
Masih di dalam ruangan gelap penuh
ketegangan yang hanya terpancar satu
sorotan cahaya lampu yang menyinari
di satu titik yaitu di sebuah layar yang
lebar menampakkan adegan film yang
sangat menakutkan .
Sepasang dua sejoli ini tetap duduk
berdampingan dengan penuh rasa malu
dan gugup , entah itu rasa takut atau rasa
deg degan hanya mereka berdua yang tahu .
Keduanya menghadap lurus ke depan
menatap layar yang lebar tapi fikiran mereka berlari entah kemana , sang gadis tak
mampu melihat film yang sedang diputar
dia hanya menunduk dengan wajah yang
berpaling karena tidak adanya nyali untuk
melihat sesuatu yang berbau horor, sesekali jarinya menggenggam pinggiran kursi yang didudukinya .
Keringat dingin keluar dari kening gadis itu ,
si pria melirik dengan penuh perasaan
bersalah dia menyesal karena tadi telah
memilih genre film horor untuk acara
kencannya kali ini .
Yang ada di benak sang pria hanya lah
jika dia memilih genre itu pasti si gadis
akan lari ke pelukannya bila dia ketakutan
tapi ini di luar dugaannya karena sang gadis
malah diam dan marah pada si pria . Situasi yang canggung membuat semuanya
meleset dalam targetnya .
"Mer , kita bisa keluar sekarang jika film ini membuat mu tak nyaman , maafkan aku
karena perbuatan ku telah membuatmu
ketakutan ." berbicara pelan sambil
mengulurkan tangan seraya menanti
balasan tangan dari Mery .
Mery yang dari tadi sudah gemetar pun
mengiyakan ajakan Bimo dengan menaruh
satu tangannya diatas uluran tangan Bimo ,
sambil menganggukan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata , Bimo segera mengemasi barang yang tadi dibawanya
masuk dan mengajak Mery berdiri .
Merasakan tangan Mery yang dingin dan
masih gemetar , akal bulus Bimo muncul .
"Dasar penakut , harusnya kau tadi
menghambur ke pelukanku tidak malah
menunduk ." goda Bimo membuat Mery
kaget langsung mendongakkan kepalanya
menatap Bimo .
"Kak Bimo sengaja ?." Mery yang geram
dengan cepat mencubit perut Bimo .
"Aww .. , harusnya jangan di cubit Mery
sakit , ayok kita keluar ."
Bimo yang kesakitan menggosok perutnya
yang mendapat cubitan dari jari lincah
Mery , sambil mengeratkan gandengan Bimo
dengan cepat mengajak gadis itu keluar
dari ruangan yang gelap itu .
Sampai di luar Bimo mengandeng Mery
mengajaknya ke area Parkir tapi saat
di pintu keluar mereka bertemu dengan
seorang penjaga yang bertugas memeriksa
setiap penonton yang akan masuk .
"Belum selesai kok keluar mas? ." penjaga
itu menatap mereka berdua dan bertanya
karena merasa heran .
Dengan tersenyum Bimo menunjukkan
tautan tangan keduanya tanpa menjawab
Bimo memberikan kedipan satu matanya
pada si penjaga , dan penjaga itu pun
tersenyum dan mengangguk sepertinya
dia mengerti isyarat kode dari kedipan
mata Bimo .
"Semoga sukses mas ." mengacungkan jari
jempol penjaga itu memberi dukungan .
Mereka membicarakan apa sih , sukses
sukses apanya yang sukses , dasar orang
aneh .
Mery yang heran hanya mampu menggerutu
didalam hati sambil memandang kedua
orang yang menurutnya aneh .
Bimo mempersilahkan Mery untuk masuk
kedalam mobilnya dan mengajaknya
jalan - jalan ketempat kedua .
"Kita kemana kak ?." tanya Mery yang penasaran .
" Kepo ." satu kata Bimo membungkam
bibir Mery yang ingin bertanya lagi .
Kepo , ya iyalah aku kepo kan yang
di ajak juga aku, dan aku kan juga wajib
tahu kemana aku akan di bawa , jangan
jangan ... ahh .. tidak mungkin .
Mery menghela nafas karena Bimo yang
tidak menjawab jelas kemana arah mobil
ini membawanya , membuat pikiran Mery
yang macam-macam muncul . Mau di culik
mau dibawa ke Hotel , ke puncak , semua
pikiran aneh itu muncul begitu saja di
otak gadis lugu itu .
Tidak mungkin , tidak mungkin .
Mery berusaha menenangkan hatinya ,
memejamkan mata gadis itu memegang
dadanya , berusaha membuang fikiran
buruk tentang praduga yang berkecamuk
didalam hati dan pikirannya .
Sambil melirik Bimo tertawa dalam hati .
Mobil yang mereka tumpangi berhenti
di sebuah Taman yang penuh dengan
lampu dan bunga tak ketinggalan juga ada
sebuah air mancur di tengah tengah Taman . Mery menutup mulutnya merasa takjub dan merasa bersalah karena telah berfikiran
negatif pada teman masa kecilnya ini .
"Suka ?." tanya Bimo sambil membuka
sabuk pengaman yang mengikat badannya .
Mery yang tidak sabar pun ikut gerakan
Bimo yang membuka sabuk pengaman
dengan tergopoh-gopoh gadis itu ingin
segera keluar .
"Sabar .. ." ucapan Bimo membuat Mery
cemberut .
bersama ."
Bimo membuka kunci otomatis agar Mery
bisa keluar , tanpa menunggu lagi Mery
berlari duluan ke Taman , belum jauh dia
berlari tapi langkahnya terhenti , Bimo yang merasa heran pun dengan cepat mendekati .
"Ada apa , kenapa berhenti ."
Mery yang diam pun menunjuk sesuatu
dengan dagunya ,"tu lihat sendiri ." suara
lirih Mery membuat Bimo penasaran .
Bimo memandang kearah petunjuk dari
dagu Mery dan seketika membuatnya
tertawa karena disana nampak
pemandangan banyak pasangan muda
mudi yang sedang duduk di setiap kursi maupun di bawah pohon di Taman .
Sepertinya mereka juga pasangan yang
tak jauh berbeda dengan Mery dan Bimo
yang ingin mencari tempat sepi untuk
berkencan .
Tetapi pemandangan itu membuat Mery
risih dan berbalik ingin kembali ke mobil .
"Kemana , disini saja ." Cekalan tangan Bimo mencegah kaki Mery melangkah jauh .
"Kita bisa mencari tempat yang lain ,
mungkin disebelah sana ." menunjuk pada
air mancur .
Dengan tangan yang saling bertaut
Bimo mengajak Mery ke dekat air mancur .
Ternyata benar yang di katakan Bimo ,
disana banyak terdapat lampu taman
yang membuat tempat itu terlihat terang
dan tidak ada satu pasangan pun selain
mereka berdua .
Saling menatap keduanya tertawa , mungkin
dipikiran mereka sama , tempat ini terang
tidak bisa di gunakan pasangan tadi untuk
berbuat mes*m .
Duduk disebuah kursi mereka berdempetan
bukan niat saling mepet satu sama lain tapi memang kursinya sedikit kecil membuat
letak duduk mereka saling memepet .
"Yang mempunyai ide kursi taman ini
memang pinter ya ." ucapan Bimo membuat
Mery kaget .
Pinter ?
"Pinter dari mana kursi kekecilan gini kok
ditaruh di Taman menurut ku kursi ini kurang gede ." bantahan Mery membuat Bimo
tertawa .
"Pinter lah , disamping bisa menghemat
pengeluaran harga kursi juga buat orang
yang malu duduk berdempetan , kan bisa
jadi alasan ."
Mery langsung melihat posisi duduk mereka yang sangat berdempetan , kemudian dia
hendak berdiri tapi di cegah oleh Bimo
"Mau kemana , duduk dulu aku ingin
membicarakan sesuatu yang penting ."
Mery mengurungkan niatnya kemudian
duduk kembali , sambil memanfaatkan
waktu yang tersisa Bimo langsung
ke pokok pembicaraan .
"Mer.. besok aku akan pergi , aku tidak ingin kehilangan mu lagi , sebelum kita berpisah
lagi aku ingin meresmikan hubungan kita ."
Mery terdiam tidak bisa menjawab membuat
Bimo melanjutkan ucapannya .
"Meskipun pahit aku akan menelannya
ku mohon jangan pikirkan orang lain saat
kita bersama , bahagia dan duka hanya kita yang merasakan bukan orang lain ."
Sambil menggigit bibir , muncul wajah
Adinda diluar kepala Mery , terdengar
setiap kata Dinda saat didalam ruangan
kakaknya tadi .
Mungkin benar apa yang di ucapkan kak
Bimo .
"Kemarin aku berbicara dengan kak Joy
katanya dia akan menyekolahkanmu
di Inggris bersama dengan ku , aku yang
mendengar nya senang sekali dan aku akan
membantumu mencari tempat disana dan
yang pasti aku akan menjagamu ."
Bimo memegang kedua pundak Mery yang
dari tadi hanya diam , semenit lima menit
waktu terus berjalan Mery tetap diam .
Dengan pelan Bimo melepaskan tangannya yang menyentuh pundak Mery .
"Inikah yang aku dapatkan , hanya jawaban
yang mengambang ."
Hati Bimo yang hancur pun membuat nya
ingin berdiri ," ayo kita pulang ."
Tak mampu memandang wajah Mery
Bimo menawarkan pulang dengan membelakangi gadis itu . Tak ingin jika
sang gadis melihat matanya yang hampir
berair .
"Tunggu kak !." Mery ikut berdiri .
Meraih tangan Bimo kemudian menaruhnya
di dada , Bimo yang merasa tangannya
ditarik pun menoleh , dan melihat senyuman
yang terukir di bibir gadis itu .
"Jagalah hatiku dan simpan didalam
disini , nanti aku akan mengambilnya
jika kita bertemu lagi ." menaruh telapak
tangan Bimo yang tadi ada di dadanya
diatas dada Bimo .
Seakan memberikan hatinya pada Bimo
untuk di simpan dan menyuruh Bimo
untuk dijaganya .
Bimo yang sangat senang pun menarik
gadis itu ke pelukannya .
"Pasti , aku akan menjaganya ."
Dari jauh sepasang mata mengintai kedua
sejoli ini , menjatuhkan ponsel di tangan
orang itu meneteskan air mata.
Ternyata kalian lebih dari teman , tidak
kuduga sesakit ini .
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Up dikit oyyyy... jangan lupa jejaknya
Next 😍