
Sepeninggal Tomy perusahaan David
semakin melaju pesat, tidak adanya orang
yang ingin menghancurkan perusahaan miliknya itu lagi, kasus penembakan Tomy
juga bisa Oma tutupi dengan samaran jika Tomy meninggal akibat bunuh diri.
Segala oknum maupun pihak berwajib sudah berhasil Oma suap agar tidak lagi mengulik tentang terbunuhnya ketua mafia itu. Tapi
Oma tidak tahu masih banyak anak buah
Tomy yang tidak bisa tinggal diam saat tahu jika pemimpin mereka telah mati karena terbunuh.
Max selaku anak buah Tomy bisa dikatakan
jika Max adalah tangan kanan bos mafia itu tidak bisa menerima begitu saja atas
kematian pemimpinnya.
Setelah mendengar berita kematian pemimpinnya, Max langsung menyelidikinya sendiri karena dia merasa banyak
kejanggalan atas kematian bosnya itu.
Setelah mengulik dari bukti medis Max menemukan fakta yang mengejutkan,
ternyata kematian bosnya akibat terkena biji besi yang masuk tepat di jantungnya.
Mendapati fakta itu membuat Max sangat murka, karena bagaimanapun hidup Max bergantung pada suatu pekerjaan yang diberikan oleh pemimpinnya itu.
Sekarang Max ingin balas dendam atas kematian bosnya, yaitu meneruskan misi
atas keinginan bosnya yang belum terwujud yang tak lain adalah keberhasilan atas hancurnya David.
Tidak hanya perkara kematian itu yang membuatnya murka, melainkan juga tentang tertangkapnya Rossa sang kekasih yang sekarang telah dikurung oleh David. Lengkap sudah misi Max kali ini.
Max selalu memperhatikan segala
gerak-gerik David dari jauh, mencari ruang untuk dirinya menusuk ayah muda itu.
Langkah pertama Max sekarang adalah ingin menculik putra semata wayang dari
keturunan Alexander itu, dia ingin seisi rumah David porak poranda akibat hilangnya bayi
kecil itu dan disitulah waktunya dia nanti akan masuk kesana dan mengeluarkan Rossa.
Banyak anak buah dari Max menyamar
menjadi pedagang asongan maupun orang biasa yang selalu lalu lalang di sekitaran lingkungan hunian elit itu, demi mencari celah yang tepat untuk mengambil sang pewaris tunggal.
Sekarang David yang berada di luar daerah membuat Max merasa senang karena lebih luas kesempatannya untuk menculik putra David akan lebih mudah.
Tapi Max tidak tahu jika di sekitar rumah itu sudah dijaga ketat lebih dulu oleh anak buah dari joyyana, ibu dari sang pewaris tunggal.
###
Di Jogja
Keluar dari kamar putri angkatnya Wulan menuju ke kamar putri kandungnya untuk mencari keberadaan menantunya, dengan tergesa-gesa dia masuk ke kamar itu tanpa mengetuk dan langsung membuka pintunya.
Dia tak ingin berbasa-basi lagi, David yang
juga sedang mengemas pakaiannya pun
kaget melihat pintu kamarnya terbuka secara tiba-tiba.
Dia menoleh dan hendak marah
siapa orang yang telah berani masuk
ke kamarnya tanpa mengetuk maupun ijin darinya, tapi marahnya itu urung dia keluarkan karena yang membuka pintu itu adalah ibu mertuanya sendiri.
"Ibu, ada apa?." Dengan santainya David bertanya tanpa ada rasa bersalah.
Wulan diam sejenak tepat di tengah-tengah pintu, mengatur nafas untuk mengendalikan diri agar dirinya bisa berpikir jernih.
"Kau mau kembali?." Berjalan mendekati menantunya.
David melanjutkan mengemas.
"Iya Bu, tapi kali ini aku akan kembali bersama dengan Mery." Memasukkan satu persatu pakaian kedalam koper.
"Tidak boleh." Ucapan Wulan sedikit menekan bak titah yang tidak bisa ditentang.
David menghentikan mengemas dan
"Maksud ibu apa, dari sebelum berangkat
kesini tujuan Mery hanyalah untuk mengambil barang-barangnya saja yang masih tertinggal
di sini dan ibu juga tau itu, bahkan ibu pun menyetujuinya." Menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Kenapa sekarang ibu berubah pikiran?."
"Tapi sekarang sudah berbeda, tujuan
awalmu sudah berubah dan aku sekarang
tidak memperbolehkan gadis itu kau bawa." Wulan mengeraskan nada bicaranya.
David berdiri di depan mertuanya, tanpa takut maupun sungkan.
"Aku tahu ibu jadi seperti ini karena ibu mendapat hasutan dari orang, aku ingin menjelaskan pada ibu pasti percuma, jadi tolong jangan halangi aku kali ini." David
berlalu mendekati almari, David mengambil jaket kemudian memakainya.
"Tidak ada hasutan, yang ada disini kau sudah jatuh hati pada Mery dan kau sudah mengkhianati cinta putriku." David kaget.
David tertawa mendengar apa yang barusan dikatakan oleh ibu mertuanya itu, David menggeleng tak percaya dengan apa yang dia dengar, bisa-bisanya ibu mertuanya berpikir seperti itu. Menuduh tanpa sebab dan bukti.
"Aku jatuh cinta pada Mery?." Ucap David pada dirinya sendiri, "hahaha .. ." Tawa lantang pun keluar dari mulut lebar ayah muda itu.
"Sudah Bu, ibu jangan mencari alasan yang tidak jelas, aku tahu ibu ingin Mery tetap
disini karena ibu tak ingin jauh darinya kan
dan juga aku tahu jika ibu akan menjodohkannya dengan Roy, keponakan ibu yang karena keteledorannya aku jadi kehilangan istriku."
David menjauh dari ibu mertuanya lalu menutup sebuah koper miliknya yang sudah tertata rapi semua pakaian milik David.
Wulan terdiam mendengar penuturan menantunya, dia tak bisa mengelak jika Roy juga ikut andil atas kematian joyyana. Wulan menyimpan sedikit air mata di ujung pelupuk matanya.
"Itu tidak mungkin, kau jangan memutar balikkan fakta, Roy memang bersalah tapi
jika tuhan tidak menghendaki kematian Joy pasti semua itu tidak akan terjadi." Elak wulan meruntuhkan pemikiran David.
David menoleh.
"Hem, ini lucu, ibu bisa dengan mudahnya berkata seperti itu karena Roy adalah keponakan kesayangan ibu tapi lain
denganku, aku tidak akan bisa semudah itu melupakan ataupun memaafkan orang yang teledor saat menjaga istriku."
David mengangkat kopernya dan berjalan keluar melewati ibu mertuanya. Berhenti tepat di samping Wulan.
"Terserah ibu berpikir apa tentangku, aku tidak peduli karena yang tahu isi hatiku hanyalah aku sendiri, sekali hatiku ku taruh pada seseorang tak bakalan berpindah, ibu ingat itu." David berjalan menjauh.
"Perlu ibu tahu cintaku tak semudah itu tuk berpindah." imbuh David sambil berjalan.
Wulan mematung.
"Tunggu! Jelaskan padaku apa maksud kau menghajar Roy ditempat umum?."
Wulan bertanya tanpa menoleh, David menghentikan langkahnya.
Dia tertegun dengan apa yang barusan dia dengar, tau dari mana ibu mertuanya itu jika dirinya telah menghajar Roy di pantai.
David membalik badan, hal yang sama pun Wulan lakukan, mereka berdua bersitatap.
"Jelaskan padaku, jangan bilang jika itu suatu sebab kalau kau tak rela jika Mery berduaan dengan Roy, KAU CEMBURU." Wulan berkata santai dengan sedikit melambat dan menekan kata yang dia ucapkan di akhir kalimat.
"Apa-apaan ini Bu, disini ibu telah menuduhku yang tidak-tidak." David menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Wulan mengangkat ponselnya, ditunjukkannya video yang dia dapatkan dari Adinda.
"Aku tidak menuduh, ini fakta." David menelan ludah, melihat apa yang tadi dia lakukan di pantai terekam jelas dilayar ponsel milik ibu mertuanya.
Wulan tertawa remeh saat melihat David membisu.
"Kau tinggal jelaskan kenapa malah diam."
David dalam diam menatap ponsel yang memutar adegan saat dia memukuli Roy dengan membabi buta dan sesekali mencuri lihat raut wajah ibu mertuanya yang sedang menginterogasinya menantikan penjelasan darinya.
"Ayo jelaskan, kenapa kau malah diam." ucap Wulan menantang menantunya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
up yok up yokkkkkkk๐๐๐๐๐