Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Hancur


David segera menuju Rumah Sakit sesaat


setelah mendapat kabar dari Mery ,


bahwa sebuah keadaan darurat yang


mengharuskannya membawa Joy


ke Rumah Sakit .


Dia meninggalkan semua pekerjaan


dan menyuruh Roy bersama Isabella


untuk melanjutkan nya .


Sampai di Rumah Sakit dia sudah


di sambut oleh Seorang Dokter dan


perawat dengan selembar berkas yang


menantinya .


Dokter menjelaskan jika pasien sudah


mengalami ketidak sadaran saat bayi


di dalam kandungannya kontraksi .


Di samping itu Pasien juga mengalami pendarahan .


David tak bisa berfikir jernih saat seorang


Dokter menyuruhnya tanda tangan untuk


memberikan keputusan bahwasanya dia


harus memilih antara ibu dan anak


salah satu dari mereka mana yang harus


di selamatkan .


David murka , otaknya sudah dipenuhi


dengan kecemasan sedari Kantor hingga


sampai di Rumah Sakit , sekarang dia


harus di hadapkan dengan situasi yang


seperti ini .


" Apa ini , kalian menyuruhku untuk


memilih ?," suara keras David sambil


menggebrak meja .


Semua orang yang berada di Ruangan


Dokter diam tak berani menjawab , mereka


menunduk takut karir mereka akan tamat


jika salah bicara , karena David adalah


pemilik Rumah Sakit .


Sampai sosok wanita tua masuk kedalam


memberi nasihat , " David kau harus


memilih , Joy sudah menunggu


keputusanmu , mereka tidak berani


bertindak sebelum kau memberi pilihan ."


" Persetan dengan pilihan , aku tidak mau


tahu kalian harus menyelamatkan


keduanya ." merobek kertas putih yang


di atas meja dengan bringasnya .


Oma semakin emosi dengan kelakuan


cucunya , wanita tua ini berteriak lantang ,


" Dengarkan aku anak bod*h , kalau kau


tidak bisa memilih , kau akan kehilangan


keduanya ." satu tamparan mendarat


di pipi David .


Dengan penuh bimbang , keputusan


terakhir David memilih untuk


menyelamatkan ibu dari si anak ,


meskipun perasaan nya kini hancur


berkeping-keping .


" Maafkan aku sayang , aku tak bisa


menyelamatkan my boy , kau boleh


marah padaku nanti , kau pasti


mengerti dengan keputusan ku ini .,"


Air matanya menetes saat


menandatangani kertas putih yang


berisikan persetujuan operasi .


Hatinya terasa sakit meskipun tak


berdarah , karena seorang anak yang


di tunggunya selama berbulan-bulan kini


harus ia relakan untuk pergi , dalam


satu coretan tanda tangan .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Di depan sebuah ruangan operasi , David


duduk di sebuah kursi dengan Oma


di sampingnya , diam menunduk dengan


kedua sikunya di atas lutut , kepalan


yang meremas rambutnya .


" Sabar David , kita berdoa saja semoga


keduanya baik - baik saja ." mengelus


pucuk kepala cucunya .


" Aku tahu ini berat bagimu , tapi kita tidak


punya pilihan lain , mungkin yang maha


kuasa lebih menyayangi anakmu ."


Memberikan sentuhan kasih sayang ,


untuk mengurangi rasa gelisah yang


di rasakan oleh cucunya .


David mendongakkan kepalanya ,


melihat langit - langit atap Rumah Sakit ,


memaksa ingin memasukkan kembali air matanya kembali yang sudah keluar


dengan tanpa ijinnya .


" Aku tak tahu lagi harus bicara apa nanti


pada istriku Oma , pasti dia sangat


membenciku , aku telah membunuh


anak ku Oma ."


Menahan tangis , David membenturkan


kepalanya ke tembok .


Oma tak tega melihat cucu kesayangannya


kini nampak kacau , di paksa untuk


memilih antara dua pilihan yang sangat


berarti keduanya .


Beliau menyesal semua kejadian ini tak


luput dari kesalahannya , karena


bagaimanapun yang mengajak Joy


keluar tadi adalah dirinya .


" Andai saja aku tidak mengajaknya tadi


tidak mungkin semua ini terjadi ."


rintihan penyesalan hati Oma berbicara .


##


Sudah hampir satu jam Ruang operasi


itu belum juga terbuka , David tak bisa


diam saja , dia berjalan mondar mandir


di depan pintu dengan sesekali mengintip


kaca yang ada di pintu , mencari sebuah


jawaban dari pikiran yang memenuhi


otaknya .


" Apa yang di lakukan mereka di dalam ,


menolong satu pasien saja tidak becus ,


lama sekali,, hah ." desahan kesal


Dari kejauhan nampak lah Mery duduk


bersama Nenek Melati yang tak jauh


berbeda mereka juga mengkhawatirkan


keadaan ibu hamil yang sedang mempertaruhkan nyawanya di dalam sana .


Kedua orang ini tak berani mendekat


merasa bersalah karena Joy celaka


saat bersama mereka .


Mereka bingung bagaimana nanti harus


menjelaskan nya pada David , berbohong


pun percuma , lambat laun semua


pasti terbongkar .


" Nak Mery , jangan perbolehkan Anggi


kesini dulu , suaminya Joy pasti marah


besar jika tahu semua ini gegara ulah


mulut Anggi yang ceroboh ."


Melati berbicara dengan Mery lirih , sambil memandang kedua orang yang sedang


berdiri di depan pintu Ruang Operasi .


Mery mengangguk ," Nenek tenang saja ,


kak Andreas sudah mengajaknya


ke Taman ." menggeser posisi duduknya


dengan bibir lebih mendekati telinga


Melati .


" Syukurlah kalau begitu ."


Mery resah , seperti ada sesuatu yang


kurang , dia memeras pikiran nya mencari


hal apa yang membuatnya merasa


gelisah .


" Astaga ." memukul keningnya .


Oma kaget dengan tingkah Mery ," ada


apa lagi ?." yang di tanya malah


menggeleng .


Mery langsung berdiri , merogoh ponsel


di dalam tasnya , " sebentar ya Nek , aku


mau mengabari Tante Wulan dulu , ibunya


kak Joy ." menyentuh pelan lutut Melati sebelum pergi menjauh .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Di Toko kue ..


Seorang wanita paruh baya sedang


menghias kue ulang tahun , pesanan


seorang langganannya .


" Sari tolong ambilkan buah Cherry nya


yang banyak , aku ingin membuat kue


ini cantik seperti putri salju ." berbicara


saat tangannya membuat tulisan nama


orang yang berulang tahun .


" Putri salju suka buah Cherry ya Bu ?,


bukannya suka buah apel ." jawab seorang


karyawan dengan membawa satu


mangkuk kaca yang berisikan penuh buah Cherry .


Wanita ini adalah Wulan , dia seorang


pemilik Toko kue terkenal di kota Jogja ,


meskipun dia pemilik Toko , dia tak mau


diam , selalu ikut berkerja dengan karyawan


nya , menghias maupun membuat kue


di Tokonya , meskipun karyawannya


tidak sedikit .


Hari ini dia mendapatkan pesanan kue


ulang tahun dari temannya , untuk


memberi kejutan pada anaknya yang


sangat menyukai buah Cherry .


" Buah apel ya ?, tak pantas lah buah


apel di taruh di atas kue , aku tak bisa


membayangkan ." Wulan pun tertawa .


Para karyawan ikut tertawa , tiba - tiba


Wulan teringat dengan putrinya , dia


terdiam ," ada apa Bu ?." Sari bertanya .


" Tidak , aku teringat Joy dan aku


merindukan nya , ." melanjutkan menghias .


" Mungkin embak Joy nya juga merindukan


ibu ." memasukkan roti kedalam plastik .


Wulan sedih , dia tak pernah merayakan


hari ulang tahun joyyana , " kau tahu Sari


aku tak pernah merasakan sepenuhnya


menjadi seorang ibu , pertumbuhan


Joy saja aku tidak ikut andil dan sekalipun


aku tidak pernah merayakan ulang


tahunnya ." setetes air mata jatuh lepas


di pipi Wulan .


Sari mendekat ikut sedih mendengar


penuturan majikannya , " sabar Bu


embak Joy pasti mengerti ."


Suara nada dering sebuah panggilan


berbunyi , salah seorang karyawan yang


lain mendekati Wulan dengan membawa


tas hitam kecil di tangannya .


" Bu telfon ibu berbunyi dari tadi ."


menyerahkan pada majikannya .


Wulan menerima dengan satu tangan


yang masih membawa mangkuk Cherry .


" Oh dari Mery , tolong angkatkan ."


menyuruh karyawannya agar memencet


tombol merah di layar hpnya .


" Ya hallo Mery , ada apa ?, bagaimana


keadaan di sana ?." berbicara dengan


telfon yang di taruh di atas meja .


" Tante ,,, kak Joy ,,." Mery tak sanggup


meneruskan kata-katanya .


" Mer ,,, ." menunggu kelanjutan suara


seorang gadis yang sudah dianggap nya


seperti anak kandungnya sendiri .


Suara tangis Mery terdengar membuat


Wulan bergetar , " Mery kau kenapa nak ?."


meletakkan mangkuk yang di bawanya .


" Kak Joy Tan , kak Joy sekarang di


Rumah Sakit , keadaannya kritis ."


Seketika Wulan pingsan tak sadarkan diri ,


membuat semua karyawan yang berada


di dapur Toko berhamburan menolong .


" Bu ,, bangun Bu,,,."


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Like nya mana ,, jgn lupa ninggalin


jejak nya yaaa ...


Next ๐Ÿ€