
Adinda POV
Saat masih di Rumah Sakit aku melihat Mery masuk ke dalam mobil bersama kak Bimo, dalam hati kecilku berkata," mereka pergi kemana?"sambil melihat mobil itu pergi rasa penasaranku bangkit.
Hal itu membuat kakiku ingin melangkah dan mengikuti kemana mereka pergi, demi memuaskan rasa penasaranku.
Aku berlari ke arah jalan dan menghentikan sebuah taxi untuk mengikuti mobil mereka, mungkin saat itu adalah rezekiku yang ternyata taxi itu tidak ada penumpang dan berhenti tepat di depanku
setelah aku melambaikan tangan.
Aku segera masuk dan meminta pada pak supir untuk membuntuti mobil merah yang belum jauh dan masih terlihat oleh taxi kami. Aku sempat berprasangka buruk ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah bioskop.
"Mereka menonton, apa mereka berkencan?." Gumamku, hatiku berdesir dengan mata berkaca-kaca.
Tapi semua prasangka itu aku buang sebelum aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya, aku turun dari taxi dan ikut masuk kedalam bioskop karena aku penasaran apa yang mereka tonton dan apa yang mereka perbuat di dalam sana.
Sambil bersembunyi aku mengikuti langkah mereka, dari genre sampai tempat duduk pun aku mengambil tempat yang tak jauh dari mereka. Aku kaget ketika mengetahui bahwa genre horor yang mereka ambil.
"Horor?."
Aku heran kenapa genre itu yang mereka pilih, seingatku bahwa Mery itu orang yang penakut dan mustahil untuknya menonton film yang berbau uji nyali.
Masuk ke dalam bioskop, aku mencari dimana mereka duduk, aku mengelilingi tempat kursi berpura-pura bingung dengan letak kursiku, hampir saja mereka melihatku ketika pandangan Mery mengarah kepadaku, aku buru - buru duduk pas aku berdiri itu tepat di sebelah nomor kursiku.
Sambil melirik ke belakang ternyata mereka mengambil tempat duduk paling belakang berjarak tiga baris dengan tempat dudukku. Aku melihat jelas apa yang mereka lakukan.
Rasa cemburuku muncul saat keakraban mereka menodai mataku, yang aku lihat mereka tidak seperti teman biasa melainkan sepasang kekasih.
'Apa kak Joy membohongiku?.'
Aku mulai berpikir yang tidak-tidak tentang kakak sepupuku itu, 'apakah dia tega membohongiku?demi seorang adik angkat kak Joy tega membodohi adik sepupu kandungnya?'.
Pertanyaan itu berulang kali berkeliaran diluar kepalaku. Aku mencoba berpikir positif tentang ini semua, menunggu fakta yang akan terungkap.
Belum lima belas menit mereka memutuskan untuk keluar dan aku pun ikut keluar juga, sebab tujuanku hanya satu untuk mengikuti mereka tidak untuk menonton.
Kemanapun mereka pergi aku ada di belakangnya bagai seorang mata - mata aku bersembunyi bak orang mengintai.
Sampai di sebuah Taman, rasa penasaranku semakin memuncak, kondisi dan situasi Taman yang begitu sepi serta penghuni disana yang berdominan dengan para pasangan yang sedang kasmaran membuat hatiku sakit dan berpikiran yang tidak karuan.
"Astaga mereka ke tempat seperti ini, apa yang ingin mereka lakukan, oh tuhan buang pikiran burukku ini dan semoga pemikiranku tidak benar." Sambil mengendap - endap aku terus berjalan di belakang mereka.
Sepasang kekasih menabrakku membuatku terjatuh dan akibatnya aku kehilangan jejak Mery dan kak Bimo.
"Kenapa orang tadi pake menabrakku sih,"
Geramku kesal saat melihat orang itu pergi setelah meminta maaf padaku.
Aku berlari mencari keberadaan mereka, sekitar sepuluh menit aku memutari Taman masih tidak ketemu juga, aku lelah dan putus asa, sedetik kemudian aku teringat jika Mery menyukai air mancur, membuatku ingin ke tengah taman terlihat disana ada air mancur juga.
"Semoga mereka ada disana."
Aku berlari secepat mungkin agar bisa cepat di tujuan, dengan nafasku yang setengah hilang dan ada aku gembira menemukan mereka.
"Tepat sekali" senyumku mengembang melihat orang yang aku cari sudah ketemu.
Senyumku seketika hilang saat melihat apa yang mereka lakukan dan aku pun mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.
Aku kecewa, sakit hati dan menyesal kenapa aku tadi mengikuti mereka, harusnya aku diam saja tetap di Rumah Sakit bersama kak Joy pasti aku tidak akan menelan kenyataan pahit seperti ini.
Lututku lemas melihat kepergian mereka, membuatku terduduk tak mampu berdiri.
Bukan salah Mery yang menjalin hubungan dengan kak Bimo, bukan salah kak Bimo juga yang sekarang bersama perempuan lain, melainkan salahku yang menaruh hati pada orang sudah menyukai perempuan lain.
Air mataku banjir bersama rasa perih di hatiku menenggelamkan rasa cintaku yang tak akan pernah terbalaskan.
πΉπΉπΉ
'Dinda tahu nggak ya? apa aku harus menjelaskan padanya? apa aku harus diam? apa aku mengaku saja kalau sekarang aku sama kak Bimo sudah resmi menjalin hubungan?'
Rentetan pertanyaan itu berulang kali Mery ucapkan di dalam hati, sambil memiringkan tubuhnya ke kiri dan kanan Mery tak bisa diam.
'Ahhhhh β¦.' Batin Mery berteriak, bingung apa yang harus diperbuat.
Getaran di ranjang yang diakibatkan oleh gerakan Mery yang tak bisa diam membuat Adinda bertanya.
"Kenapa sih Mer .., laper? Sono makan."
Suara Dinda lemas serta parau dengan posisi membelakangi Mery.
Adinda berusaha bersikap normal layaknya sebelum dia mengetahui semuanya, meskipun itu mustahil untuk dia lakukan tapi dia berusaha sebisa mungkin.
"Maaf" satu kata dengan suara memelas Mery juga membelakangi Adinda.
"Kenapa kau meminta maaf, sedangkan kau sekarang tidak melakukan kesalahan apapun." Ucap Adinda yang tidak bergerak dari tidurnya.
Ucapan Adinda membuat hati Mery semakin merasa bersalah, berusaha memberanikan diri Mery akhirnya duduk menghadap pada Adinda.
"Din, aku .. aku .." Mery gugup tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Adinda berbalik dari tidur miringnya dan menghadap pada Mery .
"Ada apa sini ceritakan padaku pasti kau lapar kan? Ngaku saja." Goda Adinda membuat Mery meringis.
Dalam hatinya tahu jika senyuman temannya ini dipaksakan,'pasti Adinda menyembunyikan sesuatu.'
"Tidak juga sih, aku hanya mau bilang jika besok kak Bimo akan kembali ke Inggris."Adinda mematung.
Ternyata mereka tadi acara perpisahan.
Adinda terbayang tentang Mery dan Bimo saat di Taman.
"Aku besok mengantarkan dia ke Bandara, apa kamu mau ikut Din?." Tanya Mery dengan menyentuh bahu temannya.
Sentuhan Mery membuat Dinda tersadar dari lamunan, "kamu tadi bicara apa, maaf aku teringat suaminya kak Joy yang juga sama di Inggris." Berusaha membohongi Mery agar tidak curiga.
Tapi hati Mery tidak semudah itu untuk dibohongi," tidak mungkin.'
"Ya sudah kalau tidak mau ikut, besok aku berangkat pukul enam, sekarang aku mau ke dapur untuk mencari makanan apa kau mau ikut?." Tawar Mery yang beranjak akan keluar kamar.
"Tidak, kalau ada cemilan bawa saja kesini." Teriak Adinda kepada Mery yang sudah keluar pintu.
Adinda duduk termenung sedang menimbang apa yang harus dia lakukan sekarang.
'Ikut tidak ya besok, jika aku ikut pasti aku melihat kemesraan mereka tapi jika aku tidak ikut aku akan di banjiri rasa penasaran.'
Menghitung dengan jarinya untuk mencari keputusan besok.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Ikut tidak? Enaknya ikut gak ya hayooo
πππππππ
Jejaknya sayangggggπ₯°π₯°π₯°π₯°
Next π