
Di dalam pesawat Wulan duduk berjauhan dengan Mery, wanita paruh baya itu terdiam memikirkan sedikit kenangan tentang
putrinya, seorang putri yang tidak lama dipertemukan dengannya kini telah meninggalkannya sendiri.
Hatinya yang terluka dan kesepian membuatnya menyimpan sedikit rasa
kecewa pada menantunya. Sampai detik ini Wulan belum mengetahui jika putrinya masih hidup, Oma tidak berani membocorkan informasi itu.
Wulan mengingat perkataan Joy terakhir padanya, seperti sebuah pesan Joy
menitipkan Mery agar Wulan bisa menyayanginya seperti layaknya putrinya sendiri, titah itu membuatnya teringat akan gadis manis itu.
Wulan menoleh ke belakang dimana tempat kursi Mery duduk, wanita itu mencari keberadaan putri angkatnya.
Ternyata kursi itu kosong, Wulan tanpa khawatir menebak pasti gadis itu sedang
pergi ke Toilet.
Di Dalam toilet Roy masih melancarkan aksinya, memberikan sentuhan hangat pada gadis yang masih polos itu.
Di lum*tnya bibir mungil itu bak sebuah
candu Roy tak ingin melepaskannya,
diimbanginya dengan kelihaian jemari yang menjelajahi permukaan kulit bagian dalam
baju Mery, kulit yang halus dibelainya dengan pelan nan pasti.
Bibir yang saling bertautan membuat mereka lupa jika saat ini mereka masih berada
didalam Toilet.
Jemari Roy tiba pada tubuh atas bagian
depan Mery, Roy menggapai pada satu titik yang letak sensitif setiap wanita,
diberikannya sedikit remasan hingga tak
sadar membuat Mery mengeluarkan suara *******.
"Ukhhh, .. ."
Mery mendongakkan kepalanya keatas, merasakan getaran dalam tubuhnya.
Mery melayang merasakan sentuhan yang
tak pernah dia rasakan, jantung berdebar hingga membuat perut dan dadanya naik dan turun menahan sebuah hawa panas dalam dirinya.
Saat Mery di buat terbang melayang akan buaian lembut sentuhan Roy, tetiba saja pria
itu melepaskan pautan bibir mereka dan menghentikan sentuhannya, kemudian memberikan tatapannya pada gadis yang berada di pangkuannya.
"Bolehkah aku meneruskannya lebih jauh
lagi?." Mata mereka bertemu.
Mery menelan ludahnya kasar, menahan sebuah rasa yang tetiba saja menghilang,
malu dan kesal bercampur menjadi satu.
Bagai diajak terbang yang tinggi sudah
sampai langit malah dijatuhkan, sebuah perumpamaan perasaan Mery saat ini.
Mery marah dan malu, rasa jijik pada dirinya sendiri karena sudah mau diperlakukan dan dipermainkan oleh orang yang sama berulang kali.
Dengan kasar Mery turun dari pangkuan Roy.
"Tdak ada lanjutan, lupakan apa yang
barusan terjadi, anggap saja aku sedang mabuk." Ucap Mery sambil melotot.
"Mer, maafkan aku!, Aku tidak ingin melakukannya tanpa izin darimu." Mery memalingkan wajah.
"Dan pula aku tidak ingin merusak wanita
yang paling aku cintai." berbicara lirih sambil memeluk Mery dari belakang.
Air mata Mery menetes.
Roy tahu Mery sedang menangis, disibakkannya rambut Mery yang tergerai hingga terlihat leher belakang Mery yang
putih membuat Roy ingin sekali memberikan kecupan disana.
Diberikannya kecupan sambil sedikit meninggalkan tanda merah hasil karya dari bibir Roy, sambil masih memeluk jemari Roy tak bisa diam.
Dengan pelan namun pasti jemari itu
perlahan masuk menyusup kembali kedalam baju Mery dan mengkoyak sesuatu yang
berada didalam sana.
Masih di tempat duduknya, tak berapa lama Wulan pun menoleh kembali, memeriksa keberadaan Mery.
'Ini sudah lima belas menit lebih, kenapa
Mery belum kembali juga, apa terjadi sesuatu padanya.' resah Wulan.
Wulan mulai khawatir.
Tanpa menunggu lama Wulan langsung
berdiri dan berjalan ke arah Toilet, takut
terjadi sesuatu pada putri angkatnya.
Sampai di Toilet Wulan memeriksa keadaan disana, suasana sepi. Wulan memeriksa
setiap bilik toilet, tidak ada orang, sampai
ada satu pramugari menghampiri dan mempertanyakan apa yang bisa dia bantu.
Wulan menolak bantuan pramugari itu dan ingin memeriksa sendiri, sampai pada satu bilik Wulan melihat gelagat yang mencurigakan, tanpa ragu wanita itu langsung mengetuk pintunya.
Tok,tok, tokkk …
Suara Wulan bersamaan dengan genggaman tangannya yang mengetuk pintu.
Di Dalam toilet Roy dan Mery gelagapan, hingga mereka sadari suara sahutan keduanya keluar bersamaan.
"Iya Tante." Mery dan Roy berbarengan.
Tidak cukup dua orang yang ada didalam
toilet yang kaget, tapi Wulan malah lebih kaget.
'Hah, seperti suara Roy.' Wulan menyeringai geram.
Yang tadinya hanya ketukan sekarang
berubah menjadi gebrakan, para pramugari yang melihatnya pun merasa takut dan memutuskan untuk pergi.
Brak.. brak...brak..
"Buka pintunya Roy, Tante butuh penjelasan kalian." Wulan menggedor pintu.
"Iya, Tan." Pintu terbuka dengan perlahan.
Nampak Wulan berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Mery menunduk tak berani menatap ibu angkatnya. Roy hanya cengar-cengir tanpa dosa, tak bisa menyangkal lagi karena sudah tertangkap basah oleh tantenya.
"Jelaskan pada Tante Roy, kenapa kau bisa berada satu pesawat dengan kami."
Tanya Wulan dengan tegas.
Roy tak bisa berkata, ikut langkah Mery yaitu menunduk dan membisu. Wulan
menggeleng tak bisa percaya dengan apa
yang barusan dia tangkap,
Mery dan Roy berada dalam satu bilik yang sempit, (apa yang mereka lakukan?) Pertanyaan itu berputar di atas kepala Wulan.
Akhirnya Wulan malas membahasnya dan mengganti topik pembicaraan.
"Roy, dengarkan Tante!, Tante tahu jika kau sangat menyukai Mery, tapi Tante tak mau
dan tak kan membiarkan jika Rani melukai hatinya." Menatap Roy dan Mery bergantian.
Mendengar penuturan tantenya Roy menegakkan pandangan.
"Tapi Tan, aku sudah berbicara pada bunda
dan aku sudah bertekad dengan apa kata hatiku." Roy membela diri.
"Apa kata bundamu, pasti dia menolak kan?." Roy terdiam.
Wulan menarik pergelangan tangan Mery,
"ikut ibuk, cukup sekali kau direndahkan."
Langkah Wulan terhenti dan menoleh pada keponakannya.
"Ingat Roy, Mery juga putri Tante, aku tak
bisa tinggal diam jika putriku dipermainkan." Menarik dan memaksanya berjalan.
Roy meremas rambutnya, membenturkan keningnya Kedinding toilet.
🌹🌹🌹🌹
Di dalam kantor, tepatnya di ruangan Direktur utama. Sedang duduk seorang Dicky yang sedang menggantikan ayah angkatnya untuk mengatur masalah perusahaan.
Di sela pekerjaannya Dicky asik mengamati sebuah foto seorang perempuan.
"Aku yakin kalau kau adalah Ana ku."
Mengelus wajah wanita di foto dengan
ujung jari jempolnya.
Dicky meletakkan kembali foto itu ke dalam dompetnya, berganti dengan mengambil sebuah lembar kertas tapi kertas itu diremasnya dengan kasar, entah apa isi didalamnya yang membuat Dicky geram.
"Aku tak bisa membiarkanmu kembali
padanya, aku sudah bersusah payah membuatnya yakin akan kematianmu,
biarlah dia menganggapmu mati agar dia
tidak berharap dirimu kembali."
Dicky meluapkan rasa emosi dan
cemburunya dengan berbicara sendiri.
Remasan kertas itu berisikan hasil medis
yang bertuliskan suatu hasil yang NEGATIF.
Dicky membuka link antar petinggi
perusahaan dan menemukan berita bahwa kurang tiga hari lagi seorang David Alexander akan mengadakan acara pertunangan,
senyum Dicky melebar.
Bak menemukan harta karun, Dicky menyusun rencana.
"Ini sangatlah bagus, teruslah berulah David. Aku akan memanfaatkan keadaan dan
peluang yang kau berikan." Dicky tersenyum licik.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Yuhuuuuu... gantian ya bahasnyaaa
biar g bosen 🙈
Next 😍