Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Bimbang


Setelah makan siang di Kantin , Mery


mengajak kedua temannya ini untuk


kembali ke ruangan kakaknya , Bimo


menolak secara halus , dia pamit untuk


pulang karena ada urusan , sebelum dia


pergi Bimo sempat berjanji jika nanti dia


akan menjemput Mery .


Mery menolak tawaran Bimo , dia tidak


ingin membuatnya repot dengan acara


antar jemput yang bisa membuang waktu


lelaki itu .


Tapi bukan Bimo namanya jika tidak bisa membuat alasan , dia mengingatkan Mery


akan janjinya yang bersedia untuk


menemani jalan - jalan di waktu terakhirnya . Karena dalam waktu dua hari ke depan


Bimo akan kembali ke Inggris .


Liburan semester nya akan segera berakhir


dia tidak ingin membuang waktu , karena


sebentar lagi perpisahan mereka akan


terulang .


" Aku akan menagih janjimu , untuk


malam ini ." berbicara di depan Rumah


Sakit , saat Bimo akan menuju parkiran .


Mery diam berfikir .


Bagaimana ini , aku tidak enak dengan


keluarga kak Joy , tapi .. aku sudah


berjanji dengan kak Bimo , duh bod*hnya


aku berbicara tanpa berfikir dulu .


Menguras pikiran akhirnya Mery menyetujui


permintaan Bimo , " baiklah , nanti aku


akan meminta ijin pada kak Joy , semoga


tidak diijinkan ." menutup mulut menahan


tawa .


Memasang wajah cemberut Bimo mencubit


pipi Mery ," dasar nakal , biar aku saja yang meminta ijin padanya pasti diijinkan , aku


kan orang baik ." Mery menjewer telinga Bimo .


" Ih .. PD nya ."


" Aw , jewer nya jangan pake jari sakit


sayang ." menggosok telinganya yang


memerah .


" Biarin sakit , jewer kok tidak boleh pake


jari terus pake apa , mulut ?." Mery tertawa .


" Mau .. " manja Bimo mendekatkan telinganya .


Melihat jam tangan Bimo menghela nafas .


Huh ..


" Pingin ngasih salam pisah tapi banyak


orang , salamnya ini aja ya ." Bimo


menyatukan kelima jarinya lalu mencium ujungnya , ujung yang telah diciumnya ditempelkan pada pipi Mery .


Mery terperanjat kaget , tak habis fikir


dengan tingkah kakak kelasnya ini ,


momen lucu tapi masih terlihat romantis


yang bisa membuat iri orang yang


melihatnya .


" Kenapa pakek tangan mas , cium


langsung juga gak apa-apa , apa saya


bantu buat cium pipi embak nya ." goda


seorang supir yang baru saja keluar dari


mobil ambulans .


Sambil tertawa Mery malu menutup mukanya .


" Bisa saja mas nya , kami belum resmi


tunggu resmi dulu baru langsung cium ,


jangankan pipi mas , bibir pun akan


saya habiskan ." jawab Bimo memandang


Mery sambil mengangkat alisnya .


" Apaan sih , jangan ngelantur cepat pulang


sana ! , nanti dicariin orang rumah lho ."


mendorong Bimo agar menjauh .


Bimo melambaikan tangan menuju parkiran .


" Loh kok malah disuruh pergi masnya ,


embak nya tidak ikut pulang ? , oo ..


saya tahu , embaknya tidak rela


meninggalkan saya kan ? , mau menemani


saya di Rumah Sakit ini ?."


Mery tidak menjawab , dia hanya tersenyum


kemudian meninggalkan sang supir


ambulans sendirian .


Aneh - aneh saja paman tadi .


Mery tak biasa berbicara dengan lelaki


yang tidak di kenal , ketika supir ambulans


tadi mengajaknya bicara dia malu untuk


oleh orang dia memilih untuk menghindar .


🌹🌹🌹


Disaat Mery mengantarkan Bimo ke depan


Rumah Sakit , Adinda menuju kamar rawat


kakak sepupunya , ingin menceritakan


betapa imuetnya putera mungil dari


kakak sepupunya itu .


Sampai di dalam ruangan Adinda kaget


mendapati bundanya tidak ada disana ,


bertanya pada tantenya Adinda hanya


mendapatkan jawaban angkatan bahu saja .


Pasti keluar dengan wanita itu , dasar


bunda jahat tidak mengajak putrinya


masih calon saja sudah melupakan aku .


Mendekati kakak sepupunya Adinda ada


maksud tersembunyi , " Hem .. hem ..


mau apa hayo , Deket sama embak mu


pasti ada maunya ." cerca Wulan sambil


fokus pada ponsel ditangan .


" Apa sih Tan , aku cuma pingin deket


kak Joy juga , masa tidak boleh sih ."


memeluk Joy dari samping .


" Mau apa dek , ayo bilang ."


Adinda mengalihkan pembicaraan dengan


membelokkan bahasan kepada putra


kakaknya , dia menceritakan bagaimana


lucu dan menggemaskan nya si kecil ,


hingga dirinya tidak sabar untuk bisa


menggendong .


Melirik tantenya yang masih fokus pada


ponsel , Adinda berbisik," kak Joy mengenal


kak Bimo ?." Joy tersenyum dengan


menarik hidung Adinda .


" Penasaran ?." Adinda manggut-manggut .


" Bagaimana ini , cerita gak yach ?."


tersenyum mengejek sambil melirik Adinda .


" Kak Joy ... ." suara lirih Adinda manja .


" Iya , iya kakak cerita ." Adinda tertawa


senang .


Joy menceritakan pada adik sepupunya itu


jika Bimo adalah teman kecil Mery , rumah


mereka berdekatan , menceritakan semua


hal yang diketahuinya , Adinda agak


kecewa setelah mendapati kenyataan


jika hubungan keduanya sangatlah dekat .


" Jangan manyun begitu , mereka hanya


berteman , Bimo datang ke Jakarta itu


karena dia punya saudara di sini , kau tahu


kan Andreas ?, dia sepupunya Bimo ."


Penjelasan Joy yang terakhir


menumbuhkan semangat Adinda ,


anggapannya tentang Bimo yang mengikuti


Mery sampai ke Jakarta adalah salah .


" Jadi mereka cuma berteman kak ? ."


Adinda senyum sendiri .


" Iya , memangnya kenapa kamu suka dek ?." sambil malu - malu Adinda mengangguk .


" Tapi sayang sekali sebentar lagi dia akan kembali ke Inggris , liburan nya sudah


selesai ." Adinda syok dan kecewa .


" Yach , gak bisa ketemu lagi dong ."


meraup mukanya kasar .


" Bisa , kalau kamu kuliah juga disana ." Joy


tertawa .


Mery ada dibalik pintu , mendengar


kata demi kata orang yang ada didalam


ruangan , sambil menggigit bibir Mery


meremas ujung kemejanya .


Baru saja mengalihkan hati pada kak Bimo


sudah ada halangan , aku tidak bisa


meneruskan ini , apakah aku bisa bahagia


diatas penderitaan sahabat ku .


Jari mungil yang menggenggam gagang


pintu pun terlepas , niat hati ingin masuk


seketika hilang , menghindari rasa sesak


di dada , Mery meninggalkan ruangan kakaknya .


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Up nggakkkk... salam cinta dari author


mana jejaknya 😍😍😍😍😍


Next 😍