
Dengan nafas yang masih ngos-ngosan
Anggi meredam amarahnya, Roy yang masih linglung berusaha berdiri, merasa tak terima
dia ingin meminta penjelasan kenapa dia diperlakukan Anggi seperti itu.
"Kau ini kesambet setan dari mana sih Nggi? Datang - datang maen terkam orang, kalau
kau jengkel dengan Andreas ke kantornya
saja sana bukan malah kesini menyerangku."
Roy berdiri membetulkan jas yang ditarik
Anggi tadi hingga dia terjatuh. Dengan wajah kesal, Roy melirik kekasih temannya itu.
Ucapan dan rasa tak bersalahnya Roy membuat Anggi semakin emosi. Ingin sekali dia menghajar pria itu disini, tapi Anggi masih menahan niatnya karena akan adanya Joy disana.
"Kau bilang aku kesambet? Hahaha.. ini lucu, aku memperlakukanmu seperti tadi itu semata-mata agar kau tau Roy .. Bagaimana rasanya bila orang yang tidak bersalah
tiba-tiba di hajar dari belakang, enak?."
Ujar Anggi santai menjelaskan, dengan menaruh kedua tangannya di dada.
"Kau ini bicara apa sih Nggi? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan."
Ucapan Anggi membuat Roy semakin bingung.
"Percuma menjelaskannya padamu, tanyakan saja sana pada ibumu, apa yang dia perbuat pada Mery." Ujar Anggi jengah.
Anggi malas menjelaskan panjang lebar lagi pada Roy, dia mengambil tempat duduk lebih jauh dari Roy untuk mengistirahatkan dirinya serta tak ingin dekat dengan pria yang telah membuatnya kesal.
Mendengar nama Mery ikut disebut membuat Joy bertanya, "ada apa dengan Mery, Nggi? Kenapa Mery disangkutpautkan?." Anggi menoleh kepada temannya.
Melihat temannya cemas, Anggi mulai
khawatir dan dia akhirnya berdiri kemudian berjalan mendekati temannya untuk menenangkan.
"Dia tidak ada apa-apa joy, cuma ada sedikit kesalahpahaman, tanyakan saja pada sepupu tampanmu ini." Tunjuk Anggi pada Roy
dengan menggunakan dagunya.
Roy kaget.
"Aku? Kenapa jadi aku." Melihat kedua wanita
di depannya dengan penuh kebingungan.
Mendapati Roy yang seakan tidak berdosa membuat Anggi geram, dia berjalan
mendekati Roy kemudian mendorongnya lagi.
"Kalau bukan kau lalu siapa lagi, ha?."
Roy tak berani membalas,dikarenakan Anggi adalah seorang wanita, sekaligus dia juga kekasih dari teman baiknya.
Joy yang melihat temannya itu semakin menjadi, dengan cepat memanggilnya
supaya mendekat padanya, agar tidak terjadi pertikaian diantara keduanya.
"Nggi, mendekat lah kesini, coba jelaskan padaku apa yang kau katakan tadi dengan
jelas, agar aku mengerti duduk permasalahannya."
Anggi meninggalkan Roy, lalu membelokkan dirinya ke dekat ranjang untuk memberikan penjelasan kepada temannya.
"Begini Joy, aku tidak tahu menahu
bagaimana permasalahan sebenarnya, tapi yang aku tahu tadi di Taman ibunya
si brandal ini memukuli Mery dengan tas
yang dibawanya, dan yang tidak bisa
kuterima adalah β¦."
Anggi berhenti berbicara, mengatur nafasnya sambil memberikan tatapan elang pada Roy.
"Ibunya, menghujat Mery di tempat umum, didepan banyak orang." Berbicara dengan Joy tapi wajahnya menghadap Roy.
Joy syok, "astaga, bagaimana Tante Rani bisa setega itu pada Mery, padahal Tante Rani juga tahu jika Mery sekarang tidak mempunyai siapa-siapa." Joy menutup mulutnya, tak
tahan memendam kesedihan dan selanjutnya air matanya pun turun berlinang.
"Tau," Anggi mengangkat bahu, "pasti semua
itu gara- gara kau, karena yang diungkit
disana tadi masalah kalian berdua." Cerca Anggi pada Roy, demi memuaskan emosinya.
Tangis Joy pecah, demi meredam suara dia menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya, dia tak kuasa menahan gejolak
di hatinya, memikirkan bagaimana perasaan Mery sekarang.
"Sekarang Mery dimana?." Menatap temannya dengan penuh kecemasan.
"Tenanglah Joy, sekarang dia dalam
perjalanan pulang ke Rumah Oma, tadi aku sudah menenangkan nya, kau sekarang
jangan cemas, pikirkan kesehatanmu agar
kau dan bayimu bisa cepat pulang."
Nasehat Anggi menenangkan hati joyyana,
Joy meneguk air putih yang diberikan oleh Anggi agar lebih tenang.
Pandangannya berpindah pada sepupunya.
"Roy, dari awal aku sudah melarang hubungan diantara kalian, aku tahu pasti akhirnya akan seperti ini, kau tahu kan bagaimana Tante
Rani, maka dari itu aku tidak mau jika Mery sampai hatinya terluka." Roy mendengarkan dengan sesekali memberikan anggukkan.
"Sekarang jauhi Mery! Aku tak mau perasaannya terguncang, sebentar lagi dia
akan aku kirim ke Inggris agar kalian bisa melupakan satu sama lain, dan kau jangan coba-coba ganggu dia lagi, camkan itu Roy." Imbuh Joy, dengan diakhir kalimat
memberikan ketegasan pada sepupunya itu.
Keputusan Joy membuat Roy kaget sekaligus terluka, niatnya yang ingin memperjuangkan cintanya pada Mery terhalang orang satu lagi, saudara sekaligus orang terdekat gadis yang dicintainya.
Roy yang lemas dan tak bersemangat itu pun berdiri, beranjak untuk meninggalkan ruangan itu, sekejap malas melanda hatinya untuk meneruskan pembahasan tentang dirinya lagi.
"Baiklah, aku memang tak pantas untuknya,
aku akan berusaha melupakannya walaupun itu mustahil."
Jawab Roy, kemudian dia berjalan keluar.
"Kau harus bisa melakukannya." Ucap Joy menimpali jawaban Roy. Berusaha memaksa agar mau menuruti perkataannya.
"Pasti itu sangat sulit." Gumam Roy namun masih bisa didengar oleh Joy dan Anggi.
"Tidak akan sulit jika orang sepertimu, disisi lain kau harus ingat jika kau sudah ada
Isabella yang akan kau jadikan istri, ingat itu."
Ucapan Joy membuat Roy sadar akan tanggung jawab akan ucapannya.
Saat hendak membuka pintu, langkahnya terhenti dan menoleh sekali lagi pada sepupunya itu.
"Aku akan mengurus kepulangan mu dulu." Bicara satu kalimat untuk berpamitan.
Kepergian Roy menyisakan Anggi sendiri
yang menunggu Joy.
Tangisan Joy semakin menjadi, dia bimbang harus memilih langkah apa, di satu sisi dia tidak tega jika harus memisahkan dua orang yang saling mencintai dan di sisi lain dia memikirkan jika hubungan itu diteruskan
pasti hati Mery akan terluka.
"Nggi, apa keputusanku ini sudah benar? Aku tahu jika mereka saling mencintai, tapi kau
tahu kan jika itu tidak mungkin, huhuhu .. ."
Joy melanjutkan tangisannya.
Anggi memeluk sahabatnya, memberikan sentuhan lembut pada pucuk kepala sampai punggung agar Joy lebih tenang.
"Sudahlah Joy tenangkan dirimu, jangan memikirkan hal yang tidak semestinya kau pikirkan, mereka sudah dewasa. Sekarang pikirkanlah kesehatanmu dan my boy, nanti
jika David sudah datang kita bicarakan dengannya."
Joy menyetujui usulan sahabatnya,
diambilnya ponsel miliknya ingin cepat menghubungi suaminya.
Sebelum Joy mengetikkan jarinya untuk mencari nama suaminya, Anggi dengan cepat merampas ponsel yang berada di tangan Joy.
"Jangan! Apa kau mau membuat suamimu khawatir?." Joy menggeleng.
"Kita tunggu saja sampai David pulang dengan sendirinya, agar dia disana bekerja dengan tenang."
πΉπΉ
Selesai mengurus surat kepulangan joyyana, Roy menghubungi ibundanya, dia ingin memastikan jika apa yang dikatakan Anggi
tadi tidak benar.
"Hallo Bun."
"Bun .. bicaralah! Ada yang ingin aku tanyakan padamu Bun."
Bujuk Roy, karena sambungan telepon tersambung tapi tidak ada suara sedikitpun.
Dia tahu jika bundanya masih marah padanya, karena percekcokan tadi saat di Kantin.
"Katakan, aku mendengarkan." Ucap Rani acuh pada putranya.
"Astaga Bun, jangan bicara begitu padaku, aku ini anakmu, maafkan perkataan ku tadi Bun." Suara Roy memelas pada bundanya.
Roy tidak ingin terjadi apa apa pada bundanya, Roy takut jika hati bundanya sampai terguncang nanti berimbas pada serangan jantung dan Roy tidak mau itu terjadi.
"Ya, sudah bunda maafkan walaupun dengan terpaksa."
" Terima kasih Bun, sekarang aku mau tanya pada bunda sedikit, apa benar apa yang dikatakan oleh Anggi jika bunda telah mempermalukan Mery tadi?."
Rani kaget, dia langsung murka karena putranya masih saja membela gadis yatim piatu itu.
"Dia mengadu padamu? Jika kau masih saja membela gadis itu, sekarang bunda akan pergi dari kehidupanmu."
Roy hendak menjelaskan tapi sambungan telepon sudah diputuskan sepihak oleh ibundanya. Roy hanya bisa memandang lesu pada layar ponselnya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Bingung maw bicara apa, jejaknya aj yaaaa
jgn lupa kita lgsg lanjut aj dah π€π
Next ππ