
Nama ; Roy Aditya
umur. : 28 tahun
Nama ; Mery Kumala Nugroho
Umur. ; 18 tahun
joy n David ....
πππ
Flashback on#
Roy berada di sebuah Cafe , berbicara
dengan anak buahnya ," kau sudah
urus semuanya ?." berbicara serius
dengan menikmati secangkir kopi
di depannya.
" Sudah pak Aditya , saya sudah bereskan
seperti yang pak Aditya katakan." kata
orang kepercayaan Roy .
" Bagus , kau boleh pergi !." orang itu
mengangguk dan beranjak pergi.
" Tunggu Aldo , besok aku akan kesana bersamamu ." tambah Roy saat Aldo
belum pergi jauh.
" Baik pak , dengan senang hati." jawab
Aldo , kemudian meninggalkan Cafe .
Roy tersenyum memikirkan rencananya
besok , selanjutnya dia menghabiskan
kopinya dan mengikuti Aldo untuk
meninggalkan Cafe tempat mereka
bertemu.
Flashback off.
πππ
Joy masih tidak percaya , kenapa bisa
Roy yang membeli rumah Mery , dia mendekati sepupunya , ingin meminta
penjelasan apa maksud dari semua ini.
Dan menyeretnya masuk ke Ruang Tengah.
" Roy , apa benar kau yang membelinya?."
Joy berbicara serius , berdiri di depan Roy .
" Iya Joy , kenapa ? apa tidak boleh ?."
tersenyum melihat Joy yang masih syok.
Joy belum sempat menjawab , karena
Mery sudah mendekatinya dan berbicara
dengan Roy , Mery mulai berkaca-kaca
berbicara dengan menatap Roy serius.
" Kak Roy , kenapa kakak bercanda seperti
ini ?, aku tidak suka kak ." ucap Mery yang
mulai menangis.
" Tidak Mery kau salah faham , aku tidak
bermaksud apa-apa , aku hanya tidak
ingin rumah ini menjadi milik orang lain ."
tangannya akan mengusap air mata
Mery , tapi sudah lebih dulu di cekal
oleh sang pemilik wajah.
" Sudah nanti kita lanjutkan lagi
bicaranya , dan kau Mery hapus air
matamu ." Joy mengajak Roy kembali
ke Ruang Tamu .
Joy kembali bersama Roy , seperti tidak
terjadi apa - apa. Joy seperti biasa saja ,
dia mendekati Rudi .
" Rud ,,, mana suratnya ? agar bisa di
tanda tangani Mery ." ucap Joy saat
berhasil duduk di sebelah Rudi .
Rudi menyodorkan amplop besar yang
ada di tangannya, Joy memanggil Mery
agar dia cepat menandatangani
surat jual beli Rumahnya.
Mery mendekat dan duduk di samping
Joy , dia melihat kearah Roy seakan
ragu untuk menandatanganinya. Tapi
dia melihat tulisan yang tercantum
di surat , jika pihak kedua membatalkan
jual beli secara sepihak, maka akan
di kenakan denda 25 %.
Mery tidak mau membuat repot kakaknya
lagi , akhirnya dengan perasaan gusar,
Mery mengambil sebuah pena di atas
meja .
" Tenang Mery, ini akan tetap bisa
menjadi Rumahmu ." ucap Roy
mengagetkan semuanya.
Rudi memandang Joy , Roy dan Mery
secara bergantian , penuh banyak
pertanyaan di dalam otaknya, beda
dengan Aldo yang seakan cuek dengan
urusan atasannya , dia hanya diam
tanpa mau bertanya sedikit pun.
" Joy , apa kalian saling mengenal?."
Rudi menatap Joy yang ada di sampingnya.
" Dia adik sepupuku ."
" Adik sepupu ?." Rudi merasa kaget,
karena yang dia tahu Joy adalah
seorang gadis yang di besarkan di
sebuah Panti Asuhan.
Rudi menatap Joy , dengan pandangan
yang penuh akan pertanyaan, ingin
rasanya dia bertanya, tapi dia takut jika
menyinggung perasaan Joy.
" Roy adalah anak dari adik kandung
ibuku Rudi , aku telah menemukan ibu kandungku beberapa bulan yang lalu."
jelas Joy pada Rudi .
Rudi tersenyum dan mengangguk,
dia mengerti dengan apa yang Joy
jelaskan padanya.
" Iya kak Joy ." ucap Roy menggoda
kakak sepupunya.
Joy tidak terpengaruh Roy , karena dia
sudah hafal bagaimana karakter
sepupunya itu . Mery meletakkan pena
yang di pegangnya , menandakan jika
dia sudah menandatangani surat tersebut .
Merasa Roy tidak membutuhkan bantuan
lagi , Aldo segera pamit pada Roy .
Selepas kepergian Aldo, mbok Imah
datang membawakan minuman .
Mery pamit kedalam dan di ikuti oleh Roy
di belakangnya, " Mery ," panggil Roy yang
melihat Mery duduk di kursi depan televisi.
" Kau tidak salah paham sama kakak
lagi kan ?," Mery diam , hanya gelengan
yang mewakili jawaban nya.
" Rumah ini tetap akan menjadi milikmu,
dan akan selalu menjadi milikmu,
karena aku sudah mengatas namakan
rumah ini dengan namamu." Roy
berbisik tepat di dekat telinga Mery .
Mery terlihat kaget setelah mendengarnya.
" Apa maksud kak Roy ?." Mery terlihat
bingung.
" Anggap saja rumah ini sebagai
pengikat , jika kau tidak boleh
berhubungan dengan laki - laki lain."Mery
semakin kaget .
" Kenapa bisa begitu ?." mencari jawaban
di manik mata pria di depannya ,
bukan sebuah jawaban yang dia
dapat, malah debaran jantung yang
terlalu cepat , membuat nya salah tingkah.
Joy masuk ke dalam Ruang Tengah,
mencari keberadaan Mery .
" Mery , aku mau keluar bersama Rudi
apa kau mau ikut?." ucapan Joy yang
tiba -tiba mengagetkan mereka berdua
yang duduk di depan televisi.
Roy menjauhkan diri , menoleh pada
sumber suara, di lihatnya sepasang
mata elang yang seperti mau
menerkamnya , Joy terlihat marah,
karena Roy sudah mulai berani
menggoda Mery .
" Kemana kak ?."
" Ke makam ibu dan ayah ." Mery
langsung berdiri mendekati Joy .
" Benarkah? tunggu aku maw bersiap
dulu ." Mery berlari menuju kamarnya.
Joy dan Rudi keluar ke halaman rumah ,
menunggu kedatangan Mery , tak lama
Mery sudah datang dan masuk ke dalam
mobil , dan mereka pun berangkat
bersama- sama ,
Meninggalkan Roy yang sendirian
dirumah.
David yang memantau dari jendela ,
segera menelfon Roy , menanyakan
tentang joy mau kemana.
Roy memberitahu jika mereka mau
pergi ke makam ibu angkat Joy .
David segera keluar , untuk mengikutinya
dia tidak mau sampai Joy bersama
dengan seseorang yang bernama Rudi .
πππ
Mereka tiba di Makam, Joy segera
turun dari mobil dan mencari tempat
keluarga Mery di makam kan . Mery
mulai gemetar , seakan tak kuasa
untuk datang ke tempat keluarganya
di makan kan .
Tapi keinginan nya untuk mengetahui
lebih besar dari pada rasa sedihnya.
Joy berlutut di dekat Mery , mendoakan
pada keluarga Mery , karena makam
mereka berdampingan.
Setelah lumayan lama , Joy pergi
meninggalkan makam , saat di Parkiran
dia hampir jatuh , hampir saja Rudi
mau menolong nya tapi kesigapan
David yang lebih dulu menggapainya.
" Sayang kau tidak apa-apa ?." tanya
David dengan memeriksa keadaan
kaki Joy yang sempat tergelincir.
Joy masih terkejut dengan kedatangan
suaminya yang tidak di sangka- sangka,
Joy sampai tak mampu membuka
mulutnya, karena rasa takut dan kaget
menyelimuti nya .
" Sayang jawab aku , kenapa kau diam
saja." tanya David menyentuh pipi
istrinya.
Joy segera memeluk David , tanpa terasa
air matanya jatuh , membasahi baju
David ," Sayang ." panggil David lembut.
Joy merenggangkan pelukannya,
" David aku takut ," Joy mulai kesejukan
David diam , menatap istrinya penuh
cinta dengan satu tangannya membelai
lembut rambut milik wanita yang di cintai nya.
" Terimakasih, andai kau tak
menangkapku,, aku tidak tahu lagi
apa yang akan terjadi ." David merangkul
istrinya , menuntunnya untuk masuk
ke dalam mobil miliknya.
David membukakan pintu mobil, dan
mempersilahkan Joy masuk dengan
sebelumnya , David menyempatkan
untuk mencium kening istrinya, agar
lebih tenang.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata
yang di liputi banyak pertanyaan dan
rasa sakit yang teramat saat melihat
setiap adegan Joy dan David berpelukan.
**Joy apa dia suamimu ?, rupanya kau
sudah bahagia bersamanya , ternyata
aku sudah terlambat." batin Rudi .
Dengan menatap kepergian Joy yang
berlalu bersama hilangnya bersama
mobil.
-
-
Gimana sudah author kasih
visual Mery sama Roy , baca terus ya
jangan lupa ninggalin jejak ya π₯°
komen, like, sama votenya...
Next π