Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Melepaskanmu


Orang suruhan Oma dan Roy belum tahu apa yang terjadi pada mobil dan penumpang penculik joyyana, yang mereka tahu hanyalah jika mereka sekarang dalam persembunyian.


Anak buah Oma masih mencari dimana letak persembunyian atau markas para penjahat


itu kini, padahal mobil yang Joy dan para penculik itu tumpangi sudah masuk kedalam jurang dan meledak.


Oma menyalahkan anak buahnya yang tidak becus atas terjadinya penculikan pada cucu menantunya itu. Oma merasa sudah mengerahkan anak buahnya untuk menjaga Joy beserta putranya, tapi seakan yang dilakukannya selama ini itu percuma dan penculikan itu tetap terjadi.


Oma malas ke Kantor, begitu pula dengan David, fokus mereka kini hanyalah pada penyelamatan joyyana.


Sudah seminggu ini tidak ada kabar tentang keberadaan ibu muda itu, hidup dan matinya pun belum diketahui, orang suruhan David


pun belum tahu jika mobil Joy sudah masuk jurang.


Wulan dan Mery yang hanya mampu


menunggu kabar pun hanya bisa bersabar


dan bersabar, berdoa semampunya agar


Tuhan memberikan keajaiban, supaya Joy


bisa berkumpul dengan mereka kembali.


Urusan kantor ditangani oleh Andreas, perusahaan David di Inggris pun sudah berpindah tangan.


Tepat seperti apa yang diprediksikan oleh


Tomi, senjatanya kini tepat pada sasaran, dengan memisahkan David dengan istrinya adalah satu tembakan jitu yang bisa menghancurkan segalanya.


"Tak apa jika harus mati, malah lebih bagus, wanita itu sangatlah manjur jika menjadi alat untuk menghancurkan David, betapa


bodohnya aku kenapa tidak dari dulu aku lakukan, hahaha .. ." Tawa Tomi yang mendengar kehancuran David dari anak buahnya.


"Sekarang kita harus bisa mengambil alih perusahaan yang disini, bagaimanapun


caranya David harus hancur sampai yang terbawah." Membanting map dan berjalan kearah jendela.


Tomi mengingat bagaimana penderitaan


ibunya akibat ulah kedua orang tua David.


"Kau akan membayarnya David, karena kau,


aku dan ibuku menderita."


Tomi tertawa terbahak-bahak, sambil melihat pemandangan luar dari dinding ruangan yang berlapiskan kaca, dia membayangkan David yang bertekuk lutut meminta bantuan padanya.


🌹🌹🌹🌹


Disebuah cafe, Mery duduk bersama Roy sedang membicarakan tentang bagaimana perkembangan terkini kasus kakaknya,


karena anak buah David dan Oma tidak memberikan kabar yang memuaskan,


membuat gadis itu meminta bantuan pada Roy.


"Sabarlah Mer, aku sudah mengerahkan


semua anak buahku untuk mencari Joy dan menangkap orang yang sudah berani


menculik kakakmu." Ucap Roy sambil menenangkan Mery, meremas seluruh jari gadis itu, Roy memberi semangat.


"Tapi kak, ini sampai kapan? Ini sudah seminggu tidak ada kabar apapun, hatiku sudah hancur." Mery menutup wajahnya, menangis tersedu-sedu.


Roy merasa malu, memang benar adanya


yang dikatakan Mery, sudah seminggu dari awal penculikan, tidak ada satu kabar


pencerah tentang kasus ini, dimana dan bagaimana keadaan Joy terkini tidak ada sedikitpun kabar yang dia dapat.


Seakan tidak adanya usaha yang di kerahkan untuk mencari maupun menolong kakaknya.


"Maafkan aku, semua ini salahku." Roy memeluk Mery dari samping.


Seorang wanita datang dengan muka merahnya, menggigit giginya merasa geram dengan pemandangan didepannya kini,


dengan penuh amarah diambilnya segelas air putih dan menyiramkannya pada Mery.


Byurr ..


Satu siraman tepat mengenai pucuk kepala Mery, membuat pelukan Roy terlepas karena Roy juga ikut terciprat air siraman itu.


Keduanya menoleh pada pelaku penyiraman, terkejut ternyata yang menyiram mereka


adalah Isabella.


"Harusnya bukan segelas air, melainkan satu tong air comberan, biar kalian bisa merasakan bagaimana hinanya kalian."


Olok Isabella yang tidak terima ketika melihat


kedua orang itu bermesraan didepan


matanya. Roy kaget mendengar penuturan Isabella, meraup mukanya yang terkena cipratan air kemudian berdiri menghadap wanita itu.


"Kau ini sudah gila ya Isabel, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?." olok Roy tidak terima.


Isabella malah tersenyum.


"Ya, aku memang sudah gila, itu gegara KAU, dan ingat kata-kata manis mu Roy, sekarang kau asik bermesraan dengannya." tunjuk Isabella pada Mery.


Mery menggeleng.


"Cukup Isabel, aku tidak suka dengan perkataanmu, minta maaflah pada Mery!


kami disini semata-mata hanya demi membicarakan kakaknya dan dia juga sepupuku." bantah Roy tentang tudingan Isabella.


"Hahaha, ini lucu." Isabella tertawa meremehkan.


"Jangan berkedok kasus Joy lagi, aku sudah muak kau bodohi Roy, dan KAU wanita ganj*n jika kau menginginkan pria ini, ambil saja aku tak doyan."


Isabella mendorong Roy kemudian pergi meninggalkannya, dengan tertawa puas dan melepas semua kegundahan yang selama ini dia tahan.


"Kejar kak, cepat kejar. Dia sangat


mencintaimu, jika kak Roy melepaskannya


kak Roy pasti menyesal."


Himbau Mery pada Roy, tapi Roy tak


bergeming dari tempatnya, dia tidak ingin mengejar seseorang yang sudah tidak mau dengannya.


"Jika kak Roy tak mau mengejar maka


biarkan aku yang mengejarnya, aku tak mau ibunda kak Roy kehilangan calon menantu


yang sangat di idamkan nya."


Mery hendak beranjak dari tempatnya tapi tangan Roy menggenggam erat pergelangan tangan Mery, tidak memperbolehkan gadis itu untuk mengejar.


"Biarkan, memang itu yang aku inginkan, melepaskannya."


Mery lemas mendengar penuturan Roy yang barusan keluar dari mulut pria itu. Di pikiran Mery bagaimana nantinya jika Tante Rani tau


jika Roy dan Isabella berpisah.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Up lagi kannnnnn.... jejaknya manaaa


πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”