
ππππππ
Sinar sang surya tepat di atas kepala ,
memberi tanda jika hari sudah mulai
siang . Sudah saatnya orang yang berkerja
mulai istirahat dan yang bersekolah pun
sudah waktunya pulang .
Di tempat Mery bersekolah pun sama ,
para guru telah memulangkan para murid
lebih awal ,karena masih dalam tahap
masa pertama masuk sekolah .
Setiap murid bersuka cita keluar kelas ,
mereka mempunyai keinginan yang sama ingin cepat pulang , untuk melepas
penat di Sekolah . Tapi berbeda dengan
Mery , dia masih berdiam di dalam kelas
karena di halangi oleh temannya .
Cici ingin mengetahui apa yang terjadi
dengan sahabatnya , semenjak kembali
dari Toilet , tingkah Mery berbeda .
Dia lebih banyak murung serta tak banyak bicara , karena desakan Cici yang ngotot
agar Mery menceritakan apa yang terjadi sebenarnya .
Akhirnya dengan terpaksa , Mery menceritakan kejadian yang dia alami
di dalam Toilet , dari awal sampai saat
dia di cekik oleh Clara .
Cici yang sedari tadi hanya mendengar
tidak ikut mengalami saja ikut emosi ,
apalagi jika yang mengalami semua itu
adalah dia , pasti dia tidak lagi emosi
melainkan mengamuk di dalam Toilet .
*****
Kini Bimo sedang duduk diatas motor
sedang memperhatikan satu persatu
orang yang keluar dari Sekolah , dia
menantikan sosok Mery keluar.
Hingga hampir semua orang keluar
tapi Mery belum juga menampakkan
batang hidungnya .
Dari kejauhan Clara yang melihat Bimo
sendirian seakan mendapat kesempatan ,
dan muncullah otak nakalnya .
" Sedang menunggu siapa Bim ?." Clara
mencoba mendekati Bimo , dengan
menunjukkan wajah semanis mungkin .
Bimo diam , melihat Clara sekilas dan
hanya menjawab ," hemm.." untuk sekedar
menanggapi pertanyaan Clara dan
kembali memperhatikan gerbang , sikap
Bimo yang cuek membuat Clara semakin
kesal .
" Apa mungkin Bimo sengaja menunggu
gadis jala*g itu ." batin Clara .
Clara yang geram , segera meninggalkan
Bimo , dia berjalan menjauh dengan
menghentakkan kakinya dengan keras
dan masuk kedalam mobil .
" Memangnya apa istimewanya gadis
itu , sampai si Bimo tergila - gila
dengannya ." Clara mengoceh didalam
mobilnya .
Tiba - tiba sebuah motor berhenti tepat disebelah Bimo , " Kenapa tidak langsung pulang, apa kau masih menunggu seseorang?." yang ditanya hanya diam
tidak mengeluarkan suara sedikit pun ,
akhirnya teman Bimo ikut memandang
arah yang dituju oleh mata Bimo .
Sekian lama yang ditunggu - tunggu ,
akhirnya menampakkan wajahnya , Mery
yang berjalan dengan Cici bergandengan
sedang keluar dari gerbang , membalas
senyuman yang Bimo berikan dengan
wajah yang cemberut .
Dengan sengaja ingin menjauhi bimo ,
Mery tak menggubris keberadaan Bimo
yang dia tahu sudah lama menunggunya,
dengan pura - pura tidak tahu dia lewat
begitu saja .
" Mery ayo cepat naik , Tante Mira sudah
menunggu mu ."; teriak Bimo saat Mery
cuek yang akan melewatinya , dan
pupus sudah niatan Mery .
Mery langsung berbalik menatap Bimo ,
berjalan mendekatinya ," kalau aku pulang
bareng kakak terus Cici sama siapa ?,
supirnya telat menjemput kak ." Bimo
yang mendengar segera melempar
pandang kearah temannya .
" Ari kau sendirian kan ? bocengin Cici ,
aku mau pulang sama Mery ." Cici kaget
mendengar apa yang dikatakan Bimo
barusan , begitu pun dengan Ari .
" Sudah siang tidak usah mikir terlalu
lama , kalau mau ikut ayo .. mumpung
aku lagi baik ." dengan senyum mengejek
Ari menawari Cici tumpangan .
Ari sengaja meledek Cici , karena masih
sebel dengan percekcokan mereka tadi
di Kantin . Merasa kalah telak , Cici
memasang wajah cemberut menatap
Mery .
" Ayo Ci..kali ini saja ." dengan
menangkupkan kedua tangannya , Mery
memohon .
Mery segera naik ke motor Bimo ,dan
Cici pun dengan terpaksa mengikuti
apa yang di katakan oleh Mery .
Di sepanjang jalan Mery diam , tapi
masih mau berpegangan di perut Bimo
tapi tidak erat .
" Mery ..." menoleh sedikit kesamping
agar lebih terdengar oleh Mery , tapi
yang di panggil diam , tidak menjawab.
" Kamu marah sama aku ? , tentang apa ?
coba jelaskan dari awal , biar kakak tahu
apa yang membuat kamu marah ."
memelankan motor agar lebih lama
sampai di Rumah .
" Kakak tidak salah , yang salah itu aku
karena berboncengan dengan kak Bimo ."
Bimo tertawa mendengar penjelasan
Mery .
" Sejak dulu kita kan sering berboncengan,
apa itu salah ." menyetir sesekali
menengok ke belakang .
" Iya sih kak , tapi di Sekolah banyak
murid perempuan yang menyukai kakak,"
Bimo menjelaskan jika dia tidak ada
hubungan dengan siapa pun di Sekolah ,
tapi Mery masih kukuh dengan pendapat
dia , perdebatan demi perdebatan mereka
lakukan di sepanjang mereka menyusuri
jalan , ejekan dan gelak tawa mereka
mengiringi pembahasan mereka di
atas motor , sampai tidak terasa jika
sudah sampai di depan rumah .
πππππ
Acara perpisahan Sekolah...
Sudah satu tahun Mery bersekolah yang
sama dengan Bimo , setiap hari dia
berangkat dan pulang bersama , tidak ada
rasa bosan dihati Bimo , karena didalam
lubuk hatinya tersimpan rasa cinta
untuk Mery .
Tapi sampai saat ini belum sempat dia ungkapkan , lebih tepatnya belum berani.
dia takut jika perasaan nya di tanggapi
lain oleh Mery , Bimo tahu jika Mery
hanya menganggapnya sebatas kakak
dan adik saja .
jika ada kesempatan Bimo pasti akan
mengungkapkan nya , meskipun nanti
Mery akan menolaknya .
πππ
Malam ini , adalah malam dimana para
siswa kls 12 merayakan hari wisuda
beserta hari perpisahan . Bimo sudah
siap dengan setelan jas yang akan
dia gunakan jika nanti naik ke panggung .
Mery duduk di bawah panggung , paling
pojok dan di kursi depan , dia sengaja
duduk di depan , agar Bimo bisa
melihatnya .
Acara demi acara terlaksana dengan
lancar , tidak ada halangan
di pelaksanaan acara wisuda .
Setelah selesai wisuda para murid
berkumpul di dalam Lapangan sekolah
untuk merayakan perpisahan mereka.
Mungkin ini akan menjadi hari terakhir
mereka berkumpul , karena besok
sudah mulai libur panjang ..
Bimo mencari Mery kesana kemari ,
dia mau merayakan malam perpisahan
ini bersama dengan pujaan hatinya .
Dia ingin mengungkapkan malam ini
juga , bahwa dia menyukai Mery .
πππ
Mery berjalan sendirian di depan kelas,
dia berencana menuju lapangan setelah
dia dari kamar kecil , belum sampai
Lapangan , Mery sudah di hadang oleh
tiga orang gadis yang tak lain adalah
segerombolan Clara dan teman - temannya.
" Kalian tahu , Ini dia si jala*g yang
dengan berani menggoda Bimo ku ."
Clara berjalan mendekati Mery .
Kedua temannya hanya tersenyum dan
ikut menghampiri Mery , dengan aba- aba
jentikan jari , Clara mengkode temannya .
Alhasil dua orang teman Clara yang sudah berada dekat dengan Mery , segera memegang kedua tangan Mery , karena mereka hanya bertugas membantu dan mengawasi jika ada orang yang datang .
Mery di seret ke dalam Toilet oleh Clara
dan teman- temannya , karena sepi
tidak ada orang yang menolongnya ,
mulut Mery di bungkam , tidak bisa
berteriak meminta pertolongan .
" Rasakan ini , kau pantas mendapatkan
Nya , karena kau sudah berani mendekati
Bimo , " menguyur Mery berulang kali.
Mery tidak bisa melawan , karena dia
di pegangi oleh dua orang teman Clara ,
tak cukup hanya dengan mengguyur
Clara juga merobek baju Mery , agar
nanti Mery malu dan kapok tidak berani
melawan dan menuruti apa kata dia .
Bimo yang resah karena tidak
menemukan sosok yang dia cari , segera mencari ke setiap penjuru Sekolah ,
Clara dan teman - temannya.
Bimo yang penasaran pun mulai
mendekat, didekatinya pintu toilet itu , menempelkan sedikit telinganya di pintu , agar bisa lebih jelas dan mengetahui
apa yang sebenarnya terjadi .
Dia kaget , kenapa namanya di ikut
sertakan dalam omelan Clara , dia
kemudian berfikir , jangan - jangan
yang ada di dalam sana adalah Mery .
Dengan penuh kekhawatiran dan amarah ,
Bimo segera membuka pintu Toilet .
Tapi naas pintu itu terkunci dari dalam ,
dengan terpaksa Bimo harus
mendobraknya , dengan sekali tendang
pintu itu terbuka .
Bimo terkejut dengan apa yang dia lihat , didalam Toilet menampakkan sosok
Mery yang terduduk di lantai dengan
sekujur tubuhnya yang basah kuyup , sedangkan Clara berdiri didepan Mery ,
dengan tangan yang masih memegang
baju yang baru saja di robeknya.
" Hentikan !." suara Bimo seketika
menghentikan tawa Clara dan kedua
temannya .
Clara kaget melihat kedatangan Bimo ,
begitu pula dengan temannya , dengan
segera melepaskan tangannya dari
baju Mery . Tanpa perlu berfikir panjang
Bimo langsung menghampiri mereka
dan mendorong Clara , sedikit dorongan
dari Bimo sudah cukup membuat Clara
roboh tertatap tembok .
" Aku tidak habis fikir , kau bisa
melakukan hal yang tidak manusiawi
seperti ini Clara ." melepas jas yang
melekat di tubuhnya , untuk dipakaikan ditubuh Mery yang basah , menutupi
baju Mery yang tadi sobek karena ulah
dari Clara .
" Aku bisa jelaskan ." Clara tak bisa
melanjutkan cercaannya , karena Bimo
sudah mengangkat satu tangannya .
" Cukup , aku tak mau mendengar
apa pun dari mulutmu , aku sudah
mendengar dan melihat sendiri apa
yang kalian lakukan pada Mery ."
berusaha membantu Mery untuk berdiri.
"Tapi Bim ." Bimo memberikan tatapan
tajam pada Clara dan teman-temannya ,
kemudian dia menggeleng .
" Kalian juga perempuan , bagaimana
jika kalian diperlakukan seperti ini ,
apa kalian mau ?, aku pastikan kalian
akan menerima akibatnya ." berbicara
dengan menuntun Mery keluar toilet.
Dilihatnya Mery yang menggigil dan
sempoyongan , Bimo segera
menggendong Mery , " kak turunkan
aku ." Mery berusaha meronta .
" Sudah diam saja , kita akan langsung
pulang , tidak usah ikut acara
perpisahan ." berjalan menuju parkiran
melewati pintu belakang .
***
Di depan Sekolah.
Bimo mendudukkan Mery dikursi yang
tak jauh dari gerbang Sekolah ,
dirogohnya saku dicelana , mencari
keberadaan telfon genggamnya .
" Kakak mencari ini ." menyodorkan
sebuah ponsel dengan menatap Bimo ,
pandangan mereka bertemu .
" Tadi ada disaku jas kakak ." Mery
menunduk malu , karena pertukaran
pandang mereka tadi .
Dengan segera Bimo mengambil
ponsel dari tangan Mery , dan menelfon
seseorang untuk segera menjemputnya.
Tanpa menunggu lama , sebuah mobil
keluar dari dalam Sekolah , dan berhenti
tepat didepan mereka .
" Maaf mas Bimo sudah menunggu
lama ." seorang supir berkata setelah
berhasil membukakan pintu untuk
Bimo .
Dengan cepat Bimo menggendong Mery
mendudukkan nya didalam mobil ,
kemudian dia pun menyusul masuk
dan duduk tepat disebelah nya .
Sang supir pun mulai menjalankan
mobil , meninggalkan Sekolah .
Masih didalam mobil , keheningan
tercipta diantara keduanya , sampai
suara Bimo yang memecahkannya .
" Mer ... apa ada yang terluka , apa
saja yang dilakukan Clara padamu ?."
menatap Mery dengan penuh kekhawatiran.
" Tidak ada kak , sudah jangan
membahas gadis gil* itu lagi ." dengan
suara bergetar menggigil kedinginan .
Bimo memeluknya dari samping ,
" Biarkan begini , agar kau lebih hangat ."
Mery meronta .
" Tidak usah kak , aku tidak kedinginan ,
ini modus kakak saja agar bisa
memelukku , iya kan ." Bimo tertawa
mendengar ucapan Mery .
" Entah ini modus ku yang memang aku
ingin memelukmu , tidak apa-apa kan
yang paling penting kau tetap hangat."
semakin mempererat pelukannya .
Mery yang terkejut tidak berani berkutik ,
dia menunduk dan tak mampu berbicara .
" Maaf kan aku karena terlambat tadi ."
satu tangan menggenggam jemari Mery .
" Bukan salah kak Bimo , tidak perlu
minta maaf ." masih menunduk .
Dengan sama - sama dipenuhi rasa malu ,
keterdiaman pun kembali terjadi , Bimo
mengumpulkan keberanian untuk
meluapkan tekad di hatinya .
Ditariknya nafas dalam-dalam , Bimo pun
akhirnya membuka suara .
" Mery .. aku mau jujur padamu , tentang
perasaan yang selama ini aku pendam ,
kau tidak perlu menjawab , cukup
dengarkan saja ."
Dengan seksama Mery mengangguk
pelan , mengiyakan apa yang barusan
ia dengar , sebenarnya di hati Mery
merasakan ketegangan , dia mengerti
bahwa Bimo ingin membicarakan hal
yang serius padanya .
" Aku tahu selama ini diantara kita
sudah terjalin hubungan dekat , tapi
kedekatan kita hanya sekedar teman ,
boleh kah aku meminta lebih ?."
Mery mematung dengan debaran jantung
yang tak beraturan , "perasaan apa ini,
apa aku juga punya perasaan yang sama
dengan kak Bimo ." oceh Mery di dalam
hati dengan menyentuh dada .
" Entah dari kapan rasa ini tumbuh ,
sebuah rasa yang ingin memiliki ,
melindungi dan menyayangi dalam arti
bukan sahabat ." Mery masih mendengarkan.
" Aku mencintaimu Mery , kau tidak perlu
menjawab sekarang , kau mengetahui
saja itu sudah cukup , kau bisa
menjawabnya jika aku pulang nanti ."
Pengungkapan Bimo panjang lebar
didengarkan oleh Mery dengan hati
berdebar , disaksikan oleh sang supir
yang seakan menutup mata dan telinga
dengan diam dan pura - pura tidak
mendengar atau pun melihat .
" Kak Bimo mau kemana ?." kekagetan
Mery , membuatnya membuka suara .
" Papa menyuruh ku untuk melanjutkan
kuliah diluar negeri , lebih tepatnya
ke Inggris ."
Mengetahui jika sang majikan sedang
membutuhkan waktu yang privasi ,
sang supir pun sedikit memperlama
sampai pada tujuan , Bimo yang
menyadarinya segera menyuruh
supirnya untuk mempercepat laju
kendaraan.
" Terus kakak mau ?." melepas pelukan
mengubah letak duduknya menghadap
ke Bimo . Bimo pun mengangguk dengan
memejamkan matanya .
Dengan diliputi rasa sedih bercampur
dengan rasa yang tidak dia mengerti ,
Mery membisu dalam kegundahannya.
" Kak .. aku tak tahu harus menjawab
apa , aku masih ingin terus menggapai cita-citaku , aku tidak mau menjalin
sebuah hubungan apapun yang apabila
nanti bisa menggangguku untuk fokus
belajar . " Bimo tersenyum mengerti.
Mobil yang mereka naiki pun berhenti
tepat di depan rumah Mery , di bukanya
pintu mobil oleh tangan Bimo , manik
mata mereka bertemu , dengan hati - hati
Bimo membantu Mery turun dari mobil .
" Mery.. jagalah hatimu , sampai aku
pulang nanti , ini pertemuan kita yang
terakhir ." menggapai jemari Mery , saat
akan berlalu pergi .
Mery tersenyum , Bimo pun mendekat.
Satu kecupan di kening mengakhiri
perpisahan mereka .
" Kau pasti menjadi milikku Mery , itu
janjiku ." Bimo berbicara didalam hatinya
saat memandang kepergian Mery.
Flashback off πΉπΉπΉ
ππππππππππππ
_
_
_
Lama y ,,, author nya jg bingung ..
kok bisa lama ya π€π€
udah lanjut aj.. NEXT ππ