Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Masih berdua


Masih di dalam ruangan gelap penuh


ketegangan yang hanya terpancar satu


sorotan cahaya lampu yang menyinari


di satu titik yaitu di sebuah layar yang


lebar menampakkan adegan film yang


sangat menakutkan .


Sepasang dua sejoli ini tetap duduk


berdampingan dengan penuh rasa malu


dan gugup , entah itu rasa takut atau rasa


deg degan hanya mereka berdua yang tahu .


Keduanya menghadap lurus ke depan


menatap layar yang lebar tapi fikiran mereka berlari entah kemana , sang gadis tak


mampu melihat film yang sedang diputar


dia hanya menunduk dengan wajah yang


berpaling karena tidak adanya nyali untuk


melihat sesuatu yang berbau horor, sesekali jarinya menggenggam pinggiran kursi yang didudukinya .


Keringat dingin keluar dari kening gadis itu ,


si pria melirik dengan penuh perasaan


bersalah dia menyesal karena tadi telah


memilih genre film horor untuk acara


kencannya kali ini .


Yang ada di benak sang pria hanya lah


jika dia memilih genre itu pasti si gadis


akan lari ke pelukannya bila dia ketakutan


tapi ini di luar dugaannya karena sang gadis


malah diam dan marah pada si pria . Situasi yang canggung membuat semuanya


meleset dalam targetnya .


"Mer , kita bisa keluar sekarang jika film ini membuat mu tak nyaman , maafkan aku


karena perbuatan ku telah membuatmu


ketakutan ." berbicara pelan sambil


mengulurkan tangan seraya menanti


balasan tangan dari Mery .


Mery yang dari tadi sudah gemetar pun


mengiyakan ajakan Bimo dengan menaruh


satu tangannya diatas uluran tangan Bimo ,


sambil menganggukan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata , Bimo segera mengemasi barang yang tadi dibawanya


masuk dan mengajak Mery berdiri .


Merasakan tangan Mery yang dingin dan


masih gemetar , akal bulus Bimo muncul .


"Dasar penakut , harusnya kau tadi


menghambur ke pelukanku tidak malah


menunduk ." goda Bimo membuat Mery


kaget langsung mendongakkan kepalanya


menatap Bimo .


"Kak Bimo sengaja ?." Mery yang geram


dengan cepat mencubit perut Bimo .


"Aww .. , harusnya jangan di cubit Mery


sakit , ayok kita keluar ."


Bimo yang kesakitan menggosok perutnya


yang mendapat cubitan dari jari lincah


Mery , sambil mengeratkan gandengan Bimo


dengan cepat mengajak gadis itu keluar


dari ruangan yang gelap itu .


Sampai di luar Bimo mengandeng Mery


mengajaknya ke area Parkir tapi saat


di pintu keluar mereka bertemu dengan


seorang penjaga yang bertugas memeriksa


setiap penonton yang akan masuk .


"Belum selesai kok keluar mas? ." penjaga


itu menatap mereka berdua dan bertanya


karena merasa heran .


Dengan tersenyum Bimo menunjukkan


tautan tangan keduanya tanpa menjawab


Bimo memberikan kedipan satu matanya


pada si penjaga , dan penjaga itu pun


tersenyum dan mengangguk sepertinya


dia mengerti isyarat kode dari kedipan


mata Bimo .


"Semoga sukses mas ." mengacungkan jari


jempol penjaga itu memberi dukungan .


Mereka membicarakan apa sih , sukses


sukses apanya yang sukses , dasar orang


aneh .


Mery yang heran hanya mampu menggerutu


didalam hati sambil memandang kedua


orang yang menurutnya aneh .


Bimo mempersilahkan Mery untuk masuk


kedalam mobilnya dan mengajaknya


jalan - jalan ketempat kedua .


"Kita kemana kak ?." tanya Mery yang penasaran .


" Kepo ." satu kata Bimo membungkam


bibir Mery yang ingin bertanya lagi .


Kepo , ya iyalah aku kepo kan yang


di ajak juga aku, dan aku kan juga wajib


tahu kemana aku akan di bawa , jangan


jangan ... ahh .. tidak mungkin .


Mery menghela nafas karena Bimo yang


tidak menjawab jelas kemana arah mobil


ini membawanya , membuat pikiran Mery


yang macam-macam muncul . Mau di culik


mau dibawa ke Hotel , ke puncak , semua


pikiran aneh itu muncul begitu saja di


otak gadis lugu itu .


Tidak mungkin , tidak mungkin .


Mery berusaha menenangkan hatinya ,


memejamkan mata gadis itu memegang


dadanya , berusaha membuang fikiran


buruk tentang praduga yang berkecamuk


didalam hati dan pikirannya .


Sambil melirik Bimo tertawa dalam hati .


Mobil yang mereka tumpangi berhenti


di sebuah Taman yang penuh dengan


lampu dan bunga tak ketinggalan juga ada


sebuah air mancur di tengah tengah Taman . Mery menutup mulutnya merasa takjub dan merasa bersalah karena telah berfikiran


negatif pada teman masa kecilnya ini .


"Suka ?." tanya Bimo sambil membuka


sabuk pengaman yang mengikat badannya .


Mery yang tidak sabar pun ikut gerakan


Bimo yang membuka sabuk pengaman


dengan tergopoh-gopoh gadis itu ingin


segera keluar .


"Sabar .. ." ucapan Bimo membuat Mery


cemberut .


bersama ."


Bimo membuka kunci otomatis agar Mery


bisa keluar , tanpa menunggu lagi Mery


berlari duluan ke Taman , belum jauh dia


berlari tapi langkahnya terhenti , Bimo yang merasa heran pun dengan cepat mendekati .


"Ada apa , kenapa berhenti ."


Mery yang diam pun menunjuk sesuatu


dengan dagunya ,"tu lihat sendiri ." suara


lirih Mery membuat Bimo penasaran .


Bimo memandang kearah petunjuk dari


dagu Mery dan seketika membuatnya


tertawa karena disana nampak


pemandangan banyak pasangan muda


mudi yang sedang duduk di setiap kursi maupun di bawah pohon di Taman .


Sepertinya mereka juga pasangan yang


tak jauh berbeda dengan Mery dan Bimo


yang ingin mencari tempat sepi untuk


berkencan .


Tetapi pemandangan itu membuat Mery


risih dan berbalik ingin kembali ke mobil .


"Kemana , disini saja ." Cekalan tangan Bimo mencegah kaki Mery melangkah jauh .


"Kita bisa mencari tempat yang lain ,


mungkin disebelah sana ." menunjuk pada


air mancur .


Dengan tangan yang saling bertaut


Bimo mengajak Mery ke dekat air mancur .


Ternyata benar yang di katakan Bimo ,


disana banyak terdapat lampu taman


yang membuat tempat itu terlihat terang


dan tidak ada satu pasangan pun selain


mereka berdua .


Saling menatap keduanya tertawa , mungkin


dipikiran mereka sama , tempat ini terang


tidak bisa di gunakan pasangan tadi untuk


berbuat mes*m .


Duduk disebuah kursi mereka berdempetan


bukan niat saling mepet satu sama lain tapi memang kursinya sedikit kecil membuat


letak duduk mereka saling memepet .


"Yang mempunyai ide kursi taman ini


memang pinter ya ." ucapan Bimo membuat


Mery kaget .


Pinter ?


"Pinter dari mana kursi kekecilan gini kok


ditaruh di Taman menurut ku kursi ini kurang gede ." bantahan Mery membuat Bimo


tertawa .


"Pinter lah , disamping bisa menghemat


pengeluaran harga kursi juga buat orang


yang malu duduk berdempetan , kan bisa


jadi alasan ."


Mery langsung melihat posisi duduk mereka yang sangat berdempetan , kemudian dia


hendak berdiri tapi di cegah oleh Bimo


"Mau kemana , duduk dulu aku ingin


membicarakan sesuatu yang penting ."


Mery mengurungkan niatnya kemudian


duduk kembali , sambil memanfaatkan


waktu yang tersisa Bimo langsung


ke pokok pembicaraan .


"Mer.. besok aku akan pergi , aku tidak ingin kehilangan mu lagi , sebelum kita berpisah


lagi aku ingin meresmikan hubungan kita ."


Mery terdiam tidak bisa menjawab membuat


Bimo melanjutkan ucapannya .


"Meskipun pahit aku akan menelannya


ku mohon jangan pikirkan orang lain saat


kita bersama , bahagia dan duka hanya kita yang merasakan bukan orang lain ."


Sambil menggigit bibir , muncul wajah


Adinda diluar kepala Mery , terdengar


setiap kata Dinda saat didalam ruangan


kakaknya tadi .


Mungkin benar apa yang di ucapkan kak


Bimo .


"Kemarin aku berbicara dengan kak Joy


katanya dia akan menyekolahkanmu


di Inggris bersama dengan ku , aku yang


mendengar nya senang sekali dan aku akan


membantumu mencari tempat disana dan


yang pasti aku akan menjagamu ."


Bimo memegang kedua pundak Mery yang


dari tadi hanya diam , semenit lima menit


waktu terus berjalan Mery tetap diam .


Dengan pelan Bimo melepaskan tangannya yang menyentuh pundak Mery .


"Inikah yang aku dapatkan , hanya jawaban


yang mengambang ."


Hati Bimo yang hancur pun membuat nya


ingin berdiri ," ayo kita pulang ."


Tak mampu memandang wajah Mery


Bimo menawarkan pulang dengan membelakangi gadis itu . Tak ingin jika


sang gadis melihat matanya yang hampir


berair .


"Tunggu kak !." Mery ikut berdiri .


Meraih tangan Bimo kemudian menaruhnya


di dada , Bimo yang merasa tangannya


ditarik pun menoleh , dan melihat senyuman


yang terukir di bibir gadis itu .


"Jagalah hatiku dan simpan didalam


disini , nanti aku akan mengambilnya


jika kita bertemu lagi ." menaruh telapak


tangan Bimo yang tadi ada di dadanya


diatas dada Bimo .


Seakan memberikan hatinya pada Bimo


untuk di simpan dan menyuruh Bimo


untuk dijaganya .


Bimo yang sangat senang pun menarik


gadis itu ke pelukannya .


"Pasti , aku akan menjaganya ."


Dari jauh sepasang mata mengintai kedua


sejoli ini , menjatuhkan ponsel di tangan


orang itu meneteskan air mata.


Ternyata kalian lebih dari teman , tidak


kuduga sesakit ini .


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Up dikit oyyyy... jangan lupa jejaknya


Next 😍