
Anggi sudah tidak terlihat, Joy diam di dalam mobil menunggu kedatangan ibunya yang
akan membawa my boy bersamanya.
Tiba-tiba pengawal perempuan yang bersama Joy tadi ikut masuk kedalam mobil dan duduk
tepat di samping Joy, membuat ibu muda itu kaget.
"Kenapa kau ikut masuk?."
Memandang si pengawal pikiran Joy mulai macam macam. Tapi pengawal itu tidak menjawab pertanyaan joyyana, malah berkata pada temannya.
"Ayo jalan!."
Satu kata perintah dari pengawal itu bagaikan sebuah titah bagi sang supir, alhasil mobil
yang Joy tumpangi langsung berjalan
kencang dan meninggalkan Rumah Sakit.
Joy semakin takut, " kalian mau bawa aku kemana? Bayiku belum datang, tunggulah sebentar." Ucap Joy yang cemas, memegang lengan si pengawal, berharap agar si pengawal mendengar dan menuruti permintaannya.
"Ini perintah nyonya, nanti kalian akan
bertemu di rumah." Jawab sang pengawal dengan raut wajah tenang.
Sang supir mulai tertawa, membuat Joy
curiga jika yang bersamanya kini bukanlah pengawal suruhan Oma yang sebenarnya. Nalurinya berkata jika dirinya kini sedang
dalam bahaya, kecemasan Joy semakin menjadi.
"Putar balik! Aku tidak mau pergi jika tidak bersama dengan putraku." Teriak Joy.
Teriakan Joy membuat semua yang ada di dalam mobil tertawa kecuali joyyana yang memandang satu persatu orang dengan ketakutan, pengawal perempuan itu tanpa bertele-tele langsung mengikat tangan Joy
dan dilakban bibirnya, agar Joy tidak bisa
berkutik lagi.
"Sudah cukup kita bermainnya, sekarang kau harus menurut pada kami nyonya besar, hahaha .. ." Sambil mengeratkan ikatan.
"Mmmm," erang Joy yang tak bisa bicara.
Joy meronta, ibu muda itu tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menangis karena
harus berpisah lagi dengan putranya, ingin melarikan diri namun itu mustahil dia lakukan, ikatan di tangannya sangatlah kencang, berteriak pun tak bisa dia lakukan.
Joy hanya bisa diam sambil memikirkan
bagaimana caranya dia untuk bisa melarikan diri.
๐น๐น๐น
David berada di sebuah cafe sedang
menikmati secangkir kopi, tiba-tiba didatangi oleh seorang pria dengan tiga bodyguard
yang mengawal di belakang nya.
Pria itu langsung duduk di depan David,
tanpa basa-basi pria itu langsung
mengatakan apa maksud dari kedatangannya.
"Sudah aku peringatkan dan aku beri kesempatan untukmu berkumpul dengan keluargamu, tapi kau tak menggubris kesempatan yang kuberikan, kau malah tetap asik disini, jadi sekarang jangan salahkan
aku jika aku memisahkan kalian." Mengakhiri ucapan dengan menyunggingkan senyuman, tanda meremehkan David.
Setelah puas berbicara pria itu pergi meninggalkan David. David tercengang
melihat kepergian Tomi dan para bodyguard nya, mereka pergi dengan tawa yang menertawakan kebodohan David, yang
belum tahu kejadian apa yang menimpa keluarganya sekarang.
David berpikir sejenak lalu dengan cepat mengambil ponselnya untuk menghubungi Roy.
"Hallo Roy, dimana joyyana dan putraku sekarang? mereka tetap dalam
genggamanmu kan?." Tanya David yang tak
ada jawaban apapun dari temannya.
tapi suara Roy tidak terdengar di sambungan telepon itu, tidak menyahut atau pun
menjawab pertanyaan dari David.
David berulang kali berteriak agar Roy
menjawabnya tapi Roy dari tadi hanya diam.
David semakin kesal.
"Persetan dengan keterdiamanmu Roy, cepat jawab aku, bagaimana keadaan istri dan putraku saat ini, JAWAB!." Bentak David emosi.
"Maaf." Suara lirih Roy penuh rasa bersalah.
David seketika lemas setelah mendengar
satu kata maaf dari Roy, pikirannya mulai
macam-macam, hal apa yang terjadi sebenarnya pada keluarganya kini, Roy tak menjelaskan dengan benar membuat pikirannya semakin tak karuan.
Tanpa menunggu lagi dia langsung berdiri
dan meninggalkan cafe, segera pergi ke Apartemen untuk mengambil perlengkapan agar bisa cepat pulang.
Di jalan dia berulang kali mengumpat
tentang kebodohannya, andai dia mendengarkan perkataan Tomi pasti tidak terjadi seperti ini, dalam amarah nya David mengendarai mobilnya dengan sekencang - kencangnya, tidak perduli apa yang nanti akan terjadi.
๐น๐น๐น
Menggunakan pesawat pribadi, David terbang menuju Indonesia, masih dengan amarah
yang bergemuruh David tak bisa berpikir
jernih, siapa yang celaka? Istri ataukah putranya, dia masih belum tahu pasti, karena Roy tidak menyebutkan dengan detail.
Perkataan maaf Roy sudah mewakili jika dia berbuat kesalahan, dari jauh hari David sudah berulang kali memberikan peringatan pada temannya itu, untuk lebih waspada saat menjaga keselamatan dua orang yang paling dia sayangi, tapi sekarang himbauan itu
seakan percuma.
David sampai di rumah, hal yang pertama dia cari adalah Roy, mencari suatu penjelasan
agar dia tahu apa yang sedang terjadi.
Bukk ..
"Katakan padaku apa yang terjadi
sebenarnya!." Pukulan dan pertanyaan datang bersamaan di raut muka Roy.
Roy tersungkur.
"Maafkan aku David, semua ini terjadi karena kebodohanku." Berusaha berdiri dengan memegang pipinya yang sakit akibat pukulan dari kepalan tangan David.
"Maafmu itu percuma, aku butuh penjelasan, siapa yang terluka disini?."
Teriak David membabi buta, memukuli Roy kembali.
Dari dalam datang Wulan dengan menggendong bayi Joy di tangannya, memberikan bayi itu pada David agar bisa menenangkan amarah yang dirasakan oleh ayahnya.
"Nak David." suara Wulan membuat David menghentikan pukulannya.
David menoleh, menerima pemberian ibu mertuanya, dengan penuh tangis dia
memeluk putranya.
"Astaga Roy, jadi yang mereka renggut
adalah istriku, kebodohanmu tak bisa ku maafkan Roy, apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya, kau harus bisa menemukan Joy dan menyatukan dia dan putranya, jika kau tak bisa aku akan memisahkan kau dan keluargamu , ingat ucapanku."
David berdiri, masih menggendong putranya dia berjalan ke lantai atas dengan isak tangis yang masih meluap di wajahnya.
Wulan membantu Roy berdiri, melihat sebuah pertikaian di depan matanya Wulan sedikit syok, dia tak menyangka begitu sadisnya menantunya itu saat marah.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Kita bahas Joy dulu yahhh...
jangan lupa jejaknya..
up gakkkk??