
Di jalan Rani berpapasan dengan Isabella, wanita itu diam saja tidak menyapa pada
calon mertuanya itu, Rani sempat kaget saat melihat perubahan pada calon menantunya itu.
"Is,.. ." Panggil Rani saat bersisipan jalan.
Panggilan nya tidak ia lanjutkan karena
Isabella yang seakan tak mengenalinya.
'Apa ada yang salah dengan gadis itu? Apa
dia tidak tahu jika ada aku?.' gumam Rani di dalam hati.
Adinda yang baru saja keluar dari minimarket pun menghampiri ibundanya, melihat raut wajah ibundanya yang seakan kebingungan pun Adinda memutuskan untuk bertanya.
"Bunda lapar?." Menatap bundanya,
memeriksa jika ada yang salah dengan bundanya.
"Ngawur, lapar darimana kita kan baru selesai makan siang, apa kau lupa Din?."
Memukul lengan putrinya dengan satu tangan.
Adinda menggosok lengannya.
"Kira aja bunda lapar lagi, aku kan tidak tahu dan aku lihat bunda lagi ling lung." Ucap
Adinda sambil memakan es krim di tangan yang baru dibelinya tadi.
Rani cepat mengajak putrinya untuk masuk
ke dalam taksi, agar dia bisa cepat menjelaskan apa yang membuatnya bingung.
Di dalam taksi Rani menjelaskan pada
putrinya, apa yang dilihatnya tadi tidak seperti Isabella yang biasa dia kenal. Perubahan drastis Isabella membuat Rani berfikir keras.
Tapi Adinda tidak kaget dengan semua perubahan itu, dia berpikir pasti terjadi
sesuatu dengan hubungan kakaknya yang membuat Isabella berubah seperti itu.
Dalam hati Adinda sempat memikirkan hal
itu, lambat laun semua itu pasti akan terjadi, karena yang Dinda tahu jika kakaknya tidak menyukai Isabella sepenuhnya.
"Coba bunda tanyakan pada kak Roy, mungkin mereka sedang bertengkar atau ribut."
Ucapan Adinda membuat Rani ingin segera menghubungi anaknya.
Beberapa menit berbicara dalam sambutan
via telepon Rani menemukan jawaban, dan tanpa harus menjelaskan lagi Adinda sudah bisa membaca dari raut muka ibundanya tentang apa yang terjadi.
"Sudah kuduga."
Satu kalimat Adinda membuat ibundanya menjatuhkan ponsel yang dari tadi dipegangnya.
"Sudahlah Bun, mungkin mereka belum berjodoh dan bunda harus bisa menerimanya." Ucap Adinda sambil mengambil ponsel milik bundanya yang terjatuh.
Rani masih diam mematung, hatinya masih belum menerima kenyataan jika hubungan putranya sudah kandas.
"Pasti ini semua gara-gara ulah gadis tak tahu diri itu." Geram Rani menuduh Mery yang memisahkan hubungan anaknya.
Adinda memutar mata malas, jengah dengan pemikiran bundanya yang teramat picik dan menuduh Mery yang menjadi kambing hitam.
"Bunda cukup, jika mas Roy tahu bunda
seperti ini, mas Roy pasti marah." Kesal
Adinda pada bundanya.
Tapi Rani masih berpendirian teguh pada pendapat dan pemikirannya.
"Biarkan mas mu marah, ini yang dia inginkan, kehilangan bunda." Teriak Rani didalam taksi, membuat sang supir menggeleng geleng.
Adinda memutuskan lepas tangan, dia tak
mau diikut pautkan jika ayah dan kakaknya sampai murka.
"Terserah bunda, tapi jangan ikutkan aku
dalam permasalahan ini."
"Dasar anak tak bisa diandalkan, uang
jajanmu bunda stop." Ancam Rani pada putrinya.
Adinda yang mendengar ancaman dari bundanya merasa tak takut, karena dia
masih bisa meminta uang jajan pada ayahnya.
"Turunkan aku disini saja bunda, aku ingin
ke tempat Tante Wulan, aku ingin tahu perkembangan terbaru tentang kasus kak
Joy, bunda memikirkan hal yang tidak
berguna dan lupa jika sekarang saudara
bunda sedang bersedih." Pungkas Adinda kemudian turun dari taksi.
๐น๐น๐น
meninggalkan Roy, dia tidak mau dikatakan sebagai wanita perebut laki orang, cekalan tangan Roy berhasil dihempas oleh gadis itu, dan Mery pun berhasil lepas dan menjauh
dari pria itu.
"Mery tunggu!." Larang Roy saat melihat kepergian Mery.
Tapi Mery tidak menoleh ataupun kembali,
dia terus saja berlari menjauh meninggalkan Roy sendiri.
Roy terduduk di kursinya semula, memikirkan keputusannya kini. Disaat dirinya ingin
melepas salah satu tapi kenapa dua duanya malah pergi meninggalkannya.
Di saat dirinya ingin menuruti Ibunda nya kenapa hatinya hancur, sekarang kedua orang itu telah pergi meninggalkannya.
Roy melanjutkan menikmati minumannya,
tapi belum habis dia menyesap minumannya sudah ada orang yang memukulnya dari belakang.
Bukk ..
"Dasar anak tidak tahu diri, apa susahnya menuruti kata bunda, toh membahagiakan orang tua kau juga dapat pahala, sekarang
kau puas Isabella meninggalkanmu?." Ujar
Rani setelah berhasil memberikan satu
pukulan pada putranya.
Roy merasa malu dilihat banyak orang,
dipukul dan di olok oleh ibundanya sendiri.
"Bun ini di tempat umum, mau ditaruh
dimana mukaku, apa aku harus melawan
bunda disini, mari kita mencari tempat."
Bujuk Roy dengan sopan agar bundanya bisa mendengarkan nya.
Roy mengajak bundanya ke Taman belakang, sebuah tempat privasi yang disediakan oleh cafe itu.
"Bunda jelaskan dengan pelan apa
kesalahanku yang membuat bunda tega mempermalukanku." Rani mendengus
semakin kesal.
Dia menjelaskan jika tadi di jalan bertemu dengan Isabella tapi gadis itu diam tidak menyapanya seakan mereka tidak saling mengenal. Hal itu membuat Roy ingin tertawa, bisa bisanya hanya soal Isabella bisa
membuat bundanya itu memukul putranya sendiri di tempat umum.
Roy menggeleng geleng tak percaya.
Siapa sih disini yang putranya, kenapa
sampai segitunya Rani membela Isabella,
hal itu membuat Roy frustasi.
"Bunda dengarkan aku, aku tidak akan mengulangi penjelasanku dan bunda harus bisa mengerti tentang apa yang terjadi." Rani membelakangi putranya.
Hal itu membuat Roy semakin jengah.
"Aku dan Isabella sudah tidak ada hubungan apapun, yang memutuskan untuk berpisah adalah DIA, dan bunda harus bisa menerima itu, bukan ada wanita lain tapi Isabella yang sudah bosan denganku."
Rani masih tidak percaya dan tidak terima penjelasan putranya.
"Omong kosong apa ini Roy, Isabella tidak mungkin berbuat seperti itu dan dia tidak mungkin meninggalkanmu karena dia sangatlah mencintaimu, pasti semua ini gara gara kau, yang membuatnya terpaksa meninggalkanmu."
Roy malah tersenyum saat mendengar
kekeras kepalaan dari bundanya.
"Cukup Bun, disini yang anak bunda siapa
dan kenapa bunda lebih menyukai dan membela Isabella ketimbang aku putramu,
apa aku anak pungutmu Bun, sehingga kau menyiksaku seperti ini."
Ucapan Roy membuat Rani menjatuhkan tas kecil yang dibawanya.
"Tidak sayang, kau adalah putra bunda dan selamanya akan menjadi putraku, tidak ada anak pungut disini, bunda hanya khilaf, maafkan bundamu sayang."
Tangis Rani pecah, tak kuasa mendengar ocehan Roy yang mengatakan dirinya sebagai anak pungut.
Rani hendak memeluk putranya tapi kedua tangan Roy dia angkat untuk menolak sambutan tangan ibundanya.
"Cukup Bun, aku ingin menenangkan diri dan hatiku, biarkan aku sendiri dulu." Roy berlari meninggalkan ibundanya.
Rani terduduk di rerumputan, menangis
melihat kepergian putranya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
ayo mana dukungannya, jejaknya yahhh
lanjut g nihhhh