Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Pengakuan Roy


Rani mengajak putranya ke kantin Rumah Sakit, agar bisa bicara dengan tenang. Rani tak sadar jika sudah meninggalkan Isabella di depan lift tadi saat dirinya sedang menarik putranya agar menjauhi Mery.


Rani berjalan tergopoh-gopoh dengan tangan yang masih memegang tangan putranya.


Suasana Kantin masih sepi, karena belum memasuki waktu makan siang. Rani masuk dan mencari tempat duduk paling pojok. Menaruh tas diatas meja kemudian duduk, Rani siap bicara.


"Jelaskan pada bunda, apa yang kalian tadi lakukan di dalam sana?." Gertak Rani menaruh kedua telapak tangannya di atas meja.


Roy duduk di depan bundanya dengan posisi menghadap ke samping, melihat seluruh ruangan merasa malu dengan tingkah ibundanya.


Ada beberapa pegawai Rumah Sakit yang keluar masuk kantin untuk membeli cemilan disana, sedikit dari mereka sempat berbisik setelah memberikan pandangannya sekilas pada ibu dan anak itu.


Rani tidak sadar jika perbuatannya itu menjatuhkan harga diri putranya.


Posisi Roy yang sangat dihormati seketika jatuh saat pegawai Rumah Sakit melihatnya sedang digandeng ibu - ibu yang mengoceh di sepanjang jalan sampai di dalam kantin pun sama Roy mendapat cercaan.


Roy bagai tak punya muka di depan bawahannya, dia terlihat seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya.


Andai Roy bisa membantah ibundanya di depan umum, pasti sudah dia lakukan.


Tapi dia tidak mau, apabila itu terjadi pasti kemarahan bundanya semakin menjadi, dan Roy jelas tahu kelanjutannya bagaimana. Pasti teriakan yang menggemparkan jagat raya akan ibundanya lakukan.


Melihat putranya hanya diam, Rani mulai ingin menggertak lagi.


"Roy .. ." Roy menoleh.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, apa yang bunda pinta sudah aku turuti. Bunda minta menantu sudah aku kabulkan meskipun belum resmi tapi aku sudah menunjukkan di hadapan bunda kalau aku sudah ada wanita yang akan aku jadikan sebagai istri."


Berbicara sambil menatap ibundanya sambil menaruh satu tangannya di dagu.


Rani kurang puas dengan jawaban yang ia dapatkan, bukan bahasan tentang menantu yang jadi pertanyaannya sekarang, tapi masalah tragedi di dalam lift lah yang membuatnya penasaran.


"Bukan itu Roy, tapi di lift tadi .. ."


Omongan Rani terpotong akibat Roy yang menatapnya tajam. Seketika Rani menegakkan duduknya.


"Bunda mau apa sih? menantu, apa mengurusi kehidupanku." Roy meraup mukanya, kesal dengan segala aturan yang ibundanya itu berikan.


"Aku sudah dewasa Bun, kumohon bunda mengerti aku." Menatap bundanya,


Roy mengeluarkan udara dari mulut, diam sejenak seraya menahan amarahnya.


"Bunda meminta menantu yang sudah dewasa sudah kuberikan, bunda minta aku cepat menikah juga akan aku kabulkan, tapi .. ku mohon bunda bisa bersabar untuk menunggu urusan kak joyyana selesai, apa bunda tidak tahu jika ini menyangkut keselamatan Joy dan bayinya."


Jelas Roy panjang lebar. Rani diam mendengarkan, memang benar dengan semua yang Roy katakan, Rani tak bisa menuntut lagi, karena semua keinginannya sudah putranya turuti, meskipun harus menunggu.


Rani menggapai punggung tangan putranya, menepuknya berulang kali dengan pelan.


"Ya bunda berterima kasih karena kau sudah menuruti apa kata bunda, tapi Roy kenapa kau masih main peluk sama Mery, apa kau tidak menjaga perasaan Isabella, dia gadis baik."


Roy tersenyum malas, lalu menarik tangannya yang dari sentuhan ibundanya.


"Aku tahu Isabella mempunyai daya tarik untuk membuat bunda langsung suka padanya, maka dari itu aku menjadikannya istri nanti, pasti bunda tidak akan mengajaknya berseteru, jika dia sudah resmi menjadi menantu bunda."


Rani hatinya bergejolak mendengar penuturan putranya, seakan-akan putranya itu menikah tidak dengan keinginannya, tapi atas paksaan darinya.


"Roy, apa maksud dari kata-kata mu nak,


Rani memandang putranya intens, sedang menunggu jawaban dari mulut putra kesayangannya itu.


Roy tersenyum masam, kemudian berbicara tapi pandangannya ke arah lain.


"Ya, aku ingin mempersunting Isabella atas dasar cinta, jawaban itu kan yang bunda mau? Sudah aku jawab, bunda puas?."


Seketika Rani menarik wajah putranya agar menghadap padanya.


"Roy bukan jawaban itu yang bunda mau, jawaban dari lubuk hatimu nak, siapa wanita yang kau cintai?."


Roy menelak tangan ibundanya, dia tertawa hambar.


"Bunda tanya siapa wanita yang aku sukai? apa itu penting untuk bunda? Apa bunda tidak ingat syarat apa yang bunda berikan padaku dan bagaimana kriteria untuk calon menantu yang bunda pinta, yang tidak bisa diganggu gugat."


Roy berbicara dengan mata yang berkaca -kaca, dia mencoba mengingatkan apa saja yang pernah bundanya itu ucapkan, Roy sadar jika semua kata katanya itu percuma, tidak akan merubah segalanya.


Peraturan tetaplah peraturan, apalagi yang membuat adalah ibundanya yang tidak pernah menerima masukan dari orang lain. Jadi Roy tidak ingin disebut dengan anak yang durhaka, dia menuruti saja apa yang diperintahkan oleh ibundanya itu padanya.


Meskipun didalam hatinya Roy sangat mencintai Mery, tapi dia tidak bisa membantah ibundanya. Roy hanya bisa mencintai Mery dalam diam.


"Buang semua perasaanmu pada Mery, dia adikmu juga Roy."


Rani mencoba menasehati putranya agar melupakan perasaannya pada sosok gadis yang tidak mempunyai orang tua itu.


Rani sengaja mengalihkan pendapatnya tentang Mery, jika gadis itu seperti layaknya adik kandung Roy yang tidak pantas untuk di cintai, agar Roy membuang jauh perasaan pada gadis itu.


"Adik dari mana, bunda lucu. Bilang saja bunda tidak suka dengan Mery." Roy berpaling.


Rani memutar otak untuk membela dirinya.


"Bukan tidak suka Roy, tapi Mery tidak .. ."


"Bunda mau bilang apa, Mery tidak punya orang tua? Tidak punya masa depan? Alasan apalagi bunda, kenapa tidak dilanjutkan?."


Mendengar penuturan putranya, Rani tidak bisa menjawab, dia hanya menunduk tanda jika itu memang adanya yang ada di otak Rani.


"Benar kan Bun yang ku katakan, bunda sebelum memikirkan itu harusnya bunda memandang Adinda, putri bunda yang seumuran Mery, bagaimana jika Adinda berada di posisi Mery, apa bunda masih tidak punya hati?."


"Cukup Roy, sekarang bunda tidak mau dengar lagi, bunda mau tegaskan padamu jika kau memilih Mery, kau akan kehilangan bunda dan Isabella, tapi jika kau memilih Isabella, hidupmu pasti bahagia."


Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Rani cepat berdiri dan keluar dari kantin,


meninggalkan putranya sendiri.


Roy menggebrak meja, kesal dengan kepala batu yang dimiliki oleh ibundanya, sudah berbicara dan menjelaskan panjang lebar, masih saja ibundanya itu bersikukuh, hatinya tidak tergerak sedikitpun untuk mencoba memahami perasaan putranya.


Roy lelah dengan dengan beban batin yang dihadapinya kini, ingin rasanya pria itu lari untuk menuruti kata hatinya yang sangat mencintai Mery, tapi rasa patuh pada sang ibu membuatnya berat untuknya melangkah.


Isabella yang berada di balik jendela hanya terdiam sambil menutup mulutnya, meneteskan air mata tanpa ada suara yang keluar dari bibirnya, hanya rasa sesak hampir tak bisa bernafas mengoyak dirinya.


πŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸ•ŠοΈ


Next aj dah 😍