Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Masih Mery dan Bimo ...


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Sinar sang surya tepat di atas kepala ,


memberi tanda jika hari sudah mulai


siang . Sudah saatnya orang yang berkerja


mulai istirahat dan yang bersekolah pun


sudah waktunya pulang .


Di tempat Mery bersekolah pun sama ,


para guru telah memulangkan para murid


lebih awal ,karena masih dalam tahap


masa pertama masuk sekolah .


Setiap murid bersuka cita keluar kelas ,


mereka mempunyai keinginan yang sama ingin cepat pulang , untuk melepas


penat di Sekolah . Tapi berbeda dengan


Mery , dia masih berdiam di dalam kelas


karena di halangi oleh temannya .


Cici ingin mengetahui apa yang terjadi


dengan sahabatnya , semenjak kembali


dari Toilet , tingkah Mery berbeda .


Dia lebih banyak murung serta tak banyak bicara , karena desakan Cici yang ngotot


agar Mery menceritakan apa yang terjadi sebenarnya .


Akhirnya dengan terpaksa , Mery menceritakan kejadian yang dia alami


di dalam Toilet , dari awal sampai saat


dia di cekik oleh Clara .


Cici yang sedari tadi hanya mendengar


tidak ikut mengalami saja ikut emosi ,


apalagi jika yang mengalami semua itu


adalah dia , pasti dia tidak lagi emosi


melainkan mengamuk di dalam Toilet .


*****


Kini Bimo sedang duduk diatas motor


sedang memperhatikan satu persatu


orang yang keluar dari Sekolah , dia


menantikan sosok Mery keluar.


Hingga hampir semua orang keluar


tapi Mery belum juga menampakkan


batang hidungnya .


Dari kejauhan Clara yang melihat Bimo


sendirian seakan mendapat kesempatan ,


dan muncullah otak nakalnya .


" Sedang menunggu siapa Bim ?." Clara


mencoba mendekati Bimo , dengan


menunjukkan wajah semanis mungkin .


Bimo diam , melihat Clara sekilas dan


hanya menjawab ," hemm.." untuk sekedar


menanggapi pertanyaan Clara dan


kembali memperhatikan gerbang , sikap


Bimo yang cuek membuat Clara semakin


kesal .


" Apa mungkin Bimo sengaja menunggu


gadis jala*g itu ." batin Clara .


Clara yang geram , segera meninggalkan


Bimo , dia berjalan menjauh dengan


menghentakkan kakinya dengan keras


dan masuk kedalam mobil .


" Memangnya apa istimewanya gadis


itu , sampai si Bimo tergila - gila


dengannya ." Clara mengoceh didalam


mobilnya .


Tiba - tiba sebuah motor berhenti tepat disebelah Bimo , " Kenapa tidak langsung pulang, apa kau masih menunggu seseorang?." yang ditanya hanya diam


tidak mengeluarkan suara sedikit pun ,


akhirnya teman Bimo ikut memandang


arah yang dituju oleh mata Bimo .


Sekian lama yang ditunggu - tunggu ,


akhirnya menampakkan wajahnya , Mery


yang berjalan dengan Cici bergandengan


sedang keluar dari gerbang , membalas


senyuman yang Bimo berikan dengan


wajah yang cemberut .


Dengan sengaja ingin menjauhi bimo ,


Mery tak menggubris keberadaan Bimo


yang dia tahu sudah lama menunggunya,


dengan pura - pura tidak tahu dia lewat


begitu saja .


" Mery ayo cepat naik , Tante Mira sudah


menunggu mu ."; teriak Bimo saat Mery


cuek yang akan melewatinya , dan


pupus sudah niatan Mery .


Mery langsung berbalik menatap Bimo ,


berjalan mendekatinya ," kalau aku pulang


bareng kakak terus Cici sama siapa ?,


supirnya telat menjemput kak ." Bimo


yang mendengar segera melempar


pandang kearah temannya .


" Ari kau sendirian kan ? bocengin Cici ,


aku mau pulang sama Mery ." Cici kaget


mendengar apa yang dikatakan Bimo


barusan , begitu pun dengan Ari .


" Sudah siang tidak usah mikir terlalu


lama , kalau mau ikut ayo .. mumpung


aku lagi baik ." dengan senyum mengejek


Ari menawari Cici tumpangan .


Ari sengaja meledek Cici , karena masih


sebel dengan percekcokan mereka tadi


di Kantin . Merasa kalah telak , Cici


memasang wajah cemberut menatap


Mery .


" Ayo Ci..kali ini saja ." dengan


menangkupkan kedua tangannya , Mery


memohon .


Mery segera naik ke motor Bimo ,dan


Cici pun dengan terpaksa mengikuti


apa yang di katakan oleh Mery .


Di sepanjang jalan Mery diam , tapi


masih mau berpegangan di perut Bimo


tapi tidak erat .


" Mery ..." menoleh sedikit kesamping


agar lebih terdengar oleh Mery , tapi


yang di panggil diam , tidak menjawab.


" Kamu marah sama aku ? , tentang apa ?


coba jelaskan dari awal , biar kakak tahu


apa yang membuat kamu marah ."


memelankan motor agar lebih lama


sampai di Rumah .


" Kakak tidak salah , yang salah itu aku


karena berboncengan dengan kak Bimo ."


Bimo tertawa mendengar penjelasan


Mery .


" Sejak dulu kita kan sering berboncengan,


apa itu salah ." menyetir sesekali


menengok ke belakang .


" Iya sih kak , tapi di Sekolah banyak


murid perempuan yang menyukai kakak,"


Bimo menjelaskan jika dia tidak ada


hubungan dengan siapa pun di Sekolah ,


tapi Mery masih kukuh dengan pendapat


dia , perdebatan demi perdebatan mereka


lakukan di sepanjang mereka menyusuri


jalan , ejekan dan gelak tawa mereka


mengiringi pembahasan mereka di


atas motor , sampai tidak terasa jika


sudah sampai di depan rumah .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Acara perpisahan Sekolah...


Sudah satu tahun Mery bersekolah yang


sama dengan Bimo , setiap hari dia


berangkat dan pulang bersama , tidak ada


rasa bosan dihati Bimo , karena didalam


lubuk hatinya tersimpan rasa cinta


untuk Mery .


Tapi sampai saat ini belum sempat dia ungkapkan , lebih tepatnya belum berani.


dia takut jika perasaan nya di tanggapi


lain oleh Mery , Bimo tahu jika Mery


hanya menganggapnya sebatas kakak


dan adik saja .


jika ada kesempatan Bimo pasti akan


mengungkapkan nya , meskipun nanti


Mery akan menolaknya .


πŸ€πŸ€πŸ€


Malam ini , adalah malam dimana para


siswa kls 12 merayakan hari wisuda


beserta hari perpisahan . Bimo sudah


siap dengan setelan jas yang akan


dia gunakan jika nanti naik ke panggung .


Mery duduk di bawah panggung , paling


pojok dan di kursi depan , dia sengaja


duduk di depan , agar Bimo bisa


melihatnya .


Acara demi acara terlaksana dengan


lancar , tidak ada halangan


di pelaksanaan acara wisuda .


Setelah selesai wisuda para murid


berkumpul di dalam Lapangan sekolah


untuk merayakan perpisahan mereka.


Mungkin ini akan menjadi hari terakhir


mereka berkumpul , karena besok


sudah mulai libur panjang ..


Bimo mencari Mery kesana kemari ,


dia mau merayakan malam perpisahan


ini bersama dengan pujaan hatinya .


Dia ingin mengungkapkan malam ini


juga , bahwa dia menyukai Mery .


πŸ€πŸ€πŸ€


Mery berjalan sendirian di depan kelas,


dia berencana menuju lapangan setelah


dia dari kamar kecil , belum sampai


Lapangan , Mery sudah di hadang oleh


tiga orang gadis yang tak lain adalah


segerombolan Clara dan teman - temannya.


" Kalian tahu , Ini dia si jala*g yang


dengan berani menggoda Bimo ku ."


Clara berjalan mendekati Mery .


Kedua temannya hanya tersenyum dan


ikut menghampiri Mery , dengan aba- aba


jentikan jari , Clara mengkode temannya .


Alhasil dua orang teman Clara yang sudah berada dekat dengan Mery , segera memegang kedua tangan Mery , karena mereka hanya bertugas membantu dan mengawasi jika ada orang yang datang .


Mery di seret ke dalam Toilet oleh Clara


dan teman- temannya , karena sepi


tidak ada orang yang menolongnya ,


mulut Mery di bungkam , tidak bisa


berteriak meminta pertolongan .


" Rasakan ini , kau pantas mendapatkan


Nya , karena kau sudah berani mendekati


Bimo , " menguyur Mery berulang kali.


Mery tidak bisa melawan , karena dia


di pegangi oleh dua orang teman Clara ,


tak cukup hanya dengan mengguyur


Clara juga merobek baju Mery , agar


nanti Mery malu dan kapok tidak berani


melawan dan menuruti apa kata dia .


Bimo yang resah karena tidak


menemukan sosok yang dia cari , segera mencari ke setiap penjuru Sekolah ,


Clara dan teman - temannya.


Bimo yang penasaran pun mulai


mendekat, didekatinya pintu toilet itu , menempelkan sedikit telinganya di pintu , agar bisa lebih jelas dan mengetahui


apa yang sebenarnya terjadi .


Dia kaget , kenapa namanya di ikut


sertakan dalam omelan Clara , dia


kemudian berfikir , jangan - jangan


yang ada di dalam sana adalah Mery .


Dengan penuh kekhawatiran dan amarah ,


Bimo segera membuka pintu Toilet .


Tapi naas pintu itu terkunci dari dalam ,


dengan terpaksa Bimo harus


mendobraknya , dengan sekali tendang


pintu itu terbuka .


Bimo terkejut dengan apa yang dia lihat , didalam Toilet menampakkan sosok


Mery yang terduduk di lantai dengan


sekujur tubuhnya yang basah kuyup , sedangkan Clara berdiri didepan Mery ,


dengan tangan yang masih memegang


baju yang baru saja di robeknya.


" Hentikan !." suara Bimo seketika


menghentikan tawa Clara dan kedua


temannya .


Clara kaget melihat kedatangan Bimo ,


begitu pula dengan temannya , dengan


segera melepaskan tangannya dari


baju Mery . Tanpa perlu berfikir panjang


Bimo langsung menghampiri mereka


dan mendorong Clara , sedikit dorongan


dari Bimo sudah cukup membuat Clara


roboh tertatap tembok .


" Aku tidak habis fikir , kau bisa


melakukan hal yang tidak manusiawi


seperti ini Clara ." melepas jas yang


melekat di tubuhnya , untuk dipakaikan ditubuh Mery yang basah , menutupi


baju Mery yang tadi sobek karena ulah


dari Clara .


" Aku bisa jelaskan ." Clara tak bisa


melanjutkan cercaannya , karena Bimo


sudah mengangkat satu tangannya .


" Cukup , aku tak mau mendengar


apa pun dari mulutmu , aku sudah


mendengar dan melihat sendiri apa


yang kalian lakukan pada Mery ."


berusaha membantu Mery untuk berdiri.


"Tapi Bim ." Bimo memberikan tatapan


tajam pada Clara dan teman-temannya ,


kemudian dia menggeleng .


" Kalian juga perempuan , bagaimana


jika kalian diperlakukan seperti ini ,


apa kalian mau ?, aku pastikan kalian


akan menerima akibatnya ." berbicara


dengan menuntun Mery keluar toilet.


Dilihatnya Mery yang menggigil dan


sempoyongan , Bimo segera


menggendong Mery , " kak turunkan


aku ." Mery berusaha meronta .


" Sudah diam saja , kita akan langsung


pulang , tidak usah ikut acara


perpisahan ." berjalan menuju parkiran


melewati pintu belakang .


***


Di depan Sekolah.


Bimo mendudukkan Mery dikursi yang


tak jauh dari gerbang Sekolah ,


dirogohnya saku dicelana , mencari


keberadaan telfon genggamnya .


" Kakak mencari ini ." menyodorkan


sebuah ponsel dengan menatap Bimo ,


pandangan mereka bertemu .


" Tadi ada disaku jas kakak ." Mery


menunduk malu , karena pertukaran


pandang mereka tadi .


Dengan segera Bimo mengambil


ponsel dari tangan Mery , dan menelfon


seseorang untuk segera menjemputnya.


Tanpa menunggu lama , sebuah mobil


keluar dari dalam Sekolah , dan berhenti


tepat didepan mereka .


" Maaf mas Bimo sudah menunggu


lama ." seorang supir berkata setelah


berhasil membukakan pintu untuk


Bimo .


Dengan cepat Bimo menggendong Mery


mendudukkan nya didalam mobil ,


kemudian dia pun menyusul masuk


dan duduk tepat disebelah nya .


Sang supir pun mulai menjalankan


mobil , meninggalkan Sekolah .


Masih didalam mobil , keheningan


tercipta diantara keduanya , sampai


suara Bimo yang memecahkannya .


" Mer ... apa ada yang terluka , apa


saja yang dilakukan Clara padamu ?."


menatap Mery dengan penuh kekhawatiran.


" Tidak ada kak , sudah jangan


membahas gadis gil* itu lagi ." dengan


suara bergetar menggigil kedinginan .


Bimo memeluknya dari samping ,


" Biarkan begini , agar kau lebih hangat ."


Mery meronta .


" Tidak usah kak , aku tidak kedinginan ,


ini modus kakak saja agar bisa


memelukku , iya kan ." Bimo tertawa


mendengar ucapan Mery .


" Entah ini modus ku yang memang aku


ingin memelukmu , tidak apa-apa kan


yang paling penting kau tetap hangat."


semakin mempererat pelukannya .


Mery yang terkejut tidak berani berkutik ,


dia menunduk dan tak mampu berbicara .


" Maaf kan aku karena terlambat tadi ."


satu tangan menggenggam jemari Mery .


" Bukan salah kak Bimo , tidak perlu


minta maaf ." masih menunduk .


Dengan sama - sama dipenuhi rasa malu ,


keterdiaman pun kembali terjadi , Bimo


mengumpulkan keberanian untuk


meluapkan tekad di hatinya .


Ditariknya nafas dalam-dalam , Bimo pun


akhirnya membuka suara .


" Mery .. aku mau jujur padamu , tentang


perasaan yang selama ini aku pendam ,


kau tidak perlu menjawab , cukup


dengarkan saja ."


Dengan seksama Mery mengangguk


pelan , mengiyakan apa yang barusan


ia dengar , sebenarnya di hati Mery


merasakan ketegangan , dia mengerti


bahwa Bimo ingin membicarakan hal


yang serius padanya .


" Aku tahu selama ini diantara kita


sudah terjalin hubungan dekat , tapi


kedekatan kita hanya sekedar teman ,


boleh kah aku meminta lebih ?."


Mery mematung dengan debaran jantung


yang tak beraturan , "perasaan apa ini,


apa aku juga punya perasaan yang sama


dengan kak Bimo ." oceh Mery di dalam


hati dengan menyentuh dada .


" Entah dari kapan rasa ini tumbuh ,


sebuah rasa yang ingin memiliki ,


melindungi dan menyayangi dalam arti


bukan sahabat ." Mery masih mendengarkan.


" Aku mencintaimu Mery , kau tidak perlu


menjawab sekarang , kau mengetahui


saja itu sudah cukup , kau bisa


menjawabnya jika aku pulang nanti ."


Pengungkapan Bimo panjang lebar


didengarkan oleh Mery dengan hati


berdebar , disaksikan oleh sang supir


yang seakan menutup mata dan telinga


dengan diam dan pura - pura tidak


mendengar atau pun melihat .


" Kak Bimo mau kemana ?." kekagetan


Mery , membuatnya membuka suara .


" Papa menyuruh ku untuk melanjutkan


kuliah diluar negeri , lebih tepatnya


ke Inggris ."


Mengetahui jika sang majikan sedang


membutuhkan waktu yang privasi ,


sang supir pun sedikit memperlama


sampai pada tujuan , Bimo yang


menyadarinya segera menyuruh


supirnya untuk mempercepat laju


kendaraan.


" Terus kakak mau ?." melepas pelukan


mengubah letak duduknya menghadap


ke Bimo . Bimo pun mengangguk dengan


memejamkan matanya .


Dengan diliputi rasa sedih bercampur


dengan rasa yang tidak dia mengerti ,


Mery membisu dalam kegundahannya.


" Kak .. aku tak tahu harus menjawab


apa , aku masih ingin terus menggapai cita-citaku , aku tidak mau menjalin


sebuah hubungan apapun yang apabila


nanti bisa menggangguku untuk fokus


belajar . " Bimo tersenyum mengerti.


Mobil yang mereka naiki pun berhenti


tepat di depan rumah Mery , di bukanya


pintu mobil oleh tangan Bimo , manik


mata mereka bertemu , dengan hati - hati


Bimo membantu Mery turun dari mobil .


" Mery.. jagalah hatimu , sampai aku


pulang nanti , ini pertemuan kita yang


terakhir ." menggapai jemari Mery , saat


akan berlalu pergi .


Mery tersenyum , Bimo pun mendekat.


Satu kecupan di kening mengakhiri


perpisahan mereka .


" Kau pasti menjadi milikku Mery , itu


janjiku ." Bimo berbicara didalam hatinya


saat memandang kepergian Mery.


Flashback off 🌹🌹🌹


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


_


_


_


Lama y ,,, author nya jg bingung ..


kok bisa lama ya πŸ€”πŸ€”


udah lanjut aj.. NEXT πŸ€πŸ€