
Hari ini kuliah Bimo libur, tapi masih ada banyak tugas menumpuk yang sudah
menanti untuk dia kerjakan.
Teman-temannya mengajak Bimo keluar
untuk jalan-jalan tapi semua ajakan itu Bimo tolak dan dia memilih untuk tetap di kamar
kost nya untuk menyelesaikan semua tugas kuliahnya.
Bimo ditemani oleh Andy, teman kuliahnya
satu jurusan yang sama-sama berasal dari Indonesia. Bimo dan Andy mengerjakan
tugas di laptop masing-masing, Bimo amat serius dalam menyalin kata hingga dia tidak sadar jika cemilan yang dimakannya sudah dihabiskan oleh temannya.
Bimo ingin memakan cemilan miliknya,
sambil masih fokus memeriksa hasil ketikannya, Bimo meraba bungkus keripik
yang berada diatas meja.
"Hah." Bimo kaget dan mengambil bungkusan plastik yang tadi menjadi tempat keripik kentang favoritnya.
Bimo menatap Andy, ternyata temannya itu sedang asyik mengunyah.
"Dasar kau Dy, rakus amat kau. Semua kripik kau makan dan tidak menyisakan sedikitpun untukku." Memeriksa bungkus keripik yang sudah kosong, lalu membantingnya di meja.
Andy meringis tanpa rasa bersalah.
"Beli lagi bro, aku kan tamu disini tidak apalah kalau aku habiskan." Menyengirkan matanya menggoda Bimo.
Bimo hanya menggeleng.
"Itu masalahnya, aku malas keluar bagaimana caraku untuk membelinya." Bimo kemudian berdiri dan masuk kedalam kamar.
"Heh kau mau kemana?." Melihat temannya yang masuk.
"Ambil minum." Berbicara tanpa melihat Andy.
"Bawakan juga untukku."
"Hm." Bimo hanya menjawab dengan deheman.
Andy fokus mengamati layar laptopnya, dia sedang meng scroll berita terkini merasa
kaget saat mendapati sebuah berita dari tempatnya dia tinggal. Kekepoan Andy mendera, di kliklah link berita itu demi ingin memuaskan hasrat keingin tahuannya.
Andy membaca kata demi kata yang tertera
di link berita itu.
"Memang ya kalau orang berduit itu bisa menarik setiap cewek, dengan diembel-embeli segepok uang saja para wanita sudah mendekat dengan sendirinya." Andi berkomentar setelah membaca bait awal dari berita itu.
Bimo keluar dari kamar membawa dua botol teh diberikan pada Andy satu.
"Kau bicara apa, ini tehmu."
Setelah memberikan teh pada Andy, Bimo membuka sebungkus kacang yang masih tersisa yang diambilnya dari dalam. Bimo
ingin mengerjakan tugasnya malam ini di balkon agar bisa melihat pemandangan jalanan.
"Terima kasih kawan." Langsung membuka botol teh pemberian Bimo dan meminumnya.
Bimo melanjutkan mengevakuasi tugasnya, dan Andy melanjutkan membaca.
"Dy tugasmu sudah selesai?." Bimo
memeriksa tugasnya sambil membuka kulit kacang dan memakan bijinya.
Andy masih fokus di layar laptopnya.
"Belom, bentar lagi aku kerjakan, nanggung
nih udah baca separuh beritanya."
"Berita apa, jangan asal percaya sama
berita lu, bisa saja semua berita itu di edit
oleh wartawan."
Andy membalik laptopnya diarahkan pada Bimo, dia ingin menunjukkan berita yang dibacanya agar Bimo juga ikut membaca.
"Kau baca sendiri, seru ini cerita seorang CEO yang kegatelan." Bimo menatap temannya.
"Aku malas mencampuri urusan orang lain." Tanpa melihat apalagi membaca berita itu Bimo langsung membalikkan kembali laptop milik Andy.
Andy meraih laptopnya.
"Ok, terserah kau yang penting aku bangga dengan diriku sendiri yang suka kepo urusan orang lain." Dengan santainya Andy melanjutkan membaca.
Bimo melanjutkan mengevakuasi tugasnya.
"Tugasku sudah hampir selesai, jangan minta bantuanku nanti untuk mengerjakan tugas-tugasmu." Menyeruput teh botol miliknya.
Andy tidak mendengarkan ocehan temannya, dia masih saja fokus membaca berita. Melirik temannya sekilas, keusilan Andy muncul. Dibacanya link berita itu dengan nada yang sedikit keras.
"Belum genap sebulan mayat istrinya ditemukan, pengusaha muda itu sudah merencanakan pertunangan dengan gadis belia, semua orang heran sekaligus curiga
jika ada hubungan gelap di antara mereka
yang menjadi modus meninggalnya sang istri pertama."
Bimo menatap Andy yang membaca dengan keras dan mengganggu konsentrasinya.
"Apa kau tidak bisa kecilkan suaramu." Bentak Bimo sambil melempar satu kacang yang
tepat mengenai kepala Andy.
Bimo bertanya sekaligus menyuruh temannya itu untuk mengurangi volume suara yang dikeluarkannya karena sangat mengganggu.
"Memang aku sengaja bro, biar kita
sama-sama tidak selesai tugasnya, hahahaha .. ." Tertawa tanpa rasa bersalah.
"Kalau kau disini cuma mengganggu, mendingan kau pulang, sana pergi!." Gertak Bimo yang dibalas tawa cengengesan oleh Andy.
Menghadapkan kedua telapak tangan pada temannya, Andy meminta maaf seraya menjelaskan jika dirinya hanya bercanda.
"Ok, ok, aku minta maaf tuan, kau jangan
serius begitu, kita butuh ngefreskan pikiran
biar gak jenuh, canda bro .. Canda." Bimo membuang pandangannya dan kembali fokus di laptop.
Bimo tak tahu jika yang dibaca Andy tadi
adalah berita tentang David yang akan bertunangan dengan Mery, kekasihnya.
Tiba pada saat Andy akan menyelesaikan membaca berita itu di bait terakhir tertera
foto sepasang pasangan yang diberitakan.
"Wow, pantas saja si duda baru ini kegatelan,
la calonnya masih muda gini cantik juga."
Andy mulai ngedumel lagi.
Andy membalik laptopnya kembali dan menunjukkan pada temannya.
"Lihat deh bro cantik bukan, ini cewek indo kesukaanmu." Bimo malas melihat.
Andy sangat tahu jika selera temannya itu hanya pada wanita lokal, terbukti setelah berulang kali dirinya mengajak ngedate bareng cewek luar negeri Bimo tidak mau dan selalu menolak.
Disaat Andy akan mengambil laptopnya kembali, disitulah mata Bimo dengan tidak sengaja sedikit melihat layar dan
tertangkaplah sebuah gambar wajah seorang wanita yang tidak asing baginya.
Laptop sudah kembali menghadap tuannya, Bimo menarik lagi laptop itu demi
memuaskan hatinya.
"Sebentar." Membalikkan layar laptop tapi disana sudah berubah menjadi tulisan, Bimo meng scroll tulisan yang dibaca Andy tadi.
Andy hanya memandang temannya dengan sedikit tertawa meremehkan.
"Katanya tidak suka, katanya harus fokus ke tugas, tak baik kepo urusan orang." Sindir
Andy melihat keseriusan temannya.
"Diam kau." Bentakan Bimo membuat Andy membunyikan tawanya.
"Hahahaha, tertular virus kepo lu bro."
Bimo tak mendengar tawa temannya, dia
"Ini tidak mungkin, aku tidak percaya berita
ini, semua berita ini pasti palsu, Mery tidak akan melakukannya." Andy menatap
temannya, terkejut dengan raut wajah Bimo yang geram setelah membaca tulisan di layar laptopnya.
Bimo mengambil cepat ponselnya dan
mencari satu nama lalu menghubunginya.
Andy melihat kembali pada layar laptopnya, mencari apa ada kesalahan pada berita yang barusan di bacanya, sehingga membuat ekspresi temannya itu berubah.
Andy baru faham setelah mendengar nama Mery disebut, Bimo dulu pernah cerita jika
dia menyukai seorang gadis dari tanah kelahirannya dan Bimo selalu menyebut
gadis itu dengan nama Mery.
Kali ini Andy menganggap berita itu ada sangkut pautnya dengan gadis yang disukai oleh Bimo karena melihat ekspresi wajah dan tindakan Bimo yang langsung berubah drastis.
Andy merasa bersalah, dia menutup link
yang tadi dibacanya, berbalik berdiri
mendekati temannya.
"Tenang bro, mungkin berita itu bohong, tenangkan dirimu." Bimo masih saja berusaha menghubungi Mery yang dari tadi tidak bisa tersambung.
"Iya aku tahu, Mery tidak mungkin mengkhianatiku, mangkanya aku butuh klarifikasi darinya langsung, ini juga kenapa
dia tidak mengangkat panggilanku." Bimo mondar-mandir sambil menatap ponselnya, memencetnya berkali-kali.
Bimo tidak tahu di kejauhan sana Mery
bukan tidak ingin menerima teleponnya tapi karena ponselnya saja sedang mati sejak
baru akan naik pesawat hingga sampai di rumah Jogja Mery belum sempat menghidupkan ponselnya karena terhambat oleh lelah dan kedatangan ibunya Roy.
###
Dilain sisi
David memperbolehkan Mery pergi ke Jogja bersama ibu mertuanya tidak dengan
semudah itu, dia masih menyiapkan orang suruhannya untuk membuntuti gadis itu, mencari informasi apa saja yang terjadi
disana.
David tahu pasti ibunda Roy tidak akan
tinggal diam jika tahu Mery pulang kesana, David sudah siap siaga dengan situasi itu.
Kali ini dia sedang menerima informasi
dengan detail keadaan di rumah mertuanya
dari orang suruhannya itu, bahkan keberadaan Roy juga tak luput masuk ke dalam informasi.
David sempat kaget saat mengetahui jika Roy juga berada disana, apalagi setelah tahu jika omongan ibunya hampir bisa menguasai pemikiran sang ibu mertua.
Dengan cepat David ingin pergi kesana, dia ingin menggagalkan rencana ibunya Roy,
David takut jika wanita itu nekat menikahkan anaknya dengan Mery, takut gagal dengan semua rencana yang sudah dibuatnya
dengan matang.
Sebuah rencana siasat demi menghancurkan hati Roy.
David tidak ingin terjadi kesalahpahaman dengan ibu mertuanya itu, dia berencana
untuk menyusul ke Jogja demi meluruskan kembali jika tidak ada maksud lain tentang rencana pertunangan ini, serta menjemput Mery agar cepat kembali.
Tanpa harus berlama-lama dekat dengan Roy.
###
Mery masih belum mengangkat panggilan
dari Bimo, hal itu membuat Bimo semakin frustasi.
"Sudahlah Bim, mungkin cewekmu lagi sibuk, nanti saja kau hubungin lagi." Andy berusaha membujuk Bimo agar dia sedikit tenang.
Menatap Andy dengan beringas, "cukup, biarkan aku sendiri, kau bisa keluar dan bersenang-senang dengan teman-temanmu." Usir Bimo secara halus, tapi Andy tidak bersedia masih ingin menemani sahabatnya.
"Kau bicara apa, aku tidak ada acara untuk keluar, dari tadi sore aku ingin disini bro mengerjakan tugas bersamamu, kau ada-ada saja." Mengajak Bimo duduk tapi ditelak.
"Jangan membual, lihat ponselmu dari tadi sudah berdering, angkat sana!." Andy meringis.
"Mungkin ini dari Sonia, aku terima dulu ya." Bimo mengangkat tangan mempersilahkan.
Andy sedikit menjauh.
"Hallo beb, aku berada di tempat Bimo, sorry acara malam ini kita batalkan, aku tak bisa meninggalkan sahabatku sendirian, dia lagi
ada masalah." Andy berbicara lirih sambil mendekatkan bibir dan menutup ujung ponselnya.
"Oh ok, tapi bolehkah aku kesana sayang, aku sangat merindukanmu." Balas Sonia di kejauhan sana.
"Ja⦠." Andy tak bisa melanjutkan bicara
karena sambungan sudah terputus.
Andy menatap ponselnya, mengambil nafas dalam meredam kesal.
"Kebiasaan, dasar wanita maunya menang sendiri." Memasukkan kembali ponsel
kedalam saku dan berjalan mendekati temannya.
"Kau sudah ditunggu kan? Pergi sana." Andy menggeleng.
"Kau mengusirku?."
"Iya."
"Tak mau, aku sudah membatalkan pertemuanku dengan Sonia, percuma kalau
aku pergi dari sini." Andy duduk dan
memakan kacang dengan cepat, belum
hilang rasa kesalnya dengan kekasihnya
sudah ditambah harus mendengar ocehan temannya.
Tok, tok, tooookkkk..
Bimo dan Andy saling menatap.
"Ada tamu, kau yang punya kamar, maka kau yang harus membuka." Bimo segera menghampiri pintu.
Pintu terbuka nampaklah dua orang wanita.
"Taraaaaa β¦, surprise ." Teriak satu orang wanita dengan girangnya.
Bimo kebingungan, perasaan dia tidak mengundang siapa pun kenapa bisa datang tamu cewek ke kamarnya.
"Sonia." Sonia tanpa di suruh langsung menarik temannya dan masuk kedalam kamar.
Bimo diam saja, kebingungan hanya bisa membiarkan mereka masuk dan menatap punggung dua wanita yang tanpa ijinnya masuk ke dalam kamarnya.
"Pasti ini ulah Andy." Mengepalkan tangan, siap ingin menghajar.
Bimo ikut masuk dan kemudian menutup pintunya.
Sonia berhambur ke pelukan Andy, Andy ling-lung karena belum lama dirinya menerima telepon kok Sonia sudah ada di sini.
Sonia tau jika Andy pasti meminta penjelasan, tapi dengan sigapnya dia malah mencium kedua pipi kekasihnya. Sonia datang dengan membawa sebungkus minuman beralkohol untuk menemani berkumpul mereka.
"Cerita nya nanti saja kita minum dulu, aku sudah bawakan minuman kesukaanmu sayang." Sonia memberikan pada Andy minuman kaleng yang beralkohol dengan kadarnya sedikit.
"Ini sayang untukmu." Menyodorkan kaleng setelah membuka tutupnya.
Sonia berbalik menatap Bimo, menyapa sang tuan kamar seraya berbasa-basi.
"Oh iya, hai Bimo maaf ya aku masuk tanpa
ijin tadi." Mengangkat satu tangannya dengan jemari membentuk angka berjumlah dua.
"Hm." Bimo tidak menjawab.
"Oh iya, ini perkenalkan temanku Alina, dia juga dari Indonesia lho dan untuk merayakan perkenalan kalian kita tos dulu." Memberikan kaleng minuman pada Bimo yang sudah terbuka.
Sebelum diberikan pada Bimo, minuman itu sudah dulu dimasukin sebutir pil kecil oleh Sonia, tanpa ada yang tahu.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·