
Semenjak terbunuhnya Tomi, Joy belum diperbolehkan oleh Dicky untuk kembali
ke hadapan keluarganya. Dicky memanipulasi alasan agar Joy menunda niatnya untuk berkumpul dengan anak dan suaminya.
Dicky selalu mengatakan pada Joy jika anak buah Tomy masih berkeliaran sekarang ini belum waktu yang tepat untuk Joy melakukan hal itu, Dicky takut jika sewaktu-waktu anak buah bajingan itu bisa saja muncul untuk membalas dendam atas kematian bos besarnya.
Joy yang penurut ikut saja dengan apa yang dikatakan oleh Dicky, dia tidak tahu jika Dicky ada maksud lain. Yang dia tahu hanyalah bahwa Dicky mengatur rencana yang terbaik untuk kebahagiaannya nanti.
Untuk sementara ini Joy tetap tinggal
bersama pak Farhan, kakeknya.
Oleh permintaan pak Farhan, Joy diajari Dicky bagaimana caranya mengurus perusahaan, karena pak Farhan ingin harta yang
dimilikinya nanti jatuh ke tangan cucunya
yang pantas.
Joy sesungguhnya tidak berminat sedikit pun dengan harta warisan itu, tapi atas desakan
pak Farhan, Joy tidak bisa menolak.
Rencana pak Farhan berjalan dengan lancar, tiap hari Joy selalu bersama dengan Dicky, entah itu ke kantor ataupun keluar rumah, pak Farhan selalu mengarahkan jika cucunya itu harus ditemani oleh Dicky agar ada yang menjaga.
Joy tidak curiga sedikitpun jika ada maksud tersembunyi dari semua perintah yang kakeknya berikan, Joy selalu berpikiran
positif tidak ingin mencap orang yang membantunya itu dengan kecurigaan.
Setiap berangkat ataupun pulang dari kantor Joy selalu meminta pada Dicky untuk lewat
di depan rumah Oma, demi ingin melegakan rasa kerinduannya pada bayi yang sudah dia tinggalkan.
Joy selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kapan keadaan ini selesai. Dia sudah tidak sabar untuk berkumpul kembali dengan putra semata wayangnya, Joy sangat rindu.
Joy ingin sekali memberontak tapi Dicky
selalu bisa membalikkan pemikiran ibu muda itu.
Sampai di satu masa Joy sudah tidak tahan dengan rasa rindu yang sudah menumpuk
dan bergejolak dalam dirinya, Joy
memutuskan menyerah dan ingin mundur,
tapi disitulah Dicky baru menyadari jika dia tidak ingin kehilangan wanita itu.
Dicky memikirkan rencana bagaimana
caranya agar Joy bisa membenci suaminya, dan memutuskan untuk tetap tinggal
bersama kakeknya.
Mungkin kali ini keberuntungan berpihak
pada Dicky, tiba-tiba saja dia mendapatkan kabar jika David akan bertunangan dengan
adik Joyyana, berita itu akan dijadikan Dicky sebagai sebuah jalan keluar atas kerisauannya.
Di Dalam mobil ketika mereka berdua akan pulang Dicky memberikan sebuah majalah pada Joy. Membanting pelan majalah itu ke pangkuan Joy tanpa kata, Joy kebingungan untuk apa Dicky memberikannya sebuah majalah, apakah Dicky akan menjadikannya seorang model itu tak mungkin.
"Majalah?." Dengan wajah penuh tanya, Joy menatap pada Dicky sambil mengangkat majalah yang diberikan padanya.
"Bacalah, nanti kau pasti tau sendiri." Dicky menyalakan mobil.
Joy tidak mengenali siapa sosok model yang dijadikan berita utama di halaman depan majalah, karena posisi orang itu sedang membelakangi kamera, Joy juga tak sempat membaca berita utama yang tertera di situ.
Joy membuka majalah itu dengan perlahan, melihat dan membaca judul yang ada
di setiap lembarnya. Sampai pada lembar ketiga jari Joy yang akan membalik lembar berhenti. Ada sebuah bacaan yang membuatnya terkejut.
Joy yang dari tadi cuma membaca judul,
kali ini dia membaca semua kandungan
dalam isi berita di surat kabar itu.
Joy terdiam mematung, membaca dengan serius kata demi kata sampai di kalimat terakhir Joy merobek lalu meremas satu lembar yang berisi tentang berita pertunangan suaminya itu.
"Apa-apaan ini, cepat sekali mereka melupakanku." Joy menutup majalah dan melemparkannya pada Dicky.
Dicky mengambil majalah yang jatuh
di kakinya dan menaruhnya di depan kemudi.
"Kenapa kau ambil Dic, biarkan majalah itu jatuh." Mengambil majalah kembali dan melempar pada Dicky lagi.
"Joy majalah ini tidak salah apa-apa, yang
salah itu dirimu." ucap Dicky disela
mengemudi, dia masih fokus menatap
ke depan.
"Aku?, Kenapa jadi aku." Menatap Dicky
Joy sebal akibatnya Dicky yang tak bersalah terciprat imbasnya.
"Iya, kau yang salah. Kau mau saja dibodohi mereka." Dicky berusaha membakar amarah Joy.
"Kau mengatai aku bodoh Dic?, Kau sama saja dengan mereka." Joy yang malas berdebat memilih untuk berpaling dari Dicky dan menatap ke jendela.
Dicky memberhentikan mobilnya, melepas sabuk pengaman yang dipakainya. Dia
menatap seorang wanita yang berada disampingnya, mengarahkan satu tangan
di pundak wanita itu, hingga wanita itu membalas tatapan yang diberikannya.
"Joy kau cantik, kau juga tidak kekurangan,
jika dia dengan cepat bisa melupakanmu apa kau tidak bisa membalasnya." Berbicara
dengan mata yang saling bersahutan.
"Aku tidak bisa sekejam itu, yang dengan mudahnya melupakan orang yang aku cintai." Menampik tangan Roy yang ada di bahunya.
Joy mengambil tisu yang ada di depan
kemudi untuk mengusap air matanya. Dicky memberikan sebotol air mineral pada Joy.
"Tidak harus dengan cara kasar, kau hanya butuh membuktikan padanya jika kau lebih unggul darinya dan mengambil apa yang dia miliki, contohnya kau harus bisa mengambil putramu kembali dan menjalin hubungan dengan orang lain, seperti apa yang dilakukannya padamu."
Dicky menatap Joy yang sedang meneguk air.
"Tidak semudah itu Dic, aku tidak bisa
dengan mudah berpaling dan memberikan cintaku pada orang lain, tapi sekarang hatiku sangat sakit." Joy mulai menangis, menutup matanya dengan telapak tangan.
Melihat Joy yang menangis dengan sigapnya Dicky langsung menenangkannya dengan memberikan satu pelukan. Mungkin bisa dikatakan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Hehehe ( othor nya tertawa π€).
"Air matamu tidak pantas kau berikan untuk menangisinya." ucap Dicky saat menyadari jantungnya berdebar kencang, baru kali ini
dia memeluk joyyana.
Entah apa yang membuatnya berinisiatif
untuk memberikan Joy pelukan, apa hanya
rasa simpati atau pula rasa ingin memeluk karena dia menyayangi wanita itu yang membuat rasa ingin memiliki Joy seutuhnya muncul.
Dicky tak sadar telah memeluk Joy lumayan lama, Joy merasa risih.
"Dic, Dicky .., lepaskan aku!." Sedikit menggerakkan tubuhnya karena gerah.
Dengan cepat Dicky melepaskan pelukan.
"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa." Dicky canggung.
Dicky memakai sabuk pengamannya kembali dan menjalankan mobilnya, dia tidak ingin jika Joy menyadari sikapnya yang grogi setelah memeluk dirinya tadi.
###
Sonia memberikan satu kaleng minuman yang berkadar alkohol rendah pada Bimo, tapi pria itu menolak.
"Maaf son, aku tidak minum minuman keras." Menolak pemberian Sonia dengan menggunakan telapak tangannya.
"Oh no, ini cuma sedikit Bim alkohol nya, plis kita hanya merayakan perkenalan ini saja." Jawab Sonia enteng yang ingin mematahkan pemikiran Bimo, tapi Bimo masih bersikukuh pantang dengan minuman beralkohol.
Dari posisi yang rada jauhan Andy berjalan mendekati kekasihnya, lalu dengan spontan memeluknya dari belakang.
"Sudahlah beb, Bimo pantang dengan
minuman itu, dia lebih suka minuman
bersoda." Memberikan alasan pada
kekasihnya agar tidak memaksa Bimo.
Akhirnya satu kaleng minuman yang sudah dikasih obat tadi ditaruh Sonia begitu saja diatas meja. Dia malas karena rencananya gagal, lalu dia digiring Andy untuk bermesraan di luar ruangan, yaitu di balkon.
Bimo tak enak hati jika mengusir tamu yang datang ke kosannya, lalu dia memutuskan untuk mengajak Alina mengobrol demi melepas kecanggungan.
Lumayan lama mereka mengobrol membuat tenggorokan Alina kering, dilihatnya botol minuman yang sudah dibuka tadi sayang
sekali jika harus dibuang, Alina memutuskan untuk meminumnya.
Dari luar Sonia tidak sengaja melihat kejadian itu, "hah." Sonia mulai panik.
Sasarannya adalah Bimo, kenapa malah Alina yang kena. Sonia tidak bisa membayangkan jika gadis itu nanti mengerang karena hasratnya yang menggebu. Sonia memutar otak, apa yang harus dia lakukan.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Oh WiFi,,, oh wifiii kenapa kau mengganggu π
Next aj y... takut kena semprot othor nya
π΄π΄π΄π΄π΄