
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Puas berbincang berdua di taman , Bimo mengajak Mery pulang , agar bisa melepas
rasa letih dan amarah yang timbul akibat
percekcokan saat di dalam Rumah Sakit tadi .
Berdua didalam mobil membuat Bimo
lebih leluasa berbicara , tiada batasan
orang yang akan memotong alur
pembicaraan mereka berdua .
Dua insan yang terlihat seperti teman
biasa , namun dilubuk hati mereka
masing-masing tersimpan sebuah rasa .
" Mungkin ini adalah waktu yang tepat
untuk aku mengutarakannya , Terserah
apa nanti jawaban Mery , aku akan tetap berjuang ." menyetir mobil sambil melirik seorang gadis di sampingnya .
" Mer , seperti nya pria tadi menyukaimu ."
bertanya sambil menyetir .
Bimo sengaja memancing pertanyaan ,
ingin tahu reaksi apa yang di tunjukkan
Mery , jika dia menyinggung pria yang
hampir memukulnya tadi .
" Terserah hak orang menyukai , aku tak
bisa ikut melarang , hati itu milik diri orang
itu masing-masing , jangan bahas dia
lagi kak ." ketus Mery dengan rada
ngegas , membuat Bimo urung
melanjutkan niatnya .
" Kenapa Mery marah , apa salah dari
pertanyaanku ."
Bimo langsung diam , tak ingin mengorek
lebih dalam , mengfokuskan pandangannya
pada laju jalan yang di lewatinya .
Krukkk..
Dalam keheningan terdengar suara samar
perut berbunyi , Bimo merasakan perutnya
sudah memberikan kode isyarat .
" Kak , " Panggil Mery saat menoleh
menahan tawa .
Bimo meringis ," iya , tadi pagi aku cuma
sarapan sepotong roti , kau pasti juga
lapar kan , kita mampir ke Restoran dulu ya ?."
Mery mengangguk ," ok ." membentuk
jarinya menyerupai huruf O .
Mengurangi kecepatan , Bimo mencari
tempat untuk mereka berdua makan siang .
Sorot mata Bimo menangkap sebuah
penampakan Rumah Makan bertuliskan
" Restu Bunda " yang menyajikan
bermacam masakan khas Nusantara ,
Bimo menghentikan mobilnya tepat
di depan Rumah Makan itu .
" Bagaimana menurutmu jika kita makan
disini , sudah lama aku tidak menikmati
makanan Indonesia , mungkin butuh
perasa khas ibu Pertiwi agar lidahku ini
tidak terbiasa dengan makanan luar
negeri ." Bimo menawarkan .
Mery mengamati sebuah Rumah Makan
yang di maksud Bimo dari dalam mobil ,
" Boleh juga , ayok siapa takut !, jangan
salahkan aku jika memesan semuanya ."
Bimo tertawa dengan menggosok
rambut Mery , merasa sikap Mery tak
berubah dari dulu , tukang makan
apalagi jika mendapat traktiran .
Tak ingin menunggu waktu lagi , Bimo
segera menjalankan mobilnya masuk
kedalam area Rumah Makan , berhenti
ditempat parkiran , dengan cepat
mematikan mobilnya .
" Tunggu ." berbicara pada Mery ,
menghalangi tangan Mery yang akan
membuka sabuk pengaman setelah
itu dia keluar dari mobil .
Mery memperhatikan Bimo yang berlari
kecil memutari mobil , berhenti didepan
pintu yang ada disampingnya , lalu
membantu membukakan pintu untuk Mery .
" Tidak perlu repot-repot kak , aku bisa
sendiri ." berbicara saat Bimo membantu
membukakan sabuk pengaman .
" Aku tidak pernah merasa direpotkan ,
jadi kau santai saja , ayo silahkan ."
menuntun Mery keluar , kemudian
menutup pintu .
Mery saat bersama Bimo serasa seperti
seorang putri yang dilayani oleh
pengawalnya , yang selalu setia membantu
dan menjaga Mery disaat di butuhkan .
Berdua masuk ke dalam Restauran ,
mencari tempat duduk yang pas untuk
mereka berdua .
Seorang pelayan datang menawarkan
tempat duduk di halaman luar Restauran , terletak disamping Restauran yang sejuk
akan pepohonan yang menumbuhkan
suasana alam .
Mery menyetujui penawaran sang pelayan ,
menggandeng tangan Bimo mengajak
untuk mengikuti kemana pelayan itu
mengarahkan .
Mery melihat keadaan di sekelilingnya ,
tempat duduk yang sengaja ditata
berpasangan , satu meja dengan hanya
ada dua kursi untuk melengkapinya .
Ada air mancur dan taman bunga ikut
menghiasi kesejukan disana , disitu
tidak banyak menyediakan tempat
diluar , hanya untuk lima pasang meja
saja disana , yang banyak menyediakan
tempat duduk hanya didalam Restauran .
Mery mengambil tempat duduk yang
paling pojok , sengaja ingin lebih leluasa
karena letaknya di bawah pohon anggur .
" Kak lihat anggur itu , ambilkan satu
untukku ."
Mery menggoda Bimo , mengingat saat
dulu mereka sering memanjat kursi untuk mengambil anggur di rumah Bimo .
" Jangan aneh - aneh , nanti ku belikan ."
Mery tertawa .
Seorang pelayan memberikan buku
menu pada Bimo , " Mer , kau ingin
pesan apa ." membolak-balikkan buku
menu .
" Apa ya ?, enak kali kalo siang gini
makan soto daging , dah lama aku tidak
makan makanan itu ." mengucap tanpa
membuka buku menu .
" Minumnya ?." menatap Mery yang saat
itu sedang mengarahkan pandangannya
pada sekeliling mereka .
" Orange juice aja , tapi airnya sedikit
banyakin es batunya ." mengembalikan
buku menu pada Bimo yang tidak di buka sama sekali .
" Itu saja , katanya tadi pingin pesan
semuanya ." Mery mengangguk kemudian
menggeleng ," sudah aku lagi diet ."
" Tak perlu pake diet segala , aku lebih
suka jika kau agak terlihat kurusan ,
mending gendut , kau terlihat cantik ."
Mery menjulurkan lidahnya berbarengan
dengan memutar bola matanya keatas ,
" Gombal ."
Bimo menyerahkan buku yang tadi
diberikannya pada Mery pada sang
pelayan .
" Sudah dengar kan apa yang diucapkan
nona ini tadi , samakan pesanan kami ."
Mery menoleh mendengar perkataan Bimo yang pesanannya disamakan dengannya .
" Kenapa sama , buat bedalah biar kita
nanti saling incip ." Bimo menghembuskan
nafasnya ," baiklah ."
Membuat satu tepukan , Bimo memanggil
pelayan itu kembali , mengubah
pesanannya .
" Tolong tambahkan bakso , nasi Padang ,
bawakan cuci mulut yang terbaik disini ."
Mery terkejut membuka mulutnya .
" Apa semua makanan tadi mau kak
Bimo habiskan ?." Bimo tersenyum ,
mendekatkan diri pada Mery .
" Bukan aku , tapi kau ." memencet hidung
Mery , dan menggoyangkannya .
" What ," teriak Mery sambil melotot .
" Sudah jangan rame , nanti kita habiskan
bersama ." menutup mulut Mery dengan
telapak tangannya .
Waktu menunggu makanannya datang
mereka gunakan untuk bercanda saling
menggoda , mengenang masa saat
mereka sering makan di pinggir jalan
pada waktu masih sekolah dulu .
Tak berapa lama pelayan datang membawa
pesanan mereka , berbarengan dengannya
sepasang muda-mudi yang ikut
mengambil tempat duduk seperti mereka ,
di taman samping Restauran .
Mery yang asik dengan makanan di
depannya , tak sempat memperhatikan
siapa orang yang baru datang , dia
hanya memfokuskan pada makanan
yang berjejer rapi diatas meja yang
aromanya seakan memanggil untuk
segera dinikmati .
" Kak Bimo nakal , tadinya aku ingin soto ,
kalau udah banyak gini , hemm ,, sayang
kan kalau Ndak di incip semuanya ."
mengambil sendok , menaruh di mulutnya
dengan perhatian yang tak lepas dari
makanan yang ada di atas meja .
" Sudah kita makan bersama saja ,
bagaimana kalau kita sepiring berdua ,
agar kita bisa menikmati semuanya ."
tawar Bimo , yang di balas senyuman
oleh Mery .
" Boleh juga , jadi aku tak perlu
menghabiskan satu piring makanan
sendiri ." Mery menggeser letak kursinya
menjadi lebih dekat dengan Bimo .
Bimo sudah terbiasa dengan sikap Mery ,
saat di Surabaya dulu mereka sering
berbagi makanan bahkan berbagi sendok,
orang tua mereka tak mempunyai pikiran
macam-macam , karena yang mereka
tahu bahwa kedua anak muda ini
adalah teman sedari kecil .
Pertama Mery menuangkan dua sendok
sambal pada mangkuk yang berisikan
soto , mengaduk dengan sendoknya
Mery ingin memakan nasi terlebih dahulu .
" Soto dulu ya kak ?." Bimo mengangguk ,
mengambil sendok siap melahap .
" Minumku mana ?, " mencari jus jeruk
yang tadi di pesannya .
" Ini sama saja , kau pilih yang mana ."
mendekatkan dua gelas minuman yang
sama- sama terbuat dari jeruk tapi
yang satunya jeruk lemon .
" Hah , bedalah kak ini jeruk lemon ,
pesananku tadi orange juice ." sewot
Mery yang kehausan .
Bimo mengambilkan satu gelas yang
berisikan orange juice seperti kemauan
Mery , dia malas berdebat karena cacing
di perutnya sudah tak bisa menahan lagi .
Sesuap demi sesuap masuk ke mulut
mereka , soto habis di lanjutkan dengan
nasi Padang , sampai saat tinggal bakso
mereka malah saling menyuapi , makan
sambil bercanda memang sebuah
kebiasaan kedua orang ini .
Mereka tak menyadari jika ada sepasang
mata elang yang siap menerkam .
###
Dari jarak yang tidak begitu jauh , ada
sepasang kekasih yang sedang duduk
menikmati makan siang yang sama
seperti Mery dan Bimo .
Tapi bedanya sepasang kekasih ini
tidak semesra Bimo dan Mery , sang
wanita dalam diamnya menikmati
makanannya sendiri dengan memandang
pria yang mengajaknya kemari tapi tidak
sedikit pun mengajaknya bicara .
" Memandang siapa sih ?." kesal sang wanita .
Sang pria malah asik memperhatikan
orang lain yang sedang makan dengan riangnya .
" Mas Roy , cepat dimakan nanti
makanannya dingin lho ." mengorak - arik
satu piring spaghetti yang ada di piringnya .
Roy diam , tidak menyahut .
" Mas Roy kenal sama mereka ?." melihat
kemana arah pandangan pria didepannya
ini memandang .
" Kok sepertinya gadis itu tak asing ya ,
dimana aku pernah bertemu dia
sebelumnya ."
Isabella berusaha mengingat wajah
gadis yang jauh disana , yang tak luput
dari perhatian Roy .
" Masss ." Panggil Isabella sedikit kasar
karena dari tadi Roy tidak menyahuti nya .
" Iya kenapa , " Roy kaget , gelabakan .
" Mas Roy yang kenapa , dari tadi dipanggil
tidak menjawab , tu,, makanannya sudah
hampir dingin ." jawab Isabella menunjuk
makanan di depan Roy .
Roy melihat Mery meninggalkan tempat
duduknya , seperti nya mau menuju
toilet , karena Bimo masih duduk di kursinya .
" Isabel , aku mau ke toilet sebentar ,
tunggu disini aku tidak lama ." Roy
mengikuti Mery .
Saat Mery berada di depan toilet wanita ,
Roy menarik Mery dan memojokkannya
di dinding .
" Sudah berani bermesraan didepanku
rupanya ." memandang Mery dengan
menggenggam erat tangannya .
" Lepasin , selalu saja begini ." Mery meronta .
" Jawab aku !, ada hubungan apa kalian ?."
karena keadaan toilet yang sepi , tidak
ada orang yang menolong Mery .
" Lepasin gak , atau aku akan teriak ."
ancaman Mery ditertawakan oleh Roy .
" Teriak saja aku tidak takut ."
Roy semakin mendekatkan wajahnya ,
ingin mengambil kesempatan , saat Mery
meronta .
" Cukup bajing*n lepaskan kekasihku ."
Bimo melemparkan satu pukulan pada
lengan Roy , Roy terjatuh .
Mery menutup mulutnya , kaget dengan
terjatuhnya Roy akibat pukulan dari
Bimo yang berniat menyelamatkan nya .
Roy berusaha berdiri , " berani kau
macam-macam dengan nya lagi , ku
pastikan kau berhadapan denganku ."
Roy tertawa mendengar ocehan Bimo .
" Konyol , dasar anak kecil ."
Bimo yang hendak menghajar Roy kembali
tapi Mery menghalangi ," sudah kak sudah ,
ayo pergi dari sini ." susah payah menarik
Bimo menjauh .
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Lanjut gakkkk... ππππ
ayokkkk jejaknya manaaaaa...
biar author nya semangat nulis nihhh
Next π