
Setelah makan siang di Kantin , Mery
mengajak kedua temannya ini untuk
kembali ke ruangan kakaknya , Bimo
menolak secara halus , dia pamit untuk
pulang karena ada urusan , sebelum dia
pergi Bimo sempat berjanji jika nanti dia
akan menjemput Mery .
Mery menolak tawaran Bimo , dia tidak
ingin membuatnya repot dengan acara
antar jemput yang bisa membuang waktu
lelaki itu .
Tapi bukan Bimo namanya jika tidak bisa membuat alasan , dia mengingatkan Mery
akan janjinya yang bersedia untuk
menemani jalan - jalan di waktu terakhirnya . Karena dalam waktu dua hari ke depan
Bimo akan kembali ke Inggris .
Liburan semester nya akan segera berakhir
dia tidak ingin membuang waktu , karena
sebentar lagi perpisahan mereka akan
terulang .
" Aku akan menagih janjimu , untuk
malam ini ." berbicara di depan Rumah
Sakit , saat Bimo akan menuju parkiran .
Mery diam berfikir .
Bagaimana ini , aku tidak enak dengan
keluarga kak Joy , tapi .. aku sudah
berjanji dengan kak Bimo , duh bod*hnya
aku berbicara tanpa berfikir dulu .
Menguras pikiran akhirnya Mery menyetujui
permintaan Bimo , " baiklah , nanti aku
akan meminta ijin pada kak Joy , semoga
tidak diijinkan ." menutup mulut menahan
tawa .
Memasang wajah cemberut Bimo mencubit
pipi Mery ," dasar nakal , biar aku saja yang meminta ijin padanya pasti diijinkan , aku
kan orang baik ." Mery menjewer telinga Bimo .
" Ih .. PD nya ."
" Aw , jewer nya jangan pake jari sakit
sayang ." menggosok telinganya yang
memerah .
" Biarin sakit , jewer kok tidak boleh pake
jari terus pake apa , mulut ?." Mery tertawa .
" Mau .. " manja Bimo mendekatkan telinganya .
Melihat jam tangan Bimo menghela nafas .
Huh ..
" Pingin ngasih salam pisah tapi banyak
orang , salamnya ini aja ya ." Bimo
menyatukan kelima jarinya lalu mencium ujungnya , ujung yang telah diciumnya ditempelkan pada pipi Mery .
Mery terperanjat kaget , tak habis fikir
dengan tingkah kakak kelasnya ini ,
momen lucu tapi masih terlihat romantis
yang bisa membuat iri orang yang
melihatnya .
" Kenapa pakek tangan mas , cium
langsung juga gak apa-apa , apa saya
bantu buat cium pipi embak nya ." goda
seorang supir yang baru saja keluar dari
mobil ambulans .
Sambil tertawa Mery malu menutup mukanya .
" Bisa saja mas nya , kami belum resmi
tunggu resmi dulu baru langsung cium ,
jangankan pipi mas , bibir pun akan
saya habiskan ." jawab Bimo memandang
Mery sambil mengangkat alisnya .
" Apaan sih , jangan ngelantur cepat pulang
sana ! , nanti dicariin orang rumah lho ."
mendorong Bimo agar menjauh .
Bimo melambaikan tangan menuju parkiran .
" Loh kok malah disuruh pergi masnya ,
embak nya tidak ikut pulang ? , oo ..
saya tahu , embaknya tidak rela
meninggalkan saya kan ? , mau menemani
saya di Rumah Sakit ini ?."
Mery tidak menjawab , dia hanya tersenyum
kemudian meninggalkan sang supir
ambulans sendirian .
Aneh - aneh saja paman tadi .
Mery tak biasa berbicara dengan lelaki
yang tidak di kenal , ketika supir ambulans
tadi mengajaknya bicara dia malu untuk
oleh orang dia memilih untuk menghindar .
πΉπΉπΉ
Disaat Mery mengantarkan Bimo ke depan
Rumah Sakit , Adinda menuju kamar rawat
kakak sepupunya , ingin menceritakan
betapa imuetnya putera mungil dari
kakak sepupunya itu .
Sampai di dalam ruangan Adinda kaget
mendapati bundanya tidak ada disana ,
bertanya pada tantenya Adinda hanya
mendapatkan jawaban angkatan bahu saja .
Pasti keluar dengan wanita itu , dasar
bunda jahat tidak mengajak putrinya
masih calon saja sudah melupakan aku .
Mendekati kakak sepupunya Adinda ada
maksud tersembunyi , " Hem .. hem ..
mau apa hayo , Deket sama embak mu
pasti ada maunya ." cerca Wulan sambil
fokus pada ponsel ditangan .
" Apa sih Tan , aku cuma pingin deket
kak Joy juga , masa tidak boleh sih ."
memeluk Joy dari samping .
" Mau apa dek , ayo bilang ."
Adinda mengalihkan pembicaraan dengan
membelokkan bahasan kepada putra
kakaknya , dia menceritakan bagaimana
lucu dan menggemaskan nya si kecil ,
hingga dirinya tidak sabar untuk bisa
menggendong .
Melirik tantenya yang masih fokus pada
ponsel , Adinda berbisik," kak Joy mengenal
kak Bimo ?." Joy tersenyum dengan
menarik hidung Adinda .
" Penasaran ?." Adinda manggut-manggut .
" Bagaimana ini , cerita gak yach ?."
tersenyum mengejek sambil melirik Adinda .
" Kak Joy ... ." suara lirih Adinda manja .
" Iya , iya kakak cerita ." Adinda tertawa
senang .
Joy menceritakan pada adik sepupunya itu
jika Bimo adalah teman kecil Mery , rumah
mereka berdekatan , menceritakan semua
hal yang diketahuinya , Adinda agak
kecewa setelah mendapati kenyataan
jika hubungan keduanya sangatlah dekat .
" Jangan manyun begitu , mereka hanya
berteman , Bimo datang ke Jakarta itu
karena dia punya saudara di sini , kau tahu
kan Andreas ?, dia sepupunya Bimo ."
Penjelasan Joy yang terakhir
menumbuhkan semangat Adinda ,
anggapannya tentang Bimo yang mengikuti
Mery sampai ke Jakarta adalah salah .
" Jadi mereka cuma berteman kak ? ."
Adinda senyum sendiri .
" Iya , memangnya kenapa kamu suka dek ?." sambil malu - malu Adinda mengangguk .
" Tapi sayang sekali sebentar lagi dia akan kembali ke Inggris , liburan nya sudah
selesai ." Adinda syok dan kecewa .
" Yach , gak bisa ketemu lagi dong ."
meraup mukanya kasar .
" Bisa , kalau kamu kuliah juga disana ." Joy
tertawa .
Mery ada dibalik pintu , mendengar
kata demi kata orang yang ada didalam
ruangan , sambil menggigit bibir Mery
meremas ujung kemejanya .
Baru saja mengalihkan hati pada kak Bimo
sudah ada halangan , aku tidak bisa
meneruskan ini , apakah aku bisa bahagia
diatas penderitaan sahabat ku .
Jari mungil yang menggenggam gagang
pintu pun terlepas , niat hati ingin masuk
seketika hilang , menghindari rasa sesak
di dada , Mery meninggalkan ruangan kakaknya .
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Up nggakkkk... salam cinta dari author
mana jejaknya πππππ
Next π