Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Joy hilang


Pukul empat sore Joy sudah bersiap, kini dia sudah duduk diatas kursi roda dengan Anggi yang siap untuk membantu untuk mendorong.


Sebenarnya Joy sudah mampu untuk berjalan tapi atas perintah Oma, melarang Joy untuk berjalan sendiri agar tidak terjadi sesuatu


yang mengkhawatirkan, sekaligus Oma tidak ingin Joy kelelahan.


Dengan didorong Anggi, Joy berhasil keluar dari kamar rawatnya, dia senang sekali


akhirnya bisa keluar juga dari kamar yang seminggu ini telah memenjarakannya.


Tidak cuma berdua, saat ini mereka juga


diikuti oleh pengawal yang siap mengawal dengan ketat.


"Ibu dimana Nggi?." Tanya Joy yang merasa


ada sesuatu yang kurang.


"Tante Wulan sekarang sedang ada di ruangan bayimu, kita tunggu mereka di lobi Rumah


Sakit saja ya Joy?." Ajak Anggi, Joy pun menurutinya.


Oma tidak bisa ikut menjemput Joy, dikarenakan ada masalah Kantor yang harus beliau selesaikan terlebih dahulu, masalah kepulangan Joy beliau serahkan semuanya pada Roy.


Sebelum Joy bersiap tadi Oma sudah bicara dengan cucu menantunya itu lewat via


telepon, hal itu membuat Joy tidak mempertanyakan lagi keberadaan Oma.


SAMPAI DI LOBI.


Seorang pengawal wanita datang untuk mendekati Joy.


"Nyonya mari saya bantu untuk masuk


kedalam mobil." Mengambil alih kereta


dorong yang sedari tadi dikuasai oleh Anggi.


"Tidak, aku masih menunggu bayiku."


Tolak Joy secara halus saat pengawal wanita yang berbaju serba hitam itu mendekat. Tapi pengawal itu tidak menyerah, dengan segala upaya dan bujuk rayu agar Joy mau mengikuti ajakannya.


"Apa tidak sebaiknya jika nyonya masuk ke dalam mobil lebih dahulu, agar lebih nyaman dan jika baby sudah datang bisa langsung masuk agar kita bisa cepat pulang." Bujuk


sang pengawal membuat Joy bimbang.


Mendengar kata "cepat pulang" Joy langsung mengiyakan permintaan si pengawal.


Joy tidak mempunyai pikiran buruk apapun pada pengawal yang dikirimkan oleh Oma,


dia tahu jika semua orang yang dikirim oleh Oma adalah orang kepercayaan Oma, mereka pasti bukan orang sembarangan.


Kata santun sang pengawal membuat Joy takluk dan menurut untuk masuk kedalam mobil. Di bantu oleh Anggi, Joy perlahan


masuk dan duduk di kursi belakang.


Anggi hendak ikut masuk untuk menemani sahabatnya didalam, tapi tidak di perbolehkan oleh pengawal wanita.


Dengan alasan jika kursi hanya untuk majikan mereka.


Joy sempat syok ketika mendengar penuturan si pengawal kiriman Oma itu, dia tak habis


pikir dengan perkataan dari si pengawal yang selancang itu pada temannya.


Tapi pikiran aneh Joy singkirkan, dia berpikir mungkin itu adalah salah satu perintah Oma yang pengawal itu tidak ingin melanggar dan hanya melaksanakan tugas.


Anggi mendengar larangan itu seketika tersinggung dan membuatnya ingin pergi, Anggi langsung pamit pada sahabatnya untuk menyusul ibunya Joy agar cepat datang.


"Joy aku pergi menyusul Tante Wulan dan


Roy dulu ya?." Melepaskan genggaman


tangan sahabatnya.


Joy merasa berat melepaskan tautan.


"Baiklah." Suara lirih Joy bersamaan dengan pelepasan tangan keduanya.


Joy merasa tak enak hati akhirnya menyetujui keinginan sahabatnya itu.


Anggi pergi begitu saja meninggalkan Joy sendirian tanpa menoleh kebelakang lagi, hanya ditemani oleh para pengawal kiriman Oma.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di ruangan bayi.


Anggi berjalan sambil sesekali


menghentakkan kakinya, demi melepas rasa kesalnya pada perkataan pengawal tadi.


'Cuma menjadi pengawal saja sudah sombongnya minta ampun, apalagi kalau menjadi majikan, aku sumpahin dia tidak bisa jadi majikan dan sampai kapan pun akan menjadi bawahan, hahaha.. biar kapok.'


Suara hati Anggi yang kesal membuatnya mengatakan sumpah serapah pada pengawal yang belagu padanya tadi.


Anggi yang sekarang berada di dalam lift sedang menunggu pintu lift terbuka.


Sesaat menunggu, akhirnya pintu lift pun terbuka, menampakkan pemandangan dua orang, laki-laki dan perempuan sedang


berdiri dengan seorang bayi di gendongan


Mereka adalah Roy dan Wulan yang kaget mendapati Anggi berada di dalam lift. Pertanyaan memenuhi pikiran keduanya,


'Kalau Anggi sekarang disini lalu Joy


bersama siapa.'


Hati kecil Roy dan Wulan mengucap kata


yang sama. Tertuju di satu pikiran dan kekhawatiran yang sama.


"Lah Nggi, joy kau tinggalkan dengan siapa?." Tanya Wulan tercengang di depan pintu.


Anggi menjelaskan jika dirinya kesini untuk menyusul mereka berdua, sedangkan Joy ia tinggalkan bersama dengan para pangawal Oma, Anggi juga memberitahukan jika pengawal tidak memperbolehkannya untuk masuk kedalam mobil.


Hal itu menambah ketakutan di hati Roy.


Karena sebelumnya dia sudah diberitahu oleh David jika anak buah Tomy sudah mengincar Joy dan bayinya.


Roy segera menelpon anak buahnya, untuk mengetahui keadaan Joy saat ini.


Derttttโ€ฆ Drettt .. Drettt ..


Berulang kali sambungan telepon tidak dalam jangkauan, membuat Roy kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan dia


sekarang masih berada didalam lift.


Roy memukul dinding lift, geram kenapa bisa terjadi seperti ini.


Tringggg โ€ฆ


Pintu terbuka, Roy cepat berlari menuju LOBI. Disepanjang langkah larinya dia berdoa semoga pengawal yang bersama dengan Joy saat ini benar adanya pengawal suruhan


Oma, bukan orang yang ada di pikiran Roy sekarang.


Anggi yang tidak mengerti ikut khawatir, melihat tingkah Roy yang berlebihan mencemaskan keadaan sepupunya.


"Tante kenapa tadi lama sekali sih? Aku dan Joy sudah menunggu di lobi terlalu lama."


Dengan nafas terengah-engah Anggi melontarkan pertanyaan.


"Pelan - pelan nak Anggi, Tante tidak semuda yang kau bayangkan, Tante bisa sesak jika harus berjalan sambil berlari." Memegang


erat cucunya, Wulan ngos-ngosan.


"Maaf Tan, aku lupa " Anggi meringis


kemudian memelankan langkahnya.


Wulan menjelaskan pada Anggi jika tadi dia menunggu Roy, sebab Roy sedang bicara di telepon dengan bundanya jadi Wulan tidak


mau mengganggu, dia kira Roy hanya


sebentar ternyata lumayan lama.


Tepat Roy tiba di LOBI, tidak ada mobil


ataupun seorang pengawal yang ada disana. Keadaan itu membuat Roy semakin cemas.


"Kurang ajar, semoga pikiran ku kali ini salah." Dalam ketakutannya, Roy menyesali kebodohannya.


Dihubungi nya kembali anak buahnya untuk mencari informasi, tapi sambungan dan jawaban pun sama. Tidak tersambung membuat Roy ingin membanting ponselnya.


Ketakutan, kekhawatiran, bercampur menjadi satu. Apa yang harus dia katakan nanti pada Oma dan temannya, apabila terjadi hal yang tidak diinginkan pada joyyana.


"Tuan hallo."


Akhirnya Roy terhubung dengan anak


buahnya.


"Katakan sekarang kalian ada dimana,


nyonya kalian juga ada dimana, apa kalian sekarang ada bersamanya?."


Pertanyaan bertubi tubi Roy lontarkan agar mengetahui keadaan Joy secepatnya.


"Kami sekarang ada di gudang Rumah Sakit, kami tidak tahu keberadaan nyonya sekarang, yang kami ingat hanyalah kami di bius oleh orang yang tidak kami kenal dan sekarang berakhir di gudang ini."


Ucap seorang pengawal Oma yang baru tersadar dari biusan.


Wulan yang mendengar penjelasan dari pengawal seketika lemas dan terduduk


di lantai lobi Rumah Sakit.


"Tan .. Tante, berdiri tan jangan seperti ini,


Roy .. cepat tolong aku." Teriak Anggi


membuat Roy menoleh dan berlari kearah tantenya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


up dikit gpp Yach... lanjut gak nihhhh..


๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”