
Sinar matahari mulai tinggi , menandakan
jika hari sudah mulai siang . Joy mulai
membuka matanya , mencoba untuk
bangun , tapi dihalangi oleh sebuah tangan yang bergelayut mesra memeluknya, seakan
enggan untuk berpisah .
Tapi bayi yang ada di dalam kandungannya
kini tidak bisa di ajak kompromi , dia selalu
bergerak tak mau berhenti , yang membuat
perut Joy merasakan kram .
" Au... David perutku !!, dia bergerak terus,
tolong bangunlah sekarang David,," Joy
menarik rambut David .
David yang baru bangun pun bingung , tak
mengerti harus berbuat apa saat melihat
istrinya merasa kesakitan .
" Sayang aku harus bagaimana , apa kita
ke dokter saja?." David masih belum
mengerti .
" Tolong dudukkan aku David !."
Joy di bantu David untuk duduk dan
memakai baju tidurnya , dan membantunya untuk masuk ke kamar mandi.
" David aku bisa mandi sendiri , sekarang tolong buatkan aku segelas susu hangat , "
"Tapi sayang, aku bisa membantumu untuk
mandi ."
" Tidak,,, pergilah !, semua ini terjadi karena
ulahmu tadi malam , jadinya perutku
sekarang mengalami kontraksi ."
David takut membuat istrinya marah lagi,
sehingga menuruti apa yang di katakan oleh
istrinya .
Setelah Joy mandi , dia berganti pakaian dan
berjalan keluar dari kamarnya .
" David mandilah! , ku tunggu kau di meja makan ." David mengikuti perintah istrinya.
" Tunggu !."
Suara Joy menghentikan langkah David ,
dan berbalik menoleh ke arah Joy .
" Apa kau sudah membuatkan segelas
susu untuk ku ?." David mengangguk.
" Sudah , aku taruh di meja makan ." Joy
tersenyum pada suaminya ." terimakasih."
Dan berlalu.meninggalkan David yang
sedang terpaku melihat senyuman dari
istrinya .
Di meja makan , Joy mengedarkan pandangannya mencari sosok penghuni
rumah yang terlihat amat sepi .
* kemana mereka semua?, * batin Joy ,
lalu memutuskan untuk menghubungi
Anggi , di sela makannya.
Lumayan lama sambungan telfonnya tidak
juga di angkat oleh Anggi, sampai di tiga kalinya dia menelepon baru Anggi mengangkatnya .
" Hallo Joy , apa kau sudah bangun?."
" Ya sudahlah Nggi,,, kalau aku belum
bangun mana mungkin aku sekarang bisa menghubungimu ." Joy jengkel dengan pertanyaan temannya.
" Huft,,, maaf !!." Anggi menahan tawanya.
"Sekarang kau dimana?, rumah sepi sekali."
" Aku sekarang sedang jalan- jalan Joy ,aku
tak mau mengganggu mu , kau lanjutkan
saja , ok !." telfon pun mati .
Joy kesal dengan ulah temannya, karena
Joy belum selesai berbicara telfonnya
sudah mati .
Selesai membersihkan diri , David segera
menghampiri istrinya . Joy melihat kearah
suaminya yang berjalan mendekatinya .
Joy menatap David tanpa berkedip , dia terpesona dengan ketampanan suaminya ,
" Sayang,, usap air liurmu, kalau kau masih
menatapku seperti itu , aku akan menerkam
mu saat ini juga , di sini." Joy salah tingkah
dengan ucapan David , karena dia tertangkap
basah sedang terpesona oleh suaminya .
" Jaga bicaramu David!, cepat selesaikan
makanmu , sebentar lagi kita akan bersiap."
Joy melanjutkan makannya.
" Dengan senang hati sayang..." Joy menoleh
pada suaminya, mengetahui kesalahpahaman
David tentang kata -kata nya.
" David kau salah, maksudku,,,hm....." David
mencium Joy seketika sebelum menyelesaikan ucapannya .
Joy mendorong suaminya ," David ini masih
pagi."tangan David mulai mengangkat tubuh
Joy ." Aku ingin kau menjadi sarapan siang ku." ucap David saat berjalan memasuki
kembali kamar istrinya .
Joy tidak bisa berkutik , saat suaminya
meminta jatahnya lagi .
****
Oma mengangkat telfon genggam miliknya,
membaca pesan yang di kirim oleh cucunya.
( Oma kita nanti berangkat ke Jakarta agak
sore an saja , sekarang aku sedang menemui
cucu buyutmu , jangan ganggu kami π).
Oma meletakkan kembali telfon
genggamnya , merasa jengkel dengan isi pesan dari cucunya .
" Kau persiapkan penerbangan kita nanti
sore , aku tidak mau ada masalah dengan
keberangkatan ku ." perintah Oma pada
orang kepercayaannya.
Oma meletakkan cangkir teh yang baru ia minum diatas meja , beliau duduk di atas
Wulan .
" Lanjutkan saja pekerjaan anda , saya ke
sini karena tidak ada pekerjaan yang saya lakukan ." Oma mencoba mengakrabkan
diri dengan besannya .
" Tidak apa , ada pegawai saya yang mengurusnya ." ibu Wulan duduk di depan Oma .
" Nanti kami akan berangkat ke Jakarta
sekitar pukul lima sore ."
"Saya titip Joy pada ibu , sebenarnya saya
berat untuk melepaskan Joy , karena baru
beberapa bulan ini saya menjadi seorang
ibu ." tak terasa air mata ibu Wulan menetes.
" Tenang saja, saya akan menjaga Joy
dengan baik." Oma menggenggam jemari
ibu Wulan, menenangkan hatinya.
***
Jam di dalam mobil Andreas menunjukkan
pukul dua siang , mereka memutuskan
untuk menyudahi acara jalan-jalan hari ini.
" Kita kemana lagi ?." Andreas bertanya dengan tangannya masih sibuk menyetir.
"Kita pulang saja , lagian aku sudah lelah."
Anggi berbicara dengan memejamkan matanya di sebelah Andreas .
" Baik bos !." Andreas menambah kecepatan.
Di kursi belakang , diduduki oleh Roy , Mery
dan Adinda . Roy sengaja duduk di belakang
karena ingin menggoda gadis kecil yang tak lain adalah keponakan dari Joy .
Sorot matanya melirik kearah Mery , begitu
pula dengan Mery .
Manik mata mereka berulang kali bertemu,
membuat Mery malu dan salah tingkah.
Roy melihat adiknya sedang tertidur , yang berada tepat disebelahnya , membuat bola matanya bebas untuk mencuri pandang
pada Mery .
***
Di rumah Joy sudah mempersiapkan diri ,
untuk berangkat ke Jakarta . begitu pula
dengan David ,
Sebuah mobil masuk di pekarangan rumah Joy , turunlah mereka yang baru pulang dari
jalan-jalan .
" Kalian dari mana saja ?." Joy duduk di
kursi taman.
" Dari jalan-jalan Joy ." Anggi mendekati Joy.
" Ya , aku tahu kalian dari jalan- jalan , tapi
kemana?."
" Dari muter-muter, bosan di rumah nanti
mengganggu aktifitas pengantin baru."
Roy menggoda Joy .
Joy yang kesal , melemparkan buah apel
yang di pegangnya kearah Roy .
" Apa yang kau bicarakan Roy , kau jangan
ngelantur ." Joy malu , masuk meninggalkan para lelaki di luar rumah.
" Anggi kau berangkat ke Jakarta , kapan?."
Joy ikut masuk ke kamar Mery , mengikuti
kemana arah kaki Anggi melangkah.
" Aku belum tahu Joy, kalau kau sendiri?."
" Aku berangkat beberapa jam lagi, dengan
menaiki pesawat pribadi Oma ." Joy memandang Anggi yang akan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Bagaimana kalau kau kembali ke Jakarta
bersama dengan kami ?."
"Apa boleh?."
" Siapa yang melarang, aku pasti senang sekali bisa kembali ke Jakarta bersama
denganmu ."
" Baiklah , dengan senang hati bisa ngirit
ongkos ,hhh." mereka tertawa bersama.
***
Hari sudah mulai agak petang , Oma menjemput mereka di rumah Joy.
" Kau sudah siap sayang ?." Oma bertanya
pada Joy.
Joy mengangguk." aku akan berpamitan
dulu pada Tante Puspita dan Adinda."
" Silahkan!." ucap Oma kemudian masuk
ke dalam mobilnya .
Joy berpamitan pada semua nya , terakhir
pandangannya tertuju pada seorang wanita
yang baru beberapa bulan ini dia sadari
bahwa beliau adalah ibu kandungnya.
Joy memeluk ibunya , seakan berat untuk
meninggalkannya .
" Sudah kau jangan menangis lagi, nanti
bayi mu akan ikut bersedih ." ibu Wulan
mengusap air mata Joy .
" Pergilah, ibu nanti akan sering
mengunjungimu ."
" Mery ,,,kakak titip ibu ya." Joy memeluk Mery.
David juga ikut berpamitan, menyalami dan
berterima kasih pada mama Roy telah
memperbolehkan untuk tinggal di rumahnya.
Roy sengaja berjalan di belakang Mery , saat
semua sedang fokus dengan Joy ,
Roy mencuri cium di pipi Mery dan berbisik.
" Aku akan menunggumu , saat kau sudah
besar nanti aku akan kembali." Roy tersenyum pada Mery dan berlari menghampiri David dan istrinya .
*
*
*
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Kok sepi votenya , jangan lupa ninggalin jejaknya ya ππππ
Next π