
Merasa hari sudah cukup malam, Bimo mengajak Mery pulang dengan bergandengan tangan mereka berjalan mesra menuju tempat parkir dimana Bimo menitipkan mobilnya.
Dari kejauhan seorang gadis terduduk lemas di tanah rerumputan, gadis itu hampir tak mampu berdiri setelah dirinya dapati dengan mata kepalanya sendiri orang yang disukainya telah bermesraan di depan mata.
Pupuslah semua harapannya, sekarang tinggallah lara hati yang sesak meronta di dalam dadanya.
Dia adalah Adinda yang dari pertama bertemu sudah mulai menyukai Bimo tapi Bimo tidak mengetahuinya, sebab belum sempat Adinda menyatakan cintanya tapi sudah didahului oleh kenyataan pahit yaitu laki - laki itu telah menyukai teman baiknya yang tak lain adalah Mery.
Adinda hanya mampu memandang dengan perasaan perih, dia tak bisa berbuat apa-apa sebab cintanya hanyalah sebuah perasaan yang bertepuk sebelah tangan yang layu sebelum berkembang.
Kini tinggallah lara yang teramat pedih, sekarang bagaimana dia harus berusaha sebisa mungkin untuk membuang perasaannya walaupun dengan sesak dalam hatinya.
Mery dan Bimo berada dalam mobil duduk berdua dan tertawa bercanda ria bersama, mereka tidak tahu bahwa kebersamaan mereka saat ini telah melukai hati seseorang.
"Besok aku akan pulang ke Surabaya terlebih dahulu baru kembali terbang ke negeri paman Sam," sambil menyetir Bimo berpamitan pada Mery.
Mery menoleh dengan disertai anggukan sebagai wujud jawaban jika dia paham dengan perkataan Bimo, Mery tak bisa membohongi hatinya saat ini dia begitu berat jika harus melepas kepergian Bimo untuk yang kedua kali seperti saat dulu.
Menyembunyikan wajahnya yang memelas gadis itu memalingkan mukanya ke kaca samping, air matanya tak mampu ditahan hingga lolos menetes di pipinya, sambil berpura - pura menikmati pemandangan jalanan, Mery menyembunyikan kesedihannya.
Bimo menyadari hal yang berbeda dengan Mery, suasana yang tadinya rame dengan gelak canda sekarang sepi setelah Bimo mengingatkan tentang perihal kepergiannya besok.
Menepikan mobil Bimo kemudian mematikan mesin, menarik nafasnya panjang sebagai sebuah aba - aba sebelum membujuk Mery,
"Mer .. Ini tidak akan lama, sebentar lagi kita akan bertemu kembali dan aku akan setia menunggu kedatanganmu," dengan tersenyum Bimo mengelus rambut indah Mery.
Mery menoleh dibarengi dengan mengusap sisa air matanya di pipi, merasakan sentuhan Bimo di pucuk kepalanya sebuah penghapus rasa yang berat di dalam hatinya.
Dia memantapkan hati untuk bersama dengan Bimo.
"Baiklah aku akan bicara pada kak Joy agar rencana untuk aku sekolah disana dipercepat." Mencetak senyum di bibir membuat Bimo gemas dan mencubit pipi imut Mery.
Bimo menyalakan mesin dan melanjutkan perjalanannya untuk mengantarkan Mery pulang ke Rumah Oma.Saat di perjalanan Bimo fokus pada jalan, orang di sampingnya masih asik sendiri berkomunikasi dengan orang di jauh sana.
Bimo tak mau mengganggu Mery setelah tadi dia sempat mengintip sedikit ternyata gadis itu sedang bertukar pesan dengan kakaknya. Jika saja Mery tak menganggap keberadaannya karena membalas chat pria lain Bimo tak akan tinggal diam, pasti ponsel di tangan Mery akan berpindah tangan beralih di genggaman Bimo.
Tapi kali ini berbeda Bimo tak pantas untuk curiga maupun cemburu karena Mery hanya bertukar pesan dengan kakaknya sendiri.
"Aku sudah bilang ke kak Joy jika aku sekarang tidak akan mampir ke Rumah Sakit tapi langsung pulang ke Rumah."
Berbicara sambil masih mengetikkan jari
di layar ponselnya, suara Mery memecahkan keheningan.
"Lalu kak Joy jawab apa?" Melirik sekilas kemudian balik menatap kedepan.
Mery malas menjawab pertanyaan Bimo dia langsung menunjukkan balasan kakaknya itu pada Bimo ,"ini lihat sendiri dan silahkan dibaca"Bimo menggeleng.
"Tidak bisa Mer .. lihat aku sekarang sedang apa " menunjuk kedua tangannya dengan dagu.
Mery memutar matanya malas bersamaan dengan tangannya yang menarik ponselnya yang tadi di tunjukkan pada Bimo,"hah .. ." Mengeluarkan udara dari mulut dengan kasar lalu membenarkan posisi duduknya.
Masih menyetir Bimo berusaha membujuk Mery.
"Jangan ngambek, kau tahu kan aku sekarang sedang menyetir jadi aku tidak bisa membacanya, coba jelaskan apa yang dikatakan kak Joy, apa beliau menyuruh untuk kembali ke Rumah Sakit? kalau iya aku akan memutar balik arah perjalanan kita."
Bimo menjelaskan panjang lebar tapi Mery masih saja diam, "Mery me …," goda Bimo dengan suara seraknya.
Mendengar godaan dari Bimo membuat Mery menahan tawa dan seketika rasa marahnya menjadi hilang, MERY ME adalah panggilan Bimo dari dulu saat Mery sudah mulai ngambek dan hal itu otomatis langsung membuat gadis itu tertawa.
Canda tawa kembali terjadi di dalam mobil itu dan membuang rasa marah sedih serta kesal yang baru saja timbul. Tak berapa lama mobil pun berhenti menandakan jika mereka sudah sampai di tujuan, Mery diam enggan untuk keluar.
"Mau ikut aku pulang?" Mery menggeleng lalu membuka sabuk pengaman nya.
Gadis itu kemudian turun dan Bimo mengikutinya, berdiri di depan pagar mereka kembali berpamitan. Bimo berdiri tepat di depan Mery, satu tangannya terangkat untuk menyelipkan rambut di telinga gadis pujaan hatinya itu.
"Jangan lama-lama aku tak akan sanggup untuk menunggumu terlalu lama, jadikanlah disana menjadi tempat untuk mengukir masa depan kita yang lebih cerah" menatap nanar gadis manis di depan mata tanpa ada rasa bosan.
Mery terharu mendengar penuturan Bimo, kini hatinya berbunga-bunga mungkin perasaan cintanya yang dulu sudah mulai bersemi kembali.
"Tadi aku sudah chat kak Joy katanya dia sangat setuju dan memintaku untuk besok kesana untuk membicarakannya lagi."
Mery tersenyum menunjukkan tatanan gigi rapinya, Bimo senang mendengar kabar dari baik dari Mery, ditangkapnya wajah imut nan menggemaskan itu lalu mengecup keningnya.
"Besok pagi-pagi ikut aku ke Bandara ya? Aku ingin melihat wajah ini untuk yang terakhir kali." Meremas pipi gemol Mery
dengan cubitan di pipi sebagai pemungkas untuk rasa gemasnya.
"Pasti." Bimo melepaskan cubitan.
Setelah melepaskan cubitannya, Bimo meninggalkan Mery dan masuk kedalam mobil nya," nanti malam aku akan datang kedalam mimpimu, tunggu aku!" melambaikan tangan ketika sudah berada di dalam mobil.
Mery membalas lambaian tangan Bimo dan tetap berdiri sendirian memandang kepergian Bimo dan mobilnya yang menjauh.
Tak jauh dari tempatnya ada sebuah taxi yang sudah berhenti lumayan lama, sepertinya taxi itu menunggu mobil Bimo pergi, karena setelah kepergian mobil Bimo baru taxi itu mendekati tempat Mery berdiri saat ini.
Mery yang akan masuk melewati gerbang
menghentikan langkahnya, penasaran siapa yang ada di dalam taxi dan dia pun menunggu orang itu keluar.
Pintu taxi terbuka dan turunlah seorang Adinda dengan wajah yang dipaksakan untuk tersenyum.
DEG
Debaran jantung yang kencang saat melihat senyum Adinda yang diberikan untuknya.
'Apa Adinda melihat perbuatan kak Bimo padaku tadi?' Batin Mery gelisah tak enak hati.
Mery menelan salivanya kasar sesaat mendapati Adinda yang semakin mendekat padanya.
'Aku tak bisa menjelaskan pada Adinda untuk saat ini, semoga dia tadi tidak melihatnya.'
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Gimana lanjut gakkkkkk…
Jejaknya mana🤧🤧🤧
Next 😍