahwa wanita itu ingin keluar dari kamar tapi pembantu


tidak berani mengijinkan karena takut dengan majikannya yang melarang wanita itu untuk keluar.


Tapi wanita itu tetap ngeyel dan akibatnya


dia terjatuh, Dicky mendekat dan membantu untuk berdiri.


Tanpa bicara Dicky langsung mengangkat


dan menggendong Joy. Joy kaget


memandang dengan diam siapa orang yang menggendongnya.


"Anda si .. siapa?." Suara pelan Joy.


Dicky diam tidak menjawab, berjalan masuk kedalam kamar tamu dan menaruh Joy diatas tempat tidur kembali.


Masih memandang, Joy memberanikan diri untuk bertanya." Terima kasih, boleh aku tahu anda siapa?."


Dicky menoleh, mata mereka bertemu.


Deg.


'Wanita ini.' hati kecil Dicky bergumam saat matanya bertemu dengan manik mata joyyana.


"Anda tidak perlu tahu siapa saya, Anda


masih belum pulih jangan asal keluar dari


sini." Dicky berbicara sambil menghadap


ke samping, tidak berani menatap kedua


manik mata indah joyyana.


Dicky pergi tanpa bicara maupun berpamitan dengan orang yang barusan ditolongnya.


'Astaga, bola mata itu sepertinya aku pernah melihat, Ana apa mungkin dia Ana?, tidak mungkin.'


Dicky berbicara sendiri didalam hatinya, di sepanjang dia berjalan wajah joyyana masih setia mengikuti.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Masih joyyana lagi yahhnj....


Next ๐Ÿ˜