Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Wulan mulai ragu


Rumah Rani dan kakaknya saling berdekatan, Rani dan suaminya sengaja membeli rumah


di dekat tempat kakaknya tinggal karena


tidak ingin berpisah lagi.


Mengalami nasib yang sama dengan


perlakuan yang diterima dari orang yang


sama yaitu dari orang tua mereka, membuat Rani ingin mengadu pada sosok kakak dan menyatukan rasa yang telah tertindas.


Menjalin hubungan dengan orang terkasih


yang tidak mendapat restu dari kedua


orang tua karena kurang cocoknya bibit bebet dan bobot menurut penilaian kedua orang tua mereka.


Hal itu membuat Wulan memutuskan untuk pergi dari rumah meninggalkan kedua orang tuanya, keluar dengan segala tekad tanpa membawa barang maupun identitas yang diberikan oleh keluarganya.


Yang paling membuat Wulan nekat adalah perbuatan ayahnya yang dengan tega membuang darah daging Wulan, padahal


bayi itu adalah cucu kandungnya sendiri.


Wulan murka setelah mengetahui hal itu dan berani untuk memberontak, dia melarikan


diri dan mencari kekasihnya untuk bisa hidup bersama.


Sudah ditinggalkan oleh anak pertamanya, masih saja belum bisa membuat sepasang orang tua itu sadar, malah mengulanginya


lagi pada putri keduanya. Menolak dengan keras pilihan putrinya, dan mengatur perjodohan secara sepihak tanpa meminta persetujuan dari putrinya.


Rani mengikuti jejak kakaknya, mencari keberadaan seorang kakak yang sudah pergi dari rumah.


Dan sampai di suatu tempat dia mendapati ternyata kakaknya hidup bahagia dengan


pria pilihannya, hal itu membuat Rani


memantapkan hati tuk kawin lari seperti


yang dilakukan oleh Wulan.


Kembali dalam perdebatan, tiba-tiba


terdengar suara orang berteriak dan pintu pagar terbuka membuat sepasang mata Rani menilik, memeriksa apa benar itu suara kakaknya.


Karena paksaan dari suami serta


anak-anaknya Rani tak bisa berkutik, dan


mau tidak mau harus ikut aturan yaitu


meminta maaf atas semua kekacauan yang diperbuatnya pada Wulan dan Mery.


Rani menatap suaminya berusaha bernegosiasi.


"Apa aku harus melakukannya sendiri ayah?." Hari mengangguk, memberikan kepastian bahwa istrinya itu harus melakukannya.


Rani sepertinya ragu untuk melakukan, dia menatap kedua anaknya secara bergantian, mencari sebuah keringanan tuk apa yang


akan dilakukan.


Saat tatapannya berada pada titik keraguan membayangkan jika dirinya nanti


menghadapi ocehan kakaknya, tiba-tiba saja hentakan suara maraton dari sang suami menggugurkan semua titik itu.


"Bunda harus melakukannya sekarang, tidak boleh ditemani oleh siapapun karena bunda juga sendiri saat mengacaukan segalanya." Tutur Hari sambil mendudukkan dirinya di kursi.


Roy yang tak ingin bertele-tele pun malas melakukan perdebatan lagi, dia memilih


untuk masuk kedalam kamarnya.


Rani yang terpojok tak bisa berkutik lagi dan membuatnya wajib tuk pergi demi


meluruskan masalah.


"Baiklah akan bunda lakukan yah." Rani menunduk lesu, tak bisa berkutik lagi.


Tanpa berkata Rani langsung meninggalkan suami dan putrinya yang masih duduk


di ruang tengah untuk menuju ke rumah kakaknya.


Rani keluar rumah sendirian, Adinda bersiap untuk mengejar tapi Hari melarang.


"Kau mau kemana Din?." Dinda berhenti di depan pintu, menoleh pada ayahnya.


"Bunda." Jawab Adinda singkat, menunjuk sesosok punggung yang sudah hampir


hilang dari pandangan.


"Tetap disini, biarkan bundamu pergi sendiri, kau jangan kepo."


Ucapan Hari mengurungkan niat Adinda, Adinda mulai ngambek dan memilih untuk masuk juga kedalam kamar.


Dengan kemantapan hati Rani


melangkahkan kaki memasuki sebuah


halaman rumah orang yang bakalan dia


mintai maaf. Dia rela menerima apapun


hinaan balik yang diberikan oleh kakaknya maupun dari gadis yang telah dihinanya.


Kakinya menapak satu demi satu mendekati pintu, seperti kebiasaannya Rani tidak


pernah mengetuk pintu melainkan selalu menggedor karena lebih bisa didengar oleh orang didalam.


"Embak yu .. ." Panggil Rani pada kakaknya seperti biasa.


Wulan tidak mendengar suara panggilan dari adiknya, hanya pembantu yang sedang mengamati majikannya saja yang mendengar dan memeriksa siapa orang yang bertamu.


"Embak Wulan kemana bi, panggilkan aku


ingin bertemu dengannya." Berbicara sedikit ketus masih diambang pintu.


Pembantu segera masuk, lalu tak berapa


lama keluar kembali bersama majikannya.


Wulan menemui adiknya dengan wajah datar, masih teringat tentang apa saja yang diucapkannya saat di Jakarta tempo hari.


"Untuk apa kau mencariku Rani?, Duduklah jangan berdiri di depan pintu seperti orang asing begitu." Menunjuk satu kursi sebelum


dia duduk.


Rani duduk mengikuti arahan kakaknya,


dengan wajah ditekuk Rani berusaha mengutarakan tujuannya kemari.


"Aku kesini untuk meminta maaf pada mbak sama Mery juga." Nada suara Rani merendah berbeda saat dia baru sampai tadi.


Wulan terkejut dengan apa yang dikatakan


oleh adiknya, berusaha menahan tawa.


"Untuk apa kau minta maaf, kau tidak


berbuat kesalahan." Sahut Wulan.


Mery tidak berani keluar, dia hanya berdiri


di balik gorden sambil menguping.


"Aku banyak kesalahan mbak, saat di Jakarta kemarin, terlebih pada Mery." Imbuh Rani memelas.


Wulan tersenyum menanggapi.


"Sepertinya kau salah sasaran." Menatap adiknya, "Mery keluarlah."


mengetahui keberadaannya.


"Iya Bu." Mery keluar dari persembunyiannya. Berjalan pelan mendekati kursi yang


diduduki oleh ibu angkatnya.


"Kau harusnya meminta maaf padanya, duduklah sayang." Wulan menepuk kursi


di sebelahnya.


Memberi arahan pada Mery untuk duduk


di sampingnya.


Rani berdiri dengan hati dan pikiran


memikirkan perasaan putranya dia bertekad, bagaimana pun dia harus bisa


mengembalikan keadaan seperti sedia kala, meskipun dia harus menelan malu.


Mendekati gadis yang pernah


dipermalukannya didepan umum, Rani bersimpuh.


"Maafkan Tante Mery, Tante sudah


dibutakan oleh ego yang membuat Tante


lupa akan hati dan perasaan putra Tante."


Mery kaget, begitu pula dengan Wulan.


Dia segera berdiri dan mengangkat Rani dari kakinya.


"Apa yang Tante Rani lakukan." Rani menangis.


"Rani berdirilah."


Rani kemudian berdiri, "mbak aku hanya mencari pengampunan dari kalian berdua,


ku mohon dengan sangat maafkan kesalahanku saat di Jakarta dan bersedia .. ." Rani menatap Mery.


"Bersedia apa lanjutkan!."


Rani meraih jemari kakaknya.


"Bersedia menyatukan Mery dan Roy agar


bisa bersama." Wulan tersenyum hambar.


"Kau sudah terlambat Rani, lusa Mery akan bertunangan dengan David." Rani syok,


dengan cepat membuang jemari kakaknya.


"Apa-apaan ini mbak, Joy belum lama meninggal dan David sudah mau meminang Mery, mbak membiarkan itu?."


Mery tak bisa berkutik untuk membela diri


atau pun meluruskan masalah, dia hanya terdiam karena dia tahu bahwa pertunangan yang dia lakukan bersama dengan kakak iparnya hanyalah sandiwara yang bertujuan untuk menghancurkan perasaan Roy semata.


Rani menatap Mery, " kau mau saja Mery?, Dimana hati nuranimu. Apa kau tidak memikirkan perasaan kakakmu disana, dia masih berkeliling didekat kita."


Rani mulai putus asa.


Wulan duduk di kursinya kembali.


"Mbak, kumohon batalkan pertunangan ini,


apa mbak gak kasihan sama putri mbak, dia disana pasti menangis." Rani meraup


mukanya, dia tidak percaya dengan


pernyataan yang barusan dia dapatkan.


"Percuma Ran, semua undangan sudah


disebar dan Oma juga sudah menyetujuinya." Bantah Wulan, berusaha agar adiknya bisa tenang.


"Ini hubungan yang tidak wajar mbak, kau


juga Mery kenapa kau tega merampas


suami dari kakakmu."


Rasa terkejut dan kecewa membuat Rani seakan membabi buta, dia tidak terima akan pertunangan yang akan dilakukan oleh Mery dan David, merasa pupus sudah harapannya.


"Cukup Rani, pertunangan ini hanya dilakukan agar Mery bisa merawat putranya Joy, tidak seperti yang kau tuduhkan tadi." Wulan berusaha membantah.


Rani masih tidak bisa menerima alasan yang Wulan berikan dan berusaha untuk menggagalkan rencana pertunangan itu.


Rani tak ingin jika putranya frustasi dan memilih untuk tidak menjalin hubungan


dengan wanita manapun, Rani berusaha


sebisa mungkin untuk menyatukan putranya dengan wanita yang sudah dicintainya yaitu Mery.


"Aku tidak percaya dengan alasan itu mbak, awalnya mereka cuma bertameng pada


putra Joy tapi lambat laun perasaan itu pasti akan tumbuh, mbak menginginkan hal itu terjadi?, Mbak tak sadar telah melukai hati


putri mbak sendiri."


"Cukup Rani, cukup. Permintaan maafmu


sudah kami terima, tolong tinggalkan


rumahku dulu, aku ingin istirahat." Bentak Wulan.


"Baiklah, terimakasih mbak." Rani berdiri hendak pergi.


"Aku tidak mengusirmu Rani, aku hanya


sangat lelah, kau tahu kan aku baru sampai." Rani membalikkan badan.


"Iya mbak, aku mengerti. Tolong pikirkan apa yang aku ucapkan tadi bisa saja itu terjadi,


aku permisi." Ucapan Rani mengakhiri keberadaannya.


Rani pun meninggalkan rumah kakaknya,


tersisa Wulan dan Mery diruang tamu.


"Tidak salah dengan ucapan Rani, dengan berjalannya waktu bisa saja tumbuh rasa


ingin saling memiliki diantara kalian, dan tibalah waktunya aku yang diliputi rasa penyesalan telah menyetujui rencana bodoh ini." Wulan berbicara tanpa memandang Mery.


"Itu tidak mungkin terjadi Bu." Mery menolak pemikiran picik ibunya.


"Istirahatlah kau pasti lelah." Berbicara


sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkan Mery sendiri.


Mery terduduk.


"Oh tuhan, rencana apalagi yang kau berikan untukku, hanya ibu Wulan yang menjadi tumpuan hidupku sekarang mulai tidak


percaya denganku." Mery merasa serba


salah, tak tahu langkah apa yang harus dia lakukan.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Lanjut lagi g nih😌😌😌😌


mumpung othor nye semungut 🀭


ngengggggg🚴🚴🚴